Compartilhar

Bab 14

Autor: Thaiteaa
last update Data de publicação: 2026-05-10 22:46:02

Beberapa hari setelah sakitnya sembuh, karina pagi ini mampir ke rumah mertuanya, karena mumpung weekend. Selain ingin bertemu dengan sang mertua, ia juga di panggil ke sini oleh sekar. Perempuan itu tadi pagi pergi tanpa pamit langsung ke suami, karena Alfan sibuk di ruangannya. Dan ternyata sang mertualah yang mengirim pesan kemudian.

"Ya ampun Karin! Mamah nggak nyangka lho Alfan bakalan peduli! " Heboh Sekar yang terlampau senang dengan kemajuan putra tunggalnya.

"Aku juga nggak nyangka mamah, Mas Alfan mau juga ngurusin aku pas lagi sakit, " Ungkap karina pelan.

Sekar mengenai tangannya. "Udah jangan dipikirin Karin, itu kewajiba suami kamu! Jangan nggak enakan, kamu seharusnya bisa nguras harta suami kamu sehabisnya. " Mamah dukung kamu kok! "Celoteh ibu mertuanya sangat mengebu-gebu.

Karina hanya meringis, menampakkan gigi putihnya sambil garuk kepala. " Makasih ya buat mamah dan papah sudah baik sama aku, "ungkap karina tulus. Membuat Sekar mengambil satu tangan menantunya lalu menggenggam lembut.

" Jangan seperti itu, sudah seharusnya kan? Kita ini keluarga karin, "Sekar berkata hangat, membuat Karina seperti merasakan kasih sayang lagi selain dari ibu kandungnya.

" Kamu pasti tertekan sekali ya menikah sama Alfan? Maaf yah, tapi Mamah sama Paph memang yakin kalau perempuan yang tepat untuk Alfan itu kemu, seperti yang di bilang Kakek kamu sama Kake Alfan. "Sambung Sekar kemudian, menatap menantunya penuh harap.

Bibir karina tertarik ke atas, hingga menunjukkan senyum tak sampai maya. " Nggak juga mah, tapi sepertinya Mas Alfan becnci aku deh, "ujar Karina mencoba untuk meluapkan sedikit hal yang mengganjal di hatinya selama ini.

Sekar menghela nafas, kemudian mengelus kepala karina. " Alfan nggak benci sama kami kok Rin, itu cuma bentuk protes dia sama kami berdua. Mamah nggak mau dia sendirian terus, memendam kebencian sama masa lalunya yang menyakitkan. Mamah mau dia membuka hatinya, dan tidak terpaku pada dendam yang akhirnya membuat sikapnya semakin jauh dan sulit didekati, "terang Sekar, merasakan betapa hancurnya Alfan tiga tahun yang kalau ketika menghadapi sebuah penghianatan.

Karina tahu betapa dulu sang putra begitu mencintai mantan ke kasihnya itu, bahkan sikapnya tocak sedingin sekarang meskipun anak itu cenderung cuek dan ketus. Namun, feeling seorang ibu bisa melihat binar kebahagiaan di mata Alfan, sebelum semua itu menjadi sebuah kehampaan yang kosong.

Meskipun kenyataan ia dan suaminya merasa senang dan kega, dengan terjadinya kejadian ini. Karena mereka tidak terlalu suka dengan mantan kekasih anaknya itu.

Karina menunduk menatap karpet beludru di bawah, sebelum akhirnya ia menatap kembali sang mertua. "Mami, sata6tidak bisa menjanjikan untuk membuat mas Alfan cinta sama aku. Tapi seperti yang aku katakan sebelum nya sama Eyang, bahwa saya akan memberikan sebuah kesetiaan dan kasih sayang yang mungkin bisa membuat Mas Alfan sedikit luluh sama aku atau sadar dan melihat ke arah aku suatu hari nanti, " Sahut Karina dengan tenang dan terdegar tidak ada keraguan lagi.

Lagi pula karina sudah merasakan sedikit perubahan sikap Alfan padanya, meskipun pria itu tidak pernah bisa menjaga mulutnya. 𝘛𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩,𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘶𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘫𝘶𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘺𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘢𝘱𝘳𝘦𝘴𝘪𝘢𝘴𝘪.

Sekar tersenyum lebar mendengar kalimat kesungguhan dari menantunya itu, dan ia semakin yakin jiga Alfan akan membuka hatinya untuk perempuan baik ini.

