Masuk"Salsa? " Suara bariton mendistraksi lamunan seorang perempuan berwajah blasteran Amerika Indonesia, cantik dan penuh keanggunan.
"Kamu ngapain berdiri di depan sini? " Tanya pria itu lalu merangkul perempuannya. "Aku nunggu kamu kok, udah selesai? " Salsa tersenyum tipis, membalas dengan memeluk pinggang pria itu. Kemudian mereka memasuki mobil, dan sebelumnya Salsa menoleh lagi ke gedung Wijaya Industries, menatapnya penuh kerinduan. "Apakah Mas Alfan sudah bahagia? setelah dihianati dengan ku? Batinnya dalam hati, dan tiba-tiba saja ia penasaran dengan sosok perempuan yang menjadi istri dari mantan kekasihnya itu. ****** Weekend adalah hari yang di tunggu-tunggu oleh Alfan, karena ia bisa bersantai sejenak dari rutinitas pekerjaan yang melelahkan. Terlebih lagi ia bisa berolahraga seperti pagi ini setelah selesai gym, pria dengan potongan rambut barunya itu berganti pakaian jersey miliknya dulu waktu SMA. Selain gym, Alfan juga suka bermain basket di halaman belakang rumahnya. Olahraga yang menjadi hobinya sejah zaman sekolah menengah pertama. Kini pria itu mulai dari mengiring bola basketnya, begitu berkonsentrasi. Salah satu teknik yang ia sukai adalah ketika moving dribbling. Hingga saat ia berdiri di bawah ring basket. Iris pekatnya menatap tajam keranjang basket. Detik selanjutnya ia melakukan lay up dan berhasil memasukkan bola ke dalam ring. Senyum tipis terletak di bibir tipisnya. Keringat mulaii bercucuran mengalir di tubuh kekar dan atletis miliknya karena rajin olahraga. Alfan mengambil handuk kering, lalu menenggak air dari tumbler yang ia bawa ke lapangan. Sejenak ia menghirup udara segar pagi ini, terasa segar dan sejuk, terlebih sejak tadi ia memotong rambutnya, ia merasa segalanya lebih ringan. Setelah selesai, ia kembali ke dalam untuk mandi karena sudah merasa gerah. Namun, ketika ingin masuk ke kamar, Alfan melihat kamar Karina terbuka. Alisnya terangkat sedikit karena heran saja ia tidak melihat Karina pagi tadi. Biasanya perempuan itu sudah berisik merecokinya,lalu ke dapur untuk memasak. "Karina heii bangun.. " Panggil Alfan rendah, namun ia tidak mendapat jawaban dari perempuan itu. Dengan langkah tanpa suara memasuki kamar istrinya yang terbuka. "Karin-" Suaranya tergantung ketika melihat istrinya terlihat duduk di kursi kerja sambil merebahkan tubuhnya diatas meja,dengan posisi memegang stylus pen. Karina terlihat pulas sekali sampai bibirnya terbuka sedikit, membuat pria itu menggeleng heran. Lucu kalau dia tidur. Iris pekay Alfan tertuju pada tab dengan layar setengah retak yang memperlihatkan sebuah ilustrasi sketsa wajah yang sepertinya belum selesai. Satu fakta yang baruu ia ketahui dari istrinya, yaitu Karina sepertinya seorang ilustrator. "Padahal udah gue kasih kartu, kenapa nggak beli yang baru aja sih,, " Gumam Alfan, merasa heran melihat kondisi tab milik istrinya. Pria itu langsung merongoh ponselnya di kantong celananya, lalu mengetikkan sesuatu ke Rafi asisten nya. Sejenak ia masih melihat Karina masih tertidur pulas, lalu pelan-pelan menutup pintu kamar istrinya. Sepuluh menit kemudian, Karina mengerjapkan matanya ia terbangun dari tidur pulsanya. Niatnya subuh tadi ia ingin mengerjakan beberapa commis yang tertunda. Namun, entah pukul berapa ia terlelap karena rasa kantuk yang tidak bisaa ia tahan . "Hmmm, kok kayaknya Mas Alfan tadi ke kamar ya? Apa cuma persaan aku saja? "Monolognya, secara ia merasakan ada aroma parfum suaminya. Tapi tidak mungkin juga pria itu datang ke kamar. "Duh, aku lebih baik masak dulu deh. Kayaknya Mas Alfan pergi olahraga ya? " Perempuan berkepang satu itu melirik ke arah jam dinding, ternyata sudah jam 8 pagi. Karina langsung membereskan alat kerjanya dan masuk kekamar mandi untuk mencuci mukanya. Lalu bergegas pergi ke dapur untuk bikin sarapan. ****** "Non, ini dagingnya sudah bibi marinasi, bibi goreng langsung ya, " Bi Ijah membantu Karina memasak di dapur pagi ini ia berencana memasak ayam balado dan capcay. "Iya nggak papa