Yudha berdiri tegak di barisan paling depan ketika matahari mulai naik, sehingga menciptakan siluet tajam di balik deretan prajurit berseragam lengkap. Ia tampak fokus mendengarkan laporan komandan upacara, tetapi dibalik ketegasan, pikirannya belum sepenuhnya pulih dari bayang-bayang perjanjian pernikahan yang Tavisha ajukan tadi pagi.
“Gue nggak keberatan memainkan peran sebagai istri cuma buat menjaga wajah dan stabilitas politik kalian. Tapi, jangan harap gue mau hidup selamanya sama lo!”
Sungguhan perempuan itu berhasil membuat hidupnya jauh dari kata tenang. Selama ini, ia menganggap pernikahan hanya akan menghambat karirnya. Dan benar saja, selama apel pagi, ia dibuat tidak tenang. Meskipun ia berusaha setenang lautan, tapi gemuruh ombak tetap menggoyahkan pertahanan. Yudha tak tahu apa yang akan terjadi di dalam hubungan pernikahan mereka nantinya. Bahkan, maksud dibalik perjodohan itu terlalu samar. Apa benar yang Tavisha katakan? Bahwa pernikahan mereka hanya demi misi yang entah tujuannya apa?
Waktu berlalu dengan argumentasi yang terus menggerus pikirannya.
Melihat perubahan sikap sang kapten, usai bubaran apel—Pandu, Dipta, Parama, dan Yoga segera menghampiri sang atasan. Dipta, Parama, dan Yoga merupakan Danton (Komandan Pleton) regu A, B, dan C berpangkat Letnan Dua. Sementara Pandu merupakan asisten Yudha berpangkat Letnan Satu. Selain hubungan atasan dan bawahan. Mereka memiliki keakraban yang lebih dari itu. Bahkan, tidak jarang mereka menjadikan sikap kaku Yudha sebagai bahan olok-olok dan berujung hukuman lari atau push-up seratus kali.
“Ada apa, Ndan?” tanya Dipta yang memiliki rasa ingin tahu paling tinggi.
“Iya, muka ditekuk begitu. Malam pertama gagal, ya?” celetuk Yoga yang suka tidak berpikir kalau bicara.
Seketika itu pula langkah kaki Yudha berhenti. Parama yang hanya ikut menertawai, justru menegang kala dirinya tak sengaja menabrak tubuh sang atasan.
“Siap, salah, Ndan!”
Parama menghentakkan kaki, lalu bersikap tegap ketika titik pandang Yudha meniliknya tajam.
“Hmmmm,” dehem Pandu berusaha mencairkan ketegangan disana.
Namun, belum sempat ia mengeluarkan sepatah kata. Sebuah dering ponsel menjeda. Yudha yang lupa mengaktifkan mode hening, seketika merutuk. Ia memejamkan mata sebelum menghela nafas. Kemudian, merogoh saku dan melihat nama yang tertera di layar. Manggala Trianto Tandjung.
Di detik yang sama, darahnya berdesir panas.
Seorang menteri pertahanan, menghubunginya. Tokoh paling berpengaruh dalam sistem pertahanan negeri ini, sekaligus ... ayah mertuanya.
Dengan sigap, ia menjauh dari rekan kerjanya dibersamai detak jantung yang semakin bergemuruh kencang.
“Selamat pagi, Pak.”
“Pagi, Yudha. Maaf mengganggu waktu kamu. Saya tidak akan lama,” ujar Manggala dengan nada tenang namun penuh wibawa.
“Siap perintah, Pak!” jawabnya dengan kaku.
“Tidak perlu protokoler. Saya cuma mau memastikan. Apa Putri baik-baik saja?”
Yudha tertegun. Tak ada basa-basi atau obrolan soal protokol militer. Percakapan ini ... sifatnya pribadi. Dan lebih dari itu, terdengar hangat di telinga.
“Iya, Pak. Kami masih mencoba menyesuaikan diri. Tapi saya berusaha sebaik mungkin,” jawab Yudha mantap.
“Jangan panggil saya Bapak. Panggil, Papa.”
“Oh, ba-baik, Pa ….”
Yudha menelan ludah. Rasanya canggung sekali.
“Kalau begitu saya tidak perlu khawatir. Tapi, Yudha …,” lanjut Manggala dengan nada bicara yang menggantung.
“Ya, Pa?”
