Share

Bab 7 Mata di Klinik

Penulis: Christin
last update Tanggal publikasi: 2026-10-14 16:21:04

Klinik Pratama Sehat Bersama terletak di sebuah jalan kecil di Oesapa, tidak jauh dari Pantai Warna. Bangunannya sederhana: rumah tinggal yang diubah menjadi klinik, dengan teras sempit yang dinaungi pohon ketapang besar. Di papan nama yang catnya mulai mengelupas, tertulis jadwal praktik dokter umum dan bidan.

Nandita tiba lebih dulu pukul empat sore, sesuai rencana. Perempuan berlesung pipi itu mengenakan blus longgar berwarna biru muda dan celana kain hitam. Wajahnya masih pucat setelah sakit beberapa hari. Perutnya terasa tidak nyaman sejak pagi, dan bau minyak goreng dari warung di sebelah klinik membuatnya ingin muntah.

Ruang tunggu klinik itu kecil dan pengap. Ada enam kursi plastik berwarna hijau yang berjajar di sepanjang dinding. Seorang ibu muda sedang menimang bayinya yang menangis, dan seorang kakek terbatuk-batuk sambil memegang tongkat kayu. Televisi tabung di sudut ruangan menayangkan berita daerah tentang kekeringan di Kabupaten Kupang.

Sepuluh menit kemudian, Revan datang.

Nandita hampir tidak mengenali suaminya. Lelaki bertubuh tegap itu mengenakan kaus polo hitam, celana jin, topi bisbol berwarna gelap, dan masker medis yang menutupi separuh wajahnya. Penampilannya lebih mirip orang yang sedang menyamar daripada suami yang mengantar istrinya berobat.

Revan duduk di kursi sebelah Nandita, menjaga jarak seperti biasa.

"Sudah mendaftar?" bisiknya.

"Sudah. Nomor antrean empat."

"Bagaimana keadaanmu?"

"Masih mual. Pusing juga."

Revan mengangguk. Di balik masker, Nandita bisa melihat mata suaminya bergerak gelisah, mengamati setiap orang yang masuk dan keluar dari pintu klinik. Setiap kali pintu terbuka, bahu pria berahang tegas itu menegang.

"Kak, tidak ada yang mengenal Kakak di sini," ucap Nandita pelan.

"Tidak ada yang tahu pasti. Kupang ini kecil, Dik."

Nandita tidak membalas. Perempuan bermata bulat itu menunduk dan memainkan ujung blusnya. Ada rasa pahit yang tidak bisa dijelaskan. Saat ini, ketika tubuhnya sedang tidak berdaya dan hatinya dipenuhi ketakutan, suaminya justru lebih sibuk mengkhawatirkan siapa yang mungkin melihat mereka.

Dokter yang memeriksa Nandita adalah seorang perempuan muda berkacamata dengan logat Rote yang kental. Namanya dokter Maria Ndun. Sikapnya ramah dan cekatan.

"Keluhannya sejak kapan, Kak?"

"Sekitar dua minggu, Dokter. Mual, kadang muntah, pusing. Jumat kemarin demam tinggi."

Dokter Maria memeriksa tekanan darah, suhu tubuh, dan perut Nandita dengan teliti. Revan berdiri di sudut ruang periksa, masih mengenakan topi dan masker.

"Bapak suaminya?" tanya dokter itu sambil menoleh.

Revan terdiam sesaat. Pertanyaan sederhana itu tampaknya menjadi pertanyaan tersulit yang pernah didengarnya.

"Ya, Dokter," jawabnya akhirnya, dengan suara pelan.

Nandita menoleh ke arah suaminya. Itu pertama kalinya Revan mengakui pernikahan mereka di depan orang lain. Hanya di depan seorang dokter asing di klinik kecil yang jauh dari pusat kota, tetapi tetap saja, pengakuan itu membuat dada Nandita terasa hangat sekaligus perih.

"Kapan terakhir haid, Kak?" tanya dokter Maria lagi.

"Sekitar dua bulan lalu, Dokter. Pertengahan Agustus."

Dokter muda itu tersenyum kecil dan mencatat sesuatu di buku rekam medis. "Begini, Kak. Tekanan darah Kakak sedikit rendah. Lambungnya juga agak bermasalah, mungkin karena makan tidak teratur dan banyak pikiran. Tetapi melihat gejala dan keterlambatan haid, saya sarankan Kakak melakukan tes kehamilan. Apakah Kakak ingin dites di sini sekarang?"

Ruang periksa itu mendadak terasa sangat sunyi.

Nandita melirik Revan. Wajah suaminya tidak terlihat jelas di balik masker, tetapi tangannya yang mengepal di sisi tubuh sudah cukup menjelaskan perasaannya.

