Accueil / Rumah Tangga / Istri Tawanan CEO Kejam / Bab 4: Aku ingin Punya Anak Lima

Share

Bab 4: Aku ingin Punya Anak Lima

Auteur: Suhadii90
last update Dernière mise à jour: 2024-06-13 10:58:47

Revana menghela napas lega ketika melihat arloji di tangannya baru menunjukkan angka enam lewat tiga puluh menit. Waktu masih berpihak padanya.

Namun, langkahnya terhenti saat matanya menangkap sosok Tristan sudah berdiri di ambang pintu kamar mereka, tangan terlipat di dadanya, ekspresinya datar namun penuh ketegasan yang membuat jantung Revana berdebar kencang.

"A-aku... aku tidak telat pulang, kan?" ucap Revana gugup, suaranya gemetar menyiratkan ketidakpastian.

Tristan menatapnya dengan pandangan tajam, seakan menembus lapisan-lapisan keraguan di hati Revana. "Bagaimana pertemuanmu dengan mantan kekasihmu itu?" tanyanya dengan nada datar yang tidak mengizinkan kebohongan.

"Sudah selesai dan aku sudah tidak punya hubungan apa pun lagi dengannya," jawab Revana jujur, mencoba mengendalikan emosi yang berkecamuk dalam dirinya.

Tristan tersenyum tipis, senyum yang dingin dan penuh perhitungan, lalu mendekati Revana dengan langkah-langkah yang mantap. "Good. Pakai baju ini, malam ini aku ingin kamu menemaniku makan malam," katanya sambil melemparkan gaun tipis berwarna merah ke arah Revana.

"Apa? Aku harus memakai baju seperti ini?" Mata Revana spontan membola saat melihat gaun yang harus ia kenakan malam itu. Baju itu terlalu terbuka dan provokatif, tidak sesuai dengan rasa malu dan ketidaknyamanannya.

**

Setelah makan malam, Revana kembali ke dalam kamar sesuai perintah dari sang suami. Sementara Tristan masih sibuk dengan panggilan telepon dari beberapa kliennya.

Revana menghela napas panjang sembari duduk di tepi tempat tidur, pikirannya melayang pada ucapan Tristan tadi. Nasibnya dan juga adiknya sedang di ambang kehancuran jika Tristan tidak menyelamatkan mereka.

“Kenapa dia ingin menolongku? Apa yang sebenarnya terjadi? Atau hanya aku, yang tidak tahu apa-apa tentang ini?” gumamnya sambil mengembungkan pipinya. Ia lalu menatap dirinya ke bawah. Pakaian seksi, lingerie tipis berwarna hitam sangat cocok untuk kulitnya yang putih mulus itu.

“Apakah setiap malam aku harus mengenakan pakaian seperti ini? Tapi, dia suamiku. Sudah kewajibanku melayaninya,” ucapnya lagi, mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Kini, hanya kepasrahan yang dapat Revana lakukan. Ia tidak pernah menyangka bahwa akhirnya harus menjadi istri dari konglomerat yang memiliki banyak bisnis di mana-mana.

Ceklek!

Suara pintu terbuka membuat jantung Revana semakin berdebar. Langkah kaki yang lebar semakin mendekat ke arahnya. Tristan masuk dengan senyum seringai terbit di bibirnya, lalu mengangkat kepala Revana agar menatapnya.

“Sudah lama menungguku di sini, hm?” tanyanya dengan suara berat.

Revana menelan ludah. Ia hanya menatap, tak menjawab apa pun bahkan mengangguk pun tidak.

“Tunggu lima menit lagi. Aku ke kamar mandi dulu,” ucap Tristan sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar mandi. Revana menoleh pelan, melihat punggung Tristan hingga lelaki itu menghilang di balik pintu kamar mandi.

“Kenapa dia tampak bahagia sekali? Apakah dia mencintaiku? Mana mungkin. Wanita biasa sepertiku bukanlah tipenya,” ucapnya merendah diri, menunduk sembari menendang-nendang kecil kakinya.

Tak lama setelah itu, Tristan kembali dengan handuk saja yang melilit di tubuhnya. Berdiri tepat di depan Revana, membuat perempuan itu mengangkat kepalanya menatap lelaki yang kini berdiri di depannya. Jantung Revana berdetak tak karuan melihat Tristan yang hanya berbalut handuk.

“Besok, aku harus ke Meksiko. Hanya dua hari. Silakan pilih tempat yang ingin kamu kunjungi. Kita akan berbulan madu usai pulang dari Meksiko,” ucap Tristan dengan nada tegas.

