Home / Rumah Tangga / Istri Tawanan Abdi Negara / Bab 5 - Menghilang Tanpa Jejak

Share

Bab 5 - Menghilang Tanpa Jejak

Author: ekaphrp
last update Huling Na-update: 2025-06-28 21:24:29

Ruang perawatan intensif itu hening. Hanya suara monitor detak jantung dan desisan lembut dari tabung oksigen yang memecah sunyi. Lampu ruangan redup, menghindarkan pasien dari silau yang bisa menambah tekanan. Tirai gorden sedikit terbuka, membiarkan semburat cahaya jingga menyelinap masuk melalui jendela kaca yang sedikit berembun. Udara di dalam ruangan tetap dingin, namun tak cukup untuk mengusir bayangan tadi pagi.

Tavisha membuka matanya perlahan. Kelopak matanya berat, seperti digantungi oleh batu. Penglihatannya buram dalam beberapa detik, tapi perlahan mulai fokus. Warna putih mendominasi pandangan. Bau antiseptik menyeruak tajam di indera penciuman. Hal itu, menyadarkan bahwa dirinya sedang ada di rumah sakit. 

Ia tidak langsung bergerak. Dadanya terasa sesak, meski tidak seberat beberapa jam sebelumnya. Ada rasa mengganjal di tenggorokan. Nafasnya masih pendek, tapi tidak lagi menyakitkan.

Ketika kesadarannya kembali utuh, otaknya langsung memutar ulang potongan-potongan ingatan yang berserakan. Sarapan tadi pagi dengan semangkuk salad.  Rasa aneh di tenggorokan. Membuatnya sesak dan mengaburkan pandangan. 

Kini—ia ditinggal sendirian. 

Ia menoleh perlahan ke sisi ranjang. Tak ada siapa-siapa. Hanya kursi kosong. Jantungnya berdegup tak menentu. Di mana Yudha? Bukankah pria itu yang seharusnya ada di sana? Dan bertanggung jawab atas kejadian yang dialaminya? 

Namun, suara kecil membuyarkan lamunannya.

“Bu Tavisha?”

Tavisha mengerjap pelan. Dari sisi lain ruangan, sosok seorang wanita muncul. Seragam hijau lumutnya menyatu dengan nuansa militer di sekitar mereka. Potongan rambutnya sebahu, tampak rapi di balik topi kecil yang tergantung di jemari. Di dada kirinya tersemat name tag kecil bertuliskan Lettu Bening A. Suryadarma.

“Lo siapa?” tanya Tavisha, suara seraknya nyaris tak terdengar.

Bening tersenyum tenang. Ia mendekat dan menyesuaikan posisi infus yang tergantung di tiang penyangga.

“Saya Bening, perwira kesehatan dari korps wanita TNI AU. Saya yang menemukan Ibu pingsan di rumah tadi pagi.”

Tavisha mengerutkan kening. “Rumah?”

“Ibu ditemukan tidak sadarkan diri di dekat meja makan. Kapten Yudha meminta saya mengecek kondisi Anda karena beliau tidak bisa langsung pulang. Saya juga menyuntikkan EpiPen dan menghubungi ambulans,” jelasnya lembut, suaranya datar namun tetap mengandung empati.

Sejenak, Tavisha tidak menjawab. Matanya menatap kosong ke arah langit-langit. Hatinya mencelos. Ia mengingat semua. Salad yang ia santap pagi itu, disiapkan oleh suaminya. Dressing yang membuat tenggorokannya terasa terbakar. Dan sekarang—ia bahkan tidak melihat pria itu disana.

“Jadi ... dia nggak di sini?” tanyanya lagi, pelan.

Bening tampak ragu. 

“Kapten Yudha harus berangkat dalam misi di luar kota. Tapi sebelum itu, beliau sempat datang ke sini. Saya melihatnya sendiri, beliau berdiri di samping Ibu selama beberapa menit.”

“Terus ... dia pergi begitu aja?” suara Tavisha mulai bergetar.

“Ya. Beliau bilang, Ibu sudah dalam perawatan yang aman. Dan beliau ... menitipkan pesan, agar saya menjaga Ibu sampai beliau kembali.”

Tavisha menarik napas panjang, lalu mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Hatinya tidak tahu harus bagaimana. Ia ingin sekali marah atau berusaha memaklumi. Namun, ada luka tak kasat mata yang terasa mengendap di dadanya.

“Padahal dia udah hampir bunuh gue kayak begini,” ucapnya lebih pada diri sendiri.