"Saya... saya melakukan tes di rumah saja, Dokter," jawab Nandita dengan suara bergetar. "Saya bekerja di apotek dan bisa mengambil alat tes sendiri."

"Baik, tidak apa-apa. Tesnya paling akurat pagi hari, dengan urine pertama setelah bangun tidur. Kalau hasilnya positif, segera periksakan diri ke bidan atau dokter kandungan, ya. Untuk sementara, saya resepkan obat lambung yang aman."

Setelah membayar di loket, mereka keluar dari ruang periksa. Ruang tunggu sudah semakin penuh. Matahari sore menyelinap masuk melalui jendela, membuat ruangan itu terasa semakin panas.

Nandita tiba-tiba merasa limbung. Pandangannya berkunang-kunang, dan lututnya lemas. Revan dengan sigap meraih lengan istrinya, lalu meletakkan tangannya di punggung Nandita untuk menahan tubuh perempuan bertubuh mungil itu agar tidak jatuh.

"Pelan-pelan, Dik. Duduk dulu."

Revan menuntun Nandita ke kursi plastik terdekat. Lelaki bertubuh tegap itu berjongkok di depannya dan menurunkan maskernya sedikit agar bisa berbicara lebih jelas.

"Kamu mau minum? Saya belikan air di warung depan."

Tepat pada saat itulah, pintu klinik terbuka.

Seorang pria berperut buncit masuk sambil menggandeng seorang perempuan tua yang berjalan tertatih-tatih. Kacamata tebalnya berkilat ditimpa cahaya matahari sore. Pria itu menoleh ke kanan dan ke kiri mencari kursi kosong, lalu pandangannya berhenti tepat pada lelaki yang sedang berjongkok di depan Nandita.

"Pak... Pak Revan?"

Waktu seakan berhenti.

Revan membeku. Maskernya masih turun separuh, memperlihatkan seluruh wajahnya dengan jelas. Tangannya masih memegang tangan Nandita. Tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi.

Frans Ndolu berdiri di ambang pintu dengan mulut sedikit terbuka. Mata di balik kacamata tebal itu bergerak perlahan, dari wajah Revan, ke tangan yang saling menggenggam, lalu ke wajah pucat perempuan berambut ikal yang duduk di kursi.

Revan segera melepaskan tangan Nandita dan berdiri. Gerakannya terlalu cepat, terlalu kaku, dan justru membuat semuanya terlihat semakin mencurigakan.

"Frans. Wah, kebetulan sekali," ucap Revan sambil memaksakan tawa. "Sedang apa di sini?"

"Saya mengantar ibu saya berobat. Rumah kami di belakang klinik ini." Frans mengangkat sebelah alisnya. "Bapak sendiri? Jauh-jauh dari Oebobo ke Oesapa?"

"Mengantar sepupu," jawab Revan cepat. "Sepupu dari pihak istri. Kebetulan sedang sakit, dan kabarnya dokter di sini bagus."

Frans menatap Nandita lebih lama dari yang seharusnya. Lelaki berkacamata tebal itu tersenyum, tetapi senyumnya tidak mencapai matanya.

"Oh, sepupu. Selamat sore, Nona."

"Selamat sore, Pak," balas Nandita lirih. Perempuan berlesung pipi itu menunduk dalam-dalam, berharap lantai di bawahnya bisa terbelah dan menelannya bulat-bulat.

"Kalau begitu, kami pamit dulu, Frans. Sampai bertemu di kantor besok," ujar Revan sambil memberi isyarat kepada Nandita untuk berdiri.

"Ya, Pak. Hati-hati di jalan." Frans melangkah minggir untuk memberi jalan. "Oh ya, Pak. Salam untuk Ibu Aini, ya. Katakan dari saya, sepupunya cantik sekali."

Kalimat itu diucapkan dengan nada bercanda, tetapi Nandita merasakan sesuatu yang dingin merayap di tengkuknya.

Di dalam mobil, keduanya terdiam lama. Revan menyetir dengan kedua tangan mencengkeram setir begitu kuat sampai buku-buku jarinya memutih. Mobil melaju melewati Jalan Timor Raya. Di sebelah kiri, laut biru terbentang luas, tetapi tidak ada satu pun dari mereka yang menikmatinya.

"Pak Frans itu siapa, Kak?" tanya Nandita akhirnya.

"Teman sekantor. Satu biro dengan saya."

"Apakah orangnya bisa menjaga rahasia?"

Revan tertawa getir. "Frans? Frans itu radio berjalan, Dik. Semua gosip di kantor gubernur, setengahnya berasal dari mulutnya."

Nandita memejamkan mata. Rasa mual kembali naik ke tenggorokannya, kali ini bercampur dengan rasa takut yang luar biasa.

"Kalau sampai Pak Frans bercerita kepada Kak Aini..."

