LOGINKali ini rasanya Karina ingin kabur saja kalau sudah begini, malam ini Alfan mengatakan hal yang membuat tubuhnya meremang satu badan. Karina tidak bodoh, dan justru ia tahu maksud sang suami.
Terkadang ia ingin menjitak kepalanya keras-keras supaya tidak kelepasan emosi, dan tetap tenang menahan diri untuk tidak mengeluarkan kalimat yang tidak penting seperti tadi. Rupanya, mengetahui Alfan bertemu Salsa sangat membuatnya sedikit menarik emosi yang ia tahan-tahan. Namun, di satu sisi Karina menjadi lega karena Alfan juga masih ingin bertahan dengannya di dalam pernikahan ini. Dan, kini ia masih di dalam kamarnya setelah selesai mandi, dan mencoba untuk memakai gaun malam pemberian Aldan tadi, yaitu set satin warna butter yellow lembut, dengan model nighgown yang sekarang ia balut dengan Kimono. Rbut panjangnya yang lurus dan setengah basah ia gerai. Sedari tadi ia di depan kaca, malu karena ia pertama kalinya menggunakan pakaian tidur seperti ini. "Kok jadi aneh gini ya? "Gumamnya merasa tidak nyaman memakai gaun malam seperti ini, karena ia biasa menggunakan piyama panjang atau kaos lengan pendek dengan celana training. "Karina? " Suara berat Alfan di balik pintu terdengar, semakin membuat Karina kelimpungan. "Aduh? Masak udah ke sini aja sih? " Panik Karina. Lalu, perlahan ia membuka pintu kamarnya dan terlihat lah sosok Alfan yang menyenderkan kepalanya di pintu sambil melipat kedua tangannya, menatap Karina lekat. "Kamu lagi apa sih sayang? Saya sudah nungguin kamu satu jam. Mandi kembang kah kamu? " Alfan langsung melempar pertanyaan dengan kalimat ledekan. Dengan langkah tanpa suara, ia masuk ke dalam kamar Karina lalu menutup pintunya pelan-pelan. Alfan lalu menyalakan remote AC 18 derajat, karena suhu ini tidak akan kerasa, karena rasa panas yang akan ia lakukan nanti bersama Karina. Setelah itu ia juga meletakkan ponsel di atas meja rias istrinya. Karina sendiri menelan ludahnya, jantungnya semakin berdebar kencang menatap Alfan yang seperti nya habis selesai mandi. Aromanya khas Alfan semerbak seperti daun mint, wangi segar yang menyeruak dalam penciuman Karina. Rambut pendeknya terlihat setengah basah dan acak-acakan, suaminya kini hanya menggunakan kaos lengan pendek hitap ketat dan celana hitam boxer, penampilan Alfan malam ini berhasil membuat Karina tidak bisa berpikir jernih. "Mas Alfan juga kan habis mandi, " Dengan gelagapan perempuan itu menanyakan pada Alfan, berusaha menutupi rasa gugupnya yang luar biasa. Alfan masih menatap lekat istrinya, dengan menjulang tinggi di hadapan Karina. Malam ini penampilan sang istri begitu terlihat berbeda, tidak ada lagi rambut yang di kepang satu . Kali ini, surai hitam nan panjang milik Karina terlihat indah dan kontras dengan warna gaun malam yang mengkilap dan kulitnya yang terlihat pucat di malam ini. Pria itu semakin mendekati Karina, sembari menguburkan kedua tangannya ke saku celana. Mencondongkan tubuh besarnya di samping telinga Karina. "Iya dong, karena nanti kita olahraga nya lumayan mengeluarkan banyak keringat, " Bisik Alfan terdengar sendual, membuat tubuh Karina meremang. "Saya suka penampilan kamu seperti ini Karina, jadi tambah cantik. Tidak ada lagi daster rombeng kayak biasanya, " Timbal Alfan santai, tersenyum tipis melihat pipi istrinya merona merah. Karina melengos sambil mengulum bibir. "Aku tadinya Mas mau pakai kostum pokemon, tapi