ホーム / Romansa / Istri sang Iblis / 6. Debu yang Menyimpan Kebenaran

共有

6. Debu yang Menyimpan Kebenaran

作者: Giamelia
last update 公開日: 2026-08-02 01:47:42

Buku itu menggigit jarinya sebelum ia sempat membuka sampulnya. Seraphina menarik tangan cepat, mengisap luka kecil di ujung jari telunjuknya—setipis sayatan kertas, tapi cukup untuk membuatnya melompat mundur dari rak arsip yang tersembunyi di ruang bawah tanah kastil.

Setetes darahnya jatuh ke lantai batu, dan buku berjilid kulit gelap di hadapannya bergetar sekali, seolah baru saja mengenali sesuatu dalam darah itu.

Ia sudah menyelinap ke ruang bawah tanah sejak Vellorn berangkat pagi ini, mengurus "persiapan" untuk pertemuan tiga hari lagi—pertemuan dengan nama misterius yang tulisan tangannya masih terus terngiang di kepala Seraphina, sama persis dengan halaman robek di arsip keluarganya sendiri. Ia tidak akan lagi menunggu Vellorn memutuskan sendiri apa yang boleh dan tidak boleh ia ketahui.

Ruangan ini penuh rak-rak berdebu yang menjulang hingga langit-langit, diterangi bola-bola cahaya kecil yang melayang sendiri tanpa sumbu, seolah kastil ini punya caranya sendiri untuk memastikan siapa pun yang datang ke sini tidak akan pernah benar-benar berjalan dalam gelap total—hanya cukup terang untuk membaca, tidak cukup terang untuk merasa aman.

Ia mengambil sapu tangan dari saku gaunnya, membungkus jarinya yang terluka, lalu membuka buku itu dengan hati-hati menggunakan ujung sapu tangan yang sama, menghindari kontak langsung.

Halaman-halamannya penuh diagram yang mirip dengan yang pernah ia lihat di buku terlarang milik neneknya—lingkaran-lingkaran bersarang, simbol-simbol yang berubah bentuk perlahan saat matanya berpindah dari satu baris ke baris lain. Tapi kali ini, ada sesuatu yang berbeda: catatan pinggir, ditulis tangan, dalam bahasa yang lebih modern, seolah seseorang pernah duduk di ruangan ini bertahun-tahun lalu dan mencoba menerjemahkan sebagian teks kuno itu untuk dirinya sendiri.

Jangkar darah bereaksi pada dua kondisi utama, tulisan itu berbunyi, tintanya sudah memudar kecokelatan. Pertama: penyatuan sukarela — cinta yang tumbuh secara alami antara si terkutuk dan wajah yang terlahir kembali. Ini membuka jalan pematahan kutukan, tapi menuntut pengorbanan kekuatan yang setara dari kedua belah pihak. Kedua: penyatuan paksa — ritual yang memaksa jangkar menyerap penuh kehidupan si wajah terlahir kembali sebelum cinta sempat tumbuh secara alami. Inilah yang disebut penyempurnaan. Cepat, brutal, dan tidak dapat dibatalkan begitu dimulai.

Seraphina membaca ulang kalimat itu tiga kali. Vellorn benar soal dua kemungkinan itu. Tapi ada satu detail yang tak pernah ia sebutkan—detail yang membuat jantung Seraphina berdegup lebih cepat dari sebelumnya. Penyatuan paksa tidak memerlukan persetujuan si terkutuk.

Artinya, siapa pun yang cukup kuat dan cukup tahu caranya, bisa memaksa ritual itu terjadi—dengan atau tanpa keinginan Vellorn sendiri. Ancamannya bukan hanya soal Seraphina yang mungkin mati karena cintanya yang tulus pada Vellorn. Ancamannya adalah siapa pun bisa merenggut nyawanya secara paksa, kapan saja, tanpa peduli apa yang Vellorn atau ia sendiri inginkan.

Ia membalik halaman berikutnya, mencari lebih banyak catatan pinggir yang sama. Tapi halaman setelahnya kosong—bukan karena tak pernah ditulis, melainkan karena seseorang telah merobeknya dengan sengaja, meninggalkan sisa-sisa kertas compang-camping di lipatan buku, persis seperti halaman terakhir arsip keluarganya sendiri di rumah lama.

Robekan yang sama. Tangan yang sama. Seraphina merasakan tengkuknya meremang. Siapa pun yang merobek halaman ini di kastil Vellorn adalah orang yang sama yang merobek arsip keluarga Aldric bertahun-tahun lalu—atau setidaknya seseorang yang bekerja dengan tujuan yang identik. Dan jika begitu, orang itu tahu persis apa yang sedang ia coba pelajari sekarang, mungkin sudah tahu jauh sebelum Seraphina lahir.

