Leticia terus meremas jari-jemarinya, berpikir jawaban apa yang harus diberikan pada Kylen. Dia masih di ruang kerja Kylen, tanpa laki-laki itu. Kylen meninggalkannya karena harus menghadiri rapat.
Siapa yang menyangka Kylen akan memberikan tawaran yang sama dengan ayahnya. Pernikahan! Sungguh, dia tidak ingin terjerat dalam hubungan bernamakan pernikahan. Ada banyak hal yang masih ingin dilakukannya. “Ah … sial!” umpat Leticia mengacak rambutnya frustasi. Leticia gelisah. Perempuan cantik dengan balutan dress berwarna salem itu berjalan mondar-mandir. Menolak tawaran Kylen, bukankah itu sama dengan tidak mendapatkan bantuan dan dia harus menerima tawaran dari ayahnya, menikahi pria asing. “Tuhan … bagaimana ini! Apa yang harus aku lakukan?” Leticia kembali mengacak rambutnya, wanita itu terus bergumam hingga sosok bertubuh tinggi besar yang berjalan melewati pintu, membuatnya menutup rapat-rapat mulutnya. Kylen, telah kembali. Wajah laki-laki itu sama seperti sebelumnya, datar tanpa ekspresi. “Sudah memikirkan jawabanmu?” Todong Kylen. Pria itu berdiri beberapa meter di depan Leticia, memberikan sedikit jarak agar dia bisa dengan leluasa membaca ekspresi gadis di depannya ini. Leticia menggigit bibirnya, lalu menjawab, “Aku ….” “Jangan pernah melakukan itu di depan pria manapun!” potong Kylen. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana bahan yang dipakainya. “Huh …?” sahut Leticia, bingung. Kylen menghela napas. Pria itu memilih duduk di sofa dengan kaki kanan menumpuk di atas kaki kirinya. Lirikan matanya memerintahkan Leticia untuk turut bergabung bersamanya. “Menggigit bibir! Jangan pernah melakukan hal semacam itu di depan pria. Itu bisa diartikan bahwa kamu sedang menggoda mereka!” kata Kylen, panjang lebar, tapi tetap dengan wajah datarnya. Leticia berdecak kesal. Asumsi yang dikatakan oleh Kylen, jelas tidak berdasar. Itu hanya sebuah kebiasaan ketika dia sedang gugup atau bingung. “Atau kamu memang berniat menggodaku!” celetuk Kylen. Mata Leticia membulat. “Tidak! Aku sama sekali tidak memiliki pemikiran seperti itu! Aku benar-benar datang untuk meminta bantuanmu, tanpa ada niatan menggoda!” berang Leticia. Dia perlu memperjelas semuanya agar tidak ada kesalah pahaman di sini. Kylen hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, tidak ada reaksi berlebih dari laki-laki itu. Hanya sebuah senyum tipis yang bahkan tidak dilihat oleh lawan bicaranya. “Jadi, apa keputusanmu?” tanya Kylen, mengulangi kembali pertanyaannya. “Aku pikir kamu tidak sedang dalam keadaan bisa menolak! Bukankah tadi kamu mengatakan ayahmu memerlukan suntikan dana, lalu apa yang membuatmu berpikir begitu keras, Leticia!” Kylen menatap dalam Leticia, gadis itu terlihat bingung. Namun, dia tidak perduli. Menikahi Leticia adalah pilihan terbaiknya saat ini. “Jadi apa jawabanmu?” tanya Kylen entah untuk yang ke berapa kalinya. “Aku tidak memiliki banyak waktu Leticia Bradley! Iya atau tidak!” imbuh Kylen, menekankan kalimat terakhirnya. “Aku rasa, aku sudah tahu jawabannya! Jika tidak ada lagi yang kamu butuhkan, kamu bisa pergi!” ucap Kylen, sengaja mengakhiri percakapan mereka untuk memprovokasi Leticia. “Tidak, jangan pergi!” mohon Leticia saat melihat Kylen bergerak ingin meninggalkannya. “Aku bahkan belum memberikan jawabanku,” sambung Leticia merasa terintimidasi oleh tatapan tajam Kylen. Kylen tersenyum miring, lalu kembali duduk, menatap Leticia yang berhasil masuk ke dalam perangkapnya. “Katakan!” perintah Kylen. “Pernikahan itu ….” Leticia menarik napas panjang. Ia kembali gugup hanya dengan menatap wajah tampan Kylen yang dingin dan tanpa ekspresi. “Apa yang akan aku dapat, jika aku menerima tawaran itu?” lanjut Leticia. “Suntikan dana untuk perusahan ayahmu, tentunya!” jawab Kylen, sesuai dengan apa yang diminta oleh Leticia, sebelumnya. “Hanya itu?” tanya wanita cantik itu dengan wajah sedikit tak puas. Kylen tersenyum miring. “Ada hal lain yang kamu minta?” tanya balik laki-laki itu. Leticia terlihat berpikir. Setidaknya dia bisa mendapatkan lebih dari suntikan dana, akan ada pernikahan