Se connecter"Ara!"
"Ara!" "Ara! Buka pintunya!" Tok Tok Tok "Ar...." Ceklek Ucapan Dimas terhenti saat dia melihat wajah istrinya yang baru saja membuka pintu. Dimas langsung merangsek masuk ke dalam rumah, menutup pintu di belakangnya dengan kasar hingga terdengar bantingan yang begitu keras. "Kamu sudah pulang, Mas?" tanya Ara terdengar acuh, namun tetap mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangan suaminya seperti yang biasa dia lakukan. Dimas menghempaskan tangan istrinya begitu saja, enggan disentuh oleh sang istri yang sudah membuatnya dan ibunya marah. Ara menjerit pelan ketika tangannya dihempas begitu saja dengan kasar oleh suaminya. Dia mendongak menatap suaminya. "Kamu kenapa, Mas? Kenapa baru datang sudah marah-marah?" tanya Ara berpura-pura tidak mengetahui apa yang terjadi kepada suaminya yang pulang dalam keadaan marah. Padahal lebih dari siapa pun, dialah yang paling mengetahui alasan di balik kemarahan suaminya. Siapa lagi jika bukan karena ibu mertuanya. Wanita paruh baya itu pasti sudah mengadu, hingga suaminya yang harusnya pulang saat jam makan siang, namun sudah pulang satu jam lebih cepat dari yang seharusnya. Dimas menggertakkan gigi, menatap istrinya tajam. "Apa yang kamu omongin sama Mama, sampai Mama telepon aku sambil nangis, hah?!" bentaknya kepada Ara tanpa basa-basi. Ara menghela napas berat. "Oh, itu. Aku cuma bilang mau pisah dari kamu. Aku gak tahu apa yang buat Mama nangis, karena harusnya aku yang nangis setelah dengar omongan Mama yang keterlaluan tentang aku dan keluargaku, terlebih kondisi ibuku" "Mas, aku sudah capek jadi istrimu. Kamu juga gak suka aku jadi istrimu, kan? Aku mau cerai. Mas Reno akan jemput aku untuk mengambilku kembali darimu dan keluargamu" Ara berkata tanpa riak emosi di wajah maupun suaranya, kecuali hanya menunjukkan rasa lelah yang dalam di setiap kata yang dia keluarkan. Dimas menatap istrinya tidak percaya. Tangannya mengepal, menatap Ara tajam. "Ara! Jangan main-main dengan ucapan kamu! Kamu mau cerai, hah?! Cerai apa?! Jangan jadi istri durhaka, Ara! Apa salah aku sampai kamu mau minta cerai?!" "Istri gak bersyukur kamu! Aku nafkahin kamu. Sudah ngasih kamu rumah untuk tempat berlindung" "Kamu tinggal ongkang-ongkang kaki di rumah, sambil nunggu hasil jerih payah aku setiap bulannya, tapi apa ini? Kamu minta cerai?! Minta cerai?! Durhaka kamu, Ara! Durhaka!" "Gak ada kata cerai! Jangan mengada-ada! Apa kamu lupa bagaimana kita bisa menikah?! Tega kamu mau melanggar wasiat dua keluarga?!" "Dosa kamu! Dosa! Kamu wanita pendosa!" bentak Dimas dengan napas tersengal, menggertakkan gigi, menatap Ara nyalang. Ara tersenyum kecut mendengar lontaran keji dari mulut suaminya. Dia mendongak menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca, dan hati berdenyut sakit tidak terkira. "Dosa, Mas? Do-dosa? A-aku wanita pendosa?" tanya Ara menatap suaminya tidak percaya dengan lelehan air mata yang membasahi kedua pipinya. Bibir dan seluruh tubuhnya bergetar. Kesedihan, amarah, kekecewaan menjadi satu. "Ka-kalau aku berdosa, lalu kamu apa, Mas?" lirih Ara menutup matanya, terisak dengan keras. Ara mengusap air matanya kasar, mendongak memberanikan diri menatap suaminya. Bibirnya yang bergetar dengan suaranya yang tercekat, namun berusaha sekuat mungkin untuk mengatakan apa yang ada di dalam pikiran dan dirasakannya selama ini kepada suaminya. "Kamu mengatakan aku seorang wanita pendosa, sebab kau mengira aku istri durhaka? A-aku tanya sekali lagi, lalu kau apa, Mas?" "Tidakkah kau berpikir