Share

Bab 5

Author: Thaiteaa
last update publish date: 2026-05-05 21:48:41

"Salsa? " Suara bariton mendistraksi lamunan seorang perempuan berwajah blasteran Amerika Indonesia, cantik dan penuh keanggunan.

"Kamu ngapain berdiri di depan sini? " Tanya pria itu lalu merangkul perempuannya.

"Aku nunggu kamu kok, udah selesai? " Salsa tersenyum tipis, membalas dengan memeluk pinggang pria itu. Kemudian mereka memasuki mobil, dan sebelumnya Salsa menoleh lagi ke gedung Wijaya Industries, menatapnya penuh kerinduan.

"Apakah Mas Alfan sudah bahagia? setelah dihianati dengan ku? Batinnya dalam hati, dan tiba-tiba saja ia penasaran dengan sosok perempuan yang menjadi istri dari mantan kekasihnya itu.

******

Weekend adalah hari yang di tunggu-tunggu oleh Alfan, karena ia bisa bersantai sejenak dari rutinitas pekerjaan yang melelahkan. Terlebih lagi ia bisa berolahraga seperti pagi ini setelah selesai gym, pria dengan potongan rambut barunya itu berganti pakaian jersey miliknya dulu waktu SMA. Selain gym, Alfan juga suka bermain basket di halaman belakang rumahnya. Olahraga yang menjadi hobinya sejah zaman sekolah menengah pertama.

Kini pria itu mulai dari mengiring bola basketnya, begitu berkonsentrasi. Salah satu teknik yang ia sukai adalah ketika moving dribbling. Hingga saat ia berdiri di bawah ring basket. Iris pekatnya menatap tajam keranjang basket. Detik selanjutnya ia melakukan lay up dan berhasil memasukkan bola ke dalam ring. Senyum tipis terletak di bibir tipisnya.

Keringat mulaii bercucuran mengalir di tubuh kekar dan atletis miliknya karena rajin olahraga. Alfan mengambil handuk kering, lalu menenggak air dari tumbler yang ia bawa ke lapangan. Sejenak ia menghirup udara segar pagi ini, terasa segar dan sejuk, terlebih sejak tadi ia memotong rambutnya, ia merasa segalanya lebih ringan.

Setelah selesai, ia kembali ke dalam untuk mandi karena sudah merasa gerah. Namun, ketika ingin masuk ke kamar, Alfan melihat kamar Karina terbuka. Alisnya terangkat sedikit karena heran saja ia tidak melihat Karina pagi tadi. Biasanya perempuan itu sudah berisik merecokinya,lalu ke dapur untuk memasak.

"Karina heii bangun.. " Panggil Alfan rendah, namun ia tidak mendapat jawaban dari perempuan itu. Dengan langkah tanpa suara memasuki kamar istrinya yang terbuka.

"Karin-" Suaranya tergantung ketika melihat istrinya terlihat duduk di kursi kerja sambil merebahkan tubuhnya diatas meja,dengan posisi memegang stylus pen. Karina terlihat pulas sekali sampai bibirnya terbuka sedikit, membuat pria itu menggeleng heran. Lucu kalau dia tidur. Iris pekay Alfan tertuju pada tab dengan layar setengah retak yang memperlihatkan sebuah ilustrasi sketsa wajah yang sepertinya belum selesai.

Satu fakta yang baruu ia ketahui dari istrinya, yaitu Karina sepertinya seorang ilustrator. "Padahal udah gue kasih kartu, kenapa nggak beli yang baru aja sih,, " Gumam Alfan, merasa heran melihat kondisi tab milik istrinya. Pria itu langsung merongoh ponselnya di kantong celananya, lalu mengetikkan sesuatu ke Rafi asisten nya. Sejenak ia masih melihat Karina masih tertidur pulas, lalu pelan-pelan menutup pintu kamar istrinya.

Sepuluh menit kemudian, Karina mengerjapkan matanya ia terbangun dari tidur pulsanya. Niatnya subuh tadi ia ingin mengerjakan beberapa commis yang tertunda. Namun, entah pukul berapa ia terlelap karena rasa kantuk yang tidak bisaa ia tahan . "Hmmm, kok kayaknya Mas Alfan tadi ke kamar ya? Apa cuma persaan aku saja? "Monolognya, secara ia merasakan ada aroma parfum suaminya. Tapi tidak mungkin juga pria itu datang ke kamar. "Duh, aku lebih baik masak dulu deh. Kayaknya Mas Alfan pergi olahraga ya? " Perempuan berkepang satu itu melirik ke arah jam dinding, ternyata sudah jam 8 pagi. Karina langsung membereskan alat kerjanya dan masuk kekamar mandi untuk mencuci mukanya. Lalu bergegas pergi ke dapur untuk bikin sarapan.

******

"Non, ini dagingnya sudah bibi marinasi, bibi goreng langsung ya, " Bi Ijah membantu Karina memasak di dapur pagi ini ia berencana memasak ayam balado dan capcay.

"Iya nggak papa bi, habis itu tinggal saja. Biar saya yang melanjutkan sisanya, " Balas Karina pelan.

