Share

Bab 3

Author: Nabila Gemoy
last update publish date: 2026-02-12 20:19:52

Sejak saat itu, Aruna memilih tidak bertanya lagi. Dia pasrah jika memang tak akan disentuh oleh Mahesa selamanya.

Saat Aruna memainkan ponselnya, dia melihat vidio adegan dewasa. Aruna bukannya keluar dari vidio itu justru menontonnya sampai selesai.

"Bagaimana rasanya?" Itu yang Aruna pikirkan setelah menontonnya.

Hingga lamunan Aruna buyar saat ada notif pesan masuk dari Andri. Pria itu mengirimkan fotonya sehabis olahraga dengan telanjang dada.

Pikiran Aruna mulai tak karuan melihat tubuh atletis Andri. Ada gejolak yang sejatinya ingin disalurkan. Tapi dia kembali tersadar, dia tak bisa melakukannya dengan pria lain.

Aruna menyusul Mahesa di ruang kerjanya. Dia berupaya menggoda suaminya itu. Namun, hasilnya nihil. Mahesa sama sekali tidak tertarik.

"Ngapain kamu pakai baju itu? Baju kurang bahan kok di pakai."

Mahesa hanya mengatakan itu saat melihat Aruna memakai lingerie ke ruang kerjanya.

"Apa Mahesa tak normal?" pikir Aruna. Tapi, Aruna pernah melihat milik Mahesa bangun.

Di rasa sia-sia, Aruna memilih untuk segera ke kamar kembali. Dia menangis, ada rasa kesal dan juga sedih di dalam hati.

***

Satu Minggu kemudian, Aruna memutuskan untuk menemui Andri. Dia mendadak merindukan Andri.

"Silahkan masuk!" Andri membuka pintu lebar dan mengajak Aruna masuk ke dalam rumahnya.

Andri tinggal di rumah seorang diri. Orang tuanya sudah lama meninggal. Saudaranya sudah menikah semua.

"Kamu tampak sedih, Mbak!"

Aruna bukannya menjawab, dia malah memeluk Andri. Andri merasa iba saat Aruna menumpahkan air matanya dalam pelukan Andri.

"Mari duduk! Kita bicara!"

Andri menuntun Aruna duduk di ruang tamu. Aruna dengan santainya menceritakan bagaimana hubungan dia dengan sang suami selama ini.

"Mungkin ada masalah yang Mbak Aruna tidak tahu soal suami, Mbak."

"Tapi apa? Apa susahnya jujur?"

Andri menggelengkan kepala. "Mana aku tahu? Mungkin dia takut jujur karena takut kehilangan Mbak Aruna."

"Tetap saja tidak dibenarkan. Aku ini istrinya."

Aruna banyak sekali bercerita pada Andri. Sebagai teman yang baik, Andri memberikan saran agar Aruna menyelidiki semua sebelum mengambil keputusan yang salah. Namun, Aruna justru merasakan hal yang berbeda. Dia merasa nyaman saat bersama Andri.

Satu Minggu sekali, mereka selalu mengadakan pertemuan di rumah Andri. Hingga suatu hari, mereka khilaf. Hal yang gak diingikan terjadi.

"Maafkan aku, Mbak!"

"Bukan salah kamu. Tapi bagaimana aku bertanggung atas semuanya? Bagaimana nanti kalau Mas Mahesa menyentuhku sementara aku sudah tidak ... Ah kenapa aku ceroboh sekali." Ada nada penyesalan dalam perkataan Aruna.

Sejak kejadian itu, Aruna berusaha menjauh dari Andri. Andripun memahami hal itu. Namun, Mahesa justru seperti memberikan celak untuk Aruna kembali pada Andri. Mahesa kembali dinas keluar kota.

Aruna yang tak dapat menahan hasratnya kembali menemui Andri. Kesalahan itu terulang untuk kedua kalinya. Kali ini tidak ada penyesalan dalam hati Aruna.

"Kenapa Mbak mau melakukannya lagi?"

"Aku rasa aku mulai mencintaimu."

"Aku juga."

Ternyata selama ini mereka saling mencintai. Dan hubungan terlarang itu semakin berlanjut.

***

"Sayang, maaf aku akan lama dinasnya." Mahesa menelpon hanya memberikan kabar soal itu. Bahkan dia tak mengatakan kapan dia pulang.

Sore itu, Mawar datang ke rumah Aruna. Dia membawa begitu banyak makanan.

