LOGIN"Yah kalau, Kamu punya cowok di luar. Kamu bayar laki-lak itu pakai uang dari kartu ini. apapun sesuatu yang kamu inginkan, " Seloroh santai. Rahang Karina hampir jatuhh dibuat, karena mendengar tuduhan suaminya yang tidak masuk akal. "Mana ada Mas! Jangan bicara sembarangan ya Mas, " Jawabannya penuh kesabaran, meskipun dongkol.
Alfan hanya mengerikan bahunya acuh. "Siapa tahu kan. Saya harus ke kantor sekarang, kamu hati-hati di rumah. Kalo ada apa-apa telpon saya, " Ucap Alfan karena pekerjaannya sudah menumpuk. "Eh, tunggu dulu Mas ada yang ketinggalan, " Tahan Karina menahan kesalnya, namun ia sudah terlanjur membuat bekal untuk Alfan. "Apa lagi sih, saya-" "Tunggu dulu pokoknya Mas! " Sela Karina cepat, lalu ia turun ke bawah menuju dapur. Sedangkan Alfan berdecak kesal, namun tetap menunggu sang istri yang entah mau melakukan apa. Tidak sampai lima menit, Karina datang kembali dengan tas bekal di tangannya. "Ini aku bikin bekal untuk Mas Alfan di kantor. Dijamin enak kok, " Ia menyerahkan tas kecil itu kepada Alfan. "Saya tidak biasa bawa bekal begini Karina, " Tolak Alfan ia kembalikan lagi pada Karina, dan perempuan itu menggeleng cepat menolak lagi. "Gak bisa Mas, Mas harus bawa. Sekarang harus di biasain buat bawa bekal, kan Mas udah punya istri. " Kata Karina agak memaksa. "Ribet sekali kamu ini, " Cerutu Alfan nyaris tidak terdengar, terpaksa Pria itu membawa bekal tersebut. "Mas Alfan, Mas Alfan, tunggu dulu ada yang ketinggalan lagi satu lagi hehe, " Pangil Karina lagi membuat Alfan berbalik badan, menatap tajam istrinya. "Kamu mau menguji kesabaran saya lagi Karina, " Geramnya rendaj, kesal menanggapi tingkah istrinya ini. Karina tidak menjawab, melainkan langsung meraih tangan kanan Alfan lalu mencium punggung tangan pria itu lembut. "Hati-hati Mas Alfan, " Tutur Karina halus, tatapan mereka terkunci sedetik lalu Alfan terbatuk pelan, tangannya mengepal lalu menempel di bibir. "Yaudah, udah kan saya mau berangkat dulu, ingat pesan saya tadi, " Pamitnya singkat lalu meninggalkan Karina yang masih berdiri di depan kamarnya. Sepeninggalan Alfan, perempuan itu kembali menatap kartu ATM yang baru saja diberikan suaminya. "Inikan minimal saldonya 5millyar, berarti Mas alfan Kayak juga ya?. ***** Sementara itu di kantor, Alfan sudah di hantam beberapa pekerjaan yang sempat ia tinggalkan. Salah satunya mengenai proyek yang ada di bali. " Kamu bagaimana si? Saya amanahi pekerjaan beberapa hari, sampe bisa kecolongan gini? "Tanya Alfan pada asisten nya. " Maaf Pak, saya lalai. Karena saya kurang teliti. Sekali lagi maaf Pak. "Iya, lain kali kamu harus lebih teliti lagi, lihat-lihat lagi jangan sampai terjadi lagi kejadian begini. Paham? "Siap paham Pak!. " "Pak satu lagi. Bapak bulan depan ada kunjungan ke Bali, kunjungan proses proyek yang ada di sana. " Lanjut sang asisten. Pria itu hanya mengangguk paham. "Oke, kamu bisa kembali. " "Baik Pak, saya permisi, " Pamit Rafa lalu bertepatan dengan kedatangan Aldan yang menatap Alfan penuh suka cita. "Mas Alfan, aku kangen kamu, " Goda Aldan dengan penampilan seperti biasa, sweater polo berkerah dipadukan dengan celana khaki. Tampan dan manis. "Kamu ini memang nggak ada kerjaan apa gimana? Pagi-pagi udah bikin rusuh aja, " Omel Alfan tidak habis pikir dengan sepupunya ini, perasaan job yang diterimanya cukup banyak. "Yakan, aku mau lihat kamu Mas, lho, Mas kamu potong rambut? Biar tambah ganteng yah. Biar istri tambah Kesemsem, " Cerocos Aldan yang langsung duduk di sofa tanpa permisi. " Alfan menatap Aldan bengis, lalu menghela nafas panjang, "kamu kalo ke sini ngomong nggak jelas, mending keluar deh. Aku sibuk! " Desis Alfan galak. "Wahhh, kamu sekarang dibawain bekal Mas? Ih, boleh aku cicip? Aku lapar Mas, " Aldan menatap bina artha tas bekal Alfan, sembari mengelus perutnya. "Makan saja, "Balasnya singkat, lalu ia berdiri membelakangi Aldan sambil menatap jalanan Jakarta melalui jendela besar di ruangannya. "Enakkk kali