LOGINEmpat tahun berlalu begitu cepat. Rumah Bu Nurma hari itu penuh tawa, canda, dan suara anak-anak kecil yang berlarian di antara para tamu yang sibuk mempersiapkan pernikahan Alfa dan Zahra.Alya tersenyum dari jauh, menggandeng dua buah hatinya yang kini berusia 3,5 tahun—Aidan dan Alana. Si kembar itu tumbuh menjadi anak-anak yang tidak hanya manis dan tampan, tapi juga pintar, kritis, dan selalu membuat semua orang di rumah tertawa dengan pertanyaan-pertanyaan polos mereka.Raja, suaminya, menghampiri, membantu membetulkan pita di rambut Alana, lalu mengusap kepala Aidan dengan penuh sayang. Hubungan mereka makin kuat dari hari ke hari, terikat oleh cinta yang tulus dan perjuangan panjang yang kini berbuah manis.Alina, adik Alya, datang sambil menggendong bayi laki-lakinya. Rey setia di sampingnya, tak pernah jauh. Mereka tampak sempurna, pasangan yang tumbuh bersama dari cinta sederhana di kampus hingga kini menjadi orang tua muda yang bahagia.Tak jauh dari sana, Yogi dan Sabrina
Minggu-minggu menjelang pernikahan Laras dan Erwin, aktivitas di rumah Azam mulai terlihat sibuk. Suara kain digunting, paku dipasang, dan pembicaraan tentang daftar undangan terdengar dari pagi sampai malam.Laras tampak cerah setiap kali membicarakan rencana pernikahannya, dan Azam selalu terlihat tersenyum bangga melihat adik yang sebentar lagi akan menempuh hidup baru.Namun di tengah semua kesibukan itu, satu panggilan dari rumah perawatan Aurora Haven mengubah semuanya.Azam yang saat itu sedang membantu menata undangan, menerima panggilan dari nomor tak dikenal. Di ujung telepon, suara lembut tapi tegas menyapanya. Dan Azam langusng mengenali kalau si pemilik suara adalah dr. Miranda, dokter yang selama ini menangani ibunya, Mayang."Ada yang perlu saya sampaikan, Pak Azam," ucap dokter itu dengan nada hati-hati. "Bu Mayang beberapa waktu terakhir menunjukkan penurunan kondisi fisik yang cukup signifikan. Beliau didiagnosa gagal ginjal stadium lanjut dan harus menjalani hemodi
Alina melangkah cepat menyusuri koridor fakultas sambil membawa tumpukan makalah hasil bimbingan kelas. HIjabnya sedikit berantakan, dan kacamata bulatnya sedikit melorot ke ujung hidung. Ia kelihatan seperti karakter anime yang kelebihan energi. Ceria, banyak bicara, dan… agak cerewet kalau sedang semangat."Eh, Rey!" serunya saat melihat Reynaldi keluar dari ruang kelas, membawa laptop dan berjalan santai ke arah parkiran.Rey hanya mengangguk kecil. "Hmm."Alina cengar-cengir, seperti biasa tak ambil pusing dengan sikap jutek cowok itu. Ia sudah terbiasa. Dulu sempat kesal, tapi lama-lama, seperti candu, justru jadi penasaran. Kenapa sih Rey selalu dingin kayak freezer fakultas? Pikirnya."Masih sibuk, Rey?" tanya Alina, mengejar langkah Rey."Ya… Mahasiswa S2 mana yang nggak sibuk," jawab Rey, datar.Alina menahan tawa. "Iya juga, sih. Tapi kayaknya kamu mah sibuknya beda. Sibuk mikirin cewek ya?" Goda Alina.Gadis itu memang kerap menggoda Rey, karena lelaki itu menurutnya terla
Setelah acara lamaran Laras dan Erwin usai, tamu-tamu satu per satu pamit pulang. Senyum bahagia masih tersisa di wajah-wajah yang baru saja menyaksikan momen indah, namun ada sepasang suami istri yang diam-diam menatap satu sama lain, dengan mata yang masih menyimpan banyak luka—dan cinta yang belum sepenuhnya padam.Joyo duduk di samping Mayang yang masih di kursi rodanya. Malam mulai turun, dan hanya lampu temaram teras rumah yang menerangi wajah mereka. Suara di dalam rumah mulai mereda. Ayu sudah menemani Laras berganti baju, sementara Azam sibuk membereskan makanan dengan bantuan beberapa tetangga.Hening terasa lama, sampai akhirnya suara Mayang memecahnya.“Jadi... kemana aja kamu selama ini, Pak? Kenapa tak pernah datang menjengukku?”Pak Joyo menunduk. Ada beban besar di dada yang akhirnya menemukan ruang untuk bernapas.“Iya, Bu... Maaf. Aku... bukan suami yang baik. Bukan kepala keluarga yang sabar. Waktu kamu mulai sakit dan sering diam sendiri... aku takut. Takut kehilan
