MasukKetukan lembut terdengar di pintu kayu yang menjulang setinggi hampir setara dengan atap. Kyora sontak tersentak, reflek ingin berdiri, seperti kebiasaannya membukakan pintu, namun Ludovic menahan pergelangan tangannya.
“Diam di situ. Jangan kemana-mana,” bisiknya pelan tapi pasti. Lelaki itu bangkit, lalu berjalan santai menuju nakas dan menekan tombol pada sebuah benda kecil mirip remote, pintu terbuka otomatis, memperlihatkan seorang pelayan wanita berseragam hitam putih berdiri sopan, diikuti dua pria muda yang membawa nampan-nampan besar bertutup beludru. Di belakang mereka, sosok tinggi berjubah putih Chef Antonie sendiri menunduk hormat. “Selamat pagi, Tuan." ucapnya sopan. “Sesuai permintaan, kami membawa pilihan sarapan terbaik dari dapur utama. Dari Prancis, Italia, Swiss, hingga sajian fusion Asia-Eropa. Kami berharap sang Nyonya berkenan.” Ludovic menoleh sekilas ke arah Kyora yang masih duduk di sofa dengan handuk di pangkuannya dan kimono tipis membalut tubuh. Sorot matanya berubah tajam. "Letakkan di meja dekat balkon. Lalu pergi." perintahnya tegas. Pelayan dan chef segera bergerak cekatan. Beberapa menit kemudian, meja bundar dekat jendela besar dipenuhi segala jenis hidangan yang bahkan tak pernah terlintas di benak Kyora untuk disantap saat pagi hari. Ada croissant lembut berlapis almond karamel, telur dengan saus truffle, sashimi segar dalam mangkuk es batu, crepe dengan saus lemon, pasta carbonara, hingga sup miso putih hangat dan nasi khas Kyoto. Bahkan ada semangkuk kecil kaviar hitam di atas es batu kristal dan sepiring keju langka yang ditata seperti karya seni. Aroma mentega, rempah, dan keju menciptakan atmosfer yang menggugah perut siapa pun yang menghirupnya. Kyora menatap meja itu dengan mata membulat. “Ini… semua hanya untuk kita berdua?” Ludovic mengangguk tenang. “Kau perlu makan banyak. Tubuhmu butuh tenaga. Dan aku ingin melihatmu menikmati setiap hal yang pantas untukmu.” “Tapi ini… terlalu banyak.” Kyora tertegun. Ludovic menatap tajam. “Mereka masih menahan lebih dari separuh menu yang seharusnya. Ini sudah dipangkas.” Kyora tak bisa berkata-kata. Ia menelan ludah, lalu perlahan bangkit. Tapi langkahnya tertahan saat sadar kimono yang ia kenakan begitu tipis, bahkan transparan ketika disorot cahaya matahari dari balik jendela. Mereka serempak memalingkan tubuh gugup. “T-Tuan, pelayan masih ada…” Ludovic menyipitkan mata, lalu berbalik ke arah pintu. “Keluar, sekarang! Dan ingat jika mata kalian menyentuh kulit Nyonya, kalian tak akan pernah bisa melihat matahari lagi!" Ia memperingatkan dengan begitu posesif dan berlebihan. Chef Antonie langsung menunduk dalam, dan bersama para pelayan mereka meninggalkan ruangan nyaris tanpa suara. Begitu pintu tertutup rapat, Ludovic berbalik dan berjalan ke arah Kyora. Ia mengambil robe sutra panjang berwarna maroon dari lemari, lalu memakaikannya ke tubuh Kyora, menyampirkan bahunya dengan penuh perhatian. “Hanya aku yang boleh melihatmu seperti ini. Ingat itu, Kyora-ku.” Kyora tertegun tak pernah ia diperlakukan begitu posesif seperti ini oleh pria. "Hm." Ia mengangguk. Lebih ke takut, seperti para pelayan tadi yang patuh. "Mengapa Tuan begitu peduli padaku?" Ia mengulang pertanyaan yang belum menemukan jawaban yang tepat. Ludovic