Share

14. Pagi, Kyoraku!

Penulis: DF Handayani
last update Terakhir Diperbarui: 2025-07-29 12:13:18

Pagi menyapa lewat sinar matahari yang menembus tirai tipis di jendela kamar. Udara dingin dari luar menembus hangatnya ruangan.

Kyora membuka mata perlahan. Kelopak matanya terasa berat karena kelelahan. Semalam Ludovic benar-benar menghabiskan tubuhnya. Ia memutar kepala, dan mendapati pria itu masih tertidur di sebelahnya.

Pria itu tampak damai. Dada bidangnya naik turun perlahan. Rambutnya sedikit berantakan. Lengan kirinya masih memeluk tubuh Kyora seolah menolak membiarkan gadis itu pergi
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Istri Terbuang Jadi Nyonya Miliarder   21. Kyo Itu Kau, Kyoraku!

    Mobil melaju perlahan meninggalkan area pemakaman. Pohon-pohon tua di kiri kanan jalan berbaris rapi, dedaunan mereka bergoyang pelan tertiup angin pagi. Kyora menatap keluar jendela, pikirannya masih tertinggal di antara nisan marmer dan doa-doa yang tak sempat ia ucapkan selama bertahun-tahun.Ludovic tidak mengganggunya. Ia membiarkan keheningan mengalir. Sesekali ia melirik Kyora, memastikan wajahnya sudah kembali ceria, bahwa kesedihan itu tidak lagi menenggelamkannya terlalu dalam.“Kita tidak harus kembali ke mansion sekarang,” ucap Ludovic akhirnya, suaranya rendah dan hangat. “Ada sebuah tempat yang ingin kutunjukkan padamu. Jika kau tidak keberatan.”Kyora menoleh. Tatapannya bertemu dengan mata Ludovic yang tidak mengintimidasi seperti biasanya. Ada sesuatu yang berbeda di sana kelembutan yang hangat.“Ke mana?” tanyanya.“Sebuah taman lama,” jawab Ludovic singkat. “Tidak jauh dari sini.”Kyora ragu sejenak, lalu mengangguk. “Baik.”Mobil berbelok ke jalan kecil yang dipen

  • Istri Terbuang Jadi Nyonya Miliarder   20. Masa Lalu yang Hilang

    Malam semakin larut ketika Kyora akhirnya terlelap. Namun tidurnya tak begitu tenang. Bayangan taman, air mancur, dan patung marmer dengan bunga liliy terus berkelebat di alam mimpinya.Seorang gadis kecil berusia lima tahun berlari di taman, gaun merah mudanya berkibar tertiup angin. Tawa riang memenuhi udara. Di belakangnya, seorang bocah lelaki tujuh tahun lebih tua di atasnya, dengan rambut hitam pekat mengejar sambil tertawa kecil, membawa bunga lily of the valley yang hampir terlepas dari genggamannya.“Kyo! Tunggu aku!” teriak bocah itu.Gadis kecil itu menoleh, wajahnya berseri. “Kau lambat sekali, Kak Luvi!”Nama itu menggema aneh di telinga Kyora dewasa yang menyaksikan mimpi itu dari kejauhan. Luvi. Dadanya terasa nyeri tanpa sebab.Mimpi itu berubah.Langit kelabu. Gadis kecil itu berdiri di depan sebuah makam yang masih basah. Menatap bocah bernama Luvi yang terisak di samping pusara dengan bertabur Lily of the valley.Gadis kecil itu mengeluarkan sesuatu dari saku jaketn

  • Istri Terbuang Jadi Nyonya Miliarder   19. Kau Bebas Menentukan Pilihan

    Makan malam itu berlangsung dalam hening yang nyaris menyiksa. Dentingan garpu dan pisau terdengar begitu jelas di tengah ruangan besar yang seharusnya hangat, namun justru dingin membeku.Kyora berusaha menahan pandangannya tetap tenang, menunduk setiap kali tatapan Ludovic menusuknya tanpa suara. Membuatnya susah untuk menelan dengan benar.Laki-laki itu makan dengan tenang, gerakannya penuh kendali. Namun Kyora tahu, di balik ketenangan itu ada sesuatu yang menggelegak, entah amarah terpendam karena ucapannya tadi, atau hanya permainan sunyi yang sengaja diciptakan.Kyora menggenggam serbet di pangkuannya, seakan mencari pegangan agar tidak gemetar. Napasnya berusaha ia atur, tapi tetap saja terasa berat. Pria di depannya benar-benar tak bisa ditebak.Begitu santap malam usai, Ludovic meletakkan sendoknya perlahan, lalu mengusap bibir dengan serbet putih bersulam benang emas. Tatapannya singkat, tapi cukup membuat jantung Kyora berdebar.“Terima kasih untuk makan malamnya,” ucap Ky