"Mahesa kayanya dinas. Aku akan menginap di sini biar kamu tidak kesepian."

Aruna ingin menolak tapi pasti akan menimbulkan rasa curiga. Dia memilih mengiyakan saja apa yang Mawar katakan.

"Kamu tidak takut kalau Mahesa punya wanita lain?"

Aruna menatap Mawar, apa itu jawaban dari pertanyaannya tempo hari?

"Jika Mas Mahesa memang punya wanita lain. Lalu untuk apa aku dinikahi? Di palaipun tidak." Jawaban Aruna sedikit menohok.

"Kamu tenang saja, Mahesa itu setia. Tidak akan ada wanita lain di hatinya selain kamu."

"Semoga saja."

"Lalu bagaimana dengan kamu? Apa dengan keadaan yang sekarang ada niatan untuk selingkuh?"

Aruna langsung melongo, dia berharap wajahnya tidak terlihat mencurigakan.

"Tidak."

Mawar hanya tersenyum, malam itu mereka memutuskan untuk istirahat. Besok Mawar akan mengajak Aruna jalan-jalan.

"Sayang, aku sengaja suruh Kak Mawar menemani kamu. Aku tahu kamu pasti kesepian."

***

Mawar dan Aruna pergi ke mall. Mereka berbelanja. Hingga tanpa sengaja mereka bertemu dengan Hana.

"Kak Mawar, Mbak Aruna!" sapa Hana.

Aruna terkejut karena tak mengenal wanita itu sebelumnya. Apakah wanita itu saudara Mahesa?

"Hai , aku Hana, teman baiknya Mahesa." Wanita itu memperkenalkan dirinpada Aruna. Dia menerima salam perkenalan Hana.

"Senang bisa berkenalan dengan Mbak Hana, apa Mbak Hana teman dekatnya Mas Mahesa?" tanya Aruna penasaran karena Mahesa tidak pernah cerita soal Hana. Bahkan saat menikahpun Hana tidak datang.

"Ya, begitulah. Sayangany, Mahesa sekarang sibuk. Gak pernah bisa ketemu aku lagi." Hana tersenyum. "Mungkin dia takut istrinya cemburu kalau ketemu sama aku, secara aku kan."

"Hana, jangan banyak bicara!" Mawar langsung menyala ucapan Hana tadi. Bagi kami maupun Mahesa kamu bukan siapa-siapa."

"Tapi dia perlu tahu, Mbak! Kalau aku ...," belum sempat melanjutkan ucapannya Mawar sudah memberi kode untuk diam.

Tatapan aneh Mawar terlihat jelas. Tampaknya Mawar tidak suka dengan Hana terlihat dari nada bicaranya.

"Aruna, ayo pergi!" Mawar menarik tangan Aruna.

"Duluan, Mbak!" Aruna melambaikan tangan Hana. Hana hanya tersenyum melihat kepergian mereka.

"Jangan dekat sama dia!"

"Kenapa, Mbak? Apa ada masalah dengan Hana?"

"Lebih baik jangan terlalu akrab dengan dia. Dia bukan orang yang baik buat kamu."

Penuh tanda tanya dari sikap dan ucapan Mawar barusan. Namun, Aruna berusaha mencairkan suasana dengan mengajak Mawar menonton di bioskop.

Mereka terlalu capek, sampai di rumah mereka langsung tertidur pulas. Satu hari tak berkirim kabar dengan Andri membuat Aruna merindukan pria itu.

"Kangen kamu." Pesan Aruna pagi itu.

"Apa iparmu masih disana?"

"Iya, entah sampai kapan."

Mawar melihat Aruna tersenyum saat membalas pesan. Dia mendekati Aruna.

"Apa Mahesa kirim kabar?"

"Oh tidak ini saudaraku."

Mawar hanya terdiam, dia mengambil handuk dan segera mandi. Aruna memilih kembali ke kamar dan menutup pintu rapat-rapat.

"Aku merindukan kamu." Aruna tampak manja saat menelpon Andri.

"Aku juga, kenapa tidak kamu suruh pulang saja iparmu itu?"

"Nanti dia curiga, malam ini aku usahakan datang ke tempat kamu setelah dia tidur."

Kedua orang itu tampaknya sedang kasmaran. Mereka saling merindukan satu sama lain.

Malam itu, Aruna diam-diam ke rumah Andri. Namun saat pulang, Mawar justru memergokinya.

"Dari mana kamu? Jam berapa ini kok dari luar?"

