Kylen menyeringai, jari tangannya menjalar mengusap rambut Leticia, sementara matanya mengunci pandangan gadis itu. Wajah tegang serta rona merah di wajah Leticia membuatnya merasakan sesuatu yang menarik. Menggoda gadis itu, misalnya.
“Menurutmu, apa yang bisa kita lakukan?” bukan menjawab, Kylen justru semakin menggoda Leticia. “Kita sudah menikah, bukankah kita bisa ....” “Stop!” pekik Leticia, menutup matanya. Leticia mencoba mempertahankan diri untuk tidak tergoda oleh sentuhan Kylen, meski nyatanya tubuhnya menginginkan sentuhan yang lebih dari saat ini. Sensasi yang tidak pernah dirasakannya, membuat ia ingin merasakan itu. “Bukankah kamu mengatakan tidak akan menyentuhku,” lirih Leticia. Matanya terbuka menatap iris mata Kylen yang gelap. “Aku tidak pernah mengatakannya. Saat itu aku mengatakan kita lihat saja nanti.” Leticia menelan ludahnya susah payah. Otaknya berusaha untuk mencari cara lain agar Kylen menghentikan semua ini. Namun, otaknya seakan membeku. Terlalu lama di situasi saat ini, dia tidak yakin akan tetap bisa mempertahankan kesadarannya. “Aahh ....” Leticia menggeram, usapan tangan Kylen pada pahanya membuat atensinya kembali sebelum bisa menemukan cara lepas dari Kylen. Napasnya terasa terhenti saat tangan Kylen bergerak semakin ke atas. “Jangan mengkhianati hatimu. Kamu juga menginginkannya kan.” Kylen menyeringai. Bibirnya kembali menyentuh kulit leher Leticia, menggoda gadis itu semakin dalam. Leticia memejamkan mata seiring sapuan bibir Kylen yang menyentuh lehernya. Tubuhnya memanas merasakan semuanya . Dua sampai tiga detik Leticia terbuai oleh sensasi nikmat yang diberikan oleh Kylen, hingga dering ponsel miliknya menyadarkannya dari buai kenikmatan. “Ponselku berbunyi,” cicit Leticia. Tangannya mendorong tubuh Kylen, memberikan jarak agar dia bisa bergerak mengambil ponselnya. “Kekasihmu?” tanya Kylen. Dia berjalan ke arah ranjang, memilih duduk di sana sambil memperhatikan Leticia. Leticia menggeleng. Bibirnya tertarik, meski panggilan itu berakhir saat hendak diangkat. Pesan yang dikirim oleh si pemanggil cukup membuatnya senang. Setidaknya dia tahu jika orang itu akan kembali. “Lalu?” Kylen menyelidiki. Senyum di wajah Leticia menimbulkan pertanyaan besar di hatinya. Dia sama sekali tidak tahu bagaimana kehidupan Leticia sebelumnya. Dia juga tidak berniat mencari tahu. “Jika kamu telah memiliki kekasih, aku harap kamu bisa memberi pengertian padanya. Aku tidak akan menyuruhmu mengakhiri hubungan itu, hanya saja aku ingin selama menjadi istriku kamu tidak terlibat dalam hubungan apa pun!” ujar Kylen panjang lebar. Leticia meletakkan kembali ponselnya di atas nakas. Ia menatap sebentar Kylen, sebelum menyeret kopernya masuk ke dalam kamar mandi. “Tenang saja, aku tidak akan terlibat dengan laki-laki manapun!” balas Leticia sebelum menutup pintu kamar mandi. Berbeda dengan Kylen yang tampak senang, Leticia yang telah menyelesaikan mandinya terlihat menggeram kesal. Saat ini perempuan cantik itu masih menggunakan handuk untuk menutupi tubuhnya. Tidak ada pakaian yang benar-benar bisa di sebut pakaian. Hanya ada lingerie dan gaun tidur super tipis di dalam kopernya. Salahnya karena tidak mengecek koper yang dibawanya. Ia terlalu percaya begitu saja dengan ibunya. “Ini jauh lebih baik dari pada yang lainnya. Aku rasa memakai ini tidak buruk. Kylen juga tidak akan memakanku, hanya karena baju tidur tipis kan. Bukankah dia sudah memiliki kekasih,” oceh Leticia sambil memegang baju tidur tipis berwarna merah. Leticia menatap pantulan dirinya di depan cermin, ini---terlalu menggoda. Baju tidur tipis berwarna merah itu terlihat kontras dengan warna kulitnya yang putih pucat. “Atau aku memakai jubah mandi saja?” gumam Leticia bimbang. “Tapi aku tidak akan bisa tidur dengan nyaman jika memakai