LOGIN“KAMU?!” Emily tersentak mundur. “Sedang apa kamu di sini?!”
Emily tidak menduga bertemu Ivander di pantai malam ini. Kenapa harus pria ini yang dia temui ketika suasana hatinya sedang tidak baik?
“Kamu yang sedang apa?! Mau mati?! Bunuh diri?!” Pria itu balik membentak dengan mata melotot tajam ke arah Emily.
Emily dibuat terkejut lagi dengan reaksi pria dingin itu. Ivander yang dikenal Emily selama ini adalah sosok dingin tanpa ekspre
“KAMU?!” Emily tersentak mundur. “Sedang apa kamu di sini?!”Emily tidak menduga bertemu Ivander di pantai malam ini. Kenapa harus pria ini yang dia temui ketika suasana hatinya sedang tidak baik?“Kamu yang sedang apa?! Mau mati?! Bunuh diri?!” Pria itu balik membentak dengan mata melotot tajam ke arah Emily.Emily dibuat terkejut lagi dengan reaksi pria dingin itu. Ivander yang dikenal Emily selama ini adalah sosok dingin tanpa ekspresi dan enggan ikut campur urusan orang lain. Tapi, malam ini Ivander membuktikan bahwa dirinya adalah manusia yang memiliki emosi.“Apa? Mati? Bunuh diri?” Emily bingung dengan ucapan Ivander. “Siapa?” Tanpa sadar bibirnya tersenyum menyadari dugaan pria itu.“Lucu?!” bentak Ivander lagi.Tawa Emily meledak beberapa saat. Ia terbahak hingga air matanya keluar dan jatuh ke pipi. Ivander terpesona melihatnya. Ini kali pertama sejak ia meliha
“Apa benar, papa yang meminta Carol bergabung? Jujur, aku sedang bingung dengan sikap papa sekarang. Kenapa papa izinkan Carol hadir? Untuk menggeser posisiku sebagai istri Radit? Atau apa?!” cecar Emily dengan suara bergetar.Hendro tersentak menyadari pemikiran Emily terhadapnya.“E—Emmy. Tolong, jangan berpikir demikian.” Hendro mengusap wajahnya panik. “Papa tidak tahu tentang hal ini. Menurut Hanum, Radit yang menandatangani kontrak kerjanya. Papa juga terkejut ketika nama Carol masuk dalam daftar rekanan baru. Sungguh.”Emily buru-buru berdiri ketika Hendro mencondongkan badan dan mengulurkan tangan padanya. “Papa, maaf. Kepalaku pusing. Aku ingin istirahat.”“Tidak, dengarkan papa dulu. Sampai kapanpun, kamu satu-satunya menantu papa. Tidak akan tergantikan oleh siapapun.” Hendro menyusul bangkit dan berjalan mendekati Emily.“Emmy, papa mohon. Jangan begini.”Air mata Emily luruh. “Pa, tolong izinkan kami berpisah. Tidak perlu mempertahankan hubungan yang sudah hancur. Percum
“Apa yang pertama kali Emily katakan ketika bangun?” tanya Ivander.Soraya menyusut hidungnya. “Maaf. Hanya kata maaf yang terus keluar dari bibir kecilnya. Selama berhari-hari.” Air mata Soraya kembali menetes. “Apa pun yang kami tanyakan atau katakan, dia hanya menjawab maaf dengan pandangan kosong.”Ivander mangut-manggut dengan bibir terlipat ke dalam.“Ivan, boleh saya minta tolong sesuatu?” tanya Soraya ragu.“Apa itu?” tanya Ivander menimpali.“Tolong bantu Emily melewati krisis ini. Dia ….” Soraya ragu melanjutkan kalimatnya. Ia khawatir terlalu ikut campur urusan putrinya, tapi hati kecilnya tidak tega melihat Emily menghadapi kondisi rumah tangganya saat ini tanpa bantuan seseorang—seperti ketika Emily kecil tumbuh tanpa kehadiran orang tua membersamainya.Ivander menunggu Soraya meneruskan kalimatnya. Keinginan pasien untuk membagi masalahnya adalah kunci utama keberhasilan konselingnya. Apabila masih ada yang ingin dia simpan untuk dirinya sendiri, maka konselor tidak berh