“Putri itu anak yang sangat keras kepala. Tapi hatinya mudah luluh kalau sudah percaya. Satu hal yang harus kamu ingat ... dia punya alergi kacang almond. Bahkan jejak kecil pun bisa membuatnya kesulitan bernapas. Jadi, tolong … jaga dia baik-baik, ya.”
Deg!
Wajah Yudha mendadak pucat. Ia merasa seolah bumi ambruk di bawah kakinya. Salad tadi pagi. Sausnya. Ia lupa mengecek bahan-bahan dari saus itu. Tapi, ia ingat, bukankah dirinya membeli gourmet dressing dengan label ‘almond oil infused’? Seketika itu pula, napasnya tercekat.
“Baik, Pa. Saya akan ingat itu.”
Yudha berusaha tenang dan segera mengakhiri panggilan tersebut.
“Pa, sepertinya saya harus segera pergi. Mungkin, lain kali—saya akan menghubungi Papa lebih dulu.”
“Oh, baiklah. Tolong jaga Putri, ya.”
Tapi Yudha tak lagi mendengar. Ia segera memutuskan panggilan dan berbalik. Namun, langkah kakinya terhenti. Teringat bahwa dirinya tidak bisa sembarangan meninggalkan markas, meski isi dadanya kini hampir meledak.
Ketika langkah kakinya hendak menuju ruangan komandan untuk meminta izin, Pandu memanggilnya dari kejauhan.
“Kapten!” seru Pandu, menghentikan langkah kakinya.
“Ada apa?”
“Panglima TNI, Pak Dirga, meminta Abang menghadap di markas besar.”
Sekali lagi, dada Yudha bergemuruh hebat. Ia memejamkan mata seraya menghirup oksigen dalam-dalam. Disaat genting seperti ini, mengapa ayahnya selalu saja merecoki.
“Kenapa muka Abang pucat begitu?”
“Saya ada masalah mendesak sebenarnya. Apa kamu bisa perintah salah satu wara (wanita tentara) korps kesehatan untuk ke rumah saya?”
“Buat?”
“Tavisha mungkin sedang tidak baik-baik saja. Tolong pastikan kondisinya aman disana.”
“Kalau begitu saya minta Bening saja untuk kesana.”
“Oke. Tolong kabari saya, Pandu.”
“Siap, laksanakan!”
Di tengah kepanikan, Yudha berusaha bertanggung jawab atas pekerjaannya. Ia pun menjauh dari Pandu yang masih menatap punggungnya dengan penuh tanda tanya.
“Dingin tapi perhatian juga ternyata,” goda Pandu, tersenyum penuh makna.
***
Di dalam rumah yang kini terasa seperti ruang kedap udara, Tavisha hampir kehilangan kesadaran. Tubuhnya bersandar lemah di dinding ruang makan, napasnya nyaris tak terdengar. Tangannya menggenggam ponsel dengan sisa tenaga, tapi pandangannya buram.
Tiba-tiba, suara mesin mobil terdengar dari luar. Tidak lama kemudian, pintu utama terbuka. Seorang wanita berseragam hijau lumut, dengan nametag Lettu Bening A. Suryadarma menangkap tubuh Tavisha yang terkulai lemah di dinding.
“Bu Tavisha?!”
Bening segera berlutut, memeriksa denyut nadi dan membuka mulut Tavisha untuk memastikan jalan napasnya. Ia menemukan tanda-tanda alergi akut—wajah yang bengkak, bibir yang membiru, dan napas tersengal.
Tanpa membuang waktu, ia meraih EpiPen—pena suntik darurat yang selalu dibawa sebagai bagian dari perlengkapan medis. Dengan tangan mantap, ia menyuntikkan adrenalin ke paha Tavisha. Lalu, menelpon ambulans militer dengan kode prioritas.
“Bu Tavisha, tahan sedikit lagi. Tolong, jangan tidur …,” gumam Bening lirih, kali ini bukan sebagai perwira, tapi sebagai sesama perempuan yang merasa hatinya terhimpit melihat penderitaan yang begitu mendadak.
Bening tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Mendengar penuturan Pandu bahwa wajah Yudha memucat kala memberi perintah, ia sadar jika pria itu tidak ingin istrinya berada dalam bahaya.
Sementara itu, di markas besar, Yudha baru saja keluar dari ruangan sang ayah dengan perasaan tak tenang. Antara perintah dan hati nuraninya saling berseberangan. Di satu sisi, ia ingin melihat kondisi Tavisha. Namun, di sisi lain, ia harus segera berangkat keluar kota demi tugas yang diembannya.
Tak lama kemudian, ponselnya berdering. Nama Bening muncul di layar.
