Masuk"Loh, kamu kok ada di sini, Dimas? Kamu sudah pulang? Sudah kasih pelajaran sama si Ara?" tanya Bu Salamah kepada anak laki-lakinya yang baru saja datang ke rumahnya, kini duduk bersandar di kursi ruang tamu.
"Dimas! Mama ngomong sama kamu, kok gak disahut!" kesal Bu Salamah, ikut duduk di sebelah anaknya yang berwajah kusut. "Istri kamu membangkang ya? Sudah berani dia sama kamu? Sama kayak tadi Ara yang berani banget ngomong sama Mama soal..., bla bla bla bla" ujar Ibu Salamah dengan sinis menceritakan kembali kepada anaknya tentang Ara yang berdebat dengannya mengenai Dimas dan keluarganya. Tentu saja, di setiap ceritanya ditambahi sedikit bumbu agar hati Dimas semakin panas dan memberi pelajaran yang pantas untuk menantunya itu. "Dimas, kamu dengar Ibu gak sih?! Ibu sudah capek ngomong tapi kamu kayak gak dengerin!" kesal Bu Salamah menggeplak lengan anaknya yang malah asyik melamun. Dimas menatap wajah ibunya acuh. "Ma, bisa gak Mama jangan ngomong atau tanya-tanya dulu sama Dimas! Dimas lagi pusing, Ma!" "Ck, Ara kekeuh minta cerai! Entah apa yang ada di pikiran istri Dimas itu. Lagian, sebenarnya ini ada apa sih?!" "Ara tiba-tiba minta cerai. Padahal tadi pagi Ara masih baik-baik aja. Aku memang marahin Ara yang mau jenguk ibunya, tapi habis itu Ara diam-diam aja, gak berontak walaupun sempat nangis" jawab Dimas menghela napas berat. Dimas menoleh menatap ibunya dengan mata menyipit. "Ma, bilang sama Dimas soal apa yang sebelumnya terjadi waktu Mama ketemu sama Ara tadi siang?" "Mama yang tadi telepon Dimas bilang Mama dimarahin Ara, terus Ara ngomong mau pisah sama aku" "Dimas yakin Ara enggak mungkin marah sama Mama apalagi sampai ngomong pisah, kalau Mama gak ngomong keterlaluan" "Ara selama ini selalu nurut. Kalau aku atau Mama marahin Ara, gak pernah sekalipun Ara kelihatan ngelawan" "Jadi coba ceritain lagi sama Dimas kenapa sampai Ara kelihatan marah banget sama aku dan keluarga kita" "Ara bahkan sampai ngungkit pengobatan dan biaya hidup kami dulu yang dibiayai sama keluarganya" Bu Salamah menatap anaknya tidak percaya. "Loh, kok kamu kayak nuduh Mama yang sudah buat masalah? Istri kamu itu yang bermasalah, Dimas! Memang istri kamu aja yang enggak benar!" "Apa maksud kamu dengan Ara ngungkit biaya pengobatan sama biaya hidup pas dulu kamu sakit? Mau hitung-hitungan dia?" "Mau minta uang yang sudah keluarganya kasih biar dibalikin? Istri kamu memang durhaka, Dimas!" "Dia dan keluarganya pelit banget! Masa uang yang sudah dikasih diungkit lagi. Gak benar memang itu si Ara! Kerasukan apa sih dia!" kesal Bu Salamah misuh-misuh. "Ma, Mama belum jawab pertanyaan Dimas," ujar Dimas mengabaikan Mamanya yang masih mengomel. Bu Salamah mendelik menatap anaknya tajam. "Pertanyaan yang mana? Jangan nuduh Mama sembarangan ya, Dimas! Mama gak ngapa-ngapain Ara. Sudah Mama bilang memang istri kamu gak benar" "Mama cuma membela diri dan membela kamu aja. Ara ngatain kamu pelit! Masa Ara membandingkan kamu sama saudaranya yang karyawan pabrik!" "Gak level! Perkara uang duka sama uang yang kamu kasih ke mertua aja pakai diributin! Cih, istri kamu itu gak bersyukur, Dimas" "Udahlah mending kamu memang harus lepasin Ara. Toh, kamu juga enggak suka sama istri kamu kan?" sinis Bu Salamah. Dahi Dimas sedikit mengernyit mendengar ucapan ibunya. "Ma, apa maksud Mama kalau Ara membandingkan aku sama saudaranya yang karyawan perihal uang duka? Uang duka apa? Tadi Mama gak bahas soal ini" tanyanya bingung. Bu Salamah menatap anaknya sekilas, lalu menatap ke arah