bagaimana sikapmu selama ini saat menjadi seorang suami?" ujar Ara, lalu menutup matanya saat melihat mata Dimas yang semakin melotot padanya dengan teriakan kencang menggema di seluruh ruang tamu tempat tinggal mereka. "Ara! Apa sekarang kau mencoba membalikkan keadaan?! Kau ingin mengatakan aku suami yang buruk?!" "Kau ingin mengatakan aku suami yang pelit seperti yang kau katakan kepada Mama?! Kau ingin mengatakan aku yang berdosa?! "Bagus! Bagus Ara! Bagus! Apa ini yang keluargamu maksud jika kau akan bisa menjadi seorang istri yang salehah saat menikah denganku?!" "Sekarang, aku tanya padamu?! Di mana istri salehah yang menjelekkan suaminya sendiri kepada orang lain, hah?! Durhaka kau, Ara! Durhaka!" bentak Dimas marah kepada istrinya hingga napasnya tersengal. "DIAAAAAAAAAM!" jerit Ara menutup telinganya ketika Dimas tidak berhenti menghakiminya tanpa melihat kesalahan dirinya sendiri. Tubuh Ara luruh terduduk di lantai, terus menjerit ketika suara Dimas yang mempertanyakan kesalehannya sebagai seorang istri terus bergema di kepalanya. "DIAM! DIAM! DIAAAAAAAM!" jerit Ara menangis keras di bawah kaki suaminya yang masih menatapnya dengan tajam. Ara mendongak menatap suaminya dengan wajah putus asa. "Mas, apa aku durhaka?! Apa aku durhaka?! Apa selama ini tidak ada satu pun baktiku sebagai seorang istri yang bisa kau ingat dan hargai?!" "Apa tidak ada secuil kebaikan dan pengabdianku sebagai seorang istri yang bisa kau ingat?! Tidak adakah?!" "Ya Allah, Ya Rabb. Aku berlindung kepada-Mu dari suami buruk sepertimu! Aku yang menemanimu selama ini, Mas! Di saat kau susah, senang, sedih, aku menemanimu selama lima tahun!" "Bahkan di saat Allah memberimu ujian sakit, tubuhmu lumpuh selama satu tahun akibat kecelakaan nahas itu, aku yang menemanimu! Aku yang menemanimu!" "Selama ini aku yang mengurusmu siang dan malam selama lima tahun, meski kau dan keluargamu tidak pernah menghargaiku! Aku selalu menelan kata-kata pedasmu dan keluargamu, tanpa melawan!" "Masih kurang kah itu? Kau ingin aku ingatkan tentang hal yang lain lagi? Ingat ini, Mas! Aku dan keluargaku yang membiayai pengobatanmu hingga ke luar negeri agar kau bisa sembuh!" "Aku dan keluargaku yang menanggung biaya hidup kita selama kau tidak bekerja!Tapi, apa yang kau katakan tentangku dan keluargaku? Aku gadis kampung?" "Keluargaku hanya orang kampung? Kau dan keluargamu mengatai ibuku sedang bersandiwara tentang sakitnya, agar keluargaku meminta uang padamu?" "Kau bahkan hanya mampu memberi ratusan ribu! Tidak ingatkah jika kau pernah dibiayai keluargaku ratusan juta untuk pengobatanmu dan biaya hidup kita selama satu tahun!" "Karenamu, kedua orang tuaku terpaksa harus menjual kebun mereka agar anak perempuan mereka ini tidak mempunyai suami cacat! CACAT! KAU MUNGKIN TIDAK CACAT FISIK LAGI! TAPI KAU CACAT HATI!" jerit Ara menatap tajam Dimas berurai air mata. Dimas terhuyung ke belakang ketika mendengar kata-kata istrinya. Dia ingin membalas segala ucapan Ara, namun tidak ada satu pun kalimat yang bisa dikeluarkan oleh mulutnya. "A-ra" ujar Dimas terbata. "Mas, apa aku pernah meminta uang padamu? Memberi nafkah sandang, pangan, dan papan adalah sebuah kewajibanmu sebagai seorang suami!" "Kau mau berhitung denganku? Kau ingin mengatakan aku tidak melakukan apa pun?" "Mari kita berhitung? Baiklah, maka dengarkan apa yang aku sudah lakukan selama ini saat menjadi istrimu!" "Baju yang kau pakai, makanan yang kau telan, rumah yang selalu bersih. Bukan, bukan hanya kau, tapi keluargamu. Makanan yang mereka