nggak ada waktu buat belinya, Mas sih ngedadak! " Karina mencebik kesal. Suara tawa halus mengudara, membuat Karina tertegun menatap Alfan. Ini pertama kalinya sejak pertemuan pertama sampai sekarang, ia melihat Alfan tertawa. Karina mengepalkan kedua tangannya, semakin ada rasa tidak nyaman jika ada yang melihat Alfan tertawa seperti ini selain dirinya. "Apapun yang kamu pakai saya tidak masalah Karina, apalagi tanpa busana. Lebih bagus sih, tapi khusus kalau sedang berduaan dengan saya , " Imbuh Alfan santai membuat Wajah Karina semakin merah. "Mas Alfan ternyata mesum juga ya, " Sarkas Karina pelan, membuat Alfan terkekeh, tangannya merah tangan mungil istrinya, lalu mengusap-ysap cincin pernikahan mereka yang tersemat di jari manis milik Karina."Mesumnya sama istri sendiri Karina, tidak masalah dong, " Jawab Alfan lalu mengecup punggung tangan Karina lembut, yang semakin membuat denyut jadi Karina berpacu lebih kencang. 'Astaga! Karina lebih suka Alfan mengatakan kalimat pedasnya, dibandingkan bersikap seperti ini, membuat merinding. '"Mas Alfan... " Cicit Karina, terlihat kikuk dengan tindakan Alfan seperti ini. "Apa hm? Saya masih kesal ya, sama kamu karena diam-diam bertemu Salsa, " Pungkas Alfan tajam, menarik prlan tubuh Karina dan memeluknya. Menghirup aroma manis dari istrinya, hingga tatapannya ter distraksi oleh sesutu Yang lucu. "Kamu terlalu gugup Karina, sampai label hargan bajunya belum kamu lepas, " Ucap Alfan menahan tawa, membuat Karina mendorong pelan tubuh besar Alfan, namun pria itu menahannya. 'Karina kamu bodoh banget siiii'. Ucap Karina dalam hati. "Astaga! Semua gara-gara Mas Alfan si, saya malu banget jadi pengen terbangvke langit ke tujuh! " Ujarnya pelan, lalu menunduk karena malu sekali. "Kamu
Kali ini rasanya Karina ingin kabur saja kalau sudah begini, malam ini Alfan mengatakan hal yang membuat tubuhnya meremang satu badan. Karina tidak bodoh, dan justru ia tahu maksud sang suami. Terkadang ia ingin menjitak kepalanya keras-keras supaya tidak kelepasan emosi, dan tetap tenang menahan diri untuk tidak mengeluarkan kalimat yang tidak penting seperti tadi. Rupanya, mengetahui Alfan bertemu Salsa sangat membuatnya sedikit menarik emosi yang ia tahan-tahan. Namun, di satu sisi Karina menjadi lega karena Alfan juga masih ingin bertahan dengannya di dalam pernikahan ini. Dan, kini ia masih di dalam kamarnya setelah selesai mandi, dan mencoba untuk memakai gaun malam pemberian Aldan tadi, yaitu set satin warna butter yellow lembut, dengan model nighgown yang sekarang ia balut dengan Kimono. Rbut panjangnya yang lurus dan setengah basah ia gerai. Sedari tadi ia di depan kaca, malu karena ia pertama kalinya menggunakan pakaian tidur seperti ini. "Kok jadi aneh gini ya? "Gumamnya
Menjelang pukul delapan malam, Karina akhirnya kembali ke mansion setelah seharian ia diajak pergi oleh Aldan, yang tiba-tiba saja mengajaknya belanja. Aslinya ia ingin menolak, namun demi menghibur dirinya ia akhirnya menerima ajakan Aldan. Dan, ternyata pria itu membelanjakannya sebuah gaun malam, yang Karina rasa ini hanya menjadi pajangan di lemari saja. 'Ingat ya Karin, pokoknya gaun malam ini cepat dipakai supaya suamimu terkesima'ucaoan Aldan terngiang setelah ia turun dari mobil. "Apanya yang terkesima? Mas Alfan mungkin lebih terkesima sama mantannya mbak Salsa, " Omelnya pelan pada dirinya sendiri. Karina menghela napas panjang, menatap kondisi rumah yang sedikit gelap, mungkin saja suaminya belum pulang atau? Karuna lalu menggeleng cepat. Tidak mau memikirkan hal yang menyakiti hatinya. Perempuan itu lalu membuka pintu rumah, dengan menenteng satu paper bag lumayan besar belanjaan dari Aldan. "Istriku cintaku sudah pulang rupanya? " Suara rendah Alfan membuat Karina terk