"Sayang mamah, mau ngucapin banyak Terima kasih sama kamu, karena kamu tidak mau menyerah selama ini.. " Ada jeda sejenak dan Sekar kembali berkata "kalau Alfan menyakiti mu, jangan khawatir, karena mamah sama papah bakal jadi garda terdepan untuk kamu sayang. Ingat ya, kamu nggak sendiri di sini. "

Krina merasakan pupil matanya berkaca-kaca, sekaligus bahagia dengan pernyataan sang mertua.

"Terima kasih mamah, aku nggak bisa bales dengan apapun, "

Karina berkata terlampau pelan.

Sekar semakin erat menggenggam tangan karina. "Ihh, apaan sih Rin! Kamu menjadi bagian dari keluarga ini saja sudah cukup. "

"Sudah, jangan nggak enak lagi. Mending kita ke salon yuk. Nanti suruh Alfan jemput, " Ajak Sekar kemudian.

"Iya Mah, Mas Alfan tadi nge-chat katanya mau nge jemput, " Balas Karina sambil meringis, wajahnya terlihat merah.

Sekar menepuk kedua tangannya. "Apa??? Beneran sayang? Ada kemajuan nih Rin! Biasanya dia kali di suruh ekspresinya kayak kenebo kering? Meringis terus sama banyak alasan! " Hebohnya selalu kesal jika meminta tolong sang anak tunggal yang sayangnya ia selalu cintai.

Karina hanya menggaruk pipinya yang tidak gatak, bingung mau menanggapi mertuanya.

"Yasudah, nanti ke salonnya sama Pak Apip aja. Yuk, sebelum nya ngemall dulu, terus makan siang yah, " Ajak Sekar penuh semangat.

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 24

    "Makanya, kalau mau minum atau makan sesuatu tanyakan dulu, sebelumnya. Jadinya kamu sendiri yang rugi. Dan sekarang saya juga kena imbasnya, " Imbuh Alfan pelan, namun terdengar sarkas. Karina mengerutkan dahinya dan menggigit ujung bibirnya. "Mas Alfan, aku mau tanya. Siapa yang ganti baju saya ya? " Tanyanya dengan hati-hati. Lalu seketika ia menyesal karena pertanyaannya. Alfan kembali menyesap kopinya. "Oh, tidak tahu sih mungkin ibu peri kali ya? " Jawabnya asal, membuat Karina semakin kesal akan tetapi ia mencoba sabar. "Ya kamu pikir aja, di rumah ini kan cuma ada kita Karina kalau malam. Hal seperti itu kenapa harus dipertanyakan sih. " Seloroh Alfan tidak sabar, tidak habis pikir dengan pertanyaan konyol Karina. Jawaban Alfan semakin membuat Karina kalang kabut, tanpa sadar menutup dadanya, membuat Alfan menyeringai. "Kenapa? Malu daya lihat tubuh kamu? Wajar kan? Karena saya suami kamu, " Ujar Alfan seakan tahu apa yang dipikirkan Karina. "Bukan begitu Mas Alfan

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 23

    Rasa cenat-cenut mulai Karina rasakan di kepala, seperti ada yang menghantam kepalanya dengan batu. "Sshhh.... " Ringisnya lalu pelan ia membuka mata dan merasakan aroma yang berbeda dari ruangan kamarnya. Aroma jasmine tercampur tembakau yang seketika membuatnya rilex. Namun, detik selanjutnya ia tersadar jika ini bukan di kamarnya. Perempuan itu langsung terduduk, terkejut karena bangun fi kamar Alfan sendirian."astaga!kok aku bisa tidur fi kamar Mas Alfan?"paniknya seketika.Karina mendadak buntu seketika, karena pagi ini ia terasa kacau. Perempuan itu sejenak merenung dan mengingat apa yang terjadi tadi malam, sembari memegang kepalanya. "Habis muntah aku nggak ingat ngapain lagi? " Gumamnya pelan, mengigit jempolnya karena takut berbuat yang tidak-tidak. Karina lalu meraba tubuhnya, yang ternyata ia memakai kaus longgar milik suaminya. "Ya ampun, untung aja aku pakai dalaman celana ketat tadi malam, tapi pasti Mas Alfan lihat.. " Ucapannya langsung lalu ia buru-buru menggelengkan