telan, rumah dan pakaian bersih yang mereka pakai dan tempati, kau pikir itu semua dari mana, hah?! Aku! Aku yang melakukan itu semua!" "Aku yang melakukan pekerjaan itu semua! Kau pikir semua itu terjadi karena hembusan angin?! Aku, Mas! Aku istrimu yang melakukan itu semua!" "Aku yang membersihkan, memasak, dan mencucinya untuk kalian semua! Bahkan uang nafkahku sebagai istrimu, semua diambil oleh Mamamu!" "Masih kurang kah semua yang aku lakukan sampai saat ini? Masih durhaka-kah aku setelah apa yang terjadi padaku? Aku bahkan tidak mengeluh sebelumnya!" sentak Ara ketika melihat suaminya diam saja. Dimas mengerjapkan mata ketika melihat wajah sedih istrinya. Bukannya iba, hatinya yang dipenuhi ego, berbalik menatap istrinya tajam. Tangannya mengepal erat. "Apa kau mencoba mengungkit kebaikan yang telah kau lakukan? Apa yang sudah kau lakukan adalah tugas seorang istri! Jadi wajar jika...." "Apanya yang wajar?! Aku ini seorang istri! Bukan pembantu! KAU DAN KELUARGAMU BAHKAN MEMPERLAKUKAN AKU LEBIH BURUK DARI PEMBANTU!" jerit Ara menghentikan ucapan Dimas yang kini berdiri mematung.Hari keputusan sidang cerai tiba. Ara datang didampingi bersama dengan Reno dan Bima. Sedangkan Dimas juga datang bersama dengan anggota keluarganya secara lengkap. Pak Bayu, Bu Salamah dan Shinta datang bukan hanya untuk memberi dukungan kepada Dimas, tapi juga untuk menyelesaikan ganjalan hati yang ada.Dimas dan Ara akhirnya secara sah bercerai. Masalah harta gono-gini pun diselesaikan tanpa banyak perdebatan. Dimas dan keluarganya mencoba mengikhlaskan apa yang menjadi milik Ara. Mereka pun sadar tidak memiliki hak atas itu. "Ara!" Panggil Dimas kepada Ara setelah selesai keluar dari ruang sidang.Ara menoleh. Ia menatap Dimas yang mendekat dengan ragu, apa dia harus membalas sapaan itu atau tidak.Reno dan Bima berdiri di sisi kiri dan kanan Ara untuk melindungi saudara perempuan mereka itu dari Dimas. Dimas menatap Ara. Setelah berpisah dengannya, Ara justru makin terlihat cantik. Seketika ia menyesal. Bukankah Ara harusnya bisa secantik ini jika ia bisa mengurus dan mengharg
"Jadi anak yang ada di dalam kandungan Cika itu bukan anak kamu?! Bukan cucu ibu?!" Bu Salamah berteriak marah. Jika saja tubuhnya tidak ditahan oleh suaminya, ia sudah melompat untuk menerjang Cika dan memberi pelajaran. Dimas mengangguk lesu dan malu."Iya Bu! Lont* ini udah nipu aku habis-habisan! Dimas menceritakan apa yang sebelumnya Cika beritahu padanya. Wajah pak Bayu kelam. Ia menatap Cika tajam. Sedangkan Cika sendiri semakin menciut di pelukan Alex. "A-aku gak maksud nipu. Dimas sendiri yang kepincut sama aku. Dia juga yang sukarela nikahin aku. Salah siapa aku bilang anak dalam perut ini adalah anaknya, ia malah percaya" ujar Cika membela diri. Wajah semua orang berubah, terutama Dimas dan keluarganya yang seakan ingin melahap tubuh Cika hidup-hidup. Mereka yang awalnya simpati kepada Cika, kini berubah simpati kepada Dimas. Meskipun masalah Dimas yang membuat keributan sampai ingin mencelakai Cika tidak bisa diabaikan begitu saja. Bu Salamah tidak bisa mena
