Home / Romansa / Istri sang Iblis / 5. Separuh Kebenaran

Share

5. Separuh Kebenaran

Author: Giamelia
last update publish date: 2026-08-02 01:42:57

Tangan Vellorn masih melayang di udara, sejengkal dari pipinya, ketika Seraphina memutuskan bahwa ia tidak akan membiarkan malam ini berakhir dengan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. "Jangan," katanya, menahan tangan itu di udara dengan telapaknya sendiri—bukan menepis, hanya menghentikan. Kulit Vellorn terasa lebih dingin dari yang ia duga, seperti menyentuh marmer yang baru saja disentuh embun malam. "Jangan sentuh aku sampai kau menjawab semua pertanyaanku. Semuanya, Vellorn. Bukan potongan-potongan yang kau anggap cukup untukku."

Rahang Vellorn mengeras. Untuk sesaat, Seraphina pikir ia akan menarik tangannya dan pergi seperti biasa—menghindar di balik topeng dingin yang selalu menjadi perisainya. Tapi kali ini, entah karena lukisan Isolde yang masih menatap mereka berdua dari dinding, atau karena sesuatu di matanya sendiri yang menolak untuk berbohong lagi malam ini, ia justru menghela napas panjang dan duduk di bangku kayu tua dekat jendela galeri.

"Duduklah," katanya. "Ini bukan cerita yang pantas didengar sambil berdiri."

Seraphina duduk di seberangnya, cahaya bulan dari jendela galeri menerangi separuh wajah Vellorn dan menyisakan separuh lainnya dalam bayangan—seolah bahkan cahaya pun tak bisa memutuskan seberapa banyak ia boleh melihat pria ini.

"Ramalan itu," Vellorn memulai, suaranya lebih pelan dari biasanya, "diucapkan oleh penyihir yang mengurungku tiga ratus tahun lalu, sesaat sebelum aku dijebloskan ke dalam segel yang menahanku selama itu. Ia bilang, suatu hari kelak, wajah Isolde akan terlahir kembali dalam diri seorang keturunan Aldric—dan pertemuan kami yang kedua akan menentukan akhir dari kutukanku selamanya."

"Dua kemungkinan akhir," Seraphina mengulang kata-kata yang sama yang terus berputar di kepalanya sejak lukisan itu ia lihat. "Kau bilang tadi ada dua. Mematahkan kutukan, atau menyempurnakannya. Apa artinya 'menyempurnakan'?"

Vellorn diam cukup lama hingga Seraphina hampir mengulang pertanyaannya. "Kutukanku bukan sekadar pengurungan," katanya akhirnya. "Ia adalah proses yang belum selesai. Penyihir itu tidak hanya memenjarakanku—ia mengikat sebagian besar kekuatanku ke dalam sesuatu yang disebut sebagai 'jangkar darah'. Selama tiga abad, jangkar itu perlahan mengering, menyerap sedikit demi sedikit dari apa pun—atau siapa pun—yang terhubung dengannya."

"Dan aku terhubung dengannya karena aku keturunan Aldric."

"Karena kau lebih dari sekadar keturunan Aldric." Vellorn menatapnya langsung, matanya menyala pelan dalam gelap seperti bara yang ditiup angin lembut. "Jangkar itu tertaut pada wajah Isolde. Setiap kali wajah itu terlahir kembali dalam garis keturunannya, jangkar itu bereaksi. Jika kutukan 'dipatahkan', aku akan kembali sepenuhnya menjadi diriku yang dulu—bebas dari segel, tapi juga kehilangan sebagian besar kekuatan yang telah lama menyatu dengan jangkar itu."

"Dan jika disempurnakan?"

Untuk pertama kalinya malam itu, Vellorn memalingkan wajah, menatap ke luar jendela alih-alih menatapnya. "Jika disempurnakan," katanya, hampir berbisik, "jangkar itu akan menyerap sepenuhnya kekuatan hidup dari wajah yang terhubung dengannya. Aku akan menjadi utuh kembali—lebih kuat dari sebelum aku dikurung. Tapi wajah itu..." ia berhenti, rahangnya bergerak seolah kata-kata berikutnya terlalu berat untuk diucapkan, "...tidak akan bertahan hidup untuk melihatnya."