Revana menoleh pelan ke arah Tristan. “Bukankah pernikahan ini hanya pernikahan di atas kertas? Kenapa kamu ingin membawaku bulan madu?” tanyanya penuh kebingungan.

Tristan menaikkan alisnya, sedikit tersenyum tipis. “Memangnya kenapa? Ada yang salah dengan ajakanku?” Tristan balik bertanya dengan nada yang tak mengizinkan sanggahan.

Revana menggelengkan kepalanya. “Tidak ada. Aku hanya bingung saja,” jawabnya jujur.

Tristan berkacak pinggang menatap sang istri. “Lakukan saja, perintahku. Aku sudah memberi semua yang kamu butuhkan. Uang, kendaraan, tempat tinggal, dan semuanya. Dan aku hanya meminta satu saja darimu. Turuti apa yang aku perintahkan. Meski begitu, kamu pun paham. Perintah yang aku berikan itu bercabang.”

Revana menghela napas panjang. “Ada yang ingin aku tanyakan padamu, Mas,” katanya, mencoba mengumpulkan keberanian.

Tristan menatapnya dengan tatapan penasaran. “Tanyakan,” jawabnya singkat.

Revana menelan salivanya, mengumpulkan keberanian untuk menanyakan hal ini pada suaminya. “Setelah aku melahirkan anakmu kelak, apakah kamu akan membuangku begitu saja? Kesepakatan yang sudah aku tanda tangani, apakah akan berakhir juga?”

Tristan menatap wajah Revana yang tengah menunggu jawaban darinya. "Kamu perlu jawaban jujur, atau tidak?" tanyanya dengan nada serius.

Revana mengerutkan keningnya. "Maksudmu?" tanyanya kembali.

Tristan tersenyum tipis. Ia kemudian memegang pundak istrinya seraya menatapnya dengan lekat. "Kamu pikir, aku meminta anak padamu hanya satu? Aku mau lima. Besarkan anak-anak kita sampai mereka menemukan jodohnya masing-masing."

Revana menganga, meski sedikit tak paham dengan ucapan Tristan. "Maksudmu, kesepak—"

"Jangan banyak bertanya lagi. Aku sedang malas menjelaskan panjang lebar mengenai janji yang sudah kamu tanda tangani." Tristan kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.

Revana menelan salivanya. "Aku tidak paham, dengan tujuan dia. Aku tidak mengerti. Sama sekali tidak mengerti. Tapi, biarlah. Aku yakin, Tristan tidak akan menyakitiku selama aku nurut padanya," gumamnya pada dirinya sendiri, mencoba menenangkan hatinya yang gelisah.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • Istri Tawanan CEO Kejam   Bab 133: Akhir Bahagia Kita

    Tristan yang sejak tadi diam, mengangguk kecil. Ia mengeluarkan ponselnya dan menelepon Gave. Tak butuh waktu lama, suara Gave yang penuh semangat terdengar dari seberang."Laura di sana? Serius? Dia melahirkan?!" seru Gave, suaranya melonjak kegirangan. Terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa, seperti Gave sedang berjalan sambil berputar-putar karena terlalu bahagia."Iya, Laura ada di sini. Bayi kalian lahir dengan selamat," jawab Tristan sambil tersenyum kecil.Dari seberang, suara Gave terdengar gemetar penuh haru. "Aku memang ingin menikahi Laura. Aku sudah mengajukan cuti untuk menyiapkan semuanya. Aku tidak menyangka bayi kami lahir lebih cepat dari prediksi dokter. Aku akan segera ke sana!"Tristan menutup telepon dan menatap Revana dengan tatapan geli. "Nah, kamu dengar sendiri, kan? Semua sudah jelas sekarang."Ketika Gave akhirnya tiba di rumah sakit, suasana menjadi semakin hangat. Dengan wajah penuh kerinduan, ia memeluk Laura erat, mengecup keningnya, lalu mengali

  • Istri Tawanan CEO Kejam   Bab 132: Dia Kekasih Gave

    Revana akhirnya mengangguk pelan, meskipun hatinya masih penuh dengan keraguan dan luka.Sementara Tristan dan Hendri membantu wanita itu berjalan ke luar rumah, Revana berdiri diam di ambang pintu, menyaksikan mereka dengan campuran emosi yang tak terungkapkan."Revana!! Kenapa kamu diam. Ayo kita ke mobil. Tuntun Laura, cepat." Suara Tristan meninggi pada Revana.Revana mendengkus kesal dan tanpa suara air matanya menetes saat membukakan pintu mobil. Sementara erangan Laura makin membuat suasana begitu menegangkan."Aagh ... Aduh!" tak urung Laura memegang erat tangan Revana menahan rasa sakit tak tertahankan yang sebentar datang lalu reda. Lalu datang lagi sakitnya.Tristan mengemudi. Hendri dan Revana duduk di jok belakang di sisi kiri kanan Laura, sementara Laura merintih dengan wajah pucat.Jeritan Revana memenuhi lorong rumah sakit, bergema seperti sembilu yang menyayat hati Revana.Napasnya memburu, dadanya berdebar, namun bukan karena rasa simpati.Ia duduk di kursi tunggu d

  • Istri Tawanan CEO Kejam   Bab 131: Membawa Seorang Wanita?