lain. "Iya, kah Mama belum bilang? Mama sudah bilang kok. Kamu aja yang gak suka dengerin omongan Mama" "Itu tuh si Ara bilang katanya kamu cuma ngasih uang tiga ratus ribu pas Abahnya meninggal, sedangkan saudaranya yang karyawan ngasih uang lebih gede" "Kurang ajar kan si Ara? Dia malah jadi istri yang gak bersyukur. Makanya Mama marahin dia supaya gak nuduh anak Mama pelit. Eh, Ara malah ngomong mau pisah dari kamu" Bu Salamah meneguk ludah kasar, takut kebohongannya terbongkar. Dimas mengernyit. "Hanya itu? Perasaan Ara bukan orang yang suka membandingkan dan nolak pemberian aku sekecil apa pun" "Ara juga sebelumnya enggak pernah suka ngungkit aku mau kasih kecil atau besar. Apa ada yang lain yang belum aku tahu, Ma?" tanyanya. Bu Salamah menggelengkan kepala. "E-enggak! Enggak ada! Kan Mama sudah ceritain semua. Memang istri kamu aja yang sudah mulai membangkang berani ngelawan kita! Udahlah, Dimas! Jangan tanya-tanya Mama. Bikin bete aja!" kesalnya mengelak. Mana mungkin dia mengatakan kepada Dimas kalau tadi siang dia sempat mengatai besannya penyakitan dan Ara wanita mandul. "Duh, apa gara-gara mulutku ini Ara sampai minta pisah ya sama Dimas? Ish, dasar! Kalau sampai Dimas tahu, anakku pasti ngamuk sama aku. Ck, lagian si Ara bikin kesel aja. Jadi gak bisa direm kan ini mulut!" "Yaudahlah, mau cerai, ya cerai aja. Toh, si Ara enggak bisa hamil juga" batin Bu Salamah melengos. Dia melirik diam-diam anaknya yang terlihat frustrasi. "Yaudahlah, Mama ke kamar dulu. Kalau kamu masih berantem sama Ara, gak usah pulang. Biarin istri kamu tahu rasanya gak punya suami di rumah" "Mama mau ke kamar dulu!" ujar Bu Salamah bangkit dari duduknya, hendak meninggalkan Dimas daripada dia dicecar kembali oleh anaknya yang terlihat curiga padanya. "Ma" panggil Dimas menghentikan langkah Bu Salamah yang hendak pergi. Tubuh Bu Salamah sempat tegang seketika, namun dia tetap berbalik menatap anak laki-lakinya dengan wajah biasa. "Apa?" tanyanya. Dimas mengembuskan napas kasar, lalu mendongak menatap ibunya. "Ma, kenapa dulu Mama dan Papa gak biayain pengobatan aku pas ke luar negeri sih?" "Kan kalau sudah kayak gini, Dimas jadi malu sama Ara, pas Ara ngungkit soal biaya pengobatan aku" "Ara ngungkit di mana kedua orang tua istriku harus jual ladang, supaya menantu mereka yaitu aku ini gak cacat. Malu aku, Ma!" "Aku selalu ngatain istriku dan keluarganya orang kampung yang sukanya minta uang. Tapi pas Ara ngingetin soal biaya pengobatan sama biaya hidupku dulu, ya mau ditaruh di mana mukaku?" "Padahal kan Mama dan Papa masih mampu biayain pengobatan aku" tanyanya. Bu Salamah sempat tegang sejenak ketika mendengar pertanyaan anaknya, namun dia tidak ingin terlihat salah di mata orang lain, terlebih putranya. "Waktu itu kan kamu tahu kalau adikmu baru masuk kuliah kedokteran. Biaya yang dibayar untuk masuk ke universitas adikmu kuliah mahal, Dimas. Mama dan Papa sudah habis-habisan untuk masukin Sinta ke kampusnya" "Terus, Papa juga baru ketipu sama rekan bisnisnya. Kalau Papa gak balikin uang investor yang lain, kamu mau Papa masuk penjara? Enggak kan?" "Udahlah, Dimas, ngapain kamu malu terus dengerin omongan istri kamu yang gak benar itu. Waktu itu keluarga Ara bilangnya ikhlas bantu kamu. Kok, sekarang malah diungkit" "Bilangin sama Ara, kalau dia jangan suka ngungkit masalah yang sudah berlalu, apalagi tentang pemberian" "Kalau gak ikhlas, harusnya gak usah sok-sokan nolong! Bilangin juga ke istri kamu kalau kuburan Abahnya bisa sempit kalau dia hitung-hitungan!" kesal