yang menjeratnya. Dia tidak boleh rugi, setelah pernikahan mereka berakhir. Dia akan menyandang status janda, meski janda perawan. Tunggu dulu! Otaknya tiba-tiba tertarik akan sesuatu yang mendadak mengganggu. Kylen, tidak akan memintanya untuk melayani di atas rajang kan. Jika iya, bukankah dia akan semakin dirugikan. Leticia berdehem sebelum mengajukkan pertanyaan, “Eum … kita tidak akan melakukannya kan?” Alis Kylen tertaut, tidak paham dengan pertanyaan ambigu yang dilemparkan oleh Leticia. “Melakukannya …?” ulang Kylen, meminta Leticia untuk memperjelasnya. “Melakukan itu ….” Leticia mencoba menjelaskan menggunakan gerakan tangannya yang saling menumpuk lalu menggerakannya seirama. “Hubungan suami istri?” Kylen mencoba memperjelas, membuat Leticia dilanda malu. Kylen menatap Leticia, memindai setiap inci tubuh gadis di depannya ini. Untuk pria normal, tentu wajah cantik dan lekuk tubuh Leticia cukup menggoda, tapi tidak untuknya. Ada Shanon di hatinya. “Kita lihat nanti!” jawab Kylen, seolah tanpa kepastian dan jaminan apa pun. “Lihat nanti?” ulang Leticia tak puas. “Untuk saat ini aku hanya membutuhkan pernikahan. Keluargaku mendesak agar aku segera menikah!” papar Kylen, menjelaskan situasinya. “Aku akan meminta Owen, untuk membuatkan kontrak pernikahan kita! Kamu bisa membacanya, lalu tanda tangan!” lanjut Kylen yang langsung menghubungi asistennya. Kylen menghubungi Owen, meminta sekretarisnya itu untuk menyiapkan kontrak pernikahan. Menunggu beberapa saat tanpa obrolan, suara ketukan pintu menarik kesadaran Kylen dan Leticia. Owen Ozlle, berjalan mendekat, meletakkan sebuah berkas yang tadi diminta oleh atasannya, lalu pamit meninggalkan ruangan kerja Kylen. “Kamu bisa membawanya pulang dan membacanya!” kata Kylen mendorong kertas berwarna putih bersampulkan plastik bening ke depan Leticia. Leticia menelan ludahnya. Tangannya bergerak membuka kontrak di depannya, membaca sebagian lalu membubuhkan tanda tangan. “Aku harap kamu menepati janjimu!” Kylen mengambil kontrak yang sudah ditandatangani oleh Leticia, melihatnya dengan sebuah seringai. “Tentu!” jawab Kylen, singkat. “Besok jam 10 pagi! Datanglah kemari dan jangan terlambat!”Shanon menutup matanya. Ia menarik napasnya dalam-dalam. Tangannya terkepal menahan segala rasa sesak dan marah di dadanya. Matanya menyipit menatap Leticia dan Kylen bergantian. Alih-alih mengeluarkan amarahnya, Shanon justru tersenyum manis pada Gwen.“Ini berita gembira, kenapa aku sama sekali tidak tahu? Berita pernikahan Kylen juga tidak santer terdengar. Aku kira Kylen dan Leticia hanyalah saudara,” komentar Shanon. Sekali lagi, mataya menyipit menatap Leticia dan Kylen. “Mereka memang belum mengadakan resepsi pernikahan. Rencananya kami akan mengadakan resepsi ketika ayah Leticia kembali ke Barcelona,” sahut Gwen menanggapi.Shanon tersenyum samar. Kemarahan dalam hatinya semakin menjadi. Sejauh ini Kylen membohonginya, tapi dia sama sekali tidak mengetahuinya. Kecurigaan yang disuarakannya justru berakhir dengan pertengkaran. “Benarkah? Baguslah kalau begitu. Aku harap aku bisa mendapatkan undangan pernikahan kalian. Bukankah kita adalah teman, Leticia…?” Shanon melemparkan
“Aku masih ingin di sini, Ayah.” Rengek Leticia sambil menggoyang-goyangkan tangan Galen.Sudah seminggu sejak Galen menjalani operasi. Keadaannya juga semakin membaik. Saat ini Galen hanya perlu tinggal untuk menjalani beberapa terapi sebelum benar-benar diperbolehkan untuk pulang.“Perusahaan membutuhkan kamu, Leticia. Sampai kapan kamu terus menunggu Ayah. apa kamu tidak kasihan pada Kylen,” balas Galen dengan suara pelan.Leticia menoleh menatap Kylen. Ia menghela napas berat. Hatinya begitu berat meninggalkan Gwen dan juga Galen sendirian.Gwen tersenyum. Ia meraih tangan Leticia, meremasnya pelan. “Kami baik-baik saja, tidak perlu khawatir!” kata Gwen. Ia tahu apa isi hati putrinya.“Pulanglah, gantikan Ayah untuk sementara waktu di kantor. Kylen juga harus kembali, dia sudah terlalu lama meninggalkan perusahaannya,” perintah Galen, lagi.Leticia mencebik, tapi tak urung mematuhi perintah ayahnya. Diangkatnya bokongnya dari kursi, meski enggan. Dengan hati berat, Leticia memeluk
