Share

8. Pengakuan Identitas Dua Orang

Permaisuri Lister kagum dengan kelakuan kurang ajar Sirena yang mengundang kemeriahan dalam pesta teh yang membosankan.

Lister tersenyum lembut. Dia melihat tatapan gelap Arsenio mengardh pada Sirena dengan tajam.

“Sekarang nikmatilah pestanya. Semoga kamu bisa berbaur dengan baik, Lady Sirena.” Lister meminta keduanya pergi.

Sirena dan Arsenio menunduk hormat untuk terakhir kalinya. Mereka berjalan meninggalkan Permaisuri Lister dengan langkah cepat—lebih tepatnya, Arsenio menarik tangan Sirena keluar dari area perjamuan.

Mereka masuk ke dalam taman labirin yang ditumbuhi tanaman bunga mawar merah yang menjalar di sepanjang dinding labirin.

“Anda mau pergi sejauh apa, Yang Mulia?” Sirena berucap dengan suara gemetar. Tangannya sakit karena di genggam terlalu kuat oleh Arsenio.

Namun tak ada rasa bersalah atau ketakutan dalam mata Sirena. Padahal Arsenio tahu jika wanita itu mengerti akan kemarahan dirinya. Tapi kenapa dia tidak gentar dan meminta maaf?

Arsenio melempar diri Sirena ke arah dinding penuh batang berduri bunga mawar merah yang merekah dengan cantik di sekeliling mereka. Tidak ada maksud buruk. Dia hanya terlalu marah untuk melihat apakah tempat itu aman atau tidak.

“Kenapa kamu mengatakan hal itu kepada Permaisuri? Satu minggu lagi? Kau tidak ingat hari apa itu?”

Wanita itu tidak merintih. Padahal darah mulai menyatu dengan warna gaunnya yang cerah. Di beberapa bagian, Arsenio bisa melihat bercak merah itu. Namun amarah sudah menelan akal sehatnya—sehingga dia mengacuhkan fakta jika Sirena terluka karenanya.

“Kenapa?” Sirena menatap Arsenio yang marah besar dengan berani. “Apa Anda tidak suka? Itu hanya hari peringatan kematian Ibu saya. Tidak ada yang istimewa ....”

Sorot mata tajam nan dingin lelaki itu membuat hati Sirena sakit—yang jelas itu bukan karena ‘Lonie’ merasa sakit hati. Hanya tubuh Sirena saja yang merespons perlakuan kasar itu dengan sensitif.

“Tak ada yang istimewa pada hari itu. Saya hanya pergi sendirian ke tempat pemakaman dan berdoa seharian. Ayah tidak pernah menemani saya ... di hari saya selalu merasa menjadi anak yatim piatu, bukankah lebih baik menggunakan hari itu sebagai hari besar? Setidaknya saya akan merasa sedikit terhibur melihat taburan kelopak mawar berjatuhan di atas saya."

“Kau gila?” Arsenio menatap tajam. “Kenapa kelakuanmu semakin tidak berakal. Apa aku harus mengirimmu ke rumah sakit jiwa sekarang juga?”

Pedih. Hati Sirena yang lembut itu terasa menyakitkan. Tubuh lemah yang dia miliki mulai gemetar hanya karena ‘Lonie’ tidak mengizinkan air mata dari tubuh itu menampakkan diri di depan lelaki ini.

“Ya. Anggap saja begitu ... Tuan.” Sirena menatap penuh putus asa.

Air mata gadis itu berkumpul di ujung mata tanpa berniat terjun membasahi wajah. Ini adalah pemandangan menyakitkan yang tak pernah Arsenio bayangkan.

“Apa kamu sangat tersiksa? Apa kamu sangat putus asa ... kenapa orang yang selalu membuat onar di sekelilingku, sekarang terlihat lemah ... seperti seorang gadis kecil yang meringkuk dalam hujan. Menyedihkan ....” pikir Arsenio mulai kehilangan kata-kata dan amarahnya. Hanya tersisa rasa iba dalam hatinya. Dia ingin memeluk Sirena—sekedar menghiburnya.

Apakah sekarang Arsenio mulai memiliki simpati pada gadis ini?

“Maaf ....” Sirena menunduk. Dia tak berani menatap Arsenio karena air matanya telah jatuh. “Saya sudah berbicara keterlaluan.”

Suara Sirena yang gemetar membuat Arsenio tersadar. Dia telah keterlaluan.

Lelaki itu membuang napas kasar. Dia memalingkan wajah dari Sirena dan memunggungi wanita itu. “Menangislah jika kamu ingin. Aku tidak akan melihatnya ... aku tahu kamu malu. Jadi aku hanya akan berdiri di sini untuk menjagamu.”

Sirena mendongak. Dia menatap punggung kekar Arsenio dengan senyum miris. Dia menangis dalam diam sambil tersenyum melihat sosok Arsenio di depannya.

“Terima kasih, Tuan. Maaf sudah bertindak lancang. Bahkan seharusnya saya tidak berhak marah karena sikap kurang ajar saya di depan Permaisuri.”

Arsenio mendengar suara isak dan embusan napas berat Sirena di belakang punggung—sangat pelan. Dia bahkan bisa membayangkan bagaimana tubuh kecil itu menahan tubuhnya yang terluka agar tidak merintih dan merepotkan Arsenio walau sudah terguncang hebat menahan luka batin.