Bu Salamah. "Ma! Jangan ngomong kayak gitu, ah. Dimas gak suka. Dimas memang marah sama Ara, tapi jangan bawa-bawa almarhum Abah mertua Dimas, Ma. Dimas takut kualat" "Orang sudah gak ada, dan gak punya salah kok malah dibawa-bawa. Kalau Ara dengar, bisa tambah ngamuk dia. Mama ini!" ujar Dimas tidak kalah kesal kepada ibunya yang malah memperkeruh suasana. Bu Salamah melengos. "Habis istri kamu bikin kesel aja. Kebablasan kan Mama. Jadi, jangan salahin Mama" jawabnya membela diri. Dia menatap anaknya. "Yaudahlah, Mama mau ke kamar daripada hati Mama semakin panas" ujarnya hendak melangkah kembali. "Ma" panggil Dimas. Bu Salamah menggeram, menatap anaknya tajam. "Apalagi?" kesalnya. Dimas menatap ibunya lekat. "Ma, kenapa Mama lebih milih bayar kuliah Sinta dibanding pengobatan Dimas? Kalau Dimas gak ditolong waktu itu, Dimas bisa cacat. Sedangkan Sinta?" "Anak itu bahkan gak bisa kuliah dengan benar. Masuk nyogok, sekarang hampir di-DO. Ma, Mama sayang Dimas kan?" Bu Salamah tergagap ketika mendengar pertanyaan putranya. "Dimas..."Hari keputusan sidang cerai tiba. Ara datang didampingi bersama dengan Reno dan Bima. Sedangkan Dimas juga datang bersama dengan anggota keluarganya secara lengkap. Pak Doni, Bu Salamah dan Shinta datang bukan hanya untuk memberi dukungan kepada Dimas, tapi juga untuk menyelesaikan ganjalan hati yang ada. Dimas dan Ara akhirnya secara sah bercerai. Masalah harta gono-gini pun diselesaikan tanpa banyak perdebatan. Dimas dan keluarganya mencoba mengikhlaskan apa yang menjadi milik Ara. Mereka pun sadar tidak memiliki hak atas itu. “Ara!” panggil Dimas kepada Ara setelah selesai keluar dari ruang sidang. Ara menoleh. Ia menatap Dimas yang mendekat dengan ragu, apa dia harus membalas sapaan itu atau tidak. Reno dan Bima berdiri di sisi kiri dan kanan Ara untuk melindungi saudara perempuan mereka itu dari Dimas. Dimas menatap Ara. Setelah berpisah dengannya, Ara justru makin terlihat cantik. Seketika ia menyesal. Bukankah Ara harusnya bisa secantik ini jika ia bisa mengurus dan me
“Jadi anak yang ada di dalam kandungan Cika itu bukan anak kamu! Bukan cucu Ibu!” teriak Bu Salamah marah. Jika tubuhnya tidak ditahan suaminya, ia sudah menerjang Cika. Dimas mengangguk lesu dan menunduk. “Iya, Bu! Lont* ini sudah nipu aku habis-habisan!” Dimas lalu menceritakan semua pengakuan Cika sebelumnya. Wajah Pak Doni menggelap. Tatapannya tajam mengarah ke Cika. Cika makin menciut dalam pelukan Alex. “A-aku enggak maksud nipu. Dimas sendiri yang kepincut sama aku. Dia juga yang sukarela nikahin aku. Aku cuma bilang anak ini anaknya, dia yang percaya” bela Cika. Wajah orang-orang berubah. Terutama Dimas dan keluarganya yang menatap Cika dengan amarah terbuka. Simpati yang semula mengarah pada Cika perlahan bergeser ke Dimas. Meski begitu, tindakan Dimas yang sempat hampir mencelakai Cika tetap tidak bisa diabaikan. Bu Salamah tak lagi mampu menahan diri. Ia menerjang Cika. Keributan kembali pecah. “Dasar lont*! Beraninya kamu bohongin anak saya! Gara-gara kamu rumah t