Sedangkan Salsa menatapnya pucat, dengan posisi sudah memakai Bathrobe bentuk kimono, dengan wajah yang merah dan sebagian tubuhnya ada bercak kemerahan yang semakin membuat Alfan menjadi jijik. "Apa-apaan ini Salsa? " Suaranya getir, seperti menelan ribuan Duri durian. Salsa membuang tatapannya, bahkan ia tidak menangis dan lebih seperti maling yang kepergok mencuri barang berharga. "JAWAB LU BAJINGAN!!! " bentak Alfan masih berdiri seperti tadi, menatap pacarnya itu seperti binatang yang terluka. "Kamu nggak perlu tahu Mas, " Jawab Salsa menatapnya tanpa bersalah. "Ha? Apa maksudmu sialan!!! Dada Alfan semakin gemuruh. "Jauh aku sebelum kenal sama kamu, aku udah begini. Inilah aku yang sebenarnya, dan pacaran dengamu adalah kesalahan untukku. Lagipula keluarga mu juga nggak suka kan sama aku? " Balas Salsa tidak tahu malu. Alfan menatap Salsa semakin getir,ternyata selama ini rasa cinta dan upayanya untuk membuat Salsa benar-benar diterima di keluarga nya hanyalah serpihan sa
5 years agoSiang ini Alfan baru saja kembali dari kota Surakarta, karena ada pertemuan dengan klaien, dan sekaligus meninjau lokasi yang akan dipakai untuk proyeknya. Dalam perjalanan pulang dari Surakarta menuju Jakarta, ia sempatkan membeli buket bunga untuk perayaan anniversary dengan Salsa yang sudah berlangsung dia tahun. Alfan aslinya ingin membeli buket bunga mawar, tapi ia berikan pada pembeli lain karena lebih memilih buket lily. Cantik seperti pacarnya. Alfan ingin memberikan kejutan kepada Salsa dengan bunga ini, dan mengajaknya dinner. Namun, sayang sekali pacarnya itu sedang photoshoot dengan brand pakaian untuk olahraga dan jaket di kota Yogyakarta. Seharusnya sekarang pacarnya pulang, akan tetapi Salsa baru mengabari jika masih ada pemotretan lagi. Bagi Alfan tidak Masalah, karena sebagai pacar ia tidak ingin menghalangi mimpi pacarnya untuk masa depan dan tetap mendukung meski ada batasan tertentu. Sejujurnya pacaran dengan Salsa ini Alfan sempat mendapat pertentan
Alfan yang sedang merebahkan kepalanya setelah kepergian asistennya melaporkan hasil kunjungan kemarin yang tidak dapat Alfan hadiri. Alfan menghadap langit-langit atap ruangan. Seketika ia teringat wajah istrinya yang terlihat ingin mengatakan sesuatu tadii pagi. Pria itu merongoh ponselnya untuk mengentik pesan kepada Karina namun belum sempat ia mengirim, suara ketukan terdengar lagi dan kali ini Rafa muncul dengan wajah cemas. 'Kenapa Karina? "Rajasthan mengerutkan dahinya menatao Rafa. " Begini pak, ada-""Hai Mas Alfan. " Suara yang telah lama Alfan hilangkan kini terdengar kembali. Sosok perempuan masa lallu yang pernah membuat hatinya membuncah tiba-tiba saja muncul di belakang Rafa. Tersenyum cerah metapnya. "Pak Alfan saya-""Tinggalkan kami berdua Rafa, saya perlu bicara dengan perempuan bebal ini, " Sarkas Alfan dingin, membuat Rafa menundukan kepala lalu meninggalkan ruangan. "Ngapain kamu di sini? Bukannya sudah mati? " Puggkas Alfan tajam, iris pekatnya mentap Salsa







