LOGINMenjelang pukul delapan malam, Karina akhirnya kembali ke mansion setelah seharian ia diajak pergi oleh Aldan, yang tiba-tiba saja mengajaknya belanja. Aslinya ia ingin menolak, namun demi menghibur dirinya ia akhirnya menerima ajakan Aldan. Dan, ternyata pria itu membelanjakannya sebuah gaun malam, yang Karina rasa ini hanya menjadi pajangan di lemari saja. 'Ingat ya Karin, pokoknya gaun malam ini cepat dipakai supaya suamimu terkesima'ucaoan Aldan terngiang setelah ia turun dari mobil.
"Apanya yang terkesima? Mas Alfan mungkin lebih terkesima sama mantannya mbak Salsa, " Omelnya pelan pada dirinya sendiri. Karina menghela napas panjang, menatap kondisi rumah yang sedikit gelap, mungkin saja suaminya belum pulang atau? Karuna lalu menggeleng cepat. Tidak mau memikirkan hal yang menyakiti hatinya. Perempuan itu lalu membuka pintu rumah, dengan menenteng satu paper bag lumayan besar belanjaan dari Aldan. "Istriku cintaku sudah pulang rupanya? " Suara rendah Alfan membuat Karina terkejut. Dengan posisi Alfan duduk di sofa, menyilangkan kedua kakinya menatap dingin Karina. "Astaghfirullah! Mas Alfan! Ihhh bikin kaget aku aja sih!! " Pekiknya, menjatuhkan barang belanjaannya. Sosok Alfan kini sudah berdiri menjulang tinggi di hadapannya, dengan kaos hitam ketat dan celana training abu tua. "Enak sekali ya kamu, jalan-jalan tanpa izin dulu. Dan tanpa tahu lagi kalau suaminya sedang menunggu ke jadikan istrinya tercinta, " Sarkas Alfan menatap tajam Karina. "Maksud Mas Alfan apa? Bukannya tadi Mas reunian sama temen Kuliah, " Sewot Karina. Alfan hanya mengangkat alisnya sebelah. "Oh, jadi bener cemburu kamu? " Karina langsung menatap kesL suaminya itu. "Ngga tuh, ngapain juga ya aku cemburu, " Ucap Karina lalu membuag muka. "Saya kira kamu habis ngupinh, langsung pergi menghilang tanpa jejak. Kayak drama begitu, " Seloroh Alfan santai, lalu ia kembali duduk di sofa,menatap Karina datar. "Sini duduk di sebelah saya, kita bicara lagi supaya jelas, " Titah Alfan Karina awalnya ragu, lalu akhirnya duduk du samping sang suami. "Bicara apa Mas Alfan? Aku ras-"ucapannya terputus ketika telunjuk Alfan menyentuh bibi Karina. "Sst... Diem dulu Karina Cantik. Saya mau tanya sama kamu, sejauh mana kamu tadi mendengar pembicaraan kami? " Tanya Alfan kini dengan nada lembut. "Ngga kok, saya nggak dengar Mas Alfan, " Kilah Karina tidak mau mengakui. Alfan Tersenyum tipis melihat ekspresi gelagapan istrinya. "Jangan bohong. Mata kamu kedip-kedip begitu? Sampi mana? Sampai kata cerai? " Desak Alfan terus membuat Karina tertengun. "Bukankah itu maunya Mas Alfan? Menceraikan aku dan kembali... " Karina langsung terdiam karena tidak sanggup melanjutkan. Namun, ia malam mendapat jitakan pelan di dahinya dari Alfan. "Asumsi terlalu aneh-aneh, siapa yang mau menceraikan kamu? Ngaco! " Pungkas Alfan setengah kesal, karena istrinya terlalu overthinking. Karina langsung menatap bingung Alfan, "eh? Bukannya tadi Mas.. " "Makanya, kali nguping jangan setengah-setengah Karina cantik. Mana mungkin saya menceraikan kamu demi perempuan busuk seperti dia. Terus jamu kenapa tidak bilang kalau ketemu sama dia hm? Mulai tidak jujur kamu sama saya? " Ucap Alfan panjang, lalu menuduh istrinya. Karina menatapnya kembali, kali ini dengan serius. "Enggak Mas Alfan, aku mau cerita tapi terhalang kesibukan kita aja. Setiap mau bilang Mas Alfan keliatan capek gitu, " Tutur Karina lembut. Alfan mengusap wajahnya kasar, "harusnya kamu bilang Karina, kamu tidak tahu seberapa manipulatif nya dia? Terus dia ngomong apa aja sama kamu? " Lanjut Alfan mengorek lebih dalam. Karina terdiam, ia menundukkan kepalanya karena enggan menjawab. "Karina.. Jawab saya, atau kita akan tetap duduk di sini sampai besok! " Tekan Alfan tidak mau di bantah. "Mbak Salsa bilang, kalau Mas Alfan nggak bisa lupain sentuhannya. Makanya Mas Alfan nggak mau melakukan itu, " Imbuh Karina dengan suara terbata dan semakin pelan. "Kamu percaya? " Alfan ingin tahu jawaban istrinya. "Ngga tahu Mas Alfan, intinya Mas Alfan nggak mau sama saya, " Keluh Karina dengan perasaan resah. "Kalau begitu kamu memang terprovokasi sama uca-" "Tapi itu memang benar kan Mas Alfan? " Potong Karina lalu berdiri dari duduknya, menatap getir Alfan. "Mas Alfan menang nggak mau melakukan itu, karena Mas Alfan benci sama Aku, dan masih belu-" Ucapan Karina berhenti ketika Alfan membungkamnya dengan mulut. Alfan mengulum bibir Karina lembut, sembari menarik pinggang mungil istrinya untuk mendekat. Karina sempat terkejut karena suaminya tiba-tiba mencium bibirnya, membuat tubuhnya membeku seketika. Ouh begini rasanya dicium? Karena yang sebelumnya ia melakukan dalam keadaan tidak sadar karena mabuk. Karina merasakan tubuhnya bergetar dan meremang ketika jarak jauh Mereka begitu dekat dan intim. Alfan melepas ciumannya, lalu tatapan mereka saling mengunci, dan tangan besarnya membelai wajah mungil sang istri. "saya akan buktikan kalau semua yang di katakan perempuan sial itu bohong, " Bisik Alfan serak, lalu ia kembali mengecup bibir istrinya itu. "Saya buktikan malam ini Karina. Dalam waktu satu jam dari sekarang, saya tunggu kamu di kamar saha. Dan akan saya berikan kamu sebuah pengalaman untuk menjadi seorang istri yang sesungguhnya Karina, " Cetus Alfan berbicara tepat di depan bibir Karina, lalu ia melepas tangannya dan meninggalkan Karina yang masih membeku menatap punggung tegap Alfan yang berjalan menuju tangga. "Hah? Tadi apa maksudnya? " Gumam Karina merasakan debaran jantung nya mulai tidak netral."Mesumnya sama istri sendiri Karina, tidak masalah dong, " Jawab Alfan lalu mengecup punggung tangan Karina lembut, yang semakin membuat denyut jadi Karina berpacu lebih kencang. 'Astaga! Karina lebih suka Alfan mengatakan kalimat pedasnya, dibandingkan bersikap seperti ini, membuat merinding. '"Mas Alfan... " Cicit Karina, terlihat kikuk dengan tindakan Alfan seperti ini. "Apa hm? Saya masih kesal ya, sama kamu karena diam-diam bertemu Salsa, " Pungkas Alfan tajam, menarik prlan tubuh Karina dan memeluknya. Menghirup aroma manis dari istrinya, hingga tatapannya ter distraksi oleh sesutu Yang lucu. "Kamu terlalu gugup Karina, sampai label hargan bajunya belum kamu lepas, " Ucap Alfan menahan tawa, membuat Karina mendorong pelan tubuh besar Alfan, namun pria itu menahannya. 'Karina kamu bodoh banget siiii'. Ucap Karina dalam hati. "Astaga! Semua gara-gara Mas Alfan si, saya malu banget jadi pengen terbangvke langit ke tujuh! " Ujarnya pelan, lalu menunduk karena malu sekali. "Kamu
Kali ini rasanya Karina ingin kabur saja kalau sudah begini, malam ini Alfan mengatakan hal yang membuat tubuhnya meremang satu badan. Karina tidak bodoh, dan justru ia tahu maksud sang suami. Terkadang ia ingin menjitak kepalanya keras-keras supaya tidak kelepasan emosi, dan tetap tenang menahan diri untuk tidak mengeluarkan kalimat yang tidak penting seperti tadi. Rupanya, mengetahui Alfan bertemu Salsa sangat membuatnya sedikit menarik emosi yang ia tahan-tahan. Namun, di satu sisi Karina menjadi lega karena Alfan juga masih ingin bertahan dengannya di dalam pernikahan ini. Dan, kini ia masih di dalam kamarnya setelah selesai mandi, dan mencoba untuk memakai gaun malam pemberian Aldan tadi, yaitu set satin warna butter yellow lembut, dengan model nighgown yang sekarang ia balut dengan Kimono. Rbut panjangnya yang lurus dan setengah basah ia gerai. Sedari tadi ia di depan kaca, malu karena ia pertama kalinya menggunakan pakaian tidur seperti ini. "Kok jadi aneh gini ya? "Gumamnya