"Aruna lapar, beli makan tadi."

"Kenapa gak ajak kakak?"

"Kakak udah tidur tadi."

Mawar hanya tersenyum lalu masuk ke kamarnya lagi. Aruna merasa tenang, dia segera masuk ke kamar dan tidur.

Pagi itu, Mahesa pulang mendadak. Aruna dan Mawar terkejut sekali.

"Pulang kok gak ngabarin, Mas."

"Iya, tugas udah selesai makanya aku pulang."

"Jangan keseringan keluar kota! Kasihan itu istrimu."

"Mbak, bisa kita bicara di ruang kerjaku?" Mahesa menarik tangan Mawar mengajaknya masuk ke ruang kerja Mahesa.

Aruna menaruh curiga ada yang mereka bahas di dalam sana. Dan hal itu pasti sangat penting. Aruna mendekatkan diri ke pintu yang tertutup rapat itu.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Tak Tersentuh    Bab 18

    Semakin hari, Mahesa selalu sibuk dengan pekerjaannya dan melupakan bahwa ada Hana yang membutuhkannya. Hingga suatu hari, Hana melihat Mahesa bertemu dengan Aruna.Ya, pertemuan itu sebenarnya tidak sengaja. Tapi bagi Hana, hal itu pasti di rencanakan. Hana cemburu dan marah, seketika dia mendekati Aruna dan mendorongnya.Mahesa yang berada di dekat Aruna langsung menolong Aruna hingga Aruna tidak terjatuh."Hana, ngapain kamu disini?" Mahesa tampak marah sekali melihat Hana ada di tempatnya bekerja."Dia yang ngapain disini? Pasti dia sengaja datang kesini untuk menemui kamu, kan!""Aku menemui dia untuk apa. Aku datang kesini bersama suamiku untuk urusan bisnis. Bukan untuk menemui suami kamu."Andri datang, dia tampak marah karena melihat Hana memarahi Aruna. Begitu juga dengan atasan Mahesa, beliau tampak malu pada Andri."Mahesa, apa-apaan ini? Ini kantor bukan tempat istri kamu buat keributan. Suruh pergi sana!"Mahesa lalu menarik tangan Hana untuk keluar dari area kantor. Mah

  • Istri Tak Tersentuh    Bab 17

    Selang beberapa hari, pelaku itu tertangkap. Dia mengaku di suruh oleh Mahesa. Maka, polisi pun menangkap Mahesa, namun Mahesa berkilah tidak mengenal pelaku."Aku tidak kenal dia, bagaimana aku bisa memintanya menyelakai Aruna?"Polisi pun mengecek ponsel Mahesa tidak ada chat maupun komunitas apapun dengan pelaku. Bahkan transaksi keuangan pun tidak ada."Katakan siapa sebenarnya yang menyuruh kamu.""Mahesa yang menyuruhku. Dia tidak mengaku tidak masalah. Biar aku yang menanggung semua."Karena Mahesa tidak terbukti bersalah, maka Mahesa boleh pulang. Mahesa merasa aneh, ada orang yang berusaha mencelakia Aruna dan menggunakan namanya. Mahesa ingin menyelidiki semua. Dia tidak mau Aruna salah paham padanya.Jika Mahesa bingung siapa dalang semua? Begitu juga dengan Aruna dan Andri. Mereka mengira itu ulah Mahesa tapi polisi tidak menemukan keterlibatan Mahesa dalam masalah ini."Bagaimana bukan dia? Dia yang selalu mengganggu ku.""Aku juga tidak tahu. Apa mungkin memang bukan dia

  • Istri Tak Tersentuh    Bab 16

    Ternyata paket terus berdatangan ke rumah Aruna. Mulai dari foto hingga bunga dan makanan kesukaan Aruna. Karena merasa tidak memesan apapun, Aruna memilih untuk mengabaikannya. Namun, Andri justru marah. Dia merasa pengirim paket telah mengganggu ketenangan Aruna."Ini pasti ulah Mahesa, aku akan beri dia peringatan."Benar saja, sore itu Andri menunggu Mahesa di depan kantor Mahesa. Ketika dia melihat Mahesa, Andri langsung mendekatinya."Apa maksud kamu mengganggu istriku? Kalian sudah mantan! Jangan berharap bisa kembali sama dia!""Siapa yang mengganggu Aruna?""Jangan sok gak tahu! Kamu kirim paket terus-menerus ke rumahku untuk apa?""Aku tidak melakukannya."Andri marah, dia memukul Mahesa. Terjadilah baku hantam diantara mereka berdua. Indi yang melihat hal itu segera memanggil satpam kantor untuk melerai mereka."Awas kamu kalau ganggu istriku lagi!" Andri masih marah. Sementara, Mahesa sudah dibawa ke dalam kantor kembali."Siapa dia?" "Suaminya Aruna.""Aruna mantan istri

