LOGINAira masih membeku, sangat terkejut dengan kedatangan Sarah dan Nia. “Kedatangan kami pasti mengejutkan kamu, ya?” tanya Mia yang melihat Aira tak beranjak, wajahnya jelas menunjukkan keterkejutan saat menatap mereka.Aira tersadar. Wanita itu segera melangkah mendekat kepada kedua Nenek Gavin untuk menyambut kedatangan mereka.“A-Aku hanya merasa bosan dan ingin menelpon Gavin tadi. Kenapa Nenek tidak memberi tahuku ingin ke sini? Jadi aku bisa mempersiapkan camilan untuk kalian,” kata Aira mencoba bersikap biasa.Mia tersenyum. “Tidak perlu repot. Kami ke sini sengaja tidak memberi tahu, karena kami tahu kamu pasti akan repot-repot dan malah membuatmu kelelahan. Kamu harus menjaga janinmu, jangan sampai stres apalagi kecapekan,” kata Mia dengan senyum ramah. Wanita itu persis seperti Elvand, selalu menebar kebaikan.Aira meremas jarinya, merasa gugup saat melihat wajah datar Sarah. Wanita dingin itu seakan tak tersentuh. Matanya menyapu ke segala arah, seolah mencari kesalahan Aira
Aira duduk diam di ruang makan bersama Mbok Inah, namun pikirannya sama sekali tak berada di sana. Semangkuk sereal dan beberapa potong kue tersaji rapi di hadapannya, nyaris tak tersentuh.Wanita itu menggigit ujung jarinya tanpa sadar, kebiasaan lama yang muncul setiap kali gelisah. Sambil menunduk, ia menelusuri satu per satu media sosial milik Lyra. Jemarinya bergerak cepat, matanya tajam menyisir setiap foto, setiap caption, setiap komentar.Tak ada yang janggal Tentang Lyra.Tentang lelaki misterius bertopeng itu.Semua lini masa Lyra dipenuhi potret kebersamaannya dengan Gavin. Tawa mereka tampak tulus. Sentuhan mereka terlihat hangat. Dalam beberapa foto, Lyra bahkan menatap Gavin dengan sorot mata penuh cinta cinta yang tak dibuat-buat.Lalu kenapa Lyra berselingkuh?Dari segi apa pun, Gavin tak pernah kurang. Kekayaannya mapan, masa depannya terjamin. Bahkan jika mereka menikah hingga tujuh turunan, keluarga itu tetap akan hidup bergelimang harta. Garis keturunan mereka kuat
Cuaca pagi tampak cerah hari ini. Jam dinding menunjukkan pukul delapan, namun Gavin masih terlelap dalam tidurnya. Berbeda dengan Aira yang berada dalam pelukan lelaki itu. Rasa mual perlahan menguar, membuat tubuhnya terasa tidak nyaman. Posisi miring yang terlalu lama, ditambah dekapan Gavin yang erat seolah ia adalah guling, membuat penat di tubuh Aira semakin terasa.Dengan gerakan sangat hati-hati, Aira menyingkirkan tangan Gavin saat rasa mual itu kian menjadi. Ia turun dari ranjang dan melangkah cepat menuju kamar mandi tanpa sempat mengenakan apa pun di tubuhnya.Perutnya terasa seperti diremas dan diaduk bersamaan. Begitu tiba di kamar mandi, Aira langsung memuntahkan isi perutnya.Rasa mual itu begitu menyiksa hingga membuat tenaga Aira nyaris terkuras habis.Morning sickness masih sering ia alami setiap pagi. Meski setelah memuntahkannya ada sedikit rasa lega, tubuh Aira tetap terasa lemas dan tak berdaya.Aira terduduk di atas lantai keramik kamar mandi yang dingin. Napa
Lidah Gavin kembali berkelana di leher Aira, turun perlahan dengan sentuhan yang semakin dalam dan liar dalam cara yang membuat napas Aira tersendat. Erangan demi erangan yang lolos dari bibir Aira justru semakin membakar hasrat gila Gavin. Dengan gerakan mantap, Gavin mengambil posisi di atasnya, tubuhnya menunduk untuk merengkuh Aira sepenuhnya. Jantung Gavin berdebar kacau, tarikan napasnya berat saat ia menatap mata Aira mata yang terlihat mendamba, seakan memanggil dirinya tanpa suara. Detik berikutnya, Gavin menyatukan tubuhnya dengan tubuh Aira dalam satu gerakan penuh, membuat dunia seolah berhenti berputar bagi keduanya. Tubuh Aira menggeliat hebat, napasnya tersendat disertai desahan yang terdengar seperti campuran antara kaget dan kesakitan. Rasa perih yang menghentak membuatnya menggigit bibir kuat-kuat, mencoba menahan diri agar tak kehilangan kendali. Tangannya meremas seprai, jemarinya bergetar saat sensasi itu menyebar dari pusat tubuhnya. Meski ini sudah ketiga
"Gavin…" panggil Gavin lagi, lelaki itu menurunkan lengan baju dress hingga kini menyibak tubuh Aira setengah badan.Jantung Aira menggila, perasaan aneh menyengat saat desiran hangat itu merayap di perutnya. Aira ikut terpancing dengan sentuhan Gavin, apalagi bayang-bayang cara lelaki itu memperlakukannya selalu muncul dan membuat dirinya sulit bernapas normal."A… apa?" jawab Aira sedikit bergetar, berusaha menahan detak jantungnya agar tak terdengar oleh Gavin."Jangan tinggalin aku," ucap Gavin lirih, begitu tulus hingga membuat napas Aira tercekat.Senyum kecil muncul di bibir Aira saat mendengar kata-kata Gavin yang seolah mengungkapkan betapa lelaki itu membutuhkannya."Aku tidak ke mana-mana, Tuan," balas Aira lembut."Jangan pