MasukPelayan yang bertugas mengurusi rumah dan juga keperluan Allesandra sehari-hari termasuk dirinya tampak panik, terlebih Algazka menengadahkan tangannya, "Where is the key, Reina?!"
" Kamu ada kunci cadangan semua ruangan di rumah ini kan?" desaknya lagi.
Reina melangkahkan kakinya dengan langkah ragu. Khawatir akan nasib Allesandra yang sesungguhnya dia pedulikan sejak perempuan cantik dan polos itu masuk ke rumah Algazka.
"Tuan Algazka."
Baru saja tangan Reina ingin merogoh ke saku seragam yang dia kenakan untuk mengambil kunci cadangan. Namun suara panggilan datang mengarah pada Algazka. Salah satu bodyguard kepercayaan Algazka yang sering menemani Algazka setiap dia pergi kemana pun melangkah. Lelaki bertubuh tegas dengan tampangnya yang dingin itu bernama Daskario. Mereka memang bagaikan saudara yang tidak serupa. Tapi sikap mereka sama-sama memiliki kekejaman yang mampu dilampiaskan tanpa belas kasih. Jadi wajar saja jika Algazka mengandalkan Daskario sebagai orang yang terpercaya dalam menangani urusannya selama ini.
Daskario yang menduduki posisi sebagai pemimpin dari anak buah penjaga Algazka mendekati majikannya yang sudah menoleh.
"Ada apa, Daskario?! Kamu ini sudah mengganggu waktu pagi saya!" Algazka menggerutu kesal karena Daskario menunda dia untuk masuk ke dalam kamar Allesandra.
Perempuan yang sudah berani menghina dirinya. Lihat saja, Algazka tidak akan meninggalkan atau melupakan sikap Allesandra begitu saja. Dia akan membuat perhitungan pada perempuan berstatus istri yang tidak pernah dia anggap sama sekali.
"Maaf, Tuan Algazka. Tapi ini penting." Daskario yang berada di hadapan Algazka memajukan posisinya.
Dia berbisik sesuatu hal di telinga Algazka yang sudah memasang telinganya untuk mendengarkan cermat. Wajah tampan yang memiliki rahang tegasnya berubah. Matanya semakin tajam saat mendengar apa yang Daskario bisikan di telinga kanan dia.
Di sisi lain, Reina memundurkan langkahnya secara perlahan. Apa yang dikatakan oleh Daskario pasti sangat penting bagi majikannya. Buktinya saja Algazka langsung mengenakan jas hitamnya dan memberikan kode agar mobilnya segera disiapkan lebih awal dari waktu biasa dia pergi ke tempat kediaman Falcone atau yang biasa disebut neraka kehidupan bagi orang-orang yang menakuti kelompok Falcone tersebut.
Nafas lega bisa dirasakan oleh Reina karena kunci cadangan kamar yang ditempati oleh Allesandra tidak jadi dia berikan. Untung saja pikirnya. Entah apa yang terjadi jika kunci itu berada di dalam genggaman tangan Algazka, mungkin Allesandra bisa di lempar ke dalam gudang atau wajan berisi air panas. Bagaimana tidak? Selama ini tidak ada yang berani memberikan umpatan pada Algazka, apalagi mencaci seperti yang Allesandra lakukan. Patut diacungi jempol atas sikap yang dilakukan oleh Allesandra meski tingkahnya itu membuat hampir seisi istana milik Algazka berhenti detak jantungnya.
"But, Reina!" Algazka menghentikan langkahnya dan dia sudah menoleh ke arah Reina yang masih berdiri pada posisinya. Reina mendekati secara perlahan dan berusaha menyimak atas apa yang Algazka ingin ucapkan.
Sepertinya memang ada yang penting. Reina jadi tidak bisa berpikir karena otak dia hampir penuh dengan kata-kata Allesandra yang tidak sengaja dia dengarkan saat membersihkan ruangan yang ada di dekat kamar Algazka.
"Iya, Tuan Algazka?"
Mata Algazka menyorot kamar Allesandra yang masih tertutup rapat. Rasanya ingin dia dobrak pintu kamarnya dengan kaki dia. Sayangnya, semua pintu di dalam istana milik Algazka tidak mudah ditembus begitu saja karena semua dibangun sesuai keinginan dia.
"Jangan sampai perempuan itu keluar selangkah saja atau kaki dia dan kaki kalian semua yang akan saya penggal dengan tangan saya sendiri!"
Setelahnya, pria itu pun pergi.
Sementara Allesandra yang masih berada di dalam kamarnya mengintip dari balik jendela kamar.
Ia sontak melihat jam di tangan kirinya yang mungil. Lebih cepat lima belas menit dari kebiasaan yang Algazka lakukan selama ini.
Meski Allesandra tidak dianggap, Allesandra selalu memperhatikan apa saja yang dilakukan oleh Algazka selama satu bulan ini, hingga hapa kebisasannya.