Satu minggu setelah kunjungan ke rumah perawatan Mayang, suasana di rumah Azam berubah menjadi lebih hangat. Mayang masih berada di klinik, namun komunikasi mulai terjalin lebih baik.Bahkan, setiap pagi, Ayu rutin mengirimkan voice note bacaan doa pagi untuk Mayang yang diperdengarkan oleh suster Reni. Dan Mayang, mulai meresponsnya dengan ucapan “Aamiin” kecil yang membuat suster Reni ikut haru.Dan sekarang Azam merasa sudah saatnya menyampaikan rasa terima kasih secara langsung pada orang-orang yang telah berjasa diam-diam dalam hidupnya. Dengan menenteng dua kotak pastel dan risol mayo buatan Ayu, Ia mengajak Ayu dan Laras berkunjung ke rumah Raja dan Alya.“Mas, kamu yakin mereka nggak keberatan kita datang?” tanya Ayu sambil merapikan kerudungnya.Azam mengangguk. “Mereka pasti kaget, tapi aku rasa ini penting. Kita harus tahu cara berterima kasih.”Rumah Raja dan Alya terletak di kawasan perumahan elit. Begitu mobil Azam berhenti di depan pagar yang tinggi menjulang, suasana
Langit siang itu sedikit mendung. Udara agak gerah, tapi suasana hati Ayu, Laras, dan Azam justru dipenuhi kegugupan yang dingin. Mereka berdiri di depan gerbang sebuah klinik perawatan kesehatan mental tempat Mayang dirawat.Nama "Rumah perawatan Aurora Haven" terpampang di plang besi besar, dikelilingi tanaman rambat yang mulai menjulur ke mana-mana.Ayu menggenggam tangan Laras pelan. “Aku deg-degan…”Laras tersenyum mencoba menenangkan, “Tenang aja Mbak, santai aja...”Azam hanya diam, menatap gedung dua lantai yang lebih mirip hotel dibanding klinik itu. Ia menarik napas panjang sebelum berkata, “Hari ini... kita bawa kebenaran. Tapi tetap pelan-pelan, ya. Nggak bisa langsung.”Mereka masuk ke dalam. Ruangan resepsionis tercium aroma khas rumah sakit—campuran obat, antiseptik, dan bunga plastik yang entah kenapa selalu ada di pojokan. Setelah proses administrasi, mereka diarahkan ke taman belakang tempat pasien diperbolehkan duduk-duduk jika kondisi stabil.Di sanalah mereka mel
Yogi bertahan di coffee shop itu sampai shift Miko selesai, kemudian mereka lanjut nongkrong di tempat lain dan mengobrol banyak hal.Miko banyak memberi masukan pada Yogi tentang apa yang mesti dia lakukan setelah keceplosan bilang cemburu ke Sabrina."Kalau menurut gue ya lo gak harus gimana-gima
Sesuai dugaan Alina, tulisan Alya yang ia unggah ke platform menulis digital medapat sambutan luar biasa dari para pembaca. Banyak dari mereka yang berkomentar positif dan ber berempati pada Alya.Tak sedikit juga yang menuntut kapan bab berikutnya di up, karena tulisan itu baru sampai bab ketika Al
Alina berdecak kesal saat layar laptopnya tiba-tiba mati, tepat di detik ia sedang mengerjakan tugas yang super urgent.“Ck! Ya ampun, kenapa mesti mati sekarang sih!” gerutunya sambil menepuk-nepuk keyboard, berharap laptop itu kembali menyala.Di saat yang sama, Bu Nurma kebetulan melintas di dep
Yogi menyesap americano yang tersaji di hadapannya. Sudah sejak dua jam yang lalu ia berdiam diri di sebuah coffee shop langganannya, sekaligus tempat sahabatnya bekerja. Makanya dia bisa berlama-lama disana tanpa merasa sungkan.Sebuah piring berisi burger berukuran jumbo tiba-tiba diletakkan dimej