bi, habis itu tinggal saja. Biar saya yang melanjutkan sisanya, " Balas Karina pelan. "Nggak papa bibi tinggal dulu Non? " Tanya BiIjah tidak enak. "Ih, nggak papa bi. Saya sudah biasa kok, " Ujar Karina kini sembari menyiapkan semuanya di atas meja makan. Sepeninggalan BI Ijah, Karina mulI menumis sambal balado hingga suara bersin membuatnya terkejut. "Kamu masak apa sih Karina? Menyengat skali ini! " Protes Karina menggosok hidungnya karena sensitif aroma sambal. "Astaga! Mas Alfan bikin kaget aku aja! " Seru Karina melihat soak Alfan berdiri di belakang Karina menatapnya tajam. Pria itu terlihat segar dengan rambut baru pendeknya yang setengah basah, sudah berpakaian santai kaus hitam lengan pendek ketat membentuk lekuk tubuhnya, terlihat gagah dan sexy, dipadu celana training warna abu muda."Gimana acaranya tadi Mas? " Tanya Karina. "Lancar sih sayang, ayo masuk kamar kita sayang" Ajak Alfan. "Eh mau ngapain? " Tanya Karina yang reflek menjauh dari Alfan. "Harus Mas jelasin ya sayang? " Tanya Alfan. "Mau magrib Mas, tidak baik. Kalau kata orang tua pamali" Elah Karina. "Bagus aja sih sayang" Ucap Alfan enteng. "Kamu tauvtifak Mas olahraga yang kamu maksud itu baiknya di lakukan sekitar pukul 6-9pagi atau menjelang subuh, karena apa? Karena di jam segitu kadar hormon testosteron dan estrogen melonjak naik sehing-" Ucap Karina belum selesai. "Cukup sayang, Mas mandi dulu deh" Ucap Alfan yang sudah berjalan menjauh meninggal Karina. "Hahahahahahah" Karina tertawa terbahak-bahak melihat sifat Alfan, enak sekali menjahili suaminya itu. Ia bisa pastikan mood suaminya itu turun drastis, apalagi mereka sudah berjauhan selama tiga hari. Baru akan bangkit dari duduknya suara handphone yang bukan milik Karina melainkan milik suaminya, melihat handphone Alfan fi ujung sofa
Karina mengangguk kemudian duduk di sebelah ibu-ibu guru yang usianya jauh diatasnya. Harus kalian ketahui bahwa ini adalah kali pertama karina melihat Alfan menjadi pemateri di Seminar, sebelumnya di acara kantor Alfan hanya berbicara sedikit jadi tidak terlalu kelihatan karena yang paling banyak adalah papah Wijaya. Senyum dari wajah Karina terbit ketika Alfan mulai memperkenalkan diri dan mengucapkan kata sambutan untuk yang lain, ketahuilah pandang Alfan selama berbicara tertuju pada istrinya. Tak hanya Alfan kini pandangan banyaknya orang yang hadir juga tentu pada Karina ketika Alfan memperkenalkan Karina sebagai istrinya. *****35 menit seminar berlalu, Alfan masih belum selesai dengan penjelasan nya karena apa? Karena di selingi dengan tanya jawab dari murid-murid. Karina yang memang sudah janjian dengan temannya untuk padek bersama ia langsung mengkode Alfan. "Kenapa sayang? " Tanya Alfan dari microphone membuat Karina langsung menunduk karena malu. Godaan langsung ter
Kemarin Karina sudah pulang dari acara camping nya dan hari ini Karina mau pergi tapi berbeda tujuan dengan Alfan, Alfan harus menghadiri seminar yang di selenggarakan oleh salah satu perusahaan yang kerjasama dengan perusahaan nya untuk penyuluhan mengenai cara berbisnis dengan benar dan gimana sih cara menghadapi perusahaan yang sedang krisis. Seminar ini sebenarnya tidak formal, hanya saja undangan seminar dari sekolah Alfan waktu SMA yang membuat Alfan harus tutung menghadiri undangan tersebut apalagi ia sebagai alumni Sekolah itu. Hal ini tidak biasa bagi Alfan, karena baru pertama kali Alfan mengisi seminar seperti ini kian tau kenapa Alfan di tunjuk sebagai pemateri nya? Karena Alfan di sekolah SMA memiliki predikat Siswa pintar dan berprestasi bahkan ia sering mengikuti lomba sains mau antar sekolah ataupun lomba kota dan provins.Awalnya Alfan menolak keras Karina untuk berpisah dengan nya, namun sebuah bisikan diberikan oleh Karina kepada Alfan sehingga membuat Alfan denga