  • Istri Terbuang Jadi Nyonya Miliarder   18. Obrolan Makan Malam

    Langkah Calista terdengar bergema di lantai marmer butik perhiasan mewah tempat ia berada. Matanya masih menatap pantulan wajahnya di kaca display berlian, namun pikirannya melayang jauh.Kata-kata ayahnya tadi di telepon cukup mengganggu ketenangannya. Kalimat itu bagai duri yang mengusik."Ck!" Ia berdecak kesal sendiri. "Ayah, kau mengganggu kesenanganku." omelnya sendiri. Ia menggenggam ponsel erat, seolah ingin meremukkannyaSeorang staf butik mendekat dengan senyum ramah, menawarkan koleksi terbaru. Namun Calista hanya melirik sekilas lalu melambaikan tangan acuh.“Tidak, aku tidak butuh apa-apa. Aku sudah tidak selera!" bentaknya, kemudian berlalu pergi begitu saja.Langkahnya meninggalkan butik itu cepat, hampir tergesa, seakan ia ingin lari dari bayangan ayahnya yang terus mengganggunya.Di sisi lain, Moretti kembali ke ruang rapat. Para komisaris masih berkumpul, sebagian dengan wajah pucat, sebagian lagi saling berbisik. Suasana ruangan kini lebih berat daripada sebelumnya

  • Istri Terbuang Jadi Nyonya Miliarder   17. Seperti Domino

    Gedung pusat Moretti Corporation, siang itu, seakan menjadi ruang tekanan tinggi. Lift-lift bergerak naik-turun dengan tergesa, sekretaris-sekretaris membawa berkas setumpuk, dan para eksekutif senior saling berbisik dengan wajah pucat.Rapat dewan komisaris mendadak diadakan. Tidak ada agenda resmi, hanya satu kalimat pendek di undangan elektronik yang dikirimkan pagi tadi. “Perubahan struktural mendesak. Segera hadir di gedung pusat.”Di ruang rapat, meja panjang dari marmer mengkilap dipenuhi wajah-wajah serius. Di kursi utama, Moretti duduk dengan rahang mengeras, wajahnya gelap, jarinya mengetuk-ngetuk meja dengan ritme gelisah.“Baik,” suaranya pecah di tengah hening. “Siapa yang bisa menjelaskan pada saya, kenapa tiba-tiba perusahaan pusat menyetujui akuisisi terhadap tiga anak perusahaan utama kita?”Seorang komisaris senior mencoba bicara, “Tuan Moretti, keputusan itu berasal langsung dari kantor pusat Armany Corporation atas persetujuan penuh Tuan Ludovic Armany.”Ucapan itu

  • Istri Terbuang Jadi Nyonya Miliarder   16. Permainan Kecil

    Kabut pagi mulai tersibak, memperlihatkan perbukitan hijau di kejauhan. Namun kedamaian itu hanya milik balkon Ludovic. Di tempat lain, badai yang tak terlihat sudah mulai berhembus.Kantor pusat keluarga Benedict berdiri megah di pusat kota, dikelilingi gedung-gedung tinggi. Dari luar, semua tampak normal. Namun di dalam ruang rapat tertutup, suasana mendidih. Javier duduk di kursi utama, jasnya rapi, tapi kedua tangannya terkepal di atas meja dengan kilat mata menyala.“Bagaimana bisa ini terjadi?” suaranya rendah, namun cukup untuk membuat seluruh staf yang duduk di sekeliling meja menunduk.Seorang direktur keuangan mencoba menjelaskan, “Tuan, ada tiga transaksi lintas negara yang tiba-tiba dibekukan oleh bank mitra. Mereka mengklaim ada pemeriksaan rutin tapi waktunya terlalu kebetulan.”Javier mengerutkan dahi. “Rutin? Tiga akun sekaligus? Di tiga negara berbeda? Itu bukan kebetulan.” Rahangnya mengeras.Tak ada yang berani bicara.Awalnya pagi ini, dengan percaya diri Javier be

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status