LOGINKetegangan semalam berakhir dengan Aksa yang menyita ponsel Alana hingga pagi. Alana terpaksa berangkat ke kampus dengan wajah ditekuk, duduk di kursi penumpang mobil SUV hitam milik suaminya. Suasana di dalam mobil sangat kontras—Aksa tampak rapi dengan kemeja slim-fit abu-abu yang disetrika sempurna, sementara Alana sibuk mengikat rambutnya asal.
"Turunin saya di halte depan saja, Pak. Jangan sampai ke lobi," pinta Alana cemas saat gerbang kampus mulai terlihat. "Saya dosen, Alana. Bukan sopir taksi online," jawab Aksa datar tanpa mengalihkan pandangan dari jalan. "Ya justru itu! Kalau ada yang lihat saya turun dari mobil Bapak, tamat riwayat saya! Bisa-bisa saya dikira simpanan dosen demi nilai!" Aksa menghentikan mobilnya tepat dua ratus meter sebelum gerbang utama. "Turunlah. Jangan terlambat masuk kelas saya jam sepuluh nanti. Ingat, status kamu di kelas tetap mahasiswa yang sedang terancam tidak lulus." Alana mendengus, membanting pintu mobil pelan, dan berlari menuju koridor. *** Pukul 10.05 WIB. Ruang kuliah Manajemen Strategis tampak hening. Aksa Dewantara sudah berdiri di depan podium dengan wajah dingin andalannya. Alana duduk di barisan tengah, diapit oleh Elara dan Keira yang sibuk berbisik-bisik. "Eh, Al, lo tahu nggak? Katanya Pak Aksa baru nikah tahu," bisik Keira pelan. Jantung Alana nyaris copot. "Hah? Tahu dari mana lo?" "Gosip di ruang dosen. Tapi nggak ada yang tahu siapa istrinya. Pasti spek bidadari atau sesama dosen jenius deh," tambah Elara. Alana hanya bisa menelan ludah yang terasa seperti duri di tenggorokan. Bidadari apanya? Yang ada gue tiap hari kena mental, batinnya. Tiba-tiba, suara ketukan penggaris di meja dosen menghentikan bisikan mereka. Aksa menatap tajam ke arah Alana. "Saudari Alana Danuarta," panggil Aksa formal. Alana tersentak. "I-iya, Pak?" "Majulah ke depan. Jelaskan analisis SWOT dari kasus yang saya berikan di layar. Saya dengar kamu ingin memperbaiki nilai E kamu, bukan?" Teman-teman sekelas langsung menoleh ke arah Alana. Alana gemetar. Ia tahu betul Aksa sengaja mengerjainya. Ia belum sempat membaca materi bab ini karena semalam sibuk berdebat soal tempat tidur. "Tapi Pak, saya belum—" "Tidak ada tapi-tapi. Ke depan sekarang, atau nilai E kamu saya patenkan sampai semester depan," potong Aksa tanpa ampun. Alana melangkah maju dengan dongkol. Selama lima belas menit, Aksa membantainya dengan pertanyaan-pertanyaan sulit. Setiap kali Alana salah menjawab, Aksa akan mendekat, berdiri di sampingnya hingga Alana bisa mencium aroma parfum yang sama dengan yang ada di bantalnya tadi pagi. "Fokus, Alana. Jangan melamun," bisik Aksa sangat pelan, hanya bisa didengar oleh Alana, sementara tangannya menunjuk ke arah slide presentasi. "Bapak sengaja ya?" desis Alana pelan sambil pura-pura membetulkan spidol. "Saya hanya menjalankan tugas sebagai dosen. Silakan duduk kembali, dan pastikan tugas tambahan kamu selesai besok pagi di meja saya. Jam tujuh tepat," ujar Aksa keras agar didengar seisi kelas. Setelah kelas berakhir, Alana berusaha keluar paling terakhir agar tidak dicurigai. Namun, saat ia sampai di area parkir luar untuk mencari ojek online, ia melihat mobil Aksa terjebak macet di jalur keluar kampus karena ada perbaikan aspal. Tanpa sengaja, Alana melihat sebuah berkas miliknya tertinggal di kursi belakang mobil Aksa semalam—berkas administrasi penting untuk skripsi. Karena panik dan merasa aman karena area itu agak sepi, Alana berlari kecil dan mengetuk kaca mobil Aksa. Aksa menurunkan kaca mobilnya. "Ada apa lagi?" "Pak, map biru saya ketinggalan di jok belakang! Cepat buka pintunya!" Aksa membuka kunci otomatis. Alana dengan cepat membuka pintu belakang, mengambil mapnya, lalu menutupnya kembali. "Makasih, Pak!" Alana berbalik untuk pergi, namun langkahnya terhenti seketika. Di balik pilar gedung fakultas, berjarak hanya sepuluh meter, Elara dan Keira berdiri dengan mata melotot dan mulut menganga. Mereka memegang cup kopi yang nyaris jatuh. "Alana?" panggil Keira dengan suara bergetar. "Barusan itu... lo turun dari mobil Pak Aksa?" Alana mematung. Keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya. Elara melangkah mendekat dengan tatapan