“Lapor, Kapten. Saya sudah di lokasi. Keadaan istri Anda kritis tapi sudah saya suntik dengan EpiPen. Ambulans dalam perjalanan. Kami akan bawa ke rumah sakit militer.”
Yudha tak mampu berkata-kata. Hanya suara deru napas berat yang terdengar.
“Terima kasih, Lettu Bening. Karena sudah menyelamatkannya.”
“Bukan saya, Kapten. Saya hanya menjalankan perintah. Tapi sebaiknya ... Anda segera ke rumah sakit.”
Dan sebelum berangkat ke luar kota, Yudha pun melangkahkan kaki menuju rumah sakit. Setidaknya, ia harus memastikan dengan mata kepala sendiri bahwa sang istri baik-baik saja.
Beberapa jam kemudian, di ruang perawatan intensif rumah sakit militer, Tavisha terbaring dengan selang oksigen terpasang di hidungnya. Napasnya sudah lebih stabil. Di sisi ranjang, Yudha berdiri—memandang sang istri dengan perasaan bersalah.
“Maafkan saya, Tavisha,” bisiknya lirih. Suara beratnya dipenuhi penyesalan. “Saya harus pergi,” sambungnya, sebelum akhirnya benar-benar pergi. Dan tanpa menunggu waktu, Yudha pun beranjak dari kamar itu untuk menyelesaikan misi militernya.
***
“Atau Mas maunya aku bikin suasana lebih … panas?” “Apa maksud kamu?” Tavisha semakin berani. Ia menggeser tubuhnya lebih dekat, sampai kedua kakinya berada diatas pangkuan pria itu. Tangannya terulur, memainkan dada bidang sang suami dengan godaan-godaan nakalnya. “Mas tahu nggak, aku paling suka kalau kamu udah diem kayak gini. Soalnya, tingkat ketampanan kamu tuh jadi bertambah dan pastinya kamu nggak bisa marah, ‘kan?” goda Tavisha. Jari-jarinya semakin lihai menggelitik dada bidang sang suami, seolah memancing raksi. Yudha hanya menoleh pelan, tapi jelas ada kilatan buas di matanya. Seperti hewan yang tengah memangsa. “Tavisha,” ucap Yudha rendah, seolah memberi peringatan. “Ya, Mas?” tanya Tavisha, mendayu-dayu, raut wajahnya dibuat sepolos mungkin sembari menatap sang suami dari samping. “Ada apa?” “Jangan macam-macam.” “Lho, aku cuma pegang dada Mas aja, bukan yang lain.” Tavisha terkekeh pelan, lalu semakin menjelajahi ke bawah, tepat di atas pusar pria itu. “N
Perut Tavisha sudah terisi, tapi ada yang lebih menyenangkan dari sekadar perut yang kenyang. Ialah kebersamaan yang tercipta bersama sang terkasih. Sisa senyum masih melekat di wajah perempuan itu ketika meletakkan garpu di pinggir piring. Yudha sudah mengangkat piring kosongnya, beranjak, lalu melangkah ke dapur.“Biar aku aja yang cuci, Mas,” ujar Tavisha refleks.Yudha menoleh sekilas, sorot matanya biasa saja, tapi ada sedikit nada perintah dalam jawabannya.“Sudah, kamu duduk saja. Nanti kalau tumbang lagi, malah repot.”“Cuma cuci piring nggak bakal buat tumbang, kok, Mas …,” gumam Tavisha setengah protes.Yudha tidak menjawab, hanya menggeleng kecil. “Tidak boleg.”Selepas itu, Yudha langsung menyelesaikan tugasnya mencuci piring. Tangannya bergerakcekatan di wastafel dibersamai air mengalir dan bunyi piring yang beradu pelan. Tavisha terdiam, menatap punggung sang suami yang kembali serius. Ada rasa aneh menggelitik jiwanya, yaitu senang sekaligus canggung. Setelah pria itu