"Nggak papa bibi tinggal dulu Non? " Tanya BiIjah tidak enak.

"Ih, nggak papa bi. Saya sudah biasa kok, " Ujar Karina kini sembari menyiapkan semuanya di atas meja makan.

Sepeninggalan BI Ijah, Karina mulI menumis sambal balado hingga suara bersin membuatnya terkejut.

"Kamu masak apa sih Karina? Menyengat skali ini! " Protes Karina menggosok hidungnya karena sensitif aroma sambal.

"Astaga! Mas Alfan bikin kaget aku aja! " Seru Karina melihat soak Alfan berdiri di belakang Karina menatapnya tajam. Pria itu terlihat segar dengan rambut baru pendeknya yang setengah basah, sudah berpakaian santai kaus hitam lengan pendek ketat membentuk lekuk tubuhnya, terlihat gagah dan sexy, dipadu celana training warna abu muda.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 71

    Pagi harinya, Alfan harus bertemu langsung dengan pria yang menelpon yang kemarin di kantor polisi. Sebenarnya ia malas punya urusan seperti ini lagi, karena ia sudah tidak mau punya masalah. Semuanya cukup ia serahkan kepada detektif nya. Namun, melihat istrinya kemarin bermimpi buruk, rasa murkanya kembali melintasi dirinya. Yang jelas, Alfan hanya ingin melihat mereka berdua membusuk di penjara. "Jadi kami sangat membutuhkan tambahan bukti, supaya tersangka bisa benar-benar di jatuhi hukuman pasal berlapais pak, " Jelas petugas sembari mengetik laporan dengan laptop ua g mengadap petugas itu. Alfaenatap dingin ptia di depannya dengan ditemani si pria yang duduk di sampingnya. "Saya tidak mau tahu pak, Bajingang itu harus menerima hujan yang lebih kejam. Ini beberapa bukti yang bisa anda lihat, " Ungkapan Alfan tegas, dingin, dan terdengar yidak ada ampun dengan menyerahkan flashdisk yang berisi rekaman CCTV yang ada di ruang tami. Petugas itu mengangguk paham. Menerima benda keci

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 70

    "Ternyata aku sadar Mas setelah kehilangan kakek, semua isi bumi ini dan orang-orang di sekitar kita cuma titipan Ams, terkasih nyawa kita sendiri. Dan ketika waktu nya di ambil, saat itu harus nya sadar dan bilang. 'Terima kasih Tuhan karena sudah memberikan kesempatan untuk pernah melihat dan memilikinya. 'Lanjut Karina bernostalgia berapa hancurnya ia kehilang sosok seorang kakek yang amat sayang kepadanya. "Tapi dibalik kejadian semua ini pasti ada gantinya sama hikmahnya buat kita bil... Tuhan punya rencana indah untuk kita Masing-masing Alfan. Buktinya aku nikah sama kamu dan punya keluarga baru menjadi bagian dari keluarga kamu.Papah, mamah dan semuanya menerima akau dengan tulus. Kecuali kku yang dulu mas. Sampai nyakitin hati aku. "Simpul perempuan itu, di berengi terkikik geli ketika mengingat nya. " Yah kayak kku aja deh mas. Kamu ganteng, uang banyak, perkerjaan bagus terus keluarga juga hangat tapi ujianmu di hubungan asmara kan? Makanya setiap aku melihat hidup orang

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 69

    "Kok kamu tahu mas, aku lapar? So sweet banget sih. Suami siapa sih? " Canda Karina tersenyum jahil, lalu mengigit ayam miliknya. Membuat suaminya berdecak. "Bukan si sweet, tapi takut lupa ngasih makan anak orang karena habis di hajar di kamar mandi, " Balad Alfan santai dan tanpa beban. Perempuan itu tersedak tiba-tiba yang membuat Alfan dengan sigap mengambilkan nya minum di nakas. "Makan yang bener sayang!! " Pungkas Alfan tajam . Karina mengelus dadanya, melirik sebal ke arah suaminya. "Kamu sih mas, ngomongnya nggak di filter, asal celetuk aja! ""Emang ada yang salah? " Aku cuma jawab pertanyaan kamu aja tadi, "jawab Alfan tidak mau kalah. Karina lalu terdiam sejenak lalu ia mulai bertanya tentang hal yang sedikit sensitif. "Mas Alfan aku mau tanya boleh? " Boleh mau nanya apa? Hm""Tapi nggak boleh marah, soalnya agak sensitif, " Ujar Karina tidak enak. "Nggak lah, nggak akan marah.Kenapa emang? ""Sebenarnya alasan kamu putusin mbak salsa itu kenapa? " Unkap perempuan