Ia menutup buku itu perlahan, pikirannya berpacu mencari nama-nama yang mungkin memiliki akses ke kedua tempat itu—kastil Vellorn dan rumah keluarganya sendiri, dua lokasi yang seharusnya tak pernah bersinggungan sebelum pernikahan mereka.

Suara langkah kaki di tangga ruang bawah tanah membuatnya membeku. Bukan langkah Vellorn—terlalu ringan, terlalu tergesa, dan diiringi bunyi kain yang berkibas seperti seseorang yang mengenakan jubah alih-alih jas formal. Seraphina cepat-cepat memasukkan buku itu kembali ke rak, menyembunyikan diri di balik salah satu rak besar saat bayangan sosok itu turun semakin dekat ke ruang bawah tanah, membawa lentera kecil yang nyalanya berwarna hijau pucat—warna yang tak pernah Seraphina lihat pada api mana pun sebelumnya.

Sosok itu berhenti tepat di depan rak tempat buku bergigit itu tersimpan, seolah tahu persis apa yang baru saja disentuh Seraphina, dan berbisik pada dirinya sendiri dalam bahasa yang sama sekali asing—kecuali satu kata yang keluar jelas di antara gumaman itu, kata yang membuat Seraphina hampir lupa cara bernapas.

"Aldric."

Seraphina menahan diri sekuat tenaga untuk tidak bergerak, jantungnya berdegup begitu keras hingga ia yakin sosok di depan rak itu bisa mendengarnya dari jarak sedekat ini—dan di balik bayangan rak buku, dalam cahaya hijau pucat yang mulai merambat ke arah tempat persembunyiannya, ia baru menyadari bahwa lentera itu bukan sedang diarahkan sembarangan. Lentera itu sedang mencarinya.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Istri sang Iblis    KERTAS YANG DITINGGALKAN

    Cahaya hijau itu berhenti tiga langkah dari rak tempatnya bersembunyi.Seraphina menahan napas sampai dadanya terasa seperti akan pecah. Ia bisa mendengar kain jubah berkibas pelan di balik deretan buku, langkah yang ragu-ragu—bukan langkah seseorang yang yakin mangsanya sudah terpojok, melainkan langkah seseorang yang justru sedang menimbang, apakah harus mendekat atau mundur."Aku tahu kau ada di sana," bisikan itu terdengar, lembut, hampir seperti permintaan maaf, dalam bahasa yang sama sekali berbeda dari gumaman asing tadi. "Aku tidak datang untuk menyakitimu, Nona Aldric."Seraphina tidak menjawab. Tangannya mencengkeram tepi rak begitu erat hingga buku-buku bergetar, dan sapu tangan yang masih membalut jarinya yang terluka basah oleh keringat dingin."Kau akan menemukan ini berguna," sosok itu melanjutkan, dan cahaya hijau bergeser—bukan mendekat, melainkan menjauh, merambat ke arah meja baca tua di tengah ruangan. Sesuatu diletakkan di sana, ringan, nyaris tanpa suara. "Sebelu

  • Istri sang Iblis    6. Debu yang Menyimpan Kebenaran

    Buku itu menggigit jarinya sebelum ia sempat membuka sampulnya. Seraphina menarik tangan cepat, mengisap luka kecil di ujung jari telunjuknya—setipis sayatan kertas, tapi cukup untuk membuatnya melompat mundur dari rak arsip yang tersembunyi di ruang bawah tanah kastil. Setetes darahnya jatuh ke lantai batu, dan buku berjilid kulit gelap di hadapannya bergetar sekali, seolah baru saja mengenali sesuatu dalam darah itu. Ia sudah menyelinap ke ruang bawah tanah sejak Vellorn berangkat pagi ini, mengurus "persiapan" untuk pertemuan tiga hari lagi—pertemuan dengan nama misterius yang tulisan tangannya masih terus terngiang di kepala Seraphina, sama persis dengan halaman robek di arsip keluarganya sendiri. Ia tidak akan lagi menunggu Vellorn memutuskan sendiri apa yang boleh dan tidak boleh ia ketahui. Ruangan ini penuh rak-rak berdebu yang menjulang hingga langit-langit, diterangi bola-bola cahaya kecil yang melayang sendiri tanpa sumbu, seolah kastil ini punya caranya sendiri untuk m

