LOGINAruna tersadar, dia mendorong pria itu dengan kasar hingga pria itu tersungkur ke lantai.
"Dasar pria mesum!" "Aku mesum!" Pria itu berdiri. "Bukannya Mbak yang memulai." Aruna sadar dia yang salah. Dia segera memberi upah pria itu dan menyuruhnya pergi. Setelah kejadian itu, Aruna lebih banyak terdiam. Ada rasa bersalah pada Mahesa. Walaupun tak sepenuhnya dia berniat berkhianat. "Tidak ... Ini bukan salahku!" Aruna meyakinkan dirinya sendiri bahwa itu hanya khilaf semata. Namun, bukan melupakan pria asing itu. Aruna justru terbayang wajah tampan pria itu hingga dia sulit tidur. Malam itu, Aruna memutuskan untuk pergi ke sebuah tempat hiburan. Dia kira dengan begitu dia akan melupakan pria itu. Namun, siapa sangka? Dia justru bertemu kembali dengan pria itu. "Kamu lagi ... Apa kamu menguntitku?" "Hah menguntit! Mana aku tahu Mbak akan ke sini! Aruna pergi meninggalkan pria itu, dia ingin bersenang-senang sesaat sebelum Mahesa kembali. Selama keluar kota, Mahesa hanya sesekali memberi kabar itupun tidak lama. "Mau minum?" Seorang pria tak di kenal mendekati Aruna. Aruna hanya menggelengkan kepala. Jujur, ini pertama kali dia masuk ke tempat hiburan seperti ini. Pria itu pergi setelah mendapatkan penolakan. Aruna mendadak pusing melihat lampu kelap kelip. Dia ingin segera keluar dari tempat itu. Namun, sebuah tangan mencegahnya. "Hai cantik! Mau temani kami?" "Lepaskan!" Aruna berusaha melepaskan tangannya. Namun, pegangan pria itu terlalu kencang hingga lengan Aruna terasa sakit. "Aku bilang lepaskan!" Mereka justru semakin mendekat, Aruna ketakutan. Hingga salah satu dari mereka mendapatkan pukulan dari pria itu. Pria yang beberapa hari memenuhi otak Aruna. "Jangan ganggu dia! Dia istriku!" Seketika para pria itu langsung pergi, Aruna tak mau lagi datang ke tempat seperti ini. Jika Mahesa tahu, ia pasti akan kena marah. "Terima kasih!" "Hanya itu? Apa kamu tidak mau mentraktir aku makan?" Aruna terdiam sejenak, "Siapa namamu?" "Andri," Pria itu mendekati Aruna. "Kenapa sendirian? Mana suami kamu?" "Dinas diluar kota," jawab Aruna. Pada akhirnya, mereka pergi makan bersama. Suasana diantara mereka tidak lagi canggung. Tidak yang seperti Aruna pikirkan, Andri sangat baik dan menyenangkan. "Aku antar kamu pulang." "Tidak perlu." Aruna menolak. Dia takut akan terjadi salah paham nantinya. Sampai di rumah, Aruna masih memikirkan Andri. Pria yang selama beberapa hari ini menyita sebagian otaknya. Terdengar ponsel berdering, panggilan dari Mahesa. "Halo, Mas! Kapan pulang?" "Besok aku pulang. Apa kamu merindukan aku?" "Tentu." Percakapan mereka berakhir karena Mahesa harus menyelesaikan perkerjaannya. Sementara itu, Aruna memilih tidur. "Selamat pagi Mbak Aruna!" Sebuah pesan dari Andri, Aruna tersenyum membaca pesan itu. Namun, gak ada niatan untuk membalasnya. "Balas dong! Udah sarapan belum?" Ada lagi Notif pesan dari Andri. Walaupun hanya sekedar bertanya soal sarapan, bagi Aruna itu bentuk dari perhatian Andri padanya. Pukul 08.15 pesan dari Andri. "Berangkat kerja dulu, Mbak. Doakan lancar ya!" Aruna hanya tersenyum saja, dia meletakkan kembali ponselnya. Pukul 11.20, Mahesa pulang. Aruna membantu Mahesa membawakan koper. "Ini oleh-oleh buat kamu!" Mahesa memberikan