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 68

    "Saya dapat kabar dari bapak, terus di suruh bersihin langsung sama minta ganti ruangan baju bapak, " Jelas Bi Ijah penuh antusias. "Pantes aja semuanya udah beres bi, " Jawab Karina sedikit heran, lalu ia melirik ke arah jam di dapur, dan tidak terasa hari sudah mau sore. "Bi Ijah, bibi kalau mau pulang sekarang boleh kok nggak masalah aku di tinggal sendiri juga. Biar pak maman lagi yang nganterin bibi. Saya mau mandi terus istirahat, " Pungkas Karina halus, rasanya ia ingin mandi air hangat setelah itu tidur deh. Tenaganya harus cepat puluh, supaya bisa melanjutkan lukisan yang sudah 75% jadi. Perempuan paruh baya itu menggeleng pelan. "Tapi tadi bapak bilang, saya boleh pulang kalau bapak sudah sampai rumah buk. Nggak papa buk, saya nunggu bapak pulang aja. Kalau ibu mau mandi gapapa. " Alfan sudah memeberikan pesan, jika mulai dari Karina pulang bi Ijah garis menemani dirinya sampai Alfan pulang. "Astaga, padahal nggak papa lho bi, " Rintis Karina memijat keningnya. "Yasuda

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 67

    "Mau ke mana kamu? " Tanya Alfan melihat istrinya turun dari brankar sambil menenteng ingusan. "Ke kamar mandi Mas, aku pengen buang air kecil, " Jawab Karina lalu terpekik ketika Alfan menggendongnya tanpa aba-aba. "Ya ampun Mas! " Pekik perempuan itu terkejut dengan tindakan suaminya. "Biar kamu nggak repot sayang, " Tukas Alfan santai lalu membawa Karina ke kamar mandi. "Astaga aku masih bisa jalan lho, " Protes Karina yang sudah di dudukan di closet. Alfan tidak membalas, tetapi ia tetap berdiri di depan Karina sambil melipat tangan ke dada. Alis Karina berkerut melihat suaminya. "Mad, aku mau pipis lho. Kamu keluar dulu sih, " Usir Karina pelan. Gila aja di tungguin langsung begini. "Yasudah pipis aja sih, ngapain ribet" Kekeh Alfan membuat wajah Karina merah. Mas Alfan! Yang bener lho! Aku kebelet banget Mas! "Rengek perempuan itu semakin kesal. "Ya udah tinggal pipis Karina sayang, aku udah lihat semua-""Mas Alfan ih.. " Potong Karina semakin cemberut menatap suaminy

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 66

    "Eh, jangan sampai dong. Aku nggak mau mereka kepikiran, kasihan sudah Sepuh dek, " Balas Karina halus. Sementara itu, Alfan sendiri berdiri tidak jauh dari mereka bertiga sambil membawa cangkir yang berisi teh. Akibat pernyataan Karina tadi malam, ia tidak bisa tidur semalaman. Ia terlalu terkejut, dan binggung harus bereaksi apa. "Aku cinta kamu Mas Alfan, " Ungkap Karina pelan, binar lembutnya menatap iris mata Alfan sangat tulus. Mungkin bagi orang lain yang melihat, ia terlalu cepat jatuh cinta, bagi Karina sendiri.. Perasaan nya tiba-tiba sudah mulai timbul dengan sendirinya dan alasan lainnya, Karina tidak mau memendam sendirian lagi. "Karina.. Kamu suka? " Suara Alfan tercekat, ini terlalu mendadak. "Mas Alfan, jangan di bawa beban soal ungkapan perasaan ini. Bukan tanggung jawab kamu untuk membalasnya sekarang kok. Dan aku cuma mau ngeyakinin kalau kalau perasaan ku ini tulus Mas, " Tutur Karina perlahan, dengan jemari kecilnya menyisir rambut hitam pekat suaminya dengan

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 52

    Apa ia keterlaluan dengan Alfan? Di saat tadi malam suasana keintiman mulai menguasai keduanya, tapi kenapa rasanya sensitif sekali. Astaga, apa mungkin hari ini ia akan datang bulan, moodnya jadi tidak jelas. 'Katanya mau berusaha untuk marah hati Alfan? Apakah ia salah jika melunjak sedikit kare

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 40

    "Udahlah nggak usah pikirin, nanti kamu baper lgi. Hari ini tidur pelukan aku ya. Aku capek ke sini, rasanya badan aku remuk. Ini semua karena ada perempuan yang tiba-tiba marah nggak jelas. Jadi aku dari apartemen Aldo langsung ke sini, " Cerocos Alfan sambil menyindir, lalu ia merebahkan tubuhnya

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 36

    Karina pada akhirnya mendadak pulang ke rumah orang tuanya, setelah pagi tadi ia melihat hal yang membuat dirinya lemas dan dadanya nyeri. Meskipun suaminya sudah tidak ada hubungan sudah lama, dan mengatakan begitu membenci Salsa . Namun, tidak munafik jika ia merasa muram setelah melihat video i

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 35

    Sampai di kediaman rumah Wijaya, Alfan sudah disambut oleh kedua orang tuanya dan juga Aldan yang menatapnya cemas dan khawatir. Wijaya duduk di sofa sembari melipat kedua tangannya demi menyangga perut nya, ditemani Sekar yang menatapnya kecewa. "Serius ini? Kalian semua aku lihat kayak penjahat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status