Mag-log in
Palu hakim jatuh tiga kali, dan bersamanya, seluruh hidup Seraphina Aldric ikut runtuh.
"Terjual," kata juru lelang, menunjuk lukisan potret kakek buyutnya yang tergantung di ruang tamu sejak ia lahir. Wajah tua di kanvas itu kini menatap orang asing berjas mahal yang baru saja membelinya seharga recehan dibanding nilai sebenarnya. Seraphina berdiri di sudut ruangan, tangannya terkepal erat di balik lipatan gaunnya yang paling sederhana—satu-satunya yang tersisa setelah pelayan menjual sisanya diam-diam minggu lalu. Ia menghitung napas. Satu. Dua. Tiga. Cara ibunya dulu mengajarinya menahan air mata di depan umum. "Berikutnya, lot dua puluh tujuh," juru lelang berseru lagi, "permadani sutra dari Kekaisaran Timur, hadiah pernikahan Tuan dan Nyonya Aldric." Permadani yang sama tempat ia belajar merangkak. Terjual dalam sepuluh detik. Seorang wanita berbisik pada temannya, cukup keras agar Seraphina bisa mendengar. "Kasihan sekali gadis itu. Kudengar tunangannya membatalkan pertunangan begitu tahu keluarganya bangkrut. Pengecut macam apa yang menikahi keturunan Aldric sekarang?" Temannya tertawa kecil di balik kipas. "Siapa yang mau? Mungkin hanya iblis yang mau menikahi wanita tanpa mahar dan tanpa nama baik." Seraphina tidak menoleh. Ia sudah terlalu lelah untuk marah. Malam itu, di ruang kerja mendiang ayahnya yang belum disegel petugas pengadilan, Seraphina duduk sendirian di antara tumpukan surat utang. Lilin terakhir di rumah itu menyala goyah di atas meja, bayangannya menari liar di dinding kosong—dinding yang dulu penuh lukisan keluarga, kini hanya menyisakan bekas paku dan debu berbentuk persegi. Ia membuka laci bawah, tempat ayahnya biasa menyembunyikan hal-hal yang "tidak boleh dilihat anak perempuan." Di sana, terselip di antara akta tanah yang sudah tak berarti, sebuah buku kulit tua tanpa judul. Neneknya pernah memperingatkannya soal buku itu, bertahun-tahun lalu, dengan suara yang lebih pelan dari biasanya. "Jangan pernah kau buka buku itu, Sera. Beberapa pintu tidak dibuat untuk dibuka dua kali." Seraphina dulu menganggapnya dongeng pengantar tidur. Sekarang, dengan surat penyitaan terakhir tergeletak di sisi buku itu—rumah ini akan diambil alih dalam tiga hari—dongeng terasa seperti satu-satunya pilihan yang tersisa. Jarinya gemetar saat membuka sampul kulit yang dingin, lebih dingin dari udara malam di sekitarnya. Halaman-halaman di dalamnya bukan kertas biasa; teksnya berubah bentuk setiap kali ia mengedipkan mata, seolah tulisan itu hidup dan mengamatinya balik. Ia menemukan satu halaman yang berhenti bergerak. Sebuah diagram lingkaran dengan simbol-simbol asing, dan di bawahnya, satu kalimat yang seakan ditulis khusus untuknya malam itu: Bagi yang tak lagi memiliki apa pun untuk dipertaruhkan, panggilan ini akan dijawab. Seraphina menutup buku itu keras-keras. Jantungnya berdebar seperti hendak melompat keluar. Ini gila. Ini benar-benar gila. Namun, gadis itu membukanya lagi. Ia tidak ingat persis kapan ia mulai mengucapkan kata-kata itu. Mungkin karena putus asa yang sudah terlalu penuh untuk berpikir jernih. Mungkin karena bayangan wajah ayahnya yang menua sepuluh tahun dalam semalam sejak berita kebangkrutan tersebar. Mungkin hanya karena tak ada lagi yang bisa hilang. Kata-kata dalam bahasa yang tak ia kenal keluar dari bibirnya seolah sudah lama menunggu untuk diucapkan. Lilin di meja padam seketika, bukan ditiup angin—tidak ada angin malam itu, jendela tertutup rapat—tapi seperti ditelan oleh sesuatu yang tak terlihat. Kegelapan menyelimuti ruangan sepenuhnya. Lalu, suhu ruangan turun drastis. Napas Seraphina mengepul putih di udara yang tiba-tiba sedingin puncak musim dingin. Ia mundur dari meja, punggungnya membentur rak buku, jantungnya berdegup begitu keras hingga ia yakin bisa didengar seisi rumah. Sebuah bayangan bergerak di sudut ruangan tempat tak ada cahaya seharusnya bisa