"Tidak akan," potong Revan dengan suara keras. Lalu, menyadari nada suaranya, pria berahang tegas itu melunak. "Maaf. Saya akan berbicara dengan Frans besok. Saya akan memastikan semuanya aman."

Nandita menatap suaminya dari samping. Wajah lelaki itu terlihat tegang. Keringat menetes di pelipisnya meskipun pendingin udara mobil menyala.

Revan menurunkan Nandita di ujung gang menuju kontrakannya, cukup jauh agar mobilnya tidak terlihat oleh tetangga. Sebelum Nandita turun, lelaki itu menahan tangannya.

"Dik, soal tes kehamilan itu..." Revan berhenti sejenak, menarik napas panjang. "Beri saya kabar secepatnya, ya."

Nandita mencari sesuatu di mata suaminya. Harapan? Kebahagiaan? Atau ketakutan? Perempuan bermata bulat itu tidak bisa membacanya dengan pasti.

"Iya, Kak."

Sedan abu-abu itu melaju pergi, meninggalkan kepulan debu di ujung gang.

Sementara itu, di ruang tunggu Klinik Pratama Sehat Bersama, Frans Ndolu duduk di samping ibunya sambil memainkan ponsel. Lelaki berperut buncit itu membuka galeri foto dan memandangi sebuah gambar yang diambil diam-diam beberapa detik sebelum menyapa Revan.

Foto itu memperlihatkan Pak Kasubag Revan Adinata berjongkok di depan seorang perempuan muda, menggenggam tangannya dengan penuh kasih sayang.

Frans tersenyum tipis. Foto itu disimpannya dalam folder tersembunyi.

Siapa tahu, suatu hari nanti, foto itu akan berguna.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Istri Siri Sang Abdi Negara   Bab 16 Di Hadapan Pemeriksa

    Revan pun langsung menarik kursi lalu duduk secara perlahan. Map biru itu diletakkannya di atas meja, tepat di depan dada bagaikan sebuah perisai terakhir yang dimilikinya. Di seberang meja, Aini tidak menatapnya sedikit pun. Wanita bermata tajam itu hanya memandang lurus ke arah para pemeriksa. Kedua tangannya bertaut di pangkuan, Jari-jarinya hanya memutar-mutar cincin kawin emas yang masih melingkar di jari manisnya. Sebuah cincin yang dipasangkan Revan sepuluh tahun lalu di gedung pertemuan yang penuh tamu. Di hadapan Revan duduk ketua tim pemeriksa, seorang priai paruh baya berkacamata tipis bernama Pak Yakobus Lake, Pria paruh baya itu terlihat membuka berkas di hadapan Revan. "Saudara Frans, silakan sampaikan kembali laporan Saudara." Frans membetulkan letak kacamatanya. Lalu Pria berperut buncit itu berbicara dengan lancar, seolah-olah sudah berlatih berkali-kali. Diceritakannya tentang amplop

  • Istri Siri Sang Abdi Negara   Bab 15 Amplop Cokelat

    "Bukti apa, Pak?" tanya Revan dengan suara tertahan. "Sebuah foto," jawab Pak Markus. "Foto amplop cokelat tebal di atas mejamu, bertuliskan nama sebuah perusahaan konstruksi dari Sumba. Tanggalnya Agustus tahun lalu, dua hari sebelum pengumuman pemenang proyek pembangunan gedung arsip." Revan memejamkan mata. Ingatannya melayang ke hari itu. Seorang lelaki dari perusahaan konstruksi datang ke ruangannya dengan senyum lebar, meletakkan amplop cokelat di atas meja, lalu pergi sebelum Revan sempat menolak. Isinya uang tunai dalam jumlah besar. Sore itu juga, Revan mengembalikan amplop tersebut ke kantor perusahaan itu di Jalan Soeharto, ditemani seorang staf keuangan senior yang menjadi saksi. "Pak, amplop itu sudah saya kembalikan pada hari yang sama," ujar Revan. "Ada saksinya. Ibu Sarlota Manafe, staf keuangan kita yang sekarang sudah pensiun." Hening sejenak di seberang telepon. "Kalau begitu, temui Ibu Sarlota sebelum hari Senin. Inspektorat membutuhkan keterangannya." R