Mas. Ada ayam balado sama Sop iga. Mari makan Mas, " Aldan menyiapkan sendok pertama dan langsung takjub dengan rasanya. "Gila! Masakan Karina enak lho Mas! Ayo sini coba"seruu Alfan menyiapkan sekali lagi. Sedangkan Alfan hanya melengos mendengar perkataan Aldan. " Ngga usah rusuh, makan makan aja. " "Aku heran sama kamu, Karina itu kurangnya apa sih? Sampai kamu kelihatan benci banget! " Sungut Aldan tidak tahan dengan sikap Alfan yang terlalu cuek. "Bukan Hak kamu menanyakan hal itu, " Balas yang melingkar Alfan dingin, lalu ia menatap cincin pernikahan yang melingkar indah di jarinya. Entahla, ia masih enggan menerima Karina sebagai istrinya. Lalu pandangannya kembali ke luar jendela. Dan, tanpa Alfan tahu dari bawah gedung ada yang menatap gedungnya penuh dengan kerinduan.Alfan tersenyum lebar, ia berjalan menyusul Karina untuk mengganti bajunya dengan baju yang lebih santai. Sembari berjalan tangannya terus mengotak-atik handphonenya. "Emang kita makan gudegnya dimana mas? " Tanya Karina. "Kamu maunya dimana? Mas turutin" Jawab Alfan enteng. "Kalau di Yogyakarta? Boleh kan? " Tanya Karina ragu. "Boleh lah, ayo kita pergi ke yogya. " Ucap Alfan. "Serius ini Mas? " Tanya Alfan tidak nyangka. "Iya dong, apasih yang nggak buat bunda Karina cantik ini" Gombal Alfan. "I love you Mas Alfan yang kaya tujuh turunan" Ucap Karina"Love you more Bunda Karina cantik tiada taraaa" Tembal Alfan. Mendengar ucapan Alfan Karina langsung bersiap, ia tidak memikirkan menggunakan transportasi apa mereka ke yogya yang terpenting saat ini ia berdandan dengan cantik untuk memenuhi keinginan anaknya ini. 1 jam lebih Karina sudah kelihatan lebih segar dari sebelumnya, celana kulit Highwais coklat mahogany di padu dengan blouse berwarna hijau Alpukat . Gucci bag berw
Alfan sudah bersiap dengan pakaian kerjanya, dan ia makai berjalan menuju ke bawah untuk berpamitan ke snah istri. "Eh lagi makan" Ucap Alfan yang berjalan sembari memasang jam tangannya. "Gimana enak gak masakan Mas? " Tanya Alfan. Karina berbalik kemudian ia peluk bahkan ia cium seluruh wajah sang suami. "Terima kasih suamiku, Terima kasih ayah. Sudah membuatkan makanan ini untuk kami, ini enak sekali" Ucap karina. Alfan bernafas lega kemudian ia cium juga Karina sama seperti yang Karina lakukan. "Mas sudah mau berangkat ya? Tapi Karina belum siapin bekal" Ucap Karina merasa bersalah."Belum,masih ada waktu 20 menitan lagi""Kalau begitu Karina buatin menu simpel enak aja ya buat Mas, Mas tungguin" Jawab Karina."Okai bunda Ayah tungguin" Alfan duduk di kursi sembari menunggu Karina yang sudah lebih bersemangat. Tangan Karina bergelut cepat dengan seluruh alah dan bahan dapur yang ia butuhkan, untuk waktu yang hanya sedikit ini Karina mulai menggoreng ayam goreng bawang putih
10 menit Karina merasakan tak ada lagi pergerakan dari Alfan, bahkan tangannya yang sedari tadi mengelus perutnya kini sudah terdiam. Ia buka perlahan bantalnya, senyum tipis mengembang di wajahnya melihat suaminya sudah tertidur dengan posisi terduduk. "Maafin Karina ya Mas, maafin kalau Karina nyusahin Mas malam-makam seperti ini" Karina sisir rambut sang suami dengan tangannya kemudian setelah itu ia elus kepala sang suami untuk memeberikan ketenangan. Sesuai ucapan Alfan tadi pukul setengah 4 pagi pintu di ketuk oleh seseorang, Karina terpaksa harus membangunkan Alfan karena tidak mungkin jika ia yang mengambil pesanan itu. "Mas, itu ada Mas go food nya" Ucap Karina, sambil mendoronkan badan Alfan pelan. Lantas Alfan tersentak kaget awalnya namun karena ia berhasil mengatasi keterkejutan nya ia langsung berdiri untuk mengambil pesanannya. "Mas kasih ini untuk kurir nya ya" Karina memberikan uang pecahan lima puluh 1 lembar pada Alfan untuk diberikan pada pengantar makanan itu