bungkusan kecil. Aruna mengambilnya, sebuah kalung mahal yang Mahesa berikan. Namun, semua itu tetap tidak bisa mengobati kesepiannya. "Mas, sampai kapan seperti ini?" "Apa maksudmu?" Mahesa pura-pura tak tahu. "Apa gunanya aku menjadi istri mu? Jika kamu tak pernah mau menyentuhku? Bukan sebulan dua bulan, tapi dua tahun, Mas!" Nada bicara Aruna sedikit meninggi, Ia kira Mahesa akan marah. Tapi justru sebaliknya. "Tunggu waktu yang tepat! Maafkan aku!" Aruna meletakkan oleh-oleh itu diatas meja. Lalu dia masuk ke dalam kamar. Dia menangis, Mahesa mengikutinya. "Maafkan aku!" Mahesa memeluk Aruna. "Aku belum bisa menjalankan tugasku sebagai seorang suami." "Tapi apa alasannya, Mas?" Aruna mendongakkan kepala menatap mata Mahesa Berharap mendapatkan jawaban atas pertanyaannya. Mahesa hanya menggeleng, dan melepaskan pelukannya. Dia duduk di atas ranjang dan melihat ke arah Aruna. "Aku belum bisa menjelaskan." Aruna pasrah, dia memilih diam seribu bahasa. Percuma saja bertanya kalau tak pernah mendapatkan jawaban. Dia berinisiatif untuk mencari tahu semuanya sendiri. *** Pagi itu, Mahesa ke kantor. Dan Aruna memutuskan mendatangi rumah kakak pertama Mahesa, Mawar. "Aruna, lama gak datang!" Mawar menyambut kedatangan Aruna, "pasti ada hal penting." Mawar mengajak Aruna duduk di ruang tamu, dia meminta asisten rumah tangganya menyuguhkan minuman. "Minum dulu baru bicara!" Aruna menurut dan segera minum. Dia semakin mantap untuk bertanya pada Mawar. "Mbak, sebelumya aku meminta maaf. Sebenarnya ini aib, tapi aku tidak mampu menahannya lagi." Mawar menatap ke arah Aruna penuh tanda tanya. "Sampai saat ini, aku dan Mas Mahesa belum pernah melakukannya." Raut wajah Mawar seketika berubah. Tampaknya dia mengetahui sesuatu akan hal itu. "Jika kamu mencintai Mahesa, temani dia sampai dia benar-benar bisa melakukannya." "Tapi apa alasannya, Mbak? Dua tahun loh, Mbak! Itu bukan waktu yang sebentar bagiku." "Hanya Mahesa yang berhak mengatakannya. Jika dia belum siap, jangan di paksa!" Ternyata percuma bertanya pada Mawar, dia juga bungkam soal hal itu. Akhirnya Aruna memilih untuk pamit. Dalam perjalanan pulang, Aruna melihat mobil Mahesa parkir di sebuah apartemen. Setahu Aruna, Mahesa tidak punya teman yang tinggal di apartemen. Aruna memarkir mobilnya dan memastikan semua. Ternyata benar, itu mobil milik Mahesa. "Ngapain dia disini?" Aruna menanyakan pada satpam yang berjaga. Namun, satpam tidak tahu ada keperluan apa Mahesa di sana. Mungkin semua menjadi privasi pemilik apartemen. *** Sementara itu, di dalam apartemen mewah itu Mahesa bersama seseorang. "Sayang, sampai kapan kita begini? Aku ingin hubungan kita di akui!" "Tidak mungkin! Hubungan kita taj direstui!" "Kamu jahat!" Mahesa memeluknya, pelukan itu terlihat sangat mesra sekali. "Aku mencintaimu." "Aku juga, tapi kita harus bersabar." Mereka saling memeluk seakan tak ingin dipisahkan. Bahkan kemesraan mereka melebihi kemesraan Aruna dengan Mahesa sendiri. Sebuah notif masuk ke ponsel Mahesa. Saat membaca isi pesannya dia terkejut. "Aruna ada dibawah!" Dia memperlihatkan pesan Aruna yang mengirimkan foto mobil Mahesa di parkiran apartemen. Tidak berapa lama, Aruna menelpon. Mahesa berusaha tenang. "Halo sayang!" "Mas, kamu