menciptakan bayangan. "Sudah tiga ratus tahun," sebuah suara berkata—dalam, tenang, dan entah bagaimana terdengar seperti sedang tersenyum meski Seraphina belum bisa melihat wajah apa pun, "sejak terakhir kali ada keturunan Aldric cukup nekat untuk membuka buku itu." Seraphina meraih apa saja yang ada di dekatnya—sebuah pemotong kertas dari perak, satu-satunya benda tajam yang tersisa di ruangan itu. "Siapa kau?" Bayangan itu melangkah maju, dan cahaya bulan dari celah tirai perlahan menyingkap sosoknya: seorang pria berjas hitam sempurna, seolah baru saja keluar dari pesta dansa alih-alih dari kegelapan itu sendiri. Matanya berwarna emas pekat, tidak seperti mata manusia mana pun yang pernah Seraphina lihat. "Namaku Vellorn," katanya, membungkuk sedikit dengan sopan santun yang terasa mengejek. "Dan aku sudah menunggu keluargamu memanggilku kembali yang ternyata lebih lama dari yang bisa kau bayangkan, Nona Aldric." Ia mengangkat satu tangan, dan di antara jarinya muncul selembar perkamen yang tak ada sebelumnya, tergulung rapi dengan pita merah darah. "Aku dengar keluargamu butuh keajaiban," lanjutnya, senyumnya melebar sedikit terlalu tajam untuk terlihat ramah. "Kebetulan sekali, aku punya satu penawaran. Tapi peringatkan aku dulu—" ia memiringkan kepala, menatap lurus ke mata Seraphina seolah bisa membaca setiap ketakutan yang mengendap di sana, "—apakah kau benar-benar ingin tahu harga yang harus kau bayar untuk menyelamatkan nama keluargamu?" Di luar, lonceng menara kota berdentang tengah malam. Dan Seraphina Aldric baru saja menyadari, terlalu terlambat, bahwa nama "Vellorn" bukanlah nama yang asing baginya. Nama itu ada di halaman terakhir arsip keluarganya, di bagian yang selalu dirobek habis setiap kali ia mencoba membacanya.Vellorn menemukannya di taman kastil dua malam kemudian, duduk sendirian di bangku batu dekat kolam yang airnya begitu tenang hingga memantulkan bintang-bintang seperti cermin kedua di bawah langit."Aku pikir kau sudah tidur," katanya, berhenti beberapa langkah dari bangku itu, seolah ragu apakah kehadirannya diinginkan atau tidak."Aku tidak bisa." Seraphina menggeser sedikit di bangku itu, memberi ruang tanpa benar-benar mengucapkan undangan. "Terlalu banyak yang harus dipikirkan sejak rumah teh itu."Vellorn duduk di sampingnya, jaraknya masih terjaga dengan hati-hati, seolah mereka berdua sudah lama sepakat pada batas tak tertulis yang tak pernah benar-benar dibicarakan. Angin malam membawa aroma bunga malam yang mekar di sepanjang tepi kolam, dan untuk beberapa saat, tak ada yang bicara sama sekali—hanya suara jangkrik yang bersahutan dan gemericik kecil air yang bergerak pelan tertiup angin."Waktu aku masih kecil," Seraphina akhirnya berkata, memecah kesunyian tanpa benar-bena
Hari-hari setelah kejadian di rumah teh berlalu dengan kewaspadaan yang tak pernah sepenuhnya mereda.Seraphina mendapati dirinya memeriksa setiap sudut ruangan sebelum benar-benar masuk, mendengarkan setiap derit lantai dengan telinga yang lebih tajam dari biasanya, dan yang paling sering, memikirkan kembali visi singkat yang ia lihat lewat liontin itu—Vellorn yang lebih muda, penuh amarah, berdiri di hadapan wanita berjubah hitam yang suaranya sama dengan wanita di rumah teh. *Cinta yang tumbuh tanpa paksaan,* Vellorn dalam visi itu telah berkata. *Itu satu-satunya jalan yang akan kupilih.*Ia tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana kalimat itu terdengar—bukan seperti seseorang yang belum pernah mencintai siapa pun, melainkan seseorang yang sudah tahu persis rasanya, dan bersumpah tidak akan pernah memaksakannya lagi pada orang lain.Malam itu, tak bisa tidur, Seraphina turun menyusuri koridor kastil yang sunyi, hanya diterangi bola-bola cahaya kecil yang melayang malas di bawah la