Bening menangkap getar dalam nada suara itu. Ia menunduk, merasa bahwa tak pantas untuk ikut campur urusan suami istri tersebut. 

Tavisha kembali melirik Bening. 

“Lo tahu kenapa gue sampai sesak napas?”

Bening tampak terkejut. Ia gelagapan sesaat, lalu mengangguk pelan.

“Ya. Dari hasil pemeriksaan dan keterangan Kapten, diduga karena dressing yang mengandung minyak almond.”

Mata Tavisha memanas. Ada air yang mulai menggenang di ujung pelupuknya. 

“Jadi sebenarnya dia tahu gue ini alergi almond?”

Suasana mendadak sunyi. Kata-kata itu keluar tanpa bisa tahan. Suaranya terdengar getir, dan setiap kata seolah mengiris perasaannya sendiri.

Bening menunduk dalam, merasa tidak seharusnya berada di tengah dinamika emosional sepasang suami istri. Tapi naluri manusianya tetap bekerja. Ia meraih segelas air dari meja kecil, dan mengulurkannya.

“Minum dulu, Bu. Anda butuh tenaga.”

Tavisha menerima gelas itu. Tangannya masih lemah, namun ia memaksakan diri meneguk sedikit air. Bening kembali duduk di kursi sisi ranjang, diam-diam memperhatikan pasiennya.

“Kenapa lo yang datang ke rumah?” tanya Tavisha, tanpa melihat ke arahnya.

“Karena saya petugas kesehatan yang sedang stand by dan Pandu, asisten Kapten Yudha—minta saya segera ke lokasi.”

“Oh,” gumam Tavisha, sinis.

Bening menoleh, memperhatikan ekspresi Tavisha yang kini kembali muram.

“Lo dekat sama suami gue?” pertanyaan itu terlontar dengan tiba-tiba. Membuat Bening terdiam sejenak. 

“Kami satuan kerja, Bu. Saya hormat dengan beliau sebagai atasan.”

Tavisha menatap tajam, meski tubuhnya terasa lelah. “Tapi kayaknya lo tahu banyak soal suami gue. Bahkan, lo bisa masuk rumah dia. Lo tahu pin rumah itu?”

Pertanyaan itu membuat Bening terbatuk. Namun, setelahnya ia tersenyum kecil.

“Kapten Yudha yang memberitahu. Dan saya melakukan itu, karena tugas. Tidak lebih.”

“Oh, dia percaya banget sama lo, ya, berarti.”

Bening hanya diam. Tak berani menanggapi. Hingga, keheningan kembali menyelimuti. Tavisha menunduk, menatap jemari tangannya yang masih lemah.

Anyway, thanks karena udah selamatin gue.”

“Sudah menjadi kewajiban saya, Bu,” jawab Bening lembut. 

Tavisha menarik selimutnya hingga ke dada, lalu memejamkan mata. Tidak ada sahutan. 

***

Beberapa hari berlalu. Kondisi Tavisha mulai membaik, namun hatinya masih penuh gejolak. Sepanjang hari, kunjungan silih berganti. Mulai dari ayah, mertua, dan kini sahabat terbaiknya—Samuel. 

“Muka asem banget, ada apa?” tanya seorang pemuda yang baru masuk sambil membawakan coklat panas kesukaan Tavisha. 

“Bosen gue.”

“Salah sendiri menjemput maut.”

Samuel tahu banyak tentang Tavisha. Mereka sudah bersahabat sejak lama. Bahkan, ketika mereka masih duduk di bangku sekolah menangah pertama. Dan kini, mereka kuliah di tempat dan jurusan yang sama. Samuel jelas tahu, kenapa Tavisha sampai berakhir di rumah sakit. 

“Gue nggak tahu kalau tuh makanan ada almondnya, ya.”

“Seenggaknya kalau lidah lo mati rasa, hidung lo jangan ikutan juga. Masa nggak kecium tuh aroma almond.”

Tavisha mendesah sambil menggedikkan bahu. 

“Kalau kesini cuma mau buat mood gue hancur. Mending lo pergi deh!” usir Tavisha. 

“Begitu aja marah. Nih, gue bawain coklat panas.”

Samuel menyodorkan satu cup coklat panas ke arah perempuan itu. Jujur saja, Tavisha itu sulit sekali beradaptasi dengan lingkungan baru. Keberadaan Samuel disana, membuatnya sedikit nyaman. Meski gemuruh dadanya masih berdesir hebat karena sosok yang seharusnya bertanggung jawab justru menghilang tanpa jejak. 