Dimas sungguh tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Ia sudah mempertaruhkan segalanya demi menikahi Cika. Nama baiknya di mata keluarga hancur karena ia menikahi perempuan yang reputasinya tidak baik. Ia terpaksa membohongi Ara dan bermain di belakang istrinya demi bersama istri keduanya. Yang paling menyakitkan, anak yang selama ini ia tunggu kelahirannya dari rahim Cika, yang ia kira darah dagingnya sendiri, ternyata milik pria lain. Walaupun Cika dikenal tidak baik, demi anak dalam kandungannya yang ia yakini sebagai anaknya, Dimas tetap menyambut kehadiran itu dengan bahagia. Bukan hanya dirinya yang menunggu kelahiran anak itu, tapi juga ibu dan keluarganya. Namun semua harapan itu ternyata hanya tipuan. Karena Cika pula, ia kehilangan Ara. Mata Cika melotot saat lehernya terce*k oleh tangan Dimas. Ia memukul tangan pria itu berusaha melepaskan cekikan. “M-Mas lepas! K-Kamu gila! Kamu mau bun*h aku!” ucap Cika tersendat, nyaris kehabisan napas. Alih-alih melepaskan, cen
"Kata pengacara, mereka yakin sebentar lagi perceraian kamu sama Dimas bukan cuma mimpi, tapi juga akan dikabulin secepatnya. Saksi dan bukti kita kuat. Kita cuma perlu nunggu putusan sidang selanjutnya" "Bukan cuma itu. Selain bercerai, mas akan pastiin kamu dapat hak kamu yaitu pembagian harta gono-gini. Mas masih ingat kamu dapat mahar cukup besar dari pihak keluarga Dimas, terutama mahar jaminan dari pihak kakek Dimas yang dijanjikan akan menjadi milikmu setelah kau menikah dengan anggota keluarga mereka" ujar Reno kepada Ara. Ara awalnya hanya ingin bercerai dan tidak memikirkan apapun selain itu, termasuk harta gono gini. Mengingat tabiat suaminya yang sebentar lagi akan jadi mantan serta tabiat ibu mertuanya, ia tidak yakin mereka akan memberikan hak itu. Ia bahkan takut perceraiannya dipersulit jika ingin meminta lebih walau itu adalah haknya sendiri. Namun dengan dukungan dan pengertian kakak sulungnya, ia setuju untuk memperjuangkan itu. Toh yang diperjuangkan itu adala
“Pah, Papa maafin Dimas, kan? Dimas nyesel sudah bikin Papa marah” ujar Dimas kepada ayahnya. Pak Doni menghela napas panjang. Ia menatap anaknya dengan perasaan campur aduk. Kesal, tapi juga kasihan. Meski Dimas bukan anak kandungnya, dialah yang membesarkan Dimas sejak kecil. “Papa masih marah sama kamu, apalagi urusan rumah tanggamu dan Ara belum jelas. Tapi mau gimana lagi. Walaupun kamu bukan anak kandung Papa, Papa yang besarin kamu seperti anak sendiri. Dimas, kamu sudah mengecewakan Papa” “Tapi Papa juga enggak tega terus marah dan mukul kamu. Kamu sudah dewasa. Lagipula kemarin kamu sudah dapat pelajaran sampai masuk penjara” “Sekarang Papa cuma minta satu. Ubah sikap kamu, terutama mulutmu yang pedas itu. Jangan asal bicara. Dan jangan pernah nyakitin Shinta!” peringat Pak Doni. Dimas mendengus dalam hati. Lagi-lagi Shinta. Selalu Shinta. Bahkan di tengah masalahnya sendiri, ayahnya tetap memikirkan Shinta. Ia tahu Shinta adalah anak kandung Papa, sementara dirinya anak
Dimas pun terdiam. Ia jadi serba salah. Ia tidak menyangka jika masalah rumah tangganya berdampak ke masalah rumah tangga kedua orang tuanya. Dimas memeluk ibunya."Ma, maafin Dimas. Waktu itu Dimas emosi, ngira Papa pilih kasih sama Dimas dan Shinta sampai nyangka kalau Dimas bukan anak kandung Papa. Tapi tebakan Dimas taunya bener. Dimas juga sebenarnya masih terkejut dengan masalah ini""Kalau dipikir lagi, emang wajar aja papa lebih sayang ke Shinta dibandingkan Dimas kalau memang kenyataannya begitu. Dimas bukan anak kandung Papa. Kalau Dimas di posisi Papa mungkin Dimas gak akan begitu legowo besarin anak dari orang lain" "Dimas nyesel udah bikin Papa kesel selama ini. Kalau tau sejak awal, Dimas pasti bakal hati-hati. Dimas juga gak bisa nyangkal kalau Dimas tumbuh besar begini karena jasa Papa juga. Nanti Dimas coba cari cara untuk minta maaf sama papa. Mungkin aja kalau Dimas minta maaf sama papa, papa gak bakal bersikap dingin lagi sama mama""Cuma soal Dimas dan Ara, kayan