tak menjawab. Ia menarik kursi untuk Kyora, lalu menyajikan sendiri potongan croissant di piring kecil porselen. “Makanlah.” ucapnya datar. Kyora duduk pelan. Rasa lapar akhirnya menang. Ia mulai menyantap satu per satu dengan penuh keheranan, bukan hanya karena rasa yang luar biasa, tapi karena ini semua terasa seperti mimpi. Mimpi mahal yang tak pernah ia bayangkan bisa ia jamah lagi. Belum lama mereka menyelesaikan sarapan, suara deretan roda koper dan langkah tumit tinggi terdengar dari arah lorong kastil. Beberapa menit kemudian, pintu kembali diketuk. Ludovic menyuruh Kyora duduk di sofa dan tak beranjak. Ia sendiri yang membuka pintu. “Bonjour, Mister!” seru seorang wanita berambut pirang keemasan dengan lipstik merah terang. “Seperti biasa, saya datang dengan seluruh pasukan!” Marie Legrande, desainer kenamaan asal Paris yang karyanya hanya bisa dikenakan oleh kalangan jetset masuk dengan diikuti lima asisten yang membawa gantungan baju, koper, kotak perhiasan, dan rak sepatu portable. “Semua koleksi baru, bahkan yang belum dirilis. Saya sesuaikan dengan pengukuran wanita yang Anda kirim kemarin,” ujarnya penuh semangat. Kyora menegang di sofa. Marie Legrande salah satu desainer favoritnya. Dan sekarang ia ada dihadapannya. Datang sendiri mengantar baju? Luar biasa. Siapa pria di sebelahnya hingga bisa memerintah seperti ini? Ia semakin merinding. Matanya kembali membulat ketika melihat satu per satu gaun dan busana dibuka di hadapannya. Semua… seperti mimpi. Gaun silk bertabur kristal, setelan formal bordir tangan, sepatu heels dari koleksi runway, dan tas-tas edisi terbatas dari Paris dan Milan. Bibir Kyora bergetar. “Tunggu… ini semua untukku?” Marie tertawa. “Mais oui! Semua khusus untuk Nyonya. Tuan Ludovic bilang, tak boleh satu pun koleksi ini tak cocok dengan selera kekasihnya.” Kyora melirik pria disampingnya ia tak salah dengar kan "Ludovic" seketika ia panik. Tidak mungkin, ada banyak nama Ludovic di dunia ini. “Tuan, ini terlalu banyak! Aku tidak bisa menerima semua ini! Setidaknya biarkan aku pilih—” Ludovic melipat tangan di dada, menatap tajam. “Kau pilih semua. Kalau tidak, aku akan memindahkan seluruh galeri Marie ke kamarmu. Dan setiap pagi, kau harus mencoba satu per satu. Satu... per... satu di hadapanku.” Kyora menelan ludah. Ancaman itu bukan basa-basi. Marie terkekeh geli. “Romantisnya kau, Ludovic. Akhirnya kau jatuh cinta juga.” Kyora tertunduk malu. Tapi saat pelayan memanggil Ludovic dari interkom dan menyebutkan nama lengkapnya di depan semua orang, tubuh Kyora langsung menegang. “Chef Antonie meminta konfirmasi menu untuk makan malam, Tuan Ludovic Armany.” Semua terdiam sejenak. Kyora perlahan menoleh mencari jawaban. Wajahnya seputih kain yang ia kenakan. Bibirnya terkatup rapat. Marie menatapnya heran. “Ah? Jadi Anda belum tahu siapa dia, Nyonya?” Salah satu asistennya berseru pelan, “Tuan Armany… pemilik kasino terbesar di Eropa. Ludovic Armany.” “Dan pemilik Armany Corp, jaringan resort paling elit se-Monaco!” sahut Marie. Deg. Nama itu. Nama yang pernah disebut-sebut dalam rapat-rapat bisnis besar, yang membuat para investor membisu, yang membuat perusahaan besar tunduk tanpa berani menawar. Ludovic Armany, bukan hanya miliarder. Ia legenda. Dan sekarang, Kyora