Vellorn tidak berbicara sepanjang perjalanan pulang.Ia duduk di seberang Seraphina dengan liontin itu tergenggam erat di tangannya—terlalu erat, hingga buku-buku jarinya memutih, seolah logam tua itu bisa saja lolos dan menghilang jika ia melonggarkan cengkeramannya barang sedetik. Matanya menatap ke luar jendela, tapi Seraphina tahu ia tidak benar-benar melihat kota yang berlalu di sana. Ia sedang melihat sesuatu yang jauh lebih tua dari pemandangan pagi itu."Vellorn." Seraphina akhirnya memecah kesunyian saat kereta memasuki gerbang kastil. "Kau belum menjawabku. Siapa Ottilie?"Ia tidak menjawab sampai mereka berdua kembali duduk di ruang kerja pribadinya—ruangan sederhana yang semalam ia perlihatkan untuk pertama kali dalam tiga abad, tempat cangkir teh pecah yang direkatkan kembali masih berdiri di raknya, saksi bisu atas apa pun yang pernah terjadi di sana jauh sebelum Seraphina lahir."Ottilie Vane," katanya akhirnya, meletakkan liontin itu di atas meja dengan hati-hati, seol
Alamat di kertas itu membawa mereka ke sebuah rumah teh kecil di sudut kota, jauh dari keramaian jalan utama, dengan jendela-jendela berkaca buram yang tak memperlihatkan apa pun dari luar—hanya bayangan kabur cahaya lilin yang menyala di dalamnya, seolah sengaja disembunyikan dari mata siapa pun yang lewat.Vellorn berhenti tepat sebelum pintu, tangannya menahan lengan Seraphina sejenak. "Aku akan menunggu di seberang jalan," katanya, meski jelas dari nada suaranya betapa berat keputusan itu baginya, betapa setiap kata itu keluar seperti dipaksakan melewati tenggorokan yang menolak mengucapkannya. "Cukup dekat untuk merasakan brosmu jika terjadi sesuatu. Tapi—""Tapi kita sepakat aku masuk sendiri." Seraphina menyelesaikan kalimatnya, menatap mata emas Vellorn yang menyala redup di bawah cahaya pagi yang masih suram, belum sepenuhnya lepas dari kabut semalam. "Aku akan baik-baik saja.""Kau tidak tahu itu.""Kau juga tidak." Ia mencoba tersenyum, meski jantungnya berdegup terlalu ker
Kereta kuda hitam bergerak melewati jalanan kota yang masih basah oleh embun pagi, roda-rodanya berderak pelan di atas batu jalan yang belum sepenuhnya terjaga dari kabut semalam. Seraphina duduk di seberang Vellorn, jari-jarinya sesekali menyentuh bros bulan sabit yang kini terpasang di dada gaunnya, tersembunyi di balik lipatan kain agar tak terlihat mencolok."Kau gugup," kata Vellorn, memecah keheningan yang sudah berlangsung sejak sepuluh menit terakhir."Aku sedang menuju pertemuan dengan seseorang yang mengaku keturunan penyihir yang mengurungmu selama tiga ratus tahun, di tempat yang bahkan kita berdua tidak pernah dengar namanya sebelum kemarin." Seraphina menatapnya datar. "Tentu saja aku gugup."Sudut bibir Vellorn tertarik sedikit, hampir seperti senyum yang tak sepenuhnya ia izinkan muncul. "Kupikir kau akan bilang sesuatu yang lebih berani, Nona Aldric.""Aku bisa gugup dan berani di waktu yang sama." Ia melirik ke luar jendela kereta, memperhatikan bangunan-bangunan kot
"Mereka tahu aku akan punya waktu untuk bersiap jika jadwalnya tetap tiga hari lagi," kata Vellorn, masih menatap kertas itu seolah bisa memaksa tinta hitamnya mengaku siapa penulisnya. "Memajukannya jadi besok pagi bukan kebetulan, Seraphina. Itu perhitungan.""Perhitungan untuk apa?""Untuk memastikan aku tidak sempat menyiapkan pertahanan apa pun." Ia akhirnya mendongak, dan cahaya lilin di ruangan itu memantul di matanya dengan cara yang membuatnya tampak lebih tua dari wajahnya yang nyaris tak berubah selama tiga abad. "Siapa pun yang mengatur ini, mereka tidak ingin *aku* yang siap. Kertas itu ditujukan padamu, bukan padaku. *Datanglah sendiri.* Mereka ingin bicara denganmu, bukan denganku."Kata-kata itu menggantung di udara lebih lama dari yang seharusnya."Kalau begitu aku akan pergi," katanya akhirnya."Tidak sendirian.""Kertas itu bilang—""Aku tidak peduli apa kata kertas itu." Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, suara Vellorn naik, cukup keras hingga lilin-lilin







