مشاركة

Bab 61 - Delusi

مؤلف: ekaphrp
last update تاريخ النشر: 2025-09-10 22:07:55
Sepasang mata menatap dua anak manusia yang baru saja turun dari kamar. Tak ada godaan atau ejekan. Namun, dari sorot mata itu … tampak jelas ada gurauan yang tersirat.

“Sudah mandinya?” tanya Dahlia yang sudah lebih dulu menyantap sarapan di atas meja.

Dan … bodohnya, dua anak manusia itu tak langsung menjawab. Seolah-olah berpikir bahwa pertanyaan perempuan itu mengandung makna tersirat.

“Ayo, makan! Supnya sudah dingin. Mau dihangatkan lagi?”

Dahlia dibersamai garis tipis di bibirn
ekaphrp

Yuk kasih aku gem, komen, dan ulasan menarik 🫶🏻🫶🏻

| 12
استمر في قراءة هذا الكتاب مجانا
امسح الكود لتنزيل التطبيق
الفصل مغلق
تعليقات (16)
goodnovel comment avatar
yesi rahmawati
Ikut aja tavisha daripada kamu di rumah sendiri dan berbahaya untuk kamu
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humairoh
keknya bukan delusi deh sha itu beneran ada yg nguntit kamu
goodnovel comment avatar
Shafeeya Humairoh
mending kamu ikut aja sama ibu deh sha dr pada ketakutan sendiri di rumah kan nanti jadi oarno sendiri
عرض جميع التعليقات

أحدث فصل

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 83 - Catatan Tak Bersuara

    Jemari Tavisha yang menahan ujung seragam Yudha kini bergetar. Gerakan kecil itu terasa seperti jeritan di tengah kesunyian. Yudha menoleh, menunduk sedikit agar sejajar dengannya. Sorot mata Tavisha begitu rapuh hingga Yudha hampir saja membatalkan semuanya.“Mas … jangan pergi ….” Suaranya serak, terdengar begitu memilukan. Yudha tak menjawab. Ia hanya menggenggam jemari itu dan melepaskannya perlahan, satu per satu, seolah melepaskan bagian dirinya sendiri.“Tavisha …,” lirih Yudha dengan napas tertahan. “Kalau saya tidak pergi, akan banyak orang yang terluka nanti.”Tavisha memejamkan mata, hingga tetesan air mulai berjatuhan. Diantara keheningan yang menggantung di udara, ada rasa sakit yang tak kasat mata. “Saya akan pulang. Kamu tunggu saya,” bisik Yudha, akhirnya. Hanya sekadar untuk menenangkan istrinya. Meskipun ia tak boleh menjanjikan apapun sebagai abdi negara. Tapi, ia berharap semesta berpihak pada kisah cinta mereka. Tavisha menahan isak, mengangguk pelan. Namun, ke

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 82 - Perpisahan Yang Menyakitkan

    Yudha menjauh dari kerumunan setelah briefing keberangkatan esok malam. Di sudut lapangan yang jauh dari hiruk pikuk prajurit, Yudha menyalakan rokok untuk sedikit mengurangi kegelisahannya. Tidak hanya soal keberangkatannya saja yang memberatkan. Tapi, ada hal yang jauh mengganggu pikiran. Ketika Tavisha begitu dekat dengan sahabat lawan jenisnya. Ditambah lagi tak ada kabar dari sang perempuan bahwa ia keluar dari rumah. Meski hubungan mereka masih dingin, namun Yudha berharap Tavisha tetap menjadikan dirinya sebagai orang pertama untuk tahu segala hal tentangnya, termasuk apa yang ingin ia lakukan.Rokok mulai terselip di bibir. Ia hendak menyalakan saat tiba-tiba seseorang menarik lintingan tersebut.“Nggak biasanya Mas ngerokok disini.”Yudha menoleh dan mendapati Bening berdiri disisinya dengan jarak dua langkah. Wanita itu memandangnya heran. Dan Yudha langsung memalingkan wajah ke arah lapangan yang membentang luas.“Untuk apa kamu kesini?”“Aku lihat Mas gelisah daritadi.”Yud

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 81 - Tidak Ada Jalan Lain

    “Tidak ada jalan lain,” ucap seorang pria berseragam pangkat tinggi yang kini tengah berbicara empat mata dengan orang berpengaruh di bidang pertahanan tersebut. Pagi menjelang siang itu tampak mencekam di ruang tertutup yang hanya ada mereka berdua. Selain atasan dan bawahan, mereka juga seorang sahabat yang sudah lama berkecimpung di dunia militer. Kali ini, dilema datang dari pria yang sangat berpengaruh seantero nusantarq. Pasalnya, baru tadi pagi hati yang sekeras batu itu hancur berkeping-keping. Walau ia tidak menunjukkan bahwa dirinya hancur di hadapan sang putri, tapi—sebagai seorang ayah ia memahami itu. Ia teringat bagaimana mendiang Harlyn kesepian ketika mengandung putri mereka. Bagaimana dirinya hampir mati di medan perang tanpa bisa memberitahu apa yang terjadi. Dan kini, bayangan itu menghancurkan pertahanan dirinya sendiri. Tavisha terlalu muda. Ia sadar ada banyak langkah yang diambil tanpa mempertimbangkan perasaan putrinya. Termasuk bagaimana ia memaksa sang putri m