    Revana menatap meja makan dengan rasa puas. Ia merasa seperti ini adalah momen yang tepat.Sebentar lagi Tristan akan pulang, dan mereka akan merayakan ulang tahunnya bersama keluarga kecil mereka. Namun, di balik itu semua, ada sebuah kabar besar yang ingin ia bagi—kabar yang akan mengubah segalanya.Dengan hati yang penuh harapan, Revana duduk di kursi dan menunggu. Waktu terasa berjalan begitu lambat, seakan momen yang diinginkan belum tiba.Tetapi, ia tahu, kejutan ini akan menjadi awal dari babak baru dalam hidup mereka. Sebuah babak yang akan membuat mereka semakin dekat, semakin kuat, dan semakin bahagia.Tak lama kemudian, terdengar suara pintu terbuka, dan langkah kaki Tristan masuk ke dalam rumah. Revana berdiri, matanya bersinar penuh kebahagiaan, siap untuk memberi kejutan yang sudah ia siapkan dengan penuh cinta.Bau kue manis masih tercium di dapur ketika suara pintu depan terbuka. Revana, yang tengah mengatur meja makan, mendongak dengan senyum lebar di wajahnya."Mas T

  • Istri Tawanan CEO Kejam   Bab 130: Kejutan untuk Suami

    Revana menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca. Semua pengorbanan, semua perjuangan yang mereka lakukan, kini membuahkan hasil yang indah.Mereka bukan hanya pasangan, tapi juga sahabat sejati, yang saling mendukung dalam segala hal. Mereka telah melewati masa-masa sulit, dan kini mereka bisa menikmati momen-momen indah ini bersama.Ketika Naira kembali berlari ke arah mereka, wajahnya dipenuhi kegembiraan yang tak terbendung, Revana dan Tristan saling berpandangan, dan senyum lebar pun terukir di wajah mereka.Mereka tahu, kebahagiaan ini adalah hasil dari cinta yang telah tumbuh dalam hati mereka, dari segala perjuangan yang mereka lakukan bersama.Pada saat itulah, Revana merasakan kebahagiaan yang sejati, sebuah kebahagiaan yang tak terduga.Cinta yang dulu hanya dimulai dari keinginan sementara, kini berubah menjadi sebuah ikatan yang tak terpisahkan. Dalam pelukan keluarga kecil mereka, Revana merasa dunia ini penuh dengan kemungkinan yang tak terbatas.Dan dengan suara gelak

  • Istri Tawanan CEO Kejam   Bab 129: Holiday Time!

    Pantai itu tampak indah dengan pasir putih yang membentang luas, dipadu dengan air laut yang berkilauan di bawah sinar matahari.Ombak datang bergulung-gulung, menghantam bibir pantai, menciptakan suara gemuruh yang menenangkan.Di tengah pemandangan yang menakjubkan itu, Tristan, dengan wajah lelah, berlari mengejar seorang gadis kecil yang tak kenal lelah, Naira.Matanya yang penuh kegembiraan dan keceriaan, tak bisa berhenti berlari di sepanjang garis pantai, membiarkan pasir menempel pada kaki telanjang kecilnya."Naira! Jangan lari ke sana, sayang!" seru Tristan dengan napas terengah-engah, mencoba mengejar anaknya yang semakin menjauh.Namun Naira justru tertawa riang, melangkah lebih cepat, seolah menikmati kebebasannya yang tidak terbatas.Dengan senyum penuh ceria, dia menoleh sebentar untuk melihat ayahnya, seolah mengatakan, "Kejar aku, Papi!" Lalu, tanpa peringatan, dia berlari lagi, menari-nari di tepi laut, membiarkan ombak menerjang kakinya yang mungil.Tristan tersenyu