Ruangan galeri itu tiba-tiba terasa lebih dingin dari sebelumnya. Seraphina merasakan detak jantungnya sendiri berdegup di telinganya, keras dan cepat. "Kau bilang aku bisa mati," katanya pelan, "hanya dengan berdiri di sampingmu terlalu lama sebagai bagian dari ramalan ini."

"Aku bilang itu salah satu kemungkinan." Vellorn kembali menatapnya, dan kali ini ada sesuatu yang mendesak dalam suaranya, hampir seperti permohonan. "Bukan takdir yang pasti, Seraphina. Ramalan bukan hukum alam—ia hanya kemungkinan yang belum ditentukan siapa pun."

"Lalu kenapa kau menikahiku?" Suara Seraphina naik, campuran antara marah dan takut yang tak lagi bisa ia sembunyikan. "Kalau kau tahu ada kemungkinan aku bisa mati hanya karena berada di sisimu, kenapa kau tetap membawa kontrak itu padaku malam itu?"

Vellorn tidak langsung menjawab. Ia bangkit dari bangkunya, berjalan ke jendela, punggungnya menghadap Seraphina—seolah lebih mudah mengucapkan kejujuran tanpa harus melihat wajahnya. "Karena aku sudah menunggu tiga ratus tahun," katanya akhirnya, "dan aku tidak yakin aku cukup kuat untuk terus menunggu tanpa mencoba sekali lagi. Itu egois. Aku tahu itu egois, Seraphina. Tapi itu jawaban paling jujur yang bisa kuberikan padamu malam ini."

Seraphina menatap punggung tegapnya dalam diam, mencoba mencerna semua yang baru saja ia dengar—kutukan, jangkar darah, dua kemungkinan yang salah satunya mengancam nyawanya sendiri, dan seorang pria yang telah menunggu selama tiga abad hanya untuk sekali lagi mempertaruhkan seseorang yang mirip dengan wanita yang pernah ia cintai dan kehilangan.

"Ada yang belum kau ceritakan," katanya pelan, bukan pertanyaan kali ini, melainkan pernyataan yang lahir dari nalurinya sendiri. "Aku bisa merasakannya, Vellorn. Kau masih menahan sesuatu."

Bahu Vellorn menegang sedikit—cukup kecil hingga hampir tak terlihat, tapi Seraphina sudah cukup lama mengamatinya untuk tahu itu bukan kebetulan.

"Ada beberapa hal," katanya perlahan, masih tak berbalik menghadapnya, "yang bahkan aku sendiri belum sepenuhnya mengerti. Ramalan itu memiliki syarat-syarat lain—waktu, tempat, kondisi tertentu yang harus terpenuhi sebelum salah satu dari dua kemungkinan itu bisa terjadi. Aku telah menghabiskan tiga abad mempelajarinya, dan masih ada bagian yang tersembunyi dariku."

"Tersembunyi bagaimana?"

"Sebagian dari ramalan itu ditulis dalam bahasa yang bahkan aku tak bisa membacanya sepenuhnya," Vellorn akhirnya berbalik, ekspresinya kembali dikendalikan, meski matanya masih menyimpan sesuatu yang tak sepenuhnya tertutup. "Hanya keturunan langsung dari penyihir yang mengurungku yang bisa membaca teks lengkapnya. Dan penyihir itu... tidak pernah punya keturunan yang diketahui."

Ia berhenti sejenak, seolah mempertimbangkan apakah akan melanjutkan kalimat berikutnya.

"Sampai malam ini," lanjutnya, "ketika salah satu tamu pesta istana mengirimkan pesan kepadaku lewat pelayanku sendiri. Seseorang yang mengaku sebagai keturunan penyihir itu, menawarkan untuk menerjemahkan sisa ramalan itu untukku—dengan bayaran yang belum ia sebutkan."

Seraphina merasakan sesuatu yang dingin merayap di tengkuknya. "Kau akan menerimanya?"

Vellorn menatapnya lama sebelum menjawab, dan untuk pertama kalinya malam itu, Seraphina melihat sesuatu yang jarang muncul di wajahnya—keraguan yang nyata, bukan sekadar topeng yang diperhitungkan.