Kenapa Algazka terburu-buru sekali pada pagi itu? Apa ada sesuatu yang terjadi pada dirinya? Kecemasan dan kekhawatiran yang mulai menjelma di dalam perasaan Allesandra. Namun yang jelas, semua itu bukan tumbuh karena rasa sayang apalagi cinta. Dia tidak akan mungkin memiliki perasaan pada Algazka yang tidak pernah dia harapkan juga menjadi suaminya.
Allesandra hanya berusaha menikmati. Menerima takdir yang tidak bisa dia pilih begitu saja. Setidaknya dia akan membawa pikirannya untuk sedikit jauh lebih waras. Apalagi menghadapi Algazka yang super idiot itu.
"Emang dasar idiot! Harusnya tuh dia pergi salaman dulu sama gue. Dasar suami penduduk neraka. Eh, siapa juga yang mau jadi istri dia. Huwekkksss!"
***
"Pengecut!"
Algazka menatap anjing di kediaman Falcone yang kini tergeletak tidak berdaya.
Tapi untungnya Casper dapat terselamatkan setelah mendapatkan penanganan medis dalam waktu cepat. Jika tidak, anjing berjenis Doberman Pinscher tersebut pasti hanya sudah tinggal kenangan dan nama di dalam kediaman Falcone.
Doberman pinscher dipilih untuk berada di area Falcone karena dia adalah salah satu ras anjing tangguh, setia, dan agresif. Doberman dapat menyerang tanpa berpikir dua kali jika merasa ada bahaya pada pemilik atau rumah keluarganya. Inilah yang menjadikan Doberman menjadi anjing kesayangan seorang Algazka selama kurang lebih dua belas tahun.
Algazka meletakkan Casper di markas Falcone. Gunanya agar Casper bisa menjaga-jaga Falcone yang disertai juga dengan beberapa penjaga lainnya. Casper sangat agresif jika ada orang asing yang datang begitu saja. Dia pasti sudah tahu meski orang tersebut belum mendekatkan ke area Falcone. Memberikan isyarat bahwa ada yang patut diwaspadai. "Ini, Tuan Algazka." Algazka setengah menoleh ke arah Daskar yang sudah menghampirinya. Sorot mata tajamnya mengambil busur panah yang diberikan oleh Daskar. Busur panah yang ternyata dikamuflase dari bidikan jarum berisikan racun yang dilayangkan pada bagian tubuh Casper. Mata tajam Algazka mengamati busur panah berwarna hitam tersebut. Ketelitian matanya melihat busur panah brengsek yang sudah berani ditujukan pada Casper. Anjing kesayangan dia selama dua belas tahun."Pastikan Casper mendapatkan penanganan yang baik!" Algazka menegaskan kalimatnya.
Tatapannya mulai melepaskan pada kaca yang sejak tadi dia pandang untuk memastikan Casper baik-baik saja.
Akan dia temukan seorang pengecut yang berani melayangkan nyawa Casper dari hidupnya.Dan untuk Alessandra, ia terpaksa menunda hukumannya!
"Aku nggak pernah melakukan sandiwara untuk itu semua. Semua yang kamu lihat selama kita menikah adalah benar adanya, Allesa." Algazka menatap Allesa dengan penuh keseriusan.Gadis yang telah dia miliki dan nikahi selama delapan bulan lebih. Bahkan lebih dari itu karena Algazka yang sudah hidup bersama dengan Allesa. Meski awalnya dia rasakan dengan penuh kebencian, tapi rasa itu telah menghilang ketika hatinya yang telah mengakui bahwa Allesa berhasil menjadi bagian dirinya,"Aku nggak pernah merasa melakukan semua itu dengan kepura-puraan, Allesa. Semua yang kamu liat benar adanya.""Lalu bagaimana dengan obat itu?" tanya Allesa kemudian. Apakah itu menjadi sandiwara karena memang sudah sewajarnya itu bagian dari sandiwara Algazka yang telah menipu Allesa juga.Pertanyaan Allesa yang membuat dia membenarkan posisinya."Kamu melakukan itu semua dengan sadar kan? Apakah kamu masih ingin mengatakan kalo hal itu bukan bagian dari sandiwara?" Allesa terus bertanya."Itu beda, Allesa.""A
Suara tembakan yang terdengar ketika dua pelatuk ditarik sehingga peluru bisa diarahkan pada sasaran. Satu peluru melesat dan satu peluru jatuh tepat pada titik yang menjadi incarannya.Satu peluru itu berhasil membuat lantai rumah Algazka yang tadinya bersih kini memiliki noda. Noda warna merah itu mulai mengalir dan mengeluarkan bau anyir.Allesa yang rupanya tadi di luar melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah Algazka. Sorot mata dia menangkap darah yang mengalir cukup banyak. Mata Allesa mulai berkaca-kaca."Daskar ..." Allesa tidak kuasa menahan air matanya yang tiba-tiba semakin terbendung dan menetes.Sosok yang selama ini dia kenali baik dan harus jatuh meregang nyawa. Allesa ingin berjalan mendekati Reina, namun Algazka menghalangi."Buat apa?" tanya Algazka yang berada di hadapan Allesa."Minggir!" perintah Allesa yang menghapus air matanya."Setelah semuanya kamu masih mau berurusan sama dia?" Algazka memast
PLAKKK!"TUAN ALGAZKAAA!" Teriakan Daskar yang begitu lantang ketika dia melihat tuannya melayangkan tamparan keras pada Reina.Daskar kaget setengah mati ketika Algazka pulang ke rumah dan dia memanggil Reina. Setelah Reina datang, tuannya itu tidak segan-segan memberikan tamparan keras pada Reina dan tanpa basa-basi.Tamparan itu mengundang teriakan Daskar yang kebetulan berdiri tidak jauh darinya. Dia benar-benar refleks melihat Algazka yang sampai memberikan tamparan. Masalahnya, semarah apapun Algazka selama ini, tapi dia tidak pernah sampai memberikan tamparan apalagi pada Reina. Salah satu pelayan yang dipercayai oleh Algazka."Jangan sentuh dia!" Algazka memberikan peringatan pada Daskar yang baru saja ingin membantu Reina untuk berdiri.Tamparannya berhasil menjatuhkan tubuh Reina sampai dia tersungkur ke lantai. Daskar menoleh pada Algazka ketika dia menahan gerakannya."Tuan Algazka, tolong jangan seperti ini ..."