Caroline keluar dari auditorium dengan langkah mantap penuh kebanggaan. Selangkah lagi, keinginannya menjadi istri pewaris rumah sakit akan segera terwujud. Saat ini, ia mungkin hanya salah satu dokter spesialis, tapi sebentar lagi, dia akan menjadi satu-satunya istri pewaris. Membayangkan hal itu, senyum Caroline merekah.Sret.Seseorang menarik lengan Caroline ke tempat yang tersembunyi. “Bahagia sekali sepertinya?” Embusan napas Raditya menyapu leher Caroline.“Radit …,” desah Caroline seraya mendorong pundak pria itu. “Kau akan membuat riasanku luntur.”Raditya menjauhkan wajahnya yang dihiasi seringai. “Aku bangga melihatmu di atas tadi.” Sebuah kecupan mendarat di dahi Caroline. “Perlahan, semua orang akan mulai mengenalmu.”Kepala Caroline mendongak, memamerkan lehernya yang polos. “Argh … sekalian kamu mengagumi istrimu di atas podium?” sinisnya.“Hahaha …! Aku semakin suka saat kamu cemburu seperti ini.” Raditya mendaratkan satu kecupan panjang sbeelum menarik tangan Caroline
“Arga?! Jadi beberapa hari ini kamu bilang tinggal menemani ibumu, ternyata menemani pria lain?!”Emily terbeliak. Tidak menyangka Raditya bisa mengeluarkan kata-kata seperti itu padanya di depan banyak orang yang saat itu ada di IGD. Pengunjung yang awalnya fokus menunggu keluarganya yang sedang mengantre untuk diperiksa, kini tertuju padanya dan Raditya.Plak!Tangan kanan Emily mendarat di pipi kiri Raditya tanpa bisa dikendalikan lagi. Sebuah tamparan yang cukup keras untuk menghapus senyumculas di wajah pria itu yang selama ini dia abaikan.“CUKUP!” bentak Emily dengan lantang. “Tutup mulutmu!”Rekan sejawat yang sedang bertugas pun tersentak melihat perubahan sikap Emily. Dokter cantik, baik dan cerdas yang mereka kenal, lenyap. Pun begitu dengan Raditya. Matanya yang terbelalak sambil meraba pipinya yang panas karena tamparan Emily, menunjukkan bahwa tamparan itu di luar dugaannya.“K
“Halo. Aku sudah bertemu dengan istrimu, Emily.” Caroline tidak membuang waktu untuk menceritakan kejadian seru yang baru dialaminya.[Ketemu di mana?]“Di rumah sakit milikmu. Di mana lagi?” jawab Caroline sambil mencermati kuku palsunya.[Kamu ngapain ke sana?!] Terdengar kepanikan dalam suara Raditya.“Kok ngapain? Tadi kamu bilang, aku boleh kerja di sini. Kok sekarang ngapain?!” sungut Caroline. “Jangan-jangan, kamu tidak sungguh-sungguh ingin menikahiku, ya?!”[Bukan begitu, Carol. Aku akan membuatmu bekerja di sana, tapi tidak sekarang. Ayolah, jangan mempersulitku.] Raditya mulai kehilangan kesabaran.“Sekarang! Aku maunya sekarang! Kamu tinggal hubungi pegawai HRD dan bilang kalau ada dokter bedah plastik baru yang akan datang hari ini. Beres, ‘kan?!” desak Caroline. “Aku tidak ingin membuang waktu lagi untuk bisa bersamamu, Radit!”[STOP! Stop sebu
Ivander mengedar pandangannya begitu memasuki ruang IGD yang penuh sesak. Jantungnya selalu berdebar kencang bila berkaitan dengan Aura.“Paman …!” teriak Aura di sela tangisannya.“Hei … shh …. It’s okay.” Ivander naik ke
Raditya berbalik dengan kasar dan menghempaskan lengannya hingga cengkeraman Hendro terlepas. “Papa bilang apa barusan? Menjadikan Emily pewaris? Apa aku gak salah dengar, Pa?!”“Usahakan Emily tidak menceraikanmu. Ubah semua karakter burukmu! Bagaimana bisa kamu menyakitinya, tapi masih menyebutny
“Aku ingin mengajukan gugatan cerai.”Kalimat pertama Emily setelah mereka sampai rumah, tidak mengejutkan Arthur dan Soraya. Mereka hanya saling pandang dengan tatapan sedih.“Maaf, kalau keputusanku ini melukai kalian. Tapi, aku sudah menimbangnya masak-masak. Aku harap—.”“Kami mendukungmu,” pot
“Sudah waktunya kamu menjadwalkan sesi konselingmu, kalau itu tidak merepotkan.”Emily mendongak. “Apakah bisa sekarang?”Alih-alih menjawab, Ivander mengambil kursi dan meumbawanya ke samping ranjang Emily. “Silakan,” ujarnya yakin.&ldquo