Shanon menggigit bibirnya kuat-kuat. Tubuhnya terpaku tak mampu bergerak. Tatapan Samantha yang seakan menuntut jawaban, membuatnya bimbang. Dia tidak tahu harus memberikan jawaban apa pada Samantha. Bukan bermaksud membohongi, hanya saja dia belum bisa jujur. Ada rasa simpati yang harus didapatkannya.“Kenapa?” lirih Samantha ketika Shanon sama sekali tidak membuka mulutnya. Dia benar-benar merasa dibohongi habis-habisan.“Maaf…,” cicit Shanon. Tangannya saling meremat. Hanya Samantha satu-satunya orang yang dimilikinya yang bisa diandalkan.Samantha menatap nanar Shanon. Ia melangkah selangkah demi selangkah mendekati sahabatnya yang hanya diam membeku. “Sejak kapan? Apa Kylen tahu tentang ini?” cecar Samantha yang terus mengajukan pertanyaan meski tidak ada yang dijawab oleh Shanon.Shanon menggelengkan kepalanya. Matanya menatap tangan Samantha yang menggenggam tangannya, mengajak sahabatnya itu duduk di kursi yang ada di balkon.“Harusnya kamu mengatakan jika kamu sudah bisa ber
“Leticia….”Leticia tersenyum hangat. Ia menggenggam tangan ibunya. Dua puluh menit yang lalu ia baru terbangun. Mengistirahatkan diri sejenak memang pilihan yang tepat. Tubuhnya jauh terasa lebih segar.“Minum dulu, Bu!” Leticia menyodorkan segelas air putih kepada sang ibu.“Bagaimana ayahmu? Apa operasinya sudah selesai?” tanya Gwen khawatir.Leticia menggelengkan kepalanya. Kylen belum memberinya kabar apa-apa. Suaminya itu juga belum datang menemuinya. Tiga jam sudah ayahnya berada di ruang operasi. Kecemasan itu masih belum sepenuhnya menghilang, tapi dia mencoba untuk menguatkan dirinya untuk tidak terlihat gelisah.“Bantu Ibu, Ibu ingin melihat ayahmu,” pinta Gwen menyibak selimutnya, tapi langsung dicegah oleh Leticia.“Ada Kylen di sana. Ibu istirahat saja dulu. Ayah akan sedih jika melihat Ibu seperti ini,” kata Leticia.Gwen terdiam. Ia kembali merebahkan tubuhnya. Apa yang dikatakan oleh putrinya ada benarnya. Dia tidak boleh egois. Setidaknya jika ia harus terlihat sehat
“Nyonya Gwen hanya kelelahan. Setelah mendapatkan infus, beliau akan kembali membaik.” Seorang dokter yang baru selesai memeriksa Gwen, memberikan penjelasan pada Leticia.“Menjaga orang sakit memang melelahkan. Oleh karena itu dokter selalu menganjurkan kepada si penjaga untuk tetap menjaga kondisinya,” lanjut si dokter masih berusaha menenangkan Leticia.“Tapi Ibu saya benar-benar baik-baik saja kan, Dok?” tanya Leticia memastikan. Matanya menatap sendu tubuh ibunya yang terbaring dengan selang infus di tangannya.Dokter dengan jas kebesarannya itu tersenyum teduh. “Iya, Nyonya Gwen hanya butuh istirahat. Justru saya mengkhawatirkan keadaan Anda,” ungkap sang dokter yang menyebabkan kerutan di kening Leticia dan Kylen.“Wajah Anda terlihat pucat. Sebaiknya Anda juga menjaga kesehatan Anda. Jika semuanya tumbang, tidak akan ada yang bisa memberi semangat pada Tuan Galen,” saran si dokter.“Saya akan memastikan istri saja baik-baik saja,” sahut Kylen.Sang dokter tersenyum lega. “Baik
Galen menepuk tangan Kylen. Dia akan masuk ke dalam ruang operasi sebentar lagi. Sebuah permintaan kecil diutarakannya pada sang menantu. Sebagai seorang ayah yang selalu melindungi dan memberikan yang terbaik untuk putrinya, dia hanya ingin memastikan bahwa Leticia—putrinya tidak akan menderita. “Ky, boleh Ayah meminta sesuatu?” tanya Galen.Kylen mengangguk. “Tentu, Ayah.”Galen menarik napas panjang, tangannya yang satunya menarik tangan sang putri, meletakkan di atas tangan Kylen. Dengan senyum mengembang ia berkata, “Ayah ingin kalian mengadakan resepsi setelah pulang dari sini.”Tidak ada yang menjawab, Leticia dan Kylen saling melemparkan pandangan. Melakukan pesta pernikahan tentu bukan hal sulit untuk Kylen, jika mau saat ini juga pria itu bisa melakukannya. Namun, kehadiran Shanon adalah alasan kenapa Kylen tidak pernah mau mengadakan pesta pernikahan itu.“Apapun bisa terjadi di meja operasi. Ayah hanya ingin melihat Leticia bahagia. Jika pesta pernikahan sudah dilangsungk