menyelidik, sementara mobil Aksa perlahan mulai bergerak maju karena antrean jalan. "Al, mobil itu... gue sering lihat diparkir di slot khusus Pak Aksa. Dan lo tadi baru aja buka pintunya kayak udah biasa banget? Ada hubungan apa lo sama Pak Killer?!" tanya Elara menuntut penjelasan, membuat Alana terjepit di antara kebohongan dan kenyataan pahit."Al, jangan dilihat. Ayo pergi dari sini," cetus Keira sambil merenggut bahu Alana, mencoba memblokir pandangan sahabatnya dari papan mading utama. Namun semuanya sudah terlambat. Air mata Alana sudah lebih dulu luruh membasahi pipinya yang pucat pasi. Bisik-bisik kejam dari puluhan mahasiswa di sekeliling mereka mendadak terdengar laksana dengungan lebah yang mencekik warasnya. Tanpa membalas ucapan Keira, Alana membalikkan badan dan berlari sekencang mungkin menembus kerumunan. "Alana! Tunggu!" teriak Elara, bersiap mengejar dengan langkah lebar. "Biar gue yang cari ke area perpustakaan atas, El. Lo cek taman belakang sekarang," instruksi Keira cepat. Mereka berdua segera berpencar dengan kecemasan yang memuncak. Alana terus berlari menyusuri koridor, menaiki anak tangga dengan napas yang memburu, hingga langkahnya membawa masuk ke dalam perpustakaan pusat fakultas. Di jam kuliah seperti ini, lorong bagian belakang yang menyimpan buku-buku a
"Jangan menoleh, Alana. Masuk kembali ke halaman rumah," perintah Aksa, suaranya terdengar sangat rendah dan dingin di tengah keheningan malam. "Tapi mereka... mereka bawa sesuatu, Mas," bisik Alana, tangannya gemetar hebat saat meremas lengan kemeja Aksa. Aksa segera menarik tubuh Alana ke belakang punggung tegapnya, mengunci pandangan tajamnya pada dua orang bermotor di seberang jalan. Namun, bukannya menyerang, pengendara motor itu justru menggeber mesinnya dengan keras sekali sebelum akhirnya berbalik arah dan melesat pergi membelah kegelapan malam. Itu murni teror mental. "Mereka cuma mau menakut-nakuti kita," ucap Aksa, mengembuskan napas panjang sembari memeriksa draf map hitam di tangan kanannya. "Ardiansyah tahu kita mencari sesuatu di sini. Hubungi sopir keluarga, kita pulang pakai mobil lain." Keesokan paginya, teror yang sesungguhnya baru saja dimulai di area kampus. Bukan berupa ancaman fisik di jalanan sepi, melainkan pembunuhan
Malam kian larut ketika Aksa memutar kemudi mobilnya membelah jalanan pinggiran kota yang sepi. Di sampingnya, Alana duduk diam seraya menatap ke luar jendela. Ingatan tentang konspirasi besar antara Pak Subroto dan Ayah Bara yang dibeberkan Elara tadi siang benar-benar menguras energi mentalnya. Mobil mewah itu akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang besi tinggi yang menjulang. Di baliknya, berdiri sebuah rumah bergaya kolonial yang luas namun sudah tidak ditempati sejak keluarga besar Dewantara pindah ke kawasan elit pusat kota. Walau kosong, rumah ini tetap dijaga dan dirawat dengan sangat rapi. "Ayo turun, Alana," ajak Aksa lembut, mematikan mesin mobil. Alana melangkah turun, merapatkan jaket rajutnya karena hawa malam yang menusuk. "Kita mau ambil apa di sini, Mas?" "Petunjuk dari Ibu saya," jawab Aksa singkat seraya membuka pintu utama rumah menggunakan kunci khusus. Atmosfer di dalam rumah tua itu terasa sunyi dan dingin. A
Sementara Aksa menerima instruksi penting dari Mama Intan di balkon apartemennya, badai emosi yang berbeda sedang berkecamuk di dalam kediaman mewah keluarga Ardiansyah. Bara duduk di ruang kerja ayahnya dengan tatapan kosong. Di atas meja kaca di depannya, beberapa lembar draf foto tercetak beresolusi tinggi tersebar berantakan. Jantung Bara serasa dihantam godam besar saat matanya dipaksa menatap bukti-bukti itu: draf foto akta nikah siri dan pakta pernikahan atas nama Aksa Dewantara dan Alana Danuarta. Ardiansyah berdiri di dekat jendela, membelakangi putranya sambil menyesap cerutu dengan tenang. Asap tebal menguar, menciptakan atmosfer yang semakin menekan di dalam ruangan. "Kamu lihat sendiri, kan, Bara? Itu fakta yang selama ini kamu sangkal," ucap Ardiansyah, suaranya terdengar berat dan sarat akan manipulasi yang terencana. "Nggak... ini nggak mungkin, Papa!" Bara berdiri dari kursinya, menyentak meja hingga beberapa kertas bergeser.