  • Istri Siri Sang Abdi Negara   Bab 14 Detak yang Bertahan

    Revan menatap wajah Salsa yang tertidur di dadanya. Napas gadis kecil itu hangat dan teratur. Jari-jarinya yang mungil masih mencengkeram kerah kemeja ayahnya.Lalu lelaki bertubuh tegap itu menatap Raka. Bocah berkacamata bulat itu menunggu dengan mata berkaca-kaca, seolah-olah sudah tahu ayahnya akan pergi.Revan berdiri perlahan. Dengan sangat hati-hati, diserahkannya Salsa ke dalam gendongan Tante Rina. Gadis kecil itu menggeliat sebentar, lalu kembali terlelap. Setelah itu, Revan berlutut di depan putranya dan memegang kedua bahunya."Raka, dengar Papa. Ada orang yang sedang sakit dan membutuhkan Papa sekarang. Tetapi Papa janji, Papa akan kembali. Papa tidak akan pernah berhenti menjadi ayahmu dan ayah Salsa. Tidak akan pernah."Raka mengangguk sambil mengusap air matanya. "Janji, Papa?""Janji."Revan mencium kening putranya, lalu berdiri menghadap Aini. Perempuan bermata tajam itu masih berdiri di ambang pintu dengan tangan terlipat di dada."Ancaman tidak akan membuat saya be

  • Istri Siri Sang Abdi Negara   Bab 13 Pilihan yang Mustahil

    Revan memejamkan mata. Ponsel di telinganya terasa sangat berat.Di sampingnya, Nandita duduk mematung. Perempuan berlesung pipi itu mendengar setiap kata yang diucapkan Aini, karena suara perempuan itu terdengar jelas dari pengeras suara ponsel di dalam mobil yang sunyi."Bagaimana, Pa?" desak Aini. "Pilih sekarang. Perempuan itu atau anak-anakmu."Revan membuka mata dan menatap Nandita. Perempuan bermata bulat itu menggeleng pelan, seolah-olah berkata bahwa suaminya tidak perlu memilih dirinya. Namun, Revan sudah mengambil keputusan sejak semalam, di atas Jembatan Liliba."Saya tidak akan menceraikan Nandita, Ma."Hening panjang di seberang telepon."Saya akan tetap menjadi ayah bagi Raka dan Salsa, apa pun yang terjadi," lanjut Revan dengan suara tegas. "Tetapi saya tidak akan meninggalkan perempuan yang sedang mengandung anak saya. Saya sudah cukup lama menjadi pengecut.""Mengandung?" Suara Aini meninggi. "Jadi perempuan itu hamil?"Revan tidak menjawab. Diamnya sudah cukup menja

  • Istri Siri Sang Abdi Negara   Bab 12 Hari Pengakuan

    Revan tidak tidur sepanjang malam.Lelaki bertubuh tegap itu duduk di ruang makan yang sunyi sampai azan Subuh berkumandang. Ponselnya tergeletak di atas meja. Puluhan panggilan ke nomor Aini tidak pernah dijawab. Pesan-pesannya hanya dibaca, tanpa satu pun balasan. Nomor ibu mertuanya di Ende pun tidak aktif.Setelah salat Subuh, Revan mandi, mengenakan seragam cokelat khaki, dan memandangi bayangannya di cermin cukup lama. Wajah di cermin itu tampak lelah dan jauh lebih tua. Namun, ada keputusan yang sudah bulat di matanya.Hari ini, tidak akan ada lagi kebohongan.Pukul delapan pagi, Kantor Gubernur Nusa Tenggara Timur sudah ramai seperti biasa. Namun, begitu Revan melangkah ke lantai dua, suasana terasa berbeda. Beberapa rekan kerja berhenti berbicara ketika melihatnya lewat. Ada yang berbisik-bisik. Ada pula yang buru-buru menunduk dan berpura-pura sibuk dengan berkas di meja.Di ujung lorong, Frans Ndolu berdiri bersandar di dinding sambil memegang gelas kopi. Lelaki berperut bu

  • Istri Siri Sang Abdi Negara   Bab 11 Badai di Atas Liliba

    Tamparan itu datang lebih cepat daripada kata-kata.Tangan Aini melayang dan mendarat keras di pipi Revan. Suaranya nyaring, mengalahkan deru angin dari ngarai. Beberapa pengendara sepeda motor yang melintas di atas Jembatan Liliba memperlambat laju kendaraan, menoleh dengan penasaran, lalu kembali melaju.Revan tidak mengelak. Lelaki bertubuh tegap itu hanya berdiri diam dengan pipi yang memerah, menatap istrinya tanpa berkata apa-apa."Pembohong!" teriak Aini. Suaranya bergetar oleh amarah. "Sepuluh tahun saya mengurus rumahmu, mengurus anak-anakmu, dan ini balasanmu? Bermain gila dengan perempuan apotek di pinggir jalan?""Ma, dengarkan saya dulu...""Tidak ada yang perlu didengarkan!" Perempuan bermata tajam itu berbalik menghadap Nandita. Tatapannya penuh kebencian. "Dan kamu. Sudah saya peringatkan di apotek waktu itu. Ternyata kamu memang perempuan murahan yang suka mengincar suami orang."Nandita mundur selangkah. Tangan kanannya tetap melindungi perutnya. Wajah perempuan berl

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status