"Aku sudah menerimanya sebelum aku sempat memikirkan konsekuensinya," katanya akhirnya. "Pertemuan pertama sudah dijadwalkan. Tiga hari dari sekarang, di tempat yang bahkan aku sendiri belum pernah dengar namanya sebelumnya."

Ia mengeluarkan secarik kertas dari balik jasnya—undangan yang ditulis dengan tinta yang berubah warna setiap kali cahaya bulan menyentuhnya, dan di bagian bawahnya, sebuah nama yang membuat Seraphina merasakan darahnya seketika membeku.

Karena nama itu, ditulis dengan huruf yang sama persis dengan tulisan tangan di halaman terakhir arsip keluarganya sendiri—halaman yang selalu robek setiap kali ia mencoba membacanya sejak kecil.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Istri sang Iblis    13. MALAM TANPA KATA

    Vellorn menemukannya di taman kastil dua malam kemudian, duduk sendirian di bangku batu dekat kolam yang airnya begitu tenang hingga memantulkan bintang-bintang seperti cermin kedua di bawah langit."Aku pikir kau sudah tidur," katanya, berhenti beberapa langkah dari bangku itu, seolah ragu apakah kehadirannya diinginkan atau tidak."Aku tidak bisa." Seraphina menggeser sedikit di bangku itu, memberi ruang tanpa benar-benar mengucapkan undangan. "Terlalu banyak yang harus dipikirkan sejak rumah teh itu."Vellorn duduk di sampingnya, jaraknya masih terjaga dengan hati-hati, seolah mereka berdua sudah lama sepakat pada batas tak tertulis yang tak pernah benar-benar dibicarakan. Angin malam membawa aroma bunga malam yang mekar di sepanjang tepi kolam, dan untuk beberapa saat, tak ada yang bicara sama sekali—hanya suara jangkrik yang bersahutan dan gemericik kecil air yang bergerak pelan tertiup angin."Waktu aku masih kecil," Seraphina akhirnya berkata, memecah kesunyian tanpa benar-bena

  • Istri sang Iblis    KECEMBURUAN YANG TAK TERUCAP

    Hari-hari setelah kejadian di rumah teh berlalu dengan kewaspadaan yang tak pernah sepenuhnya mereda.Seraphina mendapati dirinya memeriksa setiap sudut ruangan sebelum benar-benar masuk, mendengarkan setiap derit lantai dengan telinga yang lebih tajam dari biasanya, dan yang paling sering, memikirkan kembali visi singkat yang ia lihat lewat liontin itu—Vellorn yang lebih muda, penuh amarah, berdiri di hadapan wanita berjubah hitam yang suaranya sama dengan wanita di rumah teh. *Cinta yang tumbuh tanpa paksaan,* Vellorn dalam visi itu telah berkata. *Itu satu-satunya jalan yang akan kupilih.*Ia tidak bisa berhenti memikirkan bagaimana kalimat itu terdengar—bukan seperti seseorang yang belum pernah mencintai siapa pun, melainkan seseorang yang sudah tahu persis rasanya, dan bersumpah tidak akan pernah memaksakannya lagi pada orang lain.Malam itu, tak bisa tidur, Seraphina turun menyusuri koridor kastil yang sunyi, hanya diterangi bola-bola cahaya kecil yang melayang malas di bawah la

  • Istri sang Iblis    11. BENDA YANG BERCERITA

    Vellorn tidak berbicara sepanjang perjalanan pulang.Ia duduk di seberang Seraphina dengan liontin itu tergenggam erat di tangannya—terlalu erat, hingga buku-buku jarinya memutih, seolah logam tua itu bisa saja lolos dan menghilang jika ia melonggarkan cengkeramannya barang sedetik. Matanya menatap ke luar jendela, tapi Seraphina tahu ia tidak benar-benar melihat kota yang berlalu di sana. Ia sedang melihat sesuatu yang jauh lebih tua dari pemandangan pagi itu."Vellorn." Seraphina akhirnya memecah kesunyian saat kereta memasuki gerbang kastil. "Kau belum menjawabku. Siapa Ottilie?"Ia tidak menjawab sampai mereka berdua kembali duduk di ruang kerja pribadinya—ruangan sederhana yang semalam ia perlihatkan untuk pertama kali dalam tiga abad, tempat cangkir teh pecah yang direkatkan kembali masih berdiri di raknya, saksi bisu atas apa pun yang pernah terjadi di sana jauh sebelum Seraphina lahir."Ottilie Vane," katanya akhirnya, meletakkan liontin itu di atas meja dengan hati-hati, seol