  • Istri Tawanan CEO Kejam   Bab 128: Party for You

    Pesta itu meriah. Lampu-lampu indah berpendar di seluruh sudut ballroom yang luas, menciptakan atmosfer magis yang terasa seperti sebuah dunia terpisah.Para tamu berdiri, berbincang, dan tertawa, sementara musik lembut mengalun dari panggung, menambah kehangatan suasana.Di tengah keramaian itu, Tristan berdiri di depan mikrofon, mengenakan jas hitam yang sempurna, dengan senyum yang penuh kasih sayang untuk satu orang yang paling ia cintai di dunia ini—Revana.“Selamat malam semuanya,” suara Tristan menggema, menyentuh hati setiap orang yang mendengarnya Anggukan tamu undangan menjawab sapa Tristan. “Terima kasih telah hadir di acara spesial kami malam ini. Hari ini, aku dan Revana merayakan dua tahun yang penuh kebahagiaan, dan aku ingin berbagi sedikit cerita dengan kalian semua.”Revana berdiri di sampingnya, wajahnya terlihat begitu cantik dengan gaun merah yang berkilau, rambut panjangnya yang tertata rapi menambah pesona.Matanya memandang Tristan penuh cinta, seolah tidak p

  • Istri Tawanan CEO Kejam   Bab 127: Permintaan Maaf Michael

    Ruangan kantor terasa hening. Hanya suara jam dinding yang berdetak lembut menemani dua pria itu. Michael duduk di kursi di hadapan Tristan, wajahnya tertunduk dalam, menahan air mata yang sudah menggenang sejak tadi.Tristan baru saja menceritakan detail kejadian yang menimpa Mami karen ulah Alfrod. Sehingga Mami akhirnya menghembuskan nafasnya yang terakhir.Michael tahu tidak ada kebohongan di sana. Semua yang dikisahkan Tristan mendukung bukti yang ia temukan.Sementara itu, Tristan bersandar di kursinya, menatap adiknya dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran kasih sayang dan rasa prihatin. Mengenang masa lalu itu begitu pahit dan nyeri bagi mereka berdua.“Michael, semua rasa ingin tahumu sudah terjawab. Bukti kuat sudah kamu dapatkan,” suara Tristan memecah keheningan. Lembut tapi tegas, seperti pelukan yang menenangkan.“Ada yang ingin kuberitahukan padamu. Sesuatu yang selama ini kupendam dan ingin kamu lakukan.”Michael mengangkat wajahnya perlahan, mata merahnya bertem

  • Istri Tawanan CEO Kejam   Bab 126: Penyesalan Michael

    Satu bulan telah berlalu sejak insiden penembakan di kantor Tristan. Kehidupan perlahan kembali seperti biasa.Luka di tubuhnya memang sudah sembuh, tapi Tristan tahu, luka di hatinya dan keluarganya butuh waktu lebih lama untuk pulih.Bagaimanapun Alfrod adalah keluarga dan kini semua berakhir seperti ini. Tristan kadang tidak percaya ini akhir persaudaraan mereka. Kadang rasa sedih sebagai satu dalam ikatan saudara masih saja ada.Pagi itu, suasana di kantor terlihat tenang. Tristan duduk di balik meja kerjanya, menandatangani beberapa dokumen penting.Cahaya matahari menyelinap melalui jendela besar di belakangnya, menciptakan siluet yang menonjolkan ketegasan wajahnya.Pintu ruangannya terbuka perlahan. Michael melangkah masuk dengan ragu-ragu, membawa dua cangkir kopi. "Kupikir kamu butuh ini," katanya pelan, menaruh salah satu cangkir di meja Tristan.Tristan mendongak, tersenyum kecil. “Terima kasih. Duduklah. Apa kabarmu Michae

  • Istri Tawanan CEO Kejam   Bab 125: Jangan Lakukan itu lagi

    Tristan tersenyum penuh kemenangan. Dengan hati-hati, ia meraih bayi kecil itu dan meletakkannya di pelukan.Naira menggeliat kecil sebelum kembali tertidur dengan damai. Perasaan hangat menyelimuti dada Tristan. "Aku merindukanmu, Sayang," bisiknya lembut. "Bayiku yang cantik dan manis."Revana tersenyum melihat pemandangan itu, meski ia tetap mengawasi dengan cermat. “Aku akan membuatkan sup untukmu. Jangan coba-coba bergerak dari sini.”“Baiklah. Aku tidak akan pergi ke tempat gym, Sayang.” Tristan menjawab dengan nada bercanda, membuat Revana mendengus kecil sebelum pergi ke dapur.Saat Revana sibuk di dapur, Tristan duduk di tempat tidur sambil berbicara pelan dengan Naira. “Kamu tahu, Nak? Papi akan memastikan dunia ini aman untukmu. Apa pun yang terjadi, kamu tidak perlu takut.”Pintu depan terdengar diketuk, dan beberapa saat kemudian Gave muncul di ambang pintu kamar. "Aku boleh masuk?"&ldq

Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status