duduk di hadapannya dengan status yang tak bisa disangkal. Wanitanya, Miliknya, Nyonya, Kekasihnya... Gadisnya dan apalagi... Wajah Kyora pucat. “Jadi… " Ia sudah kehabisan kata-kata. Ludovic berjalan mendekat, mencengkeram kedua pundaknya pelan. “Aku bilang kau akan jadi milikku, Kyora. Dan saat aku bilang 'selamanya', aku tidak pernah bercanda. Dan mulai sekarang kau tak boleh memanggilku Tuan.” Kyora hanya bisa menatap matanya. Dalam, tegas. Penuh janji yang bukan sekadar rayuan, tapi tekad seorang penguasa. Dan entah kenapa, ia tak bisa lagi membantah.Mobil melaju perlahan meninggalkan area pemakaman. Pohon-pohon tua di kiri kanan jalan berbaris rapi, dedaunan mereka bergoyang pelan tertiup angin pagi. Kyora menatap keluar jendela, pikirannya masih tertinggal di antara nisan marmer dan doa-doa yang tak sempat ia ucapkan selama bertahun-tahun.Ludovic tidak mengganggunya. Ia membiarkan keheningan mengalir. Sesekali ia melirik Kyora, memastikan wajahnya sudah kembali ceria, bahwa kesedihan itu tidak lagi menenggelamkannya terlalu dalam.“Kita tidak harus kembali ke mansion sekarang,” ucap Ludovic akhirnya, suaranya rendah dan hangat. “Ada sebuah tempat yang ingin kutunjukkan padamu. Jika kau tidak keberatan.”Kyora menoleh. Tatapannya bertemu dengan mata Ludovic yang tidak mengintimidasi seperti biasanya. Ada sesuatu yang berbeda di sana kelembutan yang hangat.“Ke mana?” tanyanya.“Sebuah taman lama,” jawab Ludovic singkat. “Tidak jauh dari sini.”Kyora ragu sejenak, lalu mengangguk. “Baik.”Mobil berbelok ke jalan kecil yang dipen
Malam semakin larut ketika Kyora akhirnya terlelap. Namun tidurnya tak begitu tenang. Bayangan taman, air mancur, dan patung marmer dengan bunga liliy terus berkelebat di alam mimpinya.Seorang gadis kecil berusia lima tahun berlari di taman, gaun merah mudanya berkibar tertiup angin. Tawa riang memenuhi udara. Di belakangnya, seorang bocah lelaki tujuh tahun lebih tua di atasnya, dengan rambut hitam pekat mengejar sambil tertawa kecil, membawa bunga lily of the valley yang hampir terlepas dari genggamannya.“Kyo! Tunggu aku!” teriak bocah itu.Gadis kecil itu menoleh, wajahnya berseri. “Kau lambat sekali, Kak Luvi!”Nama itu menggema aneh di telinga Kyora dewasa yang menyaksikan mimpi itu dari kejauhan. Luvi. Dadanya terasa nyeri tanpa sebab.Mimpi itu berubah.Langit kelabu. Gadis kecil itu berdiri di depan sebuah makam yang masih basah. Menatap bocah bernama Luvi yang terisak di samping pusara dengan bertabur Lily of the valley.Gadis kecil itu mengeluarkan sesuatu dari saku jaketn
Makan malam itu berlangsung dalam hening yang nyaris menyiksa. Dentingan garpu dan pisau terdengar begitu jelas di tengah ruangan besar yang seharusnya hangat, namun justru dingin membeku.Kyora berusaha menahan pandangannya tetap tenang, menunduk setiap kali tatapan Ludovic menusuknya tanpa suara. Membuatnya susah untuk menelan dengan benar.Laki-laki itu makan dengan tenang, gerakannya penuh kendali. Namun Kyora tahu, di balik ketenangan itu ada sesuatu yang menggelegak, entah amarah terpendam karena ucapannya tadi, atau hanya permainan sunyi yang sengaja diciptakan.Kyora menggenggam serbet di pangkuannya, seakan mencari pegangan agar tidak gemetar. Napasnya berusaha ia atur, tapi tetap saja terasa berat. Pria di depannya benar-benar tak bisa ditebak.Begitu santap malam usai, Ludovic meletakkan sendoknya perlahan, lalu mengusap bibir dengan serbet putih bersulam benang emas. Tatapannya singkat, tapi cukup membuat jantung Kyora berdebar.“Terima kasih untuk makan malamnya,” ucap Ky