menemui siapa di apartemen ini? Bukannya ini jam kerja?" "Oh itu, ini urusan kerjaan sayang. Sebentar lagi aku akan kenalkan kamu pada rekan Bisnisku. Kamu tunggu di lobi saja, aku akan turun." Dan benar saja, tidak berapa lama Mahesa datang dengan seorang pria berbadan kekar. Di lihat dari penampilannya dia sangat macho bahkan sebelas dua belas dengan Andri. "Sayang, kenalkan dia Leon! Rekan Bisnisku!" Aruna tersenyum dan memperkenalkan diri. Setelah itu Mahesa dan Aruna pamit pada Leon.Semakin hari, Mahesa selalu sibuk dengan pekerjaannya dan melupakan bahwa ada Hana yang membutuhkannya. Hingga suatu hari, Hana melihat Mahesa bertemu dengan Aruna.Ya, pertemuan itu sebenarnya tidak sengaja. Tapi bagi Hana, hal itu pasti di rencanakan. Hana cemburu dan marah, seketika dia mendekati Aruna dan mendorongnya.Mahesa yang berada di dekat Aruna langsung menolong Aruna hingga Aruna tidak terjatuh."Hana, ngapain kamu disini?" Mahesa tampak marah sekali melihat Hana ada di tempatnya bekerja."Dia yang ngapain disini? Pasti dia sengaja datang kesini untuk menemui kamu, kan!""Aku menemui dia untuk apa. Aku datang kesini bersama suamiku untuk urusan bisnis. Bukan untuk menemui suami kamu."Andri datang, dia tampak marah karena melihat Hana memarahi Aruna. Begitu juga dengan atasan Mahesa, beliau tampak malu pada Andri."Mahesa, apa-apaan ini? Ini kantor bukan tempat istri kamu buat keributan. Suruh pergi sana!"Mahesa lalu menarik tangan Hana untuk keluar dari area kantor. Mah
Selang beberapa hari, pelaku itu tertangkap. Dia mengaku di suruh oleh Mahesa. Maka, polisi pun menangkap Mahesa, namun Mahesa berkilah tidak mengenal pelaku."Aku tidak kenal dia, bagaimana aku bisa memintanya menyelakai Aruna?"Polisi pun mengecek ponsel Mahesa tidak ada chat maupun komunitas apapun dengan pelaku. Bahkan transaksi keuangan pun tidak ada."Katakan siapa sebenarnya yang menyuruh kamu.""Mahesa yang menyuruhku. Dia tidak mengaku tidak masalah. Biar aku yang menanggung semua."Karena Mahesa tidak terbukti bersalah, maka Mahesa boleh pulang. Mahesa merasa aneh, ada orang yang berusaha mencelakia Aruna dan menggunakan namanya. Mahesa ingin menyelidiki semua. Dia tidak mau Aruna salah paham padanya.Jika Mahesa bingung siapa dalang semua? Begitu juga dengan Aruna dan Andri. Mereka mengira itu ulah Mahesa tapi polisi tidak menemukan keterlibatan Mahesa dalam masalah ini."Bagaimana bukan dia? Dia yang selalu mengganggu ku.""Aku juga tidak tahu. Apa mungkin memang bukan dia
Ternyata paket terus berdatangan ke rumah Aruna. Mulai dari foto hingga bunga dan makanan kesukaan Aruna. Karena merasa tidak memesan apapun, Aruna memilih untuk mengabaikannya. Namun, Andri justru marah. Dia merasa pengirim paket telah mengganggu ketenangan Aruna."Ini pasti ulah Mahesa, aku akan beri dia peringatan."Benar saja, sore itu Andri menunggu Mahesa di depan kantor Mahesa. Ketika dia melihat Mahesa, Andri langsung mendekatinya."Apa maksud kamu mengganggu istriku? Kalian sudah mantan! Jangan berharap bisa kembali sama dia!""Siapa yang mengganggu Aruna?""Jangan sok gak tahu! Kamu kirim paket terus-menerus ke rumahku untuk apa?""Aku tidak melakukannya."Andri marah, dia memukul Mahesa. Terjadilah baku hantam diantara mereka berdua. Indi yang melihat hal itu segera memanggil satpam kantor untuk melerai mereka."Awas kamu kalau ganggu istriku lagi!" Andri masih marah. Sementara, Mahesa sudah dibawa ke dalam kantor kembali."Siapa dia?" "Suaminya Aruna.""Aruna mantan istri