Sesuai dengan perintah tuan putri nya Alfan kini sudah menggunakan outfit pilihan Karina, sebelum menikah juga sebenarnya Alfan sudah bisa mengatur pakaiannya sendiri tapi setelah menikah istrinya lah yang mengaturkan segala penampilannya ketika ingin pergi ke suatu tempat. Alfan merapikan rambutnya, ia tersenyum melihat penampilan nya sendiri. "Luar biasa emang kamu sayang, bisa bikin mas tambah ganteng gini" Ucap Alfan sambil terkekeh sendiri. Setelah memakai sepatunya ia kini berfoto sedikit untuk memberi kabar pada istri cantik ini. Setelah mengirim foto kepada istrinya, Alfan langsung memasukan handphone nya ke handbag berwarna hitam miliknya itu, setelah iatu ia berjalan keluar dari rumah. Alfan kini menggunakan mobil milik Karina karena mobilnya masuk ke bengkel untuk di service bulanan, mobil dikendarai oleh Alfan dengan kecepatan sedang menuju salah satu caffe tempat diadakannya makan-makan itu. Kedatangan Alfan di sambut dengan baik Oleh Rafa, tentu saja Rafa sebagai k
Drrtt.... Drrtt... "DrrttLihat nama sang suami di handphonenya wajah karina yang tadinya kesel kini angsung sumringah kesenangan. " Hallo mas"ucapnya setelah menggeser tombol hijau. "Hallo sayang, sudah mau berangkat kah? " Tanya Alfan dari sebrang. "Belum dong mas, ini masih di yayasan masih ada berkas-berkas yang perlu diselesaikan""Oh begitu, sayang nanti Mas mau izin buat pergi ke acara ulang tahun Rafa ua, boleh? " Izin Alfan. "Rafa ulang tahu" Tanya Karina. "Iya sayang, dia kan gen z biasalah jadi ulang tahunnya di rayakan. Diadakan di sebuah cafe mengundang banyak rekan kerjanya, termasuk Mas boss nya" Ucap Alfan. Karina mengangguk, biasanya suaminya akan pergi bersamanya bahkan acara bersama rekan kerja aja Karina di libatkan oleh pria itu. "Oh yasudah Mas, bajunya ambil di lemari Karina ya soalnya baju buat acara kamu Karina simpan di situ semua" Ucap Karina. "Iya sayang siap, Hati-hati ya" Jawab Alfan. "Jangan pakai kaos hitam kamu mas, jelek banget kayak yang eng
Seminggu berlalu sejak Karina masuk rumah sakit, seminggu juga mereka baikan dari masalah yang menurut Karina merupakan masalah terbesar ke dua setelah penculikan dirinya. Karina di bantu dengan Alfan berjalan keluar rumah dengan 1 koper sedang miliknya, untuk 3 hari kedepan Karina dan Alfan akan LDR sebab Karina dikirimkan komunitas para guru-guru bimbel untuk menjadi panitia acara camping. Tidak lama hanya selama tiga hari namun tentu sebelumnya memutuskan itu ia harus berdebat dan membujuk suaminya itu dengan berbagai jenis perjanjian yang harus ia dan suaminya penuhi. Mulai dari memberi kabar minimal sehari sekali, tidak keluar dari area camp, bahkan Alfan melarang beras Karina untuk dekat dengan rekan gurunya yang pria yang nantinya akan membuat Alfan overthinking tingkat akut. "Yasudah Karina berangkat ya,mas baik-baik pokoknya beberapa makanan Frozen sudah Karina sediakan di kulkas."Ucap Karina. "Jangan sampai Karina tau kamu makan di luar ya, kamu sudah bisa masak jadi us
Seminggu telah berlalu setelah pesta pernikahan dan bulan madu dadakan. Karina akhirnya dibawa Alfan untuk tinggal di mansion miliknya di jakarta Selatan. Setelah beberapa hari Akrina harus mengurus pengunduran diri di tempat ia bekerja. Namun, dari pihak bimbel ia memeberikan pekerjaan mengajar lew
Pantai yang di maksud adalah pantai Parangtritis. Salah satu pantai yang terhits di kota Yogyakarta. Terutama di sore seperti ini, pemandangannya sangat cantik. Langit berwarna jingga kemerahan terlihat mendominasi, cahaya matahari memantul indah ke permukaan air laut. "Cantik banget, " Puji Karina
"Wijaya Industries sekarang sudah ada di tangan kamu Alfan. Tapi walau begitu, papah nggak akan lepas tangan dan pasrahin semuanya ke kamu. Perusahaan Wijaya Industries ini perusahaan keluarga, besar sekali tanggung jawabnya bagi orang yang sudah menduduki kursi kepemimpinan. Dan biarpun umur kamu s
"Yah kalau, Kamu punya cowok di luar. Kamu bayar laki-lak itu pakai uang dari kartu ini. apapun sesuatu yang kamu inginkan, " Seloroh santai. Rahang Karina hampir jatuhh dibuat, karena mendengar tuduhan suaminya yang tidak masuk akal. "Mana ada Mas! Jangan bicara sembarangan ya Mas, " Jawabannya pen