  • Istri sang Iblis    5. Separuh Kebenaran

    Tangan Vellorn masih melayang di udara, sejengkal dari pipinya, ketika Seraphina memutuskan bahwa ia tidak akan membiarkan malam ini berakhir dengan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. "Jangan," katanya, menahan tangan itu di udara dengan telapaknya sendiri—bukan menepis, hanya menghentikan. Kulit Vellorn terasa lebih dingin dari yang ia duga, seperti menyentuh marmer yang baru saja disentuh embun malam. "Jangan sentuh aku sampai kau menjawab semua pertanyaanku. Semuanya, Vellorn. Bukan potongan-potongan yang kau anggap cukup untukku."Rahang Vellorn mengeras. Untuk sesaat, Seraphina pikir ia akan menarik tangannya dan pergi seperti biasa—menghindar di balik topeng dingin yang selalu menjadi perisainya. Tapi kali ini, entah karena lukisan Isolde yang masih menatap mereka berdua dari dinding, atau karena sesuatu di matanya sendiri yang menolak untuk berbohong lagi malam ini, ia justru menghela napas panjang dan duduk di bangku kayu tua dekat jendela galeri."Duduklah," katanya. "

  • Istri sang Iblis    4. Wajah di Balik Kanvas

    Gelas anggur pecah di lantai marmer, dan seluruh ruangan menoleh ke arah Seraphina seolah dialah yang menjatuhkannya. "Maaf," desis seorang wanita tua berkalung berlian, mundur seolah baru saja menyentuh sesuatu yang menjijikkan, meski jelas dialah yang menyenggol gelas dari tangan Seraphina. "Aku hanya... terkejut. Kupikir kau akan tampak lebih—" ia menjeda, matanya menyapu gaun Seraphina dari atas ke bawah, "—layak untuk berdiri di aula ini." Tawa kecil tersebar di sekelilingnya, tertahan di balik kipas-kipas sutra. Seraphina merasakan panas menjalar ke wajahnya, tapi ia sudah berlatih seumur hidup untuk tidak membiarkan itu terlihat. Ia menegakkan dagunya, tersenyum tipis, dan membungkuk sopan seolah baru saja menerima pujian, bukan hinaan. "Terima kasih atas perhatiannya, Nyonya Renfield. Aku akan mengingatnya." Ia melangkah pergi sebelum wanita itu sempat membalas, jantungnya berdebar keras di balik topeng tenangnya. Aula istana malam itu dipenuhi ratusan bangsawan yang datan

  • Istri sang Iblis    3. Pintu yang Tak Boleh Dibuka

    Rantai itu tahu namanya. Seraphina berdiri tiga langkah dari pintu besi yang terkunci berlapis, dan ia bersumpah—logam itu baru saja membisikkan "Aldric."Ia sudah berdiri di sana sejak subuh, saat kastil masih sunyi dan para pelayan bayangan—makhluk-makhluk yang bergerak tanpa suara membersihkan kastil tanpa pernah terlihat jelas wujudnya—belum memulai rutinitas mereka. Lilin di dinding koridor ini menyala lebih redup dibanding bagian kastil lainnya, seolah cahaya sendiri enggan mendekat.Simbol di atas rantai itu sama persis dengan lukisan wanita di sayap barat yang ia lihat sekilas malam pertama. Sama persis dengan bekas lambang yang pernah ia lihat di halaman terakhir arsip keluarganya—halaman yang selalu robek setiap kali ia mencoba membacanya sejak kecil. Tangannya terulur, hendak menyentuh salah satu rantai—"Aku akan menyarankan agar kau tidak melakukan itu."Seraphina tersentak, menarik tangannya cepat. Vellorn berdiri di ujung koridor, masih mengenakan pakaian tidurnya—kemej

  • Istri sang Iblis    2. Tinta yang Tak Bisa Dihapus

    "Kau tidak bertanya jenis ikatan apa," kata Vellorn, dan di situlah Seraphina sadar—terlambat—bahwa ia baru saja menjual lebih dari sekadar nama keluarganya.Tanda tangan itu belum kering ketika Seraphina menyadari ia baru saja menjual sesuatu yang tak pernah ia hitung nilainya. Perkamen di atas meja bergetar pelan, seolah hidup, seolah baru saja menelan sesuatu. Garis-garis merah yang tadinya membentuk namanya kini merembes ke dalam serat kertas, menghilang seperti darah diserap tanah kering. Seraphina menatap jarinya sendiri—luka kecil di ujung jari manis yang ia buat dengan pemotong kertas perak, kini sudah menutup sempurna. Tak ada bekas. Seolah tak pernah terjadi. Namun, sesuatu di dadanya terasa berbeda. Lebih berat. Lebih... terikat."Selamat," kata Vellorn, menggulung perkamen itu dengan gerakan yang terlalu anggun untuk seseorang yang baru saja membeli hidup orang lain. "Kau baru saja menjadi wanita paling kaya sekaligus paling dibenci di kota ini, dalam satu malam yang sama

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status