  • Istri Tak Tersentuh    Bab 15

    Indi bukannya takut, dia malah melawan Hana. Dia tidak menyadari kalau dirinyalah yang salah di posisi ini."Kamu kira aku takut? Gak akan!""Dasar pelakor gak tau diri! Percaya diri banget dirimu."Hana tak ingin mengalah, bukan karena ingin mempertahankan Mahesa tapi harga dirinya sebagai istri sah sedang dipertaruhkan. Sebagai istri sah, Hana tidak ingin harga dirinya diinjak-injak walaupun dia susah tidak mencintai Mahesa lagi."Kamu kira, kamu akan mendapatkan dia? Tidak! Aku yakin dia mau sama kamu karena ada sesuatu tujuan.""Alah... Kamu bilang seperti itu karena cemburu kan!""Sudah.... Sudah .... Hana kamu pergi! Jangan bikin gaduh disini! Bikin malu saja!"Mahesa mengusir Hana dari lobi. Hana benar-benar kesal dengan sikap Mahesa selama ini."Lihat saja kalian! Aku akan membalas sakit hatiku ini." Hana tidak akan melupakan orang-orang yang telah menyakitinya.Jika dulu Hana hanya bisa menangis saat Mahesa lebih memilih Aruna, kini Hana lebih kuat dari sebelumnya.***Tidak

  • Istri Tak Tersentuh    Bab 14

    Malam itu, Mahesa pulang dalam keadaan mabuk. Dia berbicara tanpa menghiraukan perasaan Hana yang ada di sampingnya."Aruna ...aku mencintaimu! Aku ingin kita bersama lagi. Memadu kasih, mempunyai buah hati dan bahagia bersama."Hati wanita mana yang tak sakit, mendengarkan pengakuan sang suami. Benar kata orang, orang mabuk itu pasti jujur karena dia bicara dalam keadaan setengah sadar. Hana meneteskan air mata, dia memilih meninggalkan Mahesa di kamar sendirian."Aruna, kamu sudah bahagia. Tapi mengapa kamu masih mengganggu Mahesa? Apa istimewanya dirimu? Aku yang selalu menemani Mahesa tapi mengapa kamu yang dia cintai?" Hana mengusap air matanya. "Tidak, aku harus kuat. Aku harus kuat sampai anak ini lahir. Meskipun anak ini tidak pernah di akui papanya sendiri."Hana mengambil air minum, dia mencoba menenangkan dirinya. Dia sudah tidak punya siapapun kecuali Mahesa.Ketika kembali ke kamar? Mahesa sudah mendengkur. Dia terlihat sangat lelah sekali. Hana berbaring dengan menatap w

  • Istri Tak Tersentuh    Bab 13

    Sebenarnya Mahesa tidak menginginkan kehamilan itu. Namun, dia juga tidak tega untuk membuatnya tiada."Dia hamil? Kenapa kamu tidak tahu? Apa mungkin bukan anakmu?"Mawar justru membuat asumsi sendiri sehingga membuat Mahesa menaruh curiga pada Hana. Ucapan Mawar menjadi Boomerang untuk kehamilan Hana.Mahesa masuk ke dalam ruangan Hana, dia tampak acuh pada Hana."Mas, kita akan punya momongan! Kita harus jaga dia sampai persalinan!""Kenapa kamu tidak bilang kalau hamil? Apa dia bukan anakku?""Hah!!! Kamu menuduh aku selingkuh! Tega kamu, Mas!"Mawar bukannya meredam keadaan justru memperkeruh suasana sehingga makin kacau."Alah, kamu kan memang tukang selingkuh! Pantas hamil diam-diam saja! Harusnya anak itu celaka saja!"Ucapan Mawar membuat Hana kesal, dia berusaha meredam amarah karena mereka berada di rumah sakit. Jika tidak, Hana sudah melupakan emosinya.Esoknya, Hana sudah diperbolehkan untuk pulang. Namun, Mahesa memilih untuk bekerja, Hana pulang dari rumah sakit seorang

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status