MasukSuasana kamar yang semula hening hanya oleh deru napas yang teratur, perlahan terusik oleh bunyi alarm dari ponsel Araska yang diletakkan di atas nakas. Pukul tiga pagi. Araska mengerang pelan, tangannya meraba permukaan meja, mematikan benda berisik itu sebelum sempat membangunkan Alya yang masih pulas di pelukannya.
Araska menatap wajah istrinya sejenak. Rambut Alya yang berantakan di atas bantal justru terlihat sangat seksi di matanya. Ia mengecup kening Alya lama, lalu berbisik pel
Suasana kamar yang semula hening hanya oleh deru napas yang teratur, perlahan terusik oleh bunyi alarm dari ponsel Araska yang diletakkan di atas nakas. Pukul tiga pagi. Araska mengerang pelan, tangannya meraba permukaan meja, mematikan benda berisik itu sebelum sempat membangunkan Alya yang masih pulas di pelukannya.Araska menatap wajah istrinya sejenak. Rambut Alya yang berantakan di atas bantal justru terlihat sangat seksi di matanya. Ia mengecup kening Alya lama, lalu berbisik pelan."Sayang ... bangun. Sahur."Alya melenguh, matanya terbuka sedikit, lalu ia tersenyum tipis saat menyadari wajah Araska hanya berjarak beberapa sentimeter darinya. "Jam berapa, Mas?""Jam tiga lewat sedikit. Sebenenya pingin nambah, tapi …."“Emang masa kapa, Mas? Kok tumben sampai mau nambah? Masakan si MBok, enak banget, ya?”“Hmmm, kok masakan si Mbok. Mau nambah yang itu, tu.” Alya mengakui Araska kuat sekali, seolah tenag
Mesin mobil mewah itu mati dengan suara halus di garasi kediaman Araska. Anak-anak sudah terlelap di kursi belakang, Zayyan dengan mulut sedikit terbuka, Aisya dengan memeluk bonekanya, sedangkan Tsaqif dalam dekapan Alya.Araska menoleh ke samping, menatap Alya yang tampak lelah namun wajahnya memancarkan ketenangan yang luar biasa dengan hijab barunya."Al, bangun ... sudah sampai," bisik Araska lembut sambil mengusap pipi istrinya.Alya mengerjap, menyesuaikan cahaya lampu garasi. "Eh, sudah sampai ya, Mas? Maaf, aku ketiduran. Habis makan mendoan tadi kok jadi ngantuk banget.""Efek kenyang. Kamu bawa Tsaqif, aku gendong Aisya. Zayyan biar nanti kususul lagi. Pelan-pelan aja," instruksi Araska.Setelah drama memindahkan anak-anak ke kamar masing-masing selesai, suasana rumah menjadi sunyi. Hanya suara detak jam dinding di ruang tengah yang terdengar. Araska baru saja selesai membersihkan diri, hanya mengenakan celana kain santai dan kaos tipis yang mencetak jelas bentuk tubuh atle
Mentari musim panas di Jakarta terasa lebih bersahabat sore itu. Di dalam ruang kerja CEO Araska Group yang megah, Araska sedang fokus menatap layar monitornya, bukan untuk memeriksa laporan keuangan, melainkan memandangi rekaman CCTV ruang tengah rumah mereka. Di sana, Alya tampak sedang membacakan buku cerita untuk Tsaqif. Araska tersenyum tipis, rahangnya yang tegas tampak jauh lebih rileks dibandingkan malam penuh drama di rumah Om Wijaya kemarin.Tiba-tiba, ponsel di atas meja jati itu bergetar. Sebuah pesan masuk dari istrinya."Mas ... sibuk tidak? Pulang cepat ya? Aku ingin ngabuburit. Anak-anak juga sudah rindu jalan-jalan."Belum sempat Araska membalas, pesan kedua menyusul dengan emoji wajah memohon yang menggemaskan."Buka puasa di luar ya, Mas? Sekali-sekali saja. Aku ingin makan takjil di pinggir jalan yang ramai itu. Boleh ya? Please ...."Araska tertawa kecil. Jarang sekali Alya merengek seperti ini. Biasanya, istrinya itu adalah sosok yang paling pengertian dan selalu