Dimas sungguh tidak percaya apa yang didengarnya. Ia sudah mempertaruhkan segalanya demi menikahi Cika. Nama baik di mata keluarganya karena menikahi seorang wanita tidak benar. Lalu ia terpaksa membohongi Ara dan bermain dibelakang istrinya ketika harus bersama dengan istri keduanya ini. Dan yang terpenting adalah anak yang telah ia tunggu kelahirannya dari rahim Cika yang ia kira adalah anak kandungnya ternyata itu adalah anak milik pria lain. Walaupun Cika selama ini memiliki reputasi yang tidak baik, tapi demi anak yang ada di dalam kandungan Cika yang ia pikir anaknya, ia tetap bersuka cita atas kehadiran buah hati itu. Bukan hanya dia yang menunggu kelahiran anak ini, tapi juga ibu dan keluarganya. Tapi apa? Semua hal yang ia tunggu ternyata hanya sebuah tipuan. Karena Cika pula ia kehilangan istrinya Ara. Mata Cika melotot ketika merasakan lehernya tercek*k oleh tangan Dimas. Ia terus memukul tangan Dimas agar melepaskan jeratan dari lehernya. "M-Mas lepas! K-Kamu gil
"Kata pengacara, mereka yakin sebentar lagi perceraian kamu sama Dimas bukan cuma mimpi, tapi juga akan dikabulin secepatnya. Saksi dan bukti kita kuat. Kita cuma perlu nunggu putusan sidang selanjutnya" "Bukan cuma itu. Selain bercerai, mas akan pastiin kamu dapat hak kamu yaitu pembagian harta gono-gini. Mas masih ingat kamu dapat mahar cukup besar dari pihak keluarga Dimas, terutama mahar jaminan dari pihak kakek Dimas yang dijanjikan akan menjadi milikmu setelah kau menikah dengan anggota keluarga mereka" ujar Reno kepada Ara. Ara awalnya hanya ingin bercerai dan tidak memikirkan apapun selain itu, termasuk harta gono gini. Mengingat tabiat suaminya yang sebentar lagi akan jadi mantan serta tabiat ibu mertuanya, ia tidak yakin mereka akan memberikan hak itu. Ia bahkan takut perceraiannya dipersulit jika ingin meminta lebih walau itu adalah haknya sendiri. Namun dengan dukungan dan pengertian kakak sulungnya, ia setuju untuk memperjuangkan itu. Toh yang diperjuangkan itu adala
"Pah, papa maafin Dimas kan? Dimas nyesel udah buat papa marah" ujar Dimas kepada ayahnya. Pak Bayu menghela nafas panjang. Ia menatap anaknya kesal, sekaligus kasihan. Meski Dimas bukan anak kandungnya, tapi ini adalah anak yang ia besarkan sendiri. "Papa masih marah sama kamu, apalagi nasib rumah tanggamu dan Ara belum jelas. Tapi ya mau gimana lagi. Biar kamu bukan anak kandung Papa, papa yang udah besarin kamu kaya anak sendiri. Dimas, kamu udah mengecewakan Papa" "Tapi papa juga gak tega buat marah dan mukul kamu lagi. Lagian kamu juga udah gede. Bisa dibilang kemarin-kemarin kamu udah dapet pelajaran sampai masuk penjara" "Sekarang papa cuma minta sama kamu untuk ubah sikap kamu itu. Terutama mulutmu yang pedas itu. Lain kali jangan asal bicara dan jangan pernah nyakitin Shinta!" Peringat papa Dimas. Dimas mendengus di dalam hati. Lagi-lagi Shinta! Lagi-lagi Shinta! Bahkan ditengah masalahnya tetap saja yang dipikirkan oleh ayahnya adalah Shinta! Ia tahu kalau Shinta ad
Dimas pun terdiam. Ia jadi serba salah. Ia tidak menyangka jika masalah rumah tangganya berdampak ke masalah rumah tangga kedua orang tuanya. Dimas memeluk ibunya."Ma, maafin Dimas. Waktu itu Dimas emosi, ngira Papa pilih kasih sama Dimas dan Shinta sampai nyangka kalau Dimas bukan anak kandung Papa. Tapi tebakan Dimas taunya bener. Dimas juga sebenarnya masih terkejut dengan masalah ini""Kalau dipikir lagi, emang wajar aja papa lebih sayang ke Shinta dibandingkan Dimas kalau memang kenyataannya begitu. Dimas bukan anak kandung Papa. Kalau Dimas di posisi Papa mungkin Dimas gak akan begitu legowo besarin anak dari orang lain" "Dimas nyesel udah bikin Papa kesel selama ini. Kalau tau sejak awal, Dimas pasti bakal hati-hati. Dimas juga gak bisa nyangkal kalau Dimas tumbuh besar begini karena jasa Papa juga. Nanti Dimas coba cari cara untuk minta maaf sama papa. Mungkin aja kalau Dimas minta maaf sama papa, papa gak bakal bersikap dingin lagi sama mama""Cuma soal Dimas dan Ara, kayan