jubah mandi,” imbuh Leticia bermonolog sendiri. Leticia mengacak rambutnya frustasi. Hanya perkara baju, ia harus mendekam di dalam kamar mandi untuk waktu yang lama. Mungkin lebih dari satu jam, hingga suara ketukan pintu memaksanya keluar. “Kamu ....” Suara Kylen tertelan. Tenggorokannya terlihat naik turun saat menatap tampilan Leticia yang terlihat menggoda. Dia memang pernah berkata tidak akan tergoda. Namun, melihat secara langsung lekuk tubuh Leticia yang terbalut gaun tidur tipis, sisi prianya terbangun begitu saja. “Hanya ada baju ini yang layak aku gunakan,” terang Leticia sambil menggigit bibirnya. Kylen kembali menelan ludah, gerakan Leticia yang menggigit bibirnya semakin membuatnya terbakar gairah. Tanpa kata, tanpa ijin, Kylen menempelkan bibirnya pada bibir Leticia. Hanya menempel, sebelum akhirnya Kylen melumat bibir pink milik Leticia. Tidak mendapatkan penolakan dari Leticia, membuat Kylen memperdalam lumatannya. Lumatan yang awalnya biasa saja kini semakin menuntut. Tangan Kylen tak tinggal diam, tangannya menyusup masuk ke dalam, mengusap lembut bongkahan padat milik Leticia. Erangan halus dari bibir Leticia membuat Kylen mengharapkan lebih. Pria itu menggendong Leticia dan membaringkannya di atas ranjang. Matanya yang berkabut gairah menatap manik mata Leticia yang juga dipenuhi gairah. Sebagai wanita yang belum pernah merasakan sensasi nikmat seperti ini, tentu Leticia mudah terbakar gairah. Miliknya bahkan sudah basah sebelum Kylen menyentuhnya. “Lakukan dengan pelan. Aku dengar ini sangat menyakitkan,” pinta Leticia. Suaranya terdengar serak. “Kamu---masih perawan?”Shanon menutup matanya. Ia menarik napasnya dalam-dalam. Tangannya terkepal menahan segala rasa sesak dan marah di dadanya. Matanya menyipit menatap Leticia dan Kylen bergantian. Alih-alih mengeluarkan amarahnya, Shanon justru tersenyum manis pada Gwen.“Ini berita gembira, kenapa aku sama sekali tidak tahu? Berita pernikahan Kylen juga tidak santer terdengar. Aku kira Kylen dan Leticia hanyalah saudara,” komentar Shanon. Sekali lagi, mataya menyipit menatap Leticia dan Kylen. “Mereka memang belum mengadakan resepsi pernikahan. Rencananya kami akan mengadakan resepsi ketika ayah Leticia kembali ke Barcelona,” sahut Gwen menanggapi.Shanon tersenyum samar. Kemarahan dalam hatinya semakin menjadi. Sejauh ini Kylen membohonginya, tapi dia sama sekali tidak mengetahuinya. Kecurigaan yang disuarakannya justru berakhir dengan pertengkaran. “Benarkah? Baguslah kalau begitu. Aku harap aku bisa mendapatkan undangan pernikahan kalian. Bukankah kita adalah teman, Leticia…?” Shanon melemparkan
“Aku masih ingin di sini, Ayah.” Rengek Leticia sambil menggoyang-goyangkan tangan Galen.Sudah seminggu sejak Galen menjalani operasi. Keadaannya juga semakin membaik. Saat ini Galen hanya perlu tinggal untuk menjalani beberapa terapi sebelum benar-benar diperbolehkan untuk pulang.“Perusahaan membutuhkan kamu, Leticia. Sampai kapan kamu terus menunggu Ayah. apa kamu tidak kasihan pada Kylen,” balas Galen dengan suara pelan.Leticia menoleh menatap Kylen. Ia menghela napas berat. Hatinya begitu berat meninggalkan Gwen dan juga Galen sendirian.Gwen tersenyum. Ia meraih tangan Leticia, meremasnya pelan. “Kami baik-baik saja, tidak perlu khawatir!” kata Gwen. Ia tahu apa isi hati putrinya.“Pulanglah, gantikan Ayah untuk sementara waktu di kantor. Kylen juga harus kembali, dia sudah terlalu lama meninggalkan perusahaannya,” perintah Galen, lagi.Leticia mencebik, tapi tak urung mematuhi perintah ayahnya. Diangkatnya bokongnya dari kursi, meski enggan. Dengan hati berat, Leticia memeluk