Langkah Calista terdengar bergema di lantai marmer butik perhiasan mewah tempat ia berada. Matanya masih menatap pantulan wajahnya di kaca display berlian, namun pikirannya melayang jauh.Kata-kata ayahnya tadi di telepon cukup mengganggu ketenangannya. Kalimat itu bagai duri yang mengusik."Ck!" Ia berdecak kesal sendiri. "Ayah, kau mengganggu kesenanganku." omelnya sendiri. Ia menggenggam ponsel erat, seolah ingin meremukkannyaSeorang staf butik mendekat dengan senyum ramah, menawarkan koleksi terbaru. Namun Calista hanya melirik sekilas lalu melambaikan tangan acuh.“Tidak, aku tidak butuh apa-apa. Aku sudah tidak selera!" bentaknya, kemudian berlalu pergi begitu saja.Langkahnya meninggalkan butik itu cepat, hampir tergesa, seakan ia ingin lari dari bayangan ayahnya yang terus mengganggunya.Di sisi lain, Moretti kembali ke ruang rapat. Para komisaris masih berkumpul, sebagian dengan wajah pucat, sebagian lagi saling berbisik. Suasana ruangan kini lebih berat daripada sebelumnya
Gedung pusat Moretti Corporation, siang itu, seakan menjadi ruang tekanan tinggi. Lift-lift bergerak naik-turun dengan tergesa, sekretaris-sekretaris membawa berkas setumpuk, dan para eksekutif senior saling berbisik dengan wajah pucat.Rapat dewan komisaris mendadak diadakan. Tidak ada agenda resmi, hanya satu kalimat pendek di undangan elektronik yang dikirimkan pagi tadi. “Perubahan struktural mendesak. Segera hadir di gedung pusat.”Di ruang rapat, meja panjang dari marmer mengkilap dipenuhi wajah-wajah serius. Di kursi utama, Moretti duduk dengan rahang mengeras, wajahnya gelap, jarinya mengetuk-ngetuk meja dengan ritme gelisah.“Baik,” suaranya pecah di tengah hening. “Siapa yang bisa menjelaskan pada saya, kenapa tiba-tiba perusahaan pusat menyetujui akuisisi terhadap tiga anak perusahaan utama kita?”Seorang komisaris senior mencoba bicara, “Tuan Moretti, keputusan itu berasal langsung dari kantor pusat Armany Corporation atas persetujuan penuh Tuan Ludovic Armany.”Ucapan itu
Kabut pagi mulai tersibak, memperlihatkan perbukitan hijau di kejauhan. Namun kedamaian itu hanya milik balkon Ludovic. Di tempat lain, badai yang tak terlihat sudah mulai berhembus.Kantor pusat keluarga Benedict berdiri megah di pusat kota, dikelilingi gedung-gedung tinggi. Dari luar, semua tampak normal. Namun di dalam ruang rapat tertutup, suasana mendidih. Javier duduk di kursi utama, jasnya rapi, tapi kedua tangannya terkepal di atas meja dengan kilat mata menyala.“Bagaimana bisa ini terjadi?” suaranya rendah, namun cukup untuk membuat seluruh staf yang duduk di sekeliling meja menunduk.Seorang direktur keuangan mencoba menjelaskan, “Tuan, ada tiga transaksi lintas negara yang tiba-tiba dibekukan oleh bank mitra. Mereka mengklaim ada pemeriksaan rutin tapi waktunya terlalu kebetulan.”Javier mengerutkan dahi. “Rutin? Tiga akun sekaligus? Di tiga negara berbeda? Itu bukan kebetulan.” Rahangnya mengeras.Tak ada yang berani bicara.Awalnya pagi ini, dengan percaya diri Javier be