  • Istri sang Iblis    10. PENERJEMAH YANG TIDAK DITEMUKAN

    Alamat di kertas itu membawa mereka ke sebuah rumah teh kecil di sudut kota, jauh dari keramaian jalan utama, dengan jendela-jendela berkaca buram yang tak memperlihatkan apa pun dari luar—hanya bayangan kabur cahaya lilin yang menyala di dalamnya, seolah sengaja disembunyikan dari mata siapa pun yang lewat.Vellorn berhenti tepat sebelum pintu, tangannya menahan lengan Seraphina sejenak. "Aku akan menunggu di seberang jalan," katanya, meski jelas dari nada suaranya betapa berat keputusan itu baginya, betapa setiap kata itu keluar seperti dipaksakan melewati tenggorokan yang menolak mengucapkannya. "Cukup dekat untuk merasakan brosmu jika terjadi sesuatu. Tapi—""Tapi kita sepakat aku masuk sendiri." Seraphina menyelesaikan kalimatnya, menatap mata emas Vellorn yang menyala redup di bawah cahaya pagi yang masih suram, belum sepenuhnya lepas dari kabut semalam. "Aku akan baik-baik saja.""Kau tidak tahu itu.""Kau juga tidak." Ia mencoba tersenyum, meski jantungnya berdegup terlalu ker

  • Istri sang Iblis    9. PERJALANAN YANG DIAWASI

    Kereta kuda hitam bergerak melewati jalanan kota yang masih basah oleh embun pagi, roda-rodanya berderak pelan di atas batu jalan yang belum sepenuhnya terjaga dari kabut semalam. Seraphina duduk di seberang Vellorn, jari-jarinya sesekali menyentuh bros bulan sabit yang kini terpasang di dada gaunnya, tersembunyi di balik lipatan kain agar tak terlihat mencolok."Kau gugup," kata Vellorn, memecah keheningan yang sudah berlangsung sejak sepuluh menit terakhir."Aku sedang menuju pertemuan dengan seseorang yang mengaku keturunan penyihir yang mengurungmu selama tiga ratus tahun, di tempat yang bahkan kita berdua tidak pernah dengar namanya sebelum kemarin." Seraphina menatapnya datar. "Tentu saja aku gugup."Sudut bibir Vellorn tertarik sedikit, hampir seperti senyum yang tak sepenuhnya ia izinkan muncul. "Kupikir kau akan bilang sesuatu yang lebih berani, Nona Aldric.""Aku bisa gugup dan berani di waktu yang sama." Ia melirik ke luar jendela kereta, memperhatikan bangunan-bangunan kot

  • Istri sang Iblis    8. BERGEGAS TANPA BERTANYA

    "Mereka tahu aku akan punya waktu untuk bersiap jika jadwalnya tetap tiga hari lagi," kata Vellorn, masih menatap kertas itu seolah bisa memaksa tinta hitamnya mengaku siapa penulisnya. "Memajukannya jadi besok pagi bukan kebetulan, Seraphina. Itu perhitungan.""Perhitungan untuk apa?""Untuk memastikan aku tidak sempat menyiapkan pertahanan apa pun." Ia akhirnya mendongak, dan cahaya lilin di ruangan itu memantul di matanya dengan cara yang membuatnya tampak lebih tua dari wajahnya yang nyaris tak berubah selama tiga abad. "Siapa pun yang mengatur ini, mereka tidak ingin *aku* yang siap. Kertas itu ditujukan padamu, bukan padaku. *Datanglah sendiri.* Mereka ingin bicara denganmu, bukan denganku."Kata-kata itu menggantung di udara lebih lama dari yang seharusnya."Kalau begitu aku akan pergi," katanya akhirnya."Tidak sendirian.""Kertas itu bilang—""Aku tidak peduli apa kata kertas itu." Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, suara Vellorn naik, cukup keras hingga lilin-lilin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status