Elara segera menurunkan ponselnya begitu amplop cokelat tebal itu berpindah tangan. Dengan jantung yang masih berdegup kencang laksana genderang perang, ia berjalan mundur sangat perlahan, lalu berbalik dan berlari secepat mungkin menyusuri tangga darurat. Ia mengabaikan rasa lelah di kakinya sampai akhirnya berhasil keluar dari gedung fakultas dan langsung meluncur menggunakan ojek daring menuju apartemen Aksa, tempat Keira sudah menunggu. Begitu pintu unit apartemen mewah itu dibuka oleh Aksa, Elara langsung menerobos masuk dengan napas memburu dan wajah sepucat kapas. "Elara? Kamu kenapa? Seperti habis dikejar hantu," tanya Aksa, alisnya bertaut rapat melihat kondisi sahabat istrinya yang berantakan dengan rompi kebersihan yang masih melekat. "Lebih parah dari hantu, Pak Aksa! Ini... ini iblis korporat!" seru Elara terengah-engah, menjatuhkan diri di sofa ruang tamu di samping Keira. Alana yang baru saja bangun dengan kondisi tubuh yang lebih segar i
Elara menahan napasnya rapat-rapat di balik pilar beton koridor yang remang-remang. Detak jantungnya bertalu begitu keras di dalam dada, hingga ia takut suara detaknya bisa memecah kesunyian lantai dua gedung fakultas yang telah ditinggalkan oleh para penghuninya. Dunia seolah berhenti berputar saat pria paruh baya di depan ruangan Pak Subroto itu menurunkan maskernya untuk menyeka keringat. Wajah tegas, rahang kokoh, dan tatapan mata yang penuh keangkuhan itu... Elara sangat mengenalnya dari foto keluarga yang pernah ditunjukkan oleh Alana di kosan beberapa bulan lalu. Pria berjas mewah itu adalah Ardiansyah. Pengusaha kakap pemilik Ardiansyah Group yang sangat berkuasa, sekaligus ayah kandung dari Bara, kekasih Alana. "Gila... ini bener-bener plot twist gila," bisik Elara dalam hati, seluruh tubuhnya mendadak lemas dan gemetar hebat akibat rasa syok yang teramat masif. Namun, kesadaran sebagai sahabat Alana membuat fokusnya kembali dalam sek
"Bar, sori banget. Tiba-tiba perut aku sakit banget, melilit," Alana langsung menyambar tasnya dengan gerakan panik, memotong pembicaraan Bara yang baru saja menerima kembalian dari pelayan. "Aku... aku harus buru-buru pulang. Kamu nggak usah anter, aku udah pesen taksi online tadi!" "L
Suara detak jam dinding di ruang kerja Aksa terdengar seperti dentuman palu di kepala Alana. Sudah pukul dua pagi. Tumpukan jurnal setebal bantal itu masih tersisa separuh, dan tangan Alana sudah mati rasa karena terus menulis esai tangan sebanyak puluhan lembar. Aksa sendiri masih duduk di kursi
Alana menyambar kembali dompetnya dari tangan Aksa dengan wajah merah padam. "Bapak keterlaluan! Nilai itu urusan akademik, kenapa dibawa-bawa ke urusan hati? Bara itu pacar saya, jauh sebelum Bapak datang merusak semuanya!" Aksa tidak bergeming. Ia hanya merapikan kerah kemejanya, menatap Alana
Jantung Alana serasa mau copot. Ia menatap Elara dan Keira yang kini berdiri tepat di depannya dengan tatapan menginterogasi. Mobil SUV hitam Aksa perlahan melaju menjauh, meninggalkan Alana dalam kepungan dua sahabatnya yang paling hobi bergosip. "Al, jawab jujur. Kenapa lo tadi buka pintu mobil