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 80 - Mencari Ketenangan

    Tavisha terdiam dibalik kemudi tanpa benar-benar melihat apa yang ada di hadapannya. Yang ia rasakan hanya gema dari satu kalimat yang terucap beberapa jam lalu. Kalimat yang belum mendapatkan balasan apapun. “Tavisha hamil.”Reaksi pertama sang ayah memang terkejut. Namun setelahnya … Manggala membeku. Yang Tavisha yakini bukan karena bahagia atau marah. Entahlah, ekspresinya terlalu samar untuk bisa ia baca. Sang ayah hanya diam seperti batu, tidak pernah berubah bentuk sekalipun dihantam berkali-kali. Tavisha menahan napas, seolah dadanya menolak mengendur sejak meninggalkan kediaman Tandjung. Ucapannya sendiri terus mengiang di telinga, sementara sosok sang ayah berdiri di depan jendela tanpa ekspresi, masih saja terbayang. Tavisha sendiri tak tahu apa yang ia harapkan dari pria paruh baya itu. Apakah penolakan, amarah, atau keputusan yang menyenangkan. Tapi … ketiganya tidak ia dapatkan. Atau minimal, ia membutuhkan reaksi dari pria itu. Akan tetapi, semuanya tak ia dapatkan ju

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 79 - Bersimpuh Memohon

    Tak ada jawaban yang berarti. Tavisha hanya bergeming, memandang manik yang berusaha menghindari tatapannya. Ia tahu Yudha pun berat mengatakannya. Tapi, apa yang bisa diperbuat? Meraung pun rasanya percuma. Perlahan, Tavisha beranjak dari duduknya. Masih hening. Tak ada ucapan yang keluar dari bibir kecil itu. Sampai Yudha menahan pergelangan tangan yang terasa begitu kurus entah sejak kapan. “Tavisha …,” panggil pria itu, lirih. “Aku mau istirahat, Mas.” Sebuah kalimat terlontar dengan sangat rendah, seolah jika sedikit lebih keras terdengar getarannya. Apa yang Tavisha rasakan, jauh lebih menyesakkan. Dalam keadaan hamil, ia harus ditinggal. Bahkan, saat persalinan nanti pun seolah mustahil untuk suaminya ada di dekatnya. Yudha menelan ludah, cenderung gelisah. Tak ada yang bisa ia lakukan selain melepas pergelangan tangan itu dan membiarkan sang istri mengambil jeda untuk menenangkan diri. Pasalnya, bukan hanya Tavisha saja. Yudha pun belum siap jika harus meninggalkan san

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 78 - Berat Hati

    Yudha menatap wajah sang istri cukup lama sebelum beranjak dari tepi ranjang. Ia menyampirkan selimut hingga sebatas dada sang perempuan, memastikan agar tetap hangat. Dan ketika ia hendak berdiri, ponsel di saku celananya bergetar. Ia pun merogoh lalu memandang layar menampilkan kontak dari markas besar. Getarannya terasa seperti alarm yang membangunkan sisi lain dalam dirinya—sisi yang tak pernah bisa menolak panggilan tugas.Sekilas, ia memandang Tavisha sekali lagi. Perempuan itu masih terlelap, wajahnya teduh dengan rambut terurai menutupi sebagian pipinya. Yudha menahan napas sejenak, baru melangkah keluar kamar sepelan mungkin. Begitu tiba di ruang tamu, ia segera mengangkat panggilan itu.“Siap perintah!”Suara di seberang terdengar tegas. “Kapten, mohon segera ke markas. Ini mendesak. Panglima memerintahkan seluruh tim utama hadir pagi ini.”“Pagi ini?” Yudha melirik jam di dinding. Waktu menunjukkan pukul tujuh tiga puluh. “Iya, Kapten. Tidak bisa ditunda.”“Baik. Saya sege

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 64 - Merasa Dikhianati

    “Pegawai admin bilang, lo mengundurkan diri.” Kalimat Samuel terngiang-ngiang di telinganya. Apa maksudnya? Sejak kapan ia mengundurkan diri? Bahkan, dirinya saja belum sempat melanjutkan penelitian sejak kejadian itu. Siapa yang tanpa sepengetahuannya melakukan ini? Samuel? Tidak mungkin! Tavi

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 63 - Berhenti

    Yudha baru saja selesai latihan ketika suara ponselnya berdenting. Satu pesan dari sang terkasih. Tavisha Putri Tandjung: Photo received Tavisha Putri Tandjung: Tebak aku ada dimana? Pesan itu terlihat jelas menampakkan penampilan sang ibu di podium. Ya, Yudha sudah tahu bahwa istrinya kini te

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 62 - Teror dan Ancaman.

    “Bu, boleh Tavisha ikut?” Akhirnya Tavisha mencekal lengan Dahlia ketika wanita itu hendak keluar pintu utama. Sungguhan, ia tidak bisa tenang. Jantungnya terus berdetak seperti genderang perang. Ia merasa seolah benda tengah memperhatikan, bagaikan teror dan ancaman dalam diam. Dahlia yang semu

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 60 - Hangat Membara

    “Kenapa curi start?”Satu pertanyaan melesat dari bibir Yudha. Tangannya bertumpu di atas wastafel. Tepatnya, di sisi kanan dan kiri sang istri. Tubuh itu condong, membuat jarak di antara mereka kian terkikis sempurna. Wajah keduanya hanya berjarak satu jari. Bahkan, Tavisha bisa merasakan hembusan

فصول أخرى
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status