“Aku selalu melihatmu berlari menghindariku. Sudah hampir tiga tahun kita bertunangan, aku bahkan bisa menghitung berapa kali aku melihat wajahmu dan menghabiskan waktu satu meja denganmu.” Arsenio melirik ke belakang—sekedar memastikan keadaan Sirena.

Namun lelaki itu melihat Sirena telah duduk di atas rumput dengan napas tidak teratur. Seakan dia tengah menahan sakit di punggung dengan sekuat tenaga. Luka Sirena mengeluarkan bajyak darah. Padahal dia hanya tertusuk duri?

Arsenio mendekat. “Kenapa—apa yang terjadi?”

Dia menatap ke arah dinding tempat dia melempar Sirena dan menemukan gunting taman kecil yang menancap di sela batang mawar yang menjalar dengan sisi luar yang mencuat ke samping.

Di ujung tajam satu sisi gunting itu dia melihat bercak darah Sirena di sana. Gunting yang sedikit berkarat itu mungkin saja telah melukai Sirena dengan cukup parah.

“Sa-sakit ....” Tubuh Sirena gemetar semakin kuat. Dia hanya bisa menyuarakan sugesti pada tubuhnya untuk bertahan dan jangan kehilangan kesadaran.

Namun sayangnya, tubuh lemah Sirena membuat ‘Lonie’ merasa sedikit frustrasi. Sebagai seorang pewaris Grup Gorgia di era modern, memiliki tubuh selemah ini membuatnya sangat jengkel.

“Saya butuh obat merah.” Sirena menggenggam tangan Arsenio yang ragu ketika ingin menyentuhnya, dengan cengkeraman kuat. “Tolong ... tubuh ini sangat lemah sampai saya tidak mampu menahan luka sekecil ini.”

Sirena terjatuh ke dalam pelukan Arsenio. Dalam kondisi sadar dia berusaha menahan rasa pedih dan ngilu di punggungnya. “Tolong antarkan saya pergi ke dokter, Tuan ... saya bisa mati jika seperti ini terus-menerus.“

“Tidak akan aku biarkan!” Arsenio mengangkat tubuh Sirena dan memeluknya erat. "Maaf atas kekurangajaran saya, Lady."

Dia membawa tubuh wanitanya pergi meninggalkan labirin tanpa menghiraukan tatapan orang-orang ketika melihat situasi panik mereka.

“Sand! Panggilkan tabib untuk tunanganku.”  Arsenio berteriak lantang melihat Sand dan Vian mendekatinya dengan wajah panik.

“Baik, Yang Mulia.” Sand berbalik arah dan pergi.

Sementara Vian mengikuti langkah Arsenio yang membawa Sirena dengan langkah secepat kilat. “Tuan, apa yang terjadi pada Lady Sirena?!”

Arsenio hanya diam. Dia tak mampu menjawab kelalaiannya karena malu. Rasa bersalah yang menumpuk dalam hatinya tiap kali melihat wajah Sirena yang kesakitan membuat langkahnya semakin cepat.

Posy dan Einar yang sedang menikmati waktu sambil menyantap hidangan di pinggir pesta, kini langsung berlari melihat Tuannya di gendong pergi oleh Arsenio yang menunjukkan kekhawatiran.

Brak!

Arsenio menendang keras salah satu pintu ruang peristirahatan yang selalu di sediakan pihak penyelenggara pesta untuk para tamu undangan jika ada yang lelah.

Namun ruangan itu sudah ada yang menempati. Yaitu Putra Mahkota Arion yang sedang di temani beberapa wanita yang hampir menanggalkan seluruh pakaiannya untuk menggoda sang Putra Mahkota.

“Duke Orland, kau sudah gila?!” teriak Arion di sertai teriakan para wanitanya yang berhamburan keluar dengan bersusah payah memakai kembali pakaiannya.

Arsenio tak menggubrisnya. Dia hanya fokus pada Sirena—menidurkan gadis itu ke atas sofa panjang setelah mengusir paksa adik sepupunya, Arion.

“Sirena?” Arion segera memakai kemejanya dan melihat apa yang terjadi pada orang yang disebut-sebut sebagai kekasihnya. “Apa yang terjadi padamu?”

Sirena tak menjawab. Begitu melihat wajah Arion, dia yang terbiasa tebar pesona untuk mencari perhatian Arion, kini malah memalingkan wajah seakan tidak mau melihat lelaki tampan bersurai pirang cerah itu.

Arion mengerutkan keningnya dalam. Dia sedikit terkejut dengan respons tersebut. Namun ketika tabib datang, mereka semua di himbau keluar ruangan kecuali Posy—sebab dia harus membantu dokter untuk merawat Sirena.

“Tuan Arsenio. Apa yang terjadi pada kekasihku?” celetuk Arion tanpa sengaja mengundang amarah.

“Apa maksud perkataan Anda, Yang Mulia?” Arsenio menatap tajam. “Dia adalah tunangan saya. Tolong jaga ucapan Anda.”

Arion menaikkan sebelah alisnya. “Apa kau bilang?”

Komen (1)
goodnovel comment avatar
Iin Romita
Aku ada obat merah Serena... merk tidak terkenal..hehe
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status