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 22

    "Wah, ini istrinya Pak Alfan? " Suara feminim tiba-tiba mendistraksi Karina. Perempuan dengan gaun pendek model Sabrina menampakkan belahan dadanya yang bedar.anis dan eksotik dua kata yang pas untuk menggambarkan perempuan ini. Karina mengerutkan dahi, dan baru sadar jika perempuan ini adalah sekertaris Alfan di kantor. "Salam kenal Mbak Ica, " Sapa Karina lembut. Ica bersedih menatap rendah Karina, 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘤𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘹𝘺 𝘥𝘪𝘳𝘪𝘯𝘺𝘢. "Aku nggak tahu kalau Pak Alfan seleranya downgrade banget. Wajah kamu pasaran. " Hina Ica dingin, lalu menyeringai puas. Karina sendiri tidak tahu masalah perempuan ini, kenal saja tidak dan tiba tiba dia datang untuk menghinanya. "Astaga Mank Ica.. Saya nggak nyangka lo Mbak Ica bersikap seperti ini. Saya kira selain cantik dan berbakat dalam bekerja, Mbak ini ramah. Tapi ternyata kurang sopan, masa ke istri bos bersikap begini?, tutur Karina halus, namun mengandung unsur sarkas. Rahang Ica mrngetat mendengar kalimat Karina, b

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 21

    Pagi ini Alfan disibukkan dengan berbagai pekerjaan yang telah ia tunda kemarin. Seperti menangani masalah serius yang menimpa proyek nya yang ada di bali. Alfan merasa pening dengan masalah proyek ini dia akan serahkan ini kepada asistennya untuk mengontrol langsung ke Bali. Karena Alfan tidak bisa. Ia ada pertemuan kolega nanti malam. "Rafa saya mau kamu, pergi langsung ke Bali. Saya ada pertemuan kolega malam nanti. ""Ia siap pak" Jawab Rafa"Kamu kalau ada apa-apa di sana langsung kabarin saya, bagaimana pun ke adaanya. " Iya paham pak, kalau gitu saya permisi. "Ungkap Rafa. ***Sorenya, Karina berada di kamarnya untuk di buat cantik oleh dua orang yang tiba-tiba datang ke mansionnya. Dan ternyata adalah fashion stylish dan MUA yang disewa suaminya untuk acara pertemuan kolega satu jam lagi akan berangkat. "MasyaAllah, cantik dan elegan sekali bu, " Komentar MUA setelah selesai memoleskan lipstik nude di campur warna orange di bibir mungil milik Karina. Surai legam nan panja

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 20

    Alfan menyusul duduk di sebelah Karina, di pakuannya ada Salma dan satu tangannya membantu bayi itu untuk memegang dit susus agar tidak jatuh ke bawah. Merasa jika posisinya sangat nyaman, Salma menyusu sembari menyandarkan tubuhnya pada Alfan, menyender langsung pada perut keras Alfan. "Salma di jemput jam berapa? " Tanya Alfan sedikit menoleh pada karina yang duduk di sebelahnya. "Tadi sih Tante Citra ngasih tau kalau Tante Citra masih lumayan sibuk di sana. Jadi aku bikang dari pada di jemputnya nanti-nanti yang malah ujung-ujungnya kemaleman, jadi aku saranin Salma nginep di sisi saja, gapapa kan Mas? " Ucap Karina. Tadi ia sudah mengirim pesan pada Citra, menanyakan jam berapa Salma akan di jemput, danCitra memberi tahu jika kesibukannya masih belum selesai, jadi Karina tawarkan saja Salma untuk menginap di sini, hitung-gitung menemaninya tidur malam ini. "Tidak papap kalau Salmanya tidak rewel, karena rumah ini kan baru Salma datangi, jadi dia masih asing dengan suasana di s

  • Istri Wasiat Sang Pewaris   Bab 19

    "Ambil, lempar pakannya ke ikannya. " Ucap Alfan pada Salma. Batu perempuan itu menatap Alfan ragu, takut untuk mengambil pakan ikan yang berukuran kecil-kecil itu dari telapak tangannya. Alfan menganggukkan kepalanya. "Tidak papa. Ambil saja. " Alfan bergerak sedikit maju ke arah kolam ikan dan berjongkok untuk memudahkan Salma melempar pakan ikan. Menurut, telapak tangannya Salma yang k3cil mengambil pakan ikan dengan sembarang, sehingga sebagian ada yang tumpah ke bawah mengenai rumput. Namun setelahnya, Salma dengan semangat melempar pakan ikan yang ia genggam ke arah ikan-ikan yang sudah bergerombol di tepi kolam, yang seolah sudah tau jika akan di beri makan. Dan benar saja, ikan-ikan besar yang semula ada yang terpencar menjadi mengerubung semua di tepi kolam, menimbulkan cipratan kecil yang mengenai Wajah Salma, membuat bayi perempuan itu tersentak kaget namun juga tertawa di saat yang bersamaan. Alfan mengambil paka ikan lagi, dan Salma dengan semangat yang sama mulai ber

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status