Share

03

"Apa?! Kenapa kamu nggak atur jadwal saya dengan benar Hena?!"

Pagi-pagi begini tenaga Bima sudah dikuras habis-habisan. Dia tidak marah karena banyak pekerjaan, melainkan ia marah karena harus bolak balik ke kota yang berbeda dalam waktu satu hari. Bayangkan saja, pasti sangat melelahkan dan mungkin dirinya akan pulang larut malam.

Hena yang ketakutan pun menundukkan kepalanya, "Maafkan saya pak Bima, mereka semua menginginkan hari ini juga untuk meeting. Saya sudah mencoba menolaknya, tapi mereka nggak mau pak,"

"Ck! Cepat siapkan berkasnya, kita jalan saat ini juga!"

"Saya sudah menyiapkan semuanya pak Bima, kita tinggal berangkat saja."

Tanpa menjawabnya lagi Bima langsung berdiri dari duduknya, lalu mengambil dompet, ponsel dan juga kunci mobilnya yang ada di atas meja. Setelah itu, dirinya berjalan terlebih dahulu meninggalkan Hena yang masih menunggunya di depan meja kerjanya.

Hena yang melihat Bima pergi pun tersenyum smirk. Lalu dirinya bergegas menyusul Bima agar laki-laki tersebut tidak meninggalkannya dan memarahinya lagi.

"Maaf Bim, bukannya aku tidak bisa mengatur jadwal meeting kamu. Tapi aku sengaja melakukannya, aku nggak bisa lihat kamu berduaan sama istri kamu. Hatiku sakit Bim, sangat sakit!" batin Hena yang kini sudah berjalan tepat di belakang Bima.

"Sena, suatu saat nanti pasti gue akan berhasil rebut Bima dari lo." Batin Hena lagi.

.

Kembali lagi ke kediaman keluarga Alister. Setelah mencari terlalu lama akhirnya Sarah dan Viona sudah menemukan kucing Sena. Ya, saat ini Bi Lisa sedang memandikan kucing tersebut di dalam kamar mandi yang berada di dapur.

"Emm... Bi," panggil Viona dari ambang pintu kamar mandi.

Bi Lisa yang mendengar suara dari anak majikannya itu pun segera menoleh, sembari memegang Lucy yang masih diselimuti banyak busa sabun, "Iya non, ada yang non inginkan?"

"Tolong belikan kue untuk keponakan saya, sekarang juga!" pinta Sarah yang berdiri di samping sang putri.

"Tapi nyonya, saat ini saya sedang memandikan kucing non Sena. Nanti setelah selesai saya akan langsung belikan," jawab Bi Lisa.

"Nggak ada tapi-tapian! Pokoknya bibi harus belikan sekarang juga! Lagi pula yang menggaji kamu itu saya, bukan Sena!" Sarah menekankan perkataannya, agar Bi Lisa tidak berani membantahnya lagi.

"Tapi, kucing non Sena bagaimana nyonya? Saya belum selesai memandikannya," Bi Lisa terlihat cemas ketika menatap Lucy yang saat ini sedang mengeong karena terkena air.

Viona yang ingin menjalankan aksinya pun langsung mengambil alih Lucy dari tangan Bi Lisa, "Bibi tenang aja, kucing ini biar gue sama mama yang urus. Sekarang lebih baik bibi pergi beliin kue untung kak Andra!"

"Tapi kan non Viona nggak terbiasa memandikan kucing, nanti kalo non dicakar gimana?" ucap Bi Lisa yang mengkhawatirkan anak dari majikannya itu.

Sarah yang malas menanggapi Bi Lisa pun langsung menarik tangannya dan membawanya keluar dari dalam kamar mandi, "Udah bibi nggak usah banyak protes lagi! Sekarang lebih baik cepat pergi belikan kue!"

Bi Lisa menghela napasnya panjang, "Baik nya, saya akan membelinya,"

"Nih uangnya, untuk kuenya pilih yang paling mahal aja," ujar Sarah sembari menyodorkan beberapa lembar uang seratusan ke hadapan Bi Lisa.

"Baik nyonya." Jawab Bi Lisa seraya mengambil uang dari tangan Sarah.

Bi Lisa pun bergegas pergi, karena toko kue langganan mereka berada cukup jauh dari sana. Sebenarnya di dekat sana juga ada, namun Sarah tidak menyukainya karena rasanya yang kurang enak.

Setelah memastikan kepergian Bi Lisa, Sarah segera menyusul Viona yang saat ini masih memegangi Lucy di dalam kamar mandi.