Ungkapan sebuah pernyataan yang berhasil Allesa buka telah menjadi point pertama bagi Algazka. Rahasia yang kini bukan lagi menjadi rahasia.Tatapan Algazka masih menyorot Allesa yang duduk berhadapan dengan dia. Sudah keluar dari jebakan lift setelah tiga puluh menit lamanya. Dan jebakan itu juga berhasil membawa Algazka menuju pintu yang lain.Identitas Allesa yang sebenarnya dan siapa tersangka pembunuh adik Algazka yang telah menyeret nama Garvin."Kenapa? Nggak percaya sama apa yang saya ucapin?" tanya Allesa memastikan kepercayaan Algazka yang dia lihat ekspresinya begitu terkejut.Siapa yang menyangka selama ini bahwa pembunuh sebenarnya berada di dekat Algazka? Susah payah Allesa mencari tahu siapa pembunuh adik Algazka hanya untuk membersihkan nama Garvin, ayahnya."Aku bukannya nggak percaya, tapi kenapa kamu malah memberitahu aku? Bukan kah itu menjadi kesempatan untuk membalas aku?" tanya Algazka ingin tahu yang membuat Allesa
Sebuah pertanyaan yang membuat tatapan mereka saling menyorot satu sama lain. Pertanyaan itu dilontarkan dengan nada yang cukup tegas diikuti sebuah keyakinan yang terpancar dari kedua matanya.Tidak ada keraguan dari diri Algazka ketika melayangkan pertanyaan yang seharusnya membuat dia ragu. Namun sebuah puzzle demi puzzle telah terlengkapi ketika dia akhirnya melayangkan pertanyaan pada seorang Allesandra.Sementara Allesa yang mendengar pertanyaan itu belum membuka suaranya. Dia masih tampak tenang dan seperti biasanya. Hanya yang tidak terlihat sekarang adalah ketengilan yang biasa Algazka lihat sebagai sosok Allesandra tanpa sebuah nama Maesaki.Satu alis Algazka diangkat sebelah. Posisi dia sudah dibuat menghadap Allesa secara penuh."Anggota Maesaki perempuan pertama dan satu-satunya itu ternyata adalah kamu ... Allesandra?!" tanya Algazka lagi tanpa sebuah perasaan terkejut atau keraguan.Dua rasa itu telah lenyap ketika dia berh
"Ibu Allesa belum datang, Bu.""Masa sih? Kok tumben banget? Biasanya dari pagi dia udah datang kan?" Taniya memastikan.Pagi itu dia sengaja mampir ke Happy Bakery setelah mengantarkan anaknya berangkat sekolah. Biasanya Taniya selalu datang ke Happy Bakery saat ingin menjemput Adam, tapi mengingat pertemuannya terakhir dengan Allesa jadi membuat dia memajukan waktunya.Sekaligus ingin berbincang-bincang juga sambil menunggu kepulangan Adam. Gara-gara di rumah lagi ada ribut sama mertua jadi membuat dia malas pulang. Makanya Taniya yang langsung ke Happy Bakery. Tapi ternyata Allesa belum datang. Padahal biasanya dia selalu datang setiap pagi dan sampai sore."Iya, Bu. Mungkin hari ini datang telat karena Ibu Allesa sedang ada urusan.""Oh gitu ya. Yaudah deh aku tunggu aja. Kalau gitu aku mau orderan yang tadi tetap dibuatin aja ya. Aku mau tetap disini.""Oke, Bu. Ditunggu.""Oke." Taniya yang baru ingin berjalan masu