Shanon menggigit bibirnya kuat-kuat. Tubuhnya terpaku tak mampu bergerak. Tatapan Samantha yang seakan menuntut jawaban, membuatnya bimbang. Dia tidak tahu harus memberikan jawaban apa pada Samantha. Bukan bermaksud membohongi, hanya saja dia belum bisa jujur. Ada rasa simpati yang harus didapatkannya.“Kenapa?” lirih Samantha ketika Shanon sama sekali tidak membuka mulutnya. Dia benar-benar merasa dibohongi habis-habisan.“Maaf…,” cicit Shanon. Tangannya saling meremat. Hanya Samantha satu-satunya orang yang dimilikinya yang bisa diandalkan.Samantha menatap nanar Shanon. Ia melangkah selangkah demi selangkah mendekati sahabatnya yang hanya diam membeku. “Sejak kapan? Apa Kylen tahu tentang ini?” cecar Samantha yang terus mengajukan pertanyaan meski tidak ada yang dijawab oleh Shanon.Shanon menggelengkan kepalanya. Matanya menatap tangan Samantha yang menggenggam tangannya, mengajak sahabatnya itu duduk di kursi yang ada di balkon.“Harusnya kamu mengatakan jika kamu sudah bisa ber
“Leticia….”Leticia tersenyum hangat. Ia menggenggam tangan ibunya. Dua puluh menit yang lalu ia baru terbangun. Mengistirahatkan diri sejenak memang pilihan yang tepat. Tubuhnya jauh terasa lebih segar.“Minum dulu, Bu!” Leticia menyodorkan segelas air putih kepada sang ibu.“Bagaimana ayahmu? Apa operasinya sudah selesai?” tanya Gwen khawatir.Leticia menggelengkan kepalanya. Kylen belum memberinya kabar apa-apa. Suaminya itu juga belum datang menemuinya. Tiga jam sudah ayahnya berada di ruang operasi. Kecemasan itu masih belum sepenuhnya menghilang, tapi dia mencoba untuk menguatkan dirinya untuk tidak terlihat gelisah.“Bantu Ibu, Ibu ingin melihat ayahmu,” pinta Gwen menyibak selimutnya, tapi langsung dicegah oleh Leticia.“Ada Kylen di sana. Ibu istirahat saja dulu. Ayah akan sedih jika melihat Ibu seperti ini,” kata Leticia.Gwen terdiam. Ia kembali merebahkan tubuhnya. Apa yang dikatakan oleh putrinya ada benarnya. Dia tidak boleh egois. Setidaknya jika ia harus terlihat sehat
“Nyonya Gwen hanya kelelahan. Setelah mendapatkan infus, beliau akan kembali membaik.” Seorang dokter yang baru selesai memeriksa Gwen, memberikan penjelasan pada Leticia.“Menjaga orang sakit memang melelahkan. Oleh karena itu dokter selalu menganjurkan kepada si penjaga untuk tetap menjaga kondisinya,” lanjut si dokter masih berusaha menenangkan Leticia.“Tapi Ibu saya benar-benar baik-baik saja kan, Dok?” tanya Leticia memastikan. Matanya menatap sendu tubuh ibunya yang terbaring dengan selang infus di tangannya.Dokter dengan jas kebesarannya itu tersenyum teduh. “Iya, Nyonya Gwen hanya butuh istirahat. Justru saya mengkhawatirkan keadaan Anda,” ungkap sang dokter yang menyebabkan kerutan di kening Leticia dan Kylen.“Wajah Anda terlihat pucat. Sebaiknya Anda juga menjaga kesehatan Anda. Jika semuanya tumbang, tidak akan ada yang bisa memberi semangat pada Tuan Galen,” saran si dokter.“Saya akan memastikan istri saja baik-baik saja,” sahut Kylen.Sang dokter tersenyum lega. “Baik
Galen menepuk tangan Kylen. Dia akan masuk ke dalam ruang operasi sebentar lagi. Sebuah permintaan kecil diutarakannya pada sang menantu. Sebagai seorang ayah yang selalu melindungi dan memberikan yang terbaik untuk putrinya, dia hanya ingin memastikan bahwa Leticia—putrinya tidak akan menderita. “Ky, boleh Ayah meminta sesuatu?” tanya Galen.Kylen mengangguk. “Tentu, Ayah.”Galen menarik napas panjang, tangannya yang satunya menarik tangan sang putri, meletakkan di atas tangan Kylen. Dengan senyum mengembang ia berkata, “Ayah ingin kalian mengadakan resepsi setelah pulang dari sini.”Tidak ada yang menjawab, Leticia dan Kylen saling melemparkan pandangan. Melakukan pesta pernikahan tentu bukan hal sulit untuk Kylen, jika mau saat ini juga pria itu bisa melakukannya. Namun, kehadiran Shanon adalah alasan kenapa Kylen tidak pernah mau mengadakan pesta pernikahan itu.“Apapun bisa terjadi di meja operasi. Ayah hanya ingin melihat Leticia bahagia. Jika pesta pernikahan sudah dilangsungk