Mobil Araska membelah kesunyian malam Jakarta yang mulai mendingin setelah hiruk-pikuk buka puasa bersama yang menyesakkan dada itu. Di dalam kabin mobil yang kedap suara, Araska masih mencengkeram kemudi dengan urat-urat tangan yang menonjol, sisa amarah terhadap Om Wijaya dan Tante Ratna masih membekas di rahangnya yang terkatup rapat.Alya menyentuh lengan suaminya lembut. "Mas, sudah. Jangan dipikirkan lagi. Aku benar-benar tidak apa-apa."Araska menoleh sekilas, matanya melunak saat menatap wajah tenang istrinya. "Aku hanya tidak habis pikir, Al. Di bulan suci seperti ini, mereka masih sempat-sempatnya menyebarkan racun. Mereka tidak tahu betapa berharganya kamu dan anak-anak bagiku. Darah daging atau bukan, Zayyan dan adik-adiknya adalah buah hatiku."Alya tersenyum, menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Araska. "Justru karena itu aku bicara begitu tadi. Aku ingin mereka tahu bahwa kebahagiaan kita tidak diukur dari standar mereka. Kita punya standar sendiri, Mas. Standar kasih s
Malam itu berlalu dengan kehangatan yang meluruhkan sisa-sisa lelah. Namun, bagi Araska, kebahagiaan itu membawa konsekuensi baru yang cukup menyiksanya di siang hari.Esoknya, saat mentari belum sepenuhnya tegak, Araska sudah berdiri di ambang pintu kamar dengan setelan kerja yang rapi, menatap Alya yang masih bergelung di balik selimut sutra."Al, aku berangkat sekarang. Dan sepertinya ... aku tidak akan pulang makan siang atau sekadar mampir istirahat seperti biasanya," ujar Araska sambil merapikan jam tangannya.Alya mengerjap, mengucek matanya pelan. "Kenapa, Mas? Ada rapat mendadak?"Araska mendekat, namun ia menjaga jarak sekitar satu meter, seolah ada garis yang tak boleh ia langgar. Ia menatap Alya dengan senyum kecut. "Bukan rapat. Aku hanya takut pertahananku runtuh lagi kalau melihatmu siang-siang di rumah. Kamu itu ... gangguan terindah yang pernah ada, Al. Tapi di bulan puasa ini, kamu benar-benar ujian yang sangat berat untuk iman dan mentalku."Alya tertawa renyah, men
Siang itu, matahari Jakarta seolah tak memiliki belas kasihan. Panasnya menyengat, tetapi bagi Araska, panas yang paling sulit ia kendalikan justru berasal dari dalam dadanya sendiri.Ini adalah hari kesepuluh Ramadhan, dan entah mengapa, godaan terberatnya tahun ini bukanlah rasa haus atau lapar karena kesibukan di kantor Araska Group, melainkan sosok wanita yang kini sedang sibuk menata vas bunga di ruang kerja pribadinya di rumah.Alya mengenakan kaus rumah yang sedikit longgar dengan celana kulot, rambutnya digelung asal-asalan meninggalkan beberapa helai jatuh di tengkuknya yang putih bersih. Ia tampak segar, kontras dengan Araska yang mulai merasa "gerah" sejak tadi."Mas, berkas yang ini ditaruh di rak atas atau tetap di meja?" tanya Alya tanpa menoleh.Araska yang sedang duduk di balik meja kerja, mencoba fokus pada laporan audit, mendadak kehilangan fokus. Matanya justru terpaku pada gerakan tangan Alya. Harum parfum vanilla dan musk