Rumah sudah seperti biasanya hanya ada Alfan dan karina di dalamnya. Alfan kembali istirahat dikarenakan ia besok akan melakukan perjalanan meeting ke Bandung pukul 9 pagi, jadi mengharuskan ia tiba tepat waktu di bandung. Awalnya Karina sudah menutup matanya setelah perutnya di elus oleh Alfan maka dari itu Alfan ikut menyusul Karina masuk ke dalam mimpinya. Karima terbangun di tengah malam, Karina melirik jam yang menunjukkan pukul 3 malam, Karina mengurungkan niatnya untuk membangunkan Alfan, ia tiba-tiba lapar ingin makan lumpia basah yang ada di depan pasar baru. Karina membayangkan saat ini makan lotek sangat enak. Karina kembali merebahkan tubuhnya di kasur, matanya tidak bisa terpejam sehingga ia hanya bolak-balik mengganti posisi tidurnya. "Mas.. Mas.. " Sudah tidak sabar Karina. Akhirnya membangun kan Alfan daripada nantinya ia yang tidak bisa tidur. Panggilan pertama dari Karina, Alfan tidak mendengar bahkan ia masih nyenyak dengan tidurnya, ia goyangkan la
Tidak, itu hanya becanda Karina pada Alfan saja agar pembicaraan mereka tidak terlalu garing dan sepi. "Boleh sebentar, cantik"Alfan mengambil dompetnya yang ada di saku jas nya kemudian mengeluarkan semua uang cash yang ada di dalam dompet itu. "Cuma ada segini uang cash nya, nanti transfer aja ya sisanya" Ucap Alfan. Karina tertawa meliat hanya ada 3 lembar uang pecahan ratusan. "Gak mau ah, sedikit banget itu Mas""Kan Mas transfer cantik" Ucap Alfan gemas. "Hadiah tambahan buat Mas mana? " Tanya Alfan menyodorkan tangannya setelah ia ketakkan dompetnya di meja dekat kasur. "Oh iya Mas Aku lupa, bentar ya aku ambil dulu" Ucap Karina. "Eh besok aja deh, kamu sekarang istirahat aja. Mas tadi cuma becanda doang kok " Ucap Alfan merasa tidak enak mengganggu istirahat sang istri. "Engga Mas sekarang aja, Karina emang udah nyiapin harian khusus buat Mas" Ucap karina Antusias. Karina bangkit dari duduknya, lalu ia berjalan menuju lemari untuk mengambil hadiah yang sudah ia siapk
"Terima kasih untuk semua teman-teman dan rekan bahkan keluarga yang sudah bersedia hadir untuk memenuhi undangan bumil yang paling saya cintai" Ungkapan Alfan dengan tulus. "" Last but not least untuk istri saya, dunia saya Terima kasih sudah memberikan hadiah yang cukup besar di hari yang spesial ini, Terima kasih sudah merayakan hari ini""Untuk bayi yang masih di dalam perut Bunda, Terima kasih sudah menemani Bunda mempersiapkan ini semua untuk Ayah" Alfan menunduk kemudian mencium perut Rata Karina. Karina tangkup wajah Alfan dengan lembut"Sama-sama Ayah, bahagia terus yah" Ucap Karina dengan tulus di sertai tangisan bahagia. Selsai dengan Karina Kini Alfan mendekati sang Ibu yang sedari tadi menatapnya haru, anaknya sudah cukup besar bahkan sudah dewasa saat ini. Ia akan menjadi Ayah. Ia peluk Alfan"Selamat Ya Fan, Mamah bahagia banget liat kamu nak. Jaga istri kamu, sayangi dia" Pesan mamah Sekar untuk Alfan. "Jaga juga calon anak kamu, besarin dia dengan tulus. Senang s
Pagi ini Alfan langsung saja datang ke apartemen nya Aldo hanya dengan jaket dan celana jins saja karena tadi pergi terlalu buru-buru. Amarahnya sudah tidak tertahan lagi karena kali ini Salsa memancing singa yang diam untuk mencari masalah dengan nya. "Dan! Lo nggak papa? " Sosok Alfan menyambut
Kali ini rasanya Karina ingin kabur saja kalau sudah begini, malam ini Alfan mengatakan hal yang membuat tubuhnya meremang satu badan. Karina tidak bodoh, dan justru ia tahu maksud sang suami. Terkadang ia ingin menjitak kepalanya keras-keras supaya tidak kelepasan emosi, dan tetap tenang menahan
Beberapa hari setelah sakitnya sembuh, karina pagi ini mampir ke rumah mertuanya, karena mumpung weekend. Selain ingin bertemu dengan sang mertua, ia juga di panggil ke sini oleh sekar. Perempuan itu tadi pagi pergi tanpa pamit langsung ke suami, karena Alfan sibuk di ruangannya. Dan ternyata sang m
"Salsa? " Suara bariton mendistraksi lamunan seorang perempuan berwajah blasteran Amerika Indonesia, cantik dan penuh keanggunan. "Kamu ngapain berdiri di depan sini? " Tanya pria itu lalu merangkul perempuannya. "Aku nunggu kamu kok, udah selesai? " Salsa tersenyum tipis, membalas dengan meme