Tavisha jadi bertanya-tanya—apa pria itu sungguh tidak peduli atau terlalu terjebak dalam tugas hingga mengabaikan istrinya yang nyaris kehilangan nyawa?

“Dasar brengsek!” umpat Tavisha setelah menyeruput coklat panas tersebut. Samuel yang mendengar, hampir tersedak. 

“Lo ngatain gue brengsek?”

“Bukan lo, tapi tuh lelaki!”

Tanpa disadari, seseorang dari balik pintu mendengar percakapan mereka—meskipun samar-samar. 

***

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Mga Comments (32)
goodnovel comment avatar
Nining Mulyaningsi
wahhh mood c tavisha tambah buruk ajja nihh .apa dia cemburu sama c bening yya.
goodnovel comment avatar
Nining Mulyaningsi
sabar tavisha kamu itu harus ngertiin c Yudha juga karena dia abdi negara dia harus menelantarkan istrinya tapi kan gak sepenuhnya terlantar juga karena banyak yang jagain kamu .
goodnovel comment avatar
Yhara_18
kayaknya Yudha tu di balik pintu. biar aja Yudha dengar ocehan tavisha yang kesel dengan yudha.
Tignan lahat ng Komento

Pinakabagong kabanata

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 47 - Flirting …

    “Atau Mas maunya aku bikin suasana lebih … panas?” “Apa maksud kamu?” Tavisha semakin berani. Ia menggeser tubuhnya lebih dekat, sampai kedua kakinya berada diatas pangkuan pria itu. Tangannya terulur, memainkan dada bidang sang suami dengan godaan-godaan nakalnya. “Mas tahu nggak, aku paling suka kalau kamu udah diem kayak gini. Soalnya, tingkat ketampanan kamu tuh jadi bertambah dan pastinya kamu nggak bisa marah, ‘kan?” goda Tavisha. Jari-jarinya semakin lihai menggelitik dada bidang sang suami, seolah memancing raksi. Yudha hanya menoleh pelan, tapi jelas ada kilatan buas di matanya. Seperti hewan yang tengah memangsa. “Tavisha,” ucap Yudha rendah, seolah memberi peringatan. “Ya, Mas?” tanya Tavisha, mendayu-dayu, raut wajahnya dibuat sepolos mungkin sembari menatap sang suami dari samping. “Ada apa?” “Jangan macam-macam.” “Lho, aku cuma pegang dada Mas aja, bukan yang lain.” Tavisha terkekeh pelan, lalu semakin menjelajahi ke bawah, tepat di atas pusar pria itu. “N

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 46 - Overprotective

    Perut Tavisha sudah terisi, tapi ada yang lebih menyenangkan dari sekadar perut yang kenyang. Ialah kebersamaan yang tercipta bersama sang terkasih. Sisa senyum masih melekat di wajah perempuan itu ketika meletakkan garpu di pinggir piring. Yudha sudah mengangkat piring kosongnya, beranjak, lalu melangkah ke dapur.“Biar aku aja yang cuci, Mas,” ujar Tavisha refleks.Yudha menoleh sekilas, sorot matanya biasa saja, tapi ada sedikit nada perintah dalam jawabannya.“Sudah, kamu duduk saja. Nanti kalau tumbang lagi, malah repot.”“Cuma cuci piring nggak bakal buat tumbang, kok, Mas …,” gumam Tavisha setengah protes.Yudha tidak menjawab, hanya menggeleng kecil. “Tidak boleg.”Selepas itu, Yudha langsung menyelesaikan tugasnya mencuci piring. Tangannya bergerakcekatan di wastafel dibersamai air mengalir dan bunyi piring yang beradu pelan. Tavisha terdiam, menatap punggung sang suami yang kembali serius. Ada rasa aneh menggelitik jiwanya, yaitu senang sekaligus canggung. Setelah pria itu

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 45 - Mengikis Jarak

    “Mulai malam ini, kamu tidur di bawah.” “Ya?” Tavisha terperanjat. Pergelangan tangannya masih dalam genggaman Yudha, membuat langkah kaki itu seketika terhenti. Ia menatap dalam manik kelam sang suami yang tak memancarkan ekspresi apapun. Sungguhan, sulit sekali pria itu ditebak—pikirnya. “Mulai malam ini, kamu tidur di bawah,” ulang Yudha, nada suaranya datar tapi tak ada keraguan.Mata Tavisha membola. “Ma-maksud Mas … satu kamar?”Yudha mengangguk pelan. Tidak ada senyuman atau senda gurau, hanya tatapan yang benar-benar sulit diterka. Namun, genggaman itu tidak mengendur sama sekali. “Bukannya dari awal Mas—”“Itu saat saya pikir kamu belum siap. Nyatanya, kita sudah pernah tidur satu kamar, bahkan lebih dari itu, ‘kan?”Glek.Pernyataan macam apa itu? Tavisha sampai berkedip beberapa kali, memastikan bahwa yang bicara seperti itu adalah suaminya sendiri. Pria yang sangat sulit ditebak dan jarang berekspresi. “Tapi, Mas ….”Tavisha masih berusaha denial, mau tahu seberapa gig