Menjelang pukul delapan malam, Karina akhirnya kembali ke mansion setelah seharian ia diajak pergi oleh Aldan, yang tiba-tiba saja mengajaknya belanja. Aslinya ia ingin menolak, namun demi menghibur dirinya ia akhirnya menerima ajakan Aldan. Dan, ternyata pria itu membelanjakannya sebuah gaun malam, yang Karina rasa ini hanya menjadi pajangan di lemari saja. 'Ingat ya Karin, pokoknya gaun malam ini cepat dipakai supaya suamimu terkesima'ucaoan Aldan terngiang setelah ia turun dari mobil. "Apanya yang terkesima? Mas Alfan mungkin lebih terkesima sama mantannya mbak Salsa, " Omelnya pelan pada dirinya sendiri. Karina menghela napas panjang, menatap kondisi rumah yang sedikit gelap, mungkin saja suaminya belum pulang atau? Karuna lalu menggeleng cepat. Tidak mau memikirkan hal yang menyakiti hatinya. Perempuan itu lalu membuka pintu rumah, dengan menenteng satu paper bag lumayan besar belanjaan dari Aldan. "Istriku cintaku sudah pulang rupanya? " Suara rendah Alfan membuat Karina terk
Sedangkan Salsa menatapnya pucat, dengan posisi sudah memakai Bathrobe bentuk kimono, dengan wajah yang merah dan sebagian tubuhnya ada bercak kemerahan yang semakin membuat Alfan menjadi jijik. "Apa-apaan ini Salsa? " Suaranya getir, seperti menelan ribuan Duri durian. Salsa membuang tatapannya, bahkan ia tidak menangis dan lebih seperti maling yang kepergok mencuri barang berharga. "JAWAB LU BAJINGAN!!! " bentak Alfan masih berdiri seperti tadi, menatap pacarnya itu seperti binatang yang terluka. "Kamu nggak perlu tahu Mas, " Jawab Salsa menatapnya tanpa bersalah. "Ha? Apa maksudmu sialan!!! Dada Alfan semakin gemuruh. "Jauh aku sebelum kenal sama kamu, aku udah begini. Inilah aku yang sebenarnya, dan pacaran dengamu adalah kesalahan untukku. Lagipula keluarga mu juga nggak suka kan sama aku? " Balas Salsa tidak tahu malu. Alfan menatap Salsa semakin getir,ternyata selama ini rasa cinta dan upayanya untuk membuat Salsa benar-benar diterima di keluarga nya hanyalah serpihan sa
5 years agoSiang ini Alfan baru saja kembali dari kota Surakarta, karena ada pertemuan dengan klaien, dan sekaligus meninjau lokasi yang akan dipakai untuk proyeknya. Dalam perjalanan pulang dari Surakarta menuju Jakarta, ia sempatkan membeli buket bunga untuk perayaan anniversary dengan Salsa yang sudah berlangsung dia tahun. Alfan aslinya ingin membeli buket bunga mawar, tapi ia berikan pada pembeli lain karena lebih memilih buket lily. Cantik seperti pacarnya. Alfan ingin memberikan kejutan kepada Salsa dengan bunga ini, dan mengajaknya dinner. Namun, sayang sekali pacarnya itu sedang photoshoot dengan brand pakaian untuk olahraga dan jaket di kota Yogyakarta. Seharusnya sekarang pacarnya pulang, akan tetapi Salsa baru mengabari jika masih ada pemotretan lagi. Bagi Alfan tidak Masalah, karena sebagai pacar ia tidak ingin menghalangi mimpi pacarnya untuk masa depan dan tetap mendukung meski ada batasan tertentu. Sejujurnya pacaran dengan Salsa ini Alfan sempat mendapat pertentan
Alfan yang sedang merebahkan kepalanya setelah kepergian asistennya melaporkan hasil kunjungan kemarin yang tidak dapat Alfan hadiri. Alfan menghadap langit-langit atap ruangan. Seketika ia teringat wajah istrinya yang terlihat ingin mengatakan sesuatu tadii pagi. Pria itu merongoh ponselnya untuk mengentik pesan kepada Karina namun belum sempat ia mengirim, suara ketukan terdengar lagi dan kali ini Rafa muncul dengan wajah cemas. 'Kenapa Karina? "Rajasthan mengerutkan dahinya menatao Rafa. " Begini pak, ada-""Hai Mas Alfan. " Suara yang telah lama Alfan hilangkan kini terdengar kembali. Sosok perempuan masa lallu yang pernah membuat hatinya membuncah tiba-tiba saja muncul di belakang Rafa. Tersenyum cerah metapnya. "Pak Alfan saya-""Tinggalkan kami berdua Rafa, saya perlu bicara dengan perempuan bebal ini, " Sarkas Alfan dingin, membuat Rafa menundukan kepala lalu meninggalkan ruangan. "Ngapain kamu di sini? Bukannya sudah mati? " Puggkas Alfan tajam, iris pekatnya mentap Salsa