Indi bukannya takut, dia malah melawan Hana. Dia tidak menyadari kalau dirinyalah yang salah di posisi ini."Kamu kira aku takut? Gak akan!""Dasar pelakor gak tau diri! Percaya diri banget dirimu."Hana tak ingin mengalah, bukan karena ingin mempertahankan Mahesa tapi harga dirinya sebagai istri sah sedang dipertaruhkan. Sebagai istri sah, Hana tidak ingin harga dirinya diinjak-injak walaupun dia susah tidak mencintai Mahesa lagi."Kamu kira, kamu akan mendapatkan dia? Tidak! Aku yakin dia mau sama kamu karena ada sesuatu tujuan.""Alah... Kamu bilang seperti itu karena cemburu kan!""Sudah.... Sudah .... Hana kamu pergi! Jangan bikin gaduh disini! Bikin malu saja!"Mahesa mengusir Hana dari lobi. Hana benar-benar kesal dengan sikap Mahesa selama ini."Lihat saja kalian! Aku akan membalas sakit hatiku ini." Hana tidak akan melupakan orang-orang yang telah menyakitinya.Jika dulu Hana hanya bisa menangis saat Mahesa lebih memilih Aruna, kini Hana lebih kuat dari sebelumnya.***Tidak
Malam itu, Mahesa pulang dalam keadaan mabuk. Dia berbicara tanpa menghiraukan perasaan Hana yang ada di sampingnya."Aruna ...aku mencintaimu! Aku ingin kita bersama lagi. Memadu kasih, mempunyai buah hati dan bahagia bersama."Hati wanita mana yang tak sakit, mendengarkan pengakuan sang suami. Benar kata orang, orang mabuk itu pasti jujur karena dia bicara dalam keadaan setengah sadar. Hana meneteskan air mata, dia memilih meninggalkan Mahesa di kamar sendirian."Aruna, kamu sudah bahagia. Tapi mengapa kamu masih mengganggu Mahesa? Apa istimewanya dirimu? Aku yang selalu menemani Mahesa tapi mengapa kamu yang dia cintai?" Hana mengusap air matanya. "Tidak, aku harus kuat. Aku harus kuat sampai anak ini lahir. Meskipun anak ini tidak pernah di akui papanya sendiri."Hana mengambil air minum, dia mencoba menenangkan dirinya. Dia sudah tidak punya siapapun kecuali Mahesa.Ketika kembali ke kamar? Mahesa sudah mendengkur. Dia terlihat sangat lelah sekali. Hana berbaring dengan menatap w
Sebenarnya Mahesa tidak menginginkan kehamilan itu. Namun, dia juga tidak tega untuk membuatnya tiada."Dia hamil? Kenapa kamu tidak tahu? Apa mungkin bukan anakmu?"Mawar justru membuat asumsi sendiri sehingga membuat Mahesa menaruh curiga pada Hana. Ucapan Mawar menjadi Boomerang untuk kehamilan Hana.Mahesa masuk ke dalam ruangan Hana, dia tampak acuh pada Hana."Mas, kita akan punya momongan! Kita harus jaga dia sampai persalinan!""Kenapa kamu tidak bilang kalau hamil? Apa dia bukan anakku?""Hah!!! Kamu menuduh aku selingkuh! Tega kamu, Mas!"Mawar bukannya meredam keadaan justru memperkeruh suasana sehingga makin kacau."Alah, kamu kan memang tukang selingkuh! Pantas hamil diam-diam saja! Harusnya anak itu celaka saja!"Ucapan Mawar membuat Hana kesal, dia berusaha meredam amarah karena mereka berada di rumah sakit. Jika tidak, Hana sudah melupakan emosinya.Esoknya, Hana sudah diperbolehkan untuk pulang. Namun, Mahesa memilih untuk bekerja, Hana pulang dari rumah sakit seorang