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 44 - Layaknya Suami Biasa

    “Mas…,” gumam Tavisha ketika matanya kembali terbuka. Hari sudah menjelang siang. Tanpa sadar ia terlalu lama terlelap. Kala matanya terbuka, ia masih melihat kehadiran Yudha di ruangan tersebut. Tepatnya, sang suami tengah berbaring di sofa. Kelopak mata pria itu bergerak pelan, sebelum terbuka sepenuhnya. Yudha menoleh ke arah Tavisha. Sejenak, hanya keheningan yang terjalin diantara mereka. Yudha lantas berdiri, menghampiri ranjang. Jemarinya ia selinapkan di antara ceruk leher sang istri seraya mengusap pipi lembut itu. “Kamu sudah bangun? Apa ada yang sakit?” tanya Yudha, nadanya rendah tapi penuh kekhawatiran. Tavisha menggeleng pelan. “Nggak, Mas. Cuma … capek aja, tidur terus.” Yudha duduk di tepi ranjang. Ia tersenyum, meski tampak kaku. “Dokter bilang kalau kondisi kamu sudah stabil. Mungkin besok atau lusa sudah bisa pulang.” “Pulang?” Tavisha terdiam. Ada rasa lega sekaligus cemas. Kalau pulang, itu artinya mereka akan kembali ke rutinitas yang ada. Yudha akan sibu

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 43 - Luka Lama, Mengaga Lagi.

    “Aku mau percaya, Mas … tapi tolong, jangan buat aku ngerasa sendirian lagi, ya?” Yudha mengusap puncak kepala Tavisha seraya tersenyum. Sebelum pintu kamar itu kembali terbuka. Suara ketukan pintu seakan tidak terdengar, sebab sosok yang baru saja masuk tidak menunggu jawaban mereka. Seorang pria berusia lebih dari setengah abad, berjalan tegap dengan setelan resmi. Wajahnya berwibawa dan serius. Setiap langkah tampak berat dan mantap. Di belakangnya beberapa ajudan membersamai. Bisik-bisik dari lorong sebelumnya masih terdengar. Sosok yang begitu berpengaruh dalam dunia militer kini berada disana. Menteri Pertahanan, Manggala Trianto Tandjung, ayah Tavisha datang tanpa pemberitahuan. Suasana mendadak berubah. Seolah pasokan udara di dalam kamar langsung berkurang, menyisakan sesak yang begitu nyata. Terlebih bagi Tavisha yang masih ada dalam pelukan Yudha. Tubuhnya, kontan menegang. Ia langsung melepaskan diri, beringsut dari tempatnya lalu duduk dengan tegap. Sebisa mungkin, ia m

  • Istri Tawanan Abdi Negara   Bab 42 - Maafkan Saya …

    “Bu … tolong ajari Tavisha, bagaimana caranya untuk kuat,” gumamnya lirih, dibersamai air mata yang mengalir di pipi. Dahlia mengusap lembut rambut sang menantu yang terlihat kusut. Air matanya mengalir semakin deras dan sepertinya Tavisha juga tak berusaha untuk menyembunyikannya. Perempuan itu tampak rapuh, seolah hembusan angin sekecil apapun bisa meruntuhkannya. “Tentu, Nak. Ibu akan selalu ada di samping kamu. Bagi Ibu, kamu bukan cuma menantu, tapi kamu juga anak Ibu sekarang. Jangan pernah merasa sendirian lagi, ya.” Suara Dahlia terdengar dalam dan penuh kehangatan. Sampai-sampai membuat ruang rawat vvip itu terasa lebih luas. Tavisha mengangguk pelan. Bibirnya bergetar, seperti ingin mengatakan banyak hal, tapi tak bisa semuanya terucap. Di balik pintu yang tertutup rapat, Yudha berdiri. Tubuhnya membeku, lidahnya menjadi kelu. Langkah kaki yang terpasang sepatu bot, seolah menancap di lantai rumah sakit. Ia baru saja kembali dari markas setelah diberi izin. Tenggorokann

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status