"Ini gimana ma?" rengkek Viona sembari menjauhkan Lucy dari tubuhnya. Ekspresi wajahnya juga menunjukkan dirinya jijik memegang kucing imut itu.

"Kita tenggelamkan saja di air, nanti pasti dia akan mati sendiri," jawab Sarah sembari menghampiri sang putri.

"Oke ma."

"Meong... Meong... Meong..."

Lucy seperti mengerti jika kedua wanita itu orang yang jahat, ia mencakar, memberontak dan ingin berusaha lari dari sana, namun gagal karena kalah dengan kedua manusia kejam itu.

Sarah dan Viona langsung menenggelamkan kepala Lucy ke dalam bak mandi yang sudah terisi oleh air. Mereka terus memegang tubuh Lucy, sampai pada akhirnya kucing tersebut sudah tidak bergerak lagi dan barulah mereka melepasnya begitu saja ke dalam bak mandi.

"Akhirnya kuman ini mati juga!" perkataan Sarah terdengar sangat angkuh.

"Iya ma. Ayo kita pergi dari sini, keburu Bi Lisa sampai," ajak Viona yang tidak betah berlama-lama di sana.

"Iya ayo."

Sebelum pergi mereka terlebih dahulu mencuci tangan yang penuh dengan sabun sampai bersih, lalu barulah mereka meninggalkan tempat tersebut, membiarkan tubuh Lucy mengambang begitu saja di dalam bak mandi.

.

Hari sudah hampir pukul sepuluh pagi, dan Dara baru saja sampai di butik. Tampilannya juga cukup acak-acakan, dengan mata panda yang menghiasi wajahnya.

"Bu Dara, tadi bu Sena suruh ibu menemui beliau di ruangannya," ucap Alin yang tidak sengaja melihat kedatangan Dara.

"Iya Lin, terima kasih,"

"Sama-sama bu."

Alin langsung melanjutkan pekerjaannya, karena suasana butik yang cukup ramai. Sedangkan Dara segera pergi ke ruangan Sena setelah meletakkan tasnya di meja kasir.

Ceklek...

Dara langsung masuk begitu saja ke dalam ruangan Sena. Di sana ia melihat sahabatnya itu sedang sibuk sendiri di depan layar laptop miliknya.

"Ada apa lo suruh gue ke sini?"

Ketika mendengar suara dari Dara, Sena yang tadinya sibuk dengan laptopnya pun langsung mengangkat wajahnya, "Bu bos siang gini baru datang," cibirnya.

Dara langsung menutup pintu ruangan tersebut, lalu berjalan cepat ke hadapan Sena, dan setelah itu ia langsung menghempaskan tubuhnya ke kursi yang ada di hadapan sahabatnya itu.

"Gue masih ngantuk banget Sen! Tolong dong ngertiin gue," ucap Dara yang kini sudah menutup matanya.

"Gue juga ngantuk Dar, tapi gue masih bisa bangun pagi karena gue masih punya tanggung jawab di sini. Jangan karena lo sahabat gue lo jadi seenaknya, kasihan sama Alin dan Keisha kalo sikap lo kayak gitu," tutur Sena yang tidak mau membedakan pegawai di butiknya.

Dara kembali membuka matanya, lalu menghela napas dalam, "Iya deh gue yang salah. Sorry hari ini gue datang terlambat,"

"Oke nggak masalah, tapi lain kali lo nggak boleh ulangi lagi!"

"Iya Sena gue nggak akan ulangi lagi,"

"Hmm... Bagus kalo gitu," jawab Sena sembari kembali melihat ke layar laptopnya.

"Lo suruh gue datang ke sini cuma buat ini dong Sen?"

"Iya, sekarang lo bantuin tuh Alin sama Keisha. Kasihan banyak pelanggan yang datang. Gue masih ada kerjaan di sini, jadinya nggak bisa bantuin mereka," jawab Sena panjang lebar.

"Yaudah deh gue pergi dulu,"

"Iya."

Akhirnya Dara pun keluar dari ruangan tersebut dengan wajahnya yang malas. Mau tidak masuk pun pasti Sena akan marah, masuk terlambat juga dimarahi. Serba salah emang jadi dirinya.

.

Ketika Bi Lisa sudah sampai di rumah, ia langsung memasukkan kue yang ia beli ke dalam kulkas, lalu bergegas mencari keberadaan Sarah dan Viona.

"Non Viona, nyonya Sarah, Lucy ada di mana ya?"

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status