“Mulai malam ini, kamu tidur di bawah.” “Ya?” Tavisha terperanjat. Pergelangan tangannya masih dalam genggaman Yudha, membuat langkah kaki itu seketika terhenti. Ia menatap dalam manik kelam sang suami yang tak memancarkan ekspresi apapun. Sungguhan, sulit sekali pria itu ditebak—pikirnya. “Mulai malam ini, kamu tidur di bawah,” ulang Yudha, nada suaranya datar tapi tak ada keraguan.Mata Tavisha membola. “Ma-maksud Mas … satu kamar?”Yudha mengangguk pelan. Tidak ada senyuman atau senda gurau, hanya tatapan yang benar-benar sulit diterka. Namun, genggaman itu tidak mengendur sama sekali. “Bukannya dari awal Mas—”“Itu saat saya pikir kamu belum siap. Nyatanya, kita sudah pernah tidur satu kamar, bahkan lebih dari itu, ‘kan?”Glek.Pernyataan macam apa itu? Tavisha sampai berkedip beberapa kali, memastikan bahwa yang bicara seperti itu adalah suaminya sendiri. Pria yang sangat sulit ditebak dan jarang berekspresi. “Tapi, Mas ….”Tavisha masih berusaha denial, mau tahu seberapa gig
“Mas…,” gumam Tavisha ketika matanya kembali terbuka. Hari sudah menjelang siang. Tanpa sadar ia terlalu lama terlelap. Kala matanya terbuka, ia masih melihat kehadiran Yudha di ruangan tersebut. Tepatnya, sang suami tengah berbaring di sofa. Kelopak mata pria itu bergerak pelan, sebelum terbuka sepenuhnya. Yudha menoleh ke arah Tavisha. Sejenak, hanya keheningan yang terjalin diantara mereka. Yudha lantas berdiri, menghampiri ranjang. Jemarinya ia selinapkan di antara ceruk leher sang istri seraya mengusap pipi lembut itu. “Kamu sudah bangun? Apa ada yang sakit?” tanya Yudha, nadanya rendah tapi penuh kekhawatiran. Tavisha menggeleng pelan. “Nggak, Mas. Cuma … capek aja, tidur terus.” Yudha duduk di tepi ranjang. Ia tersenyum, meski tampak kaku. “Dokter bilang kalau kondisi kamu sudah stabil. Mungkin besok atau lusa sudah bisa pulang.” “Pulang?” Tavisha terdiam. Ada rasa lega sekaligus cemas. Kalau pulang, itu artinya mereka akan kembali ke rutinitas yang ada. Yudha akan sibu
“Aku mau percaya, Mas … tapi tolong, jangan buat aku ngerasa sendirian lagi, ya?” Yudha mengusap puncak kepala Tavisha seraya tersenyum. Sebelum pintu kamar itu kembali terbuka. Suara ketukan pintu seakan tidak terdengar, sebab sosok yang baru saja masuk tidak menunggu jawaban mereka. Seorang pria berusia lebih dari setengah abad, berjalan tegap dengan setelan resmi. Wajahnya berwibawa dan serius. Setiap langkah tampak berat dan mantap. Di belakangnya beberapa ajudan membersamai. Bisik-bisik dari lorong sebelumnya masih terdengar. Sosok yang begitu berpengaruh dalam dunia militer kini berada disana. Menteri Pertahanan, Manggala Trianto Tandjung, ayah Tavisha datang tanpa pemberitahuan. Suasana mendadak berubah. Seolah pasokan udara di dalam kamar langsung berkurang, menyisakan sesak yang begitu nyata. Terlebih bagi Tavisha yang masih ada dalam pelukan Yudha. Tubuhnya, kontan menegang. Ia langsung melepaskan diri, beringsut dari tempatnya lalu duduk dengan tegap. Sebisa mungkin, ia m
“Bu … tolong ajari Tavisha, bagaimana caranya untuk kuat,” gumamnya lirih, dibersamai air mata yang mengalir di pipi. Dahlia mengusap lembut rambut sang menantu yang terlihat kusut. Air matanya mengalir semakin deras dan sepertinya Tavisha juga tak berusaha untuk menyembunyikannya. Perempuan itu tampak rapuh, seolah hembusan angin sekecil apapun bisa meruntuhkannya. “Tentu, Nak. Ibu akan selalu ada di samping kamu. Bagi Ibu, kamu bukan cuma menantu, tapi kamu juga anak Ibu sekarang. Jangan pernah merasa sendirian lagi, ya.” Suara Dahlia terdengar dalam dan penuh kehangatan. Sampai-sampai membuat ruang rawat vvip itu terasa lebih luas. Tavisha mengangguk pelan. Bibirnya bergetar, seperti ingin mengatakan banyak hal, tapi tak bisa semuanya terucap. Di balik pintu yang tertutup rapat, Yudha berdiri. Tubuhnya membeku, lidahnya menjadi kelu. Langkah kaki yang terpasang sepatu bot, seolah menancap di lantai rumah sakit. Ia baru saja kembali dari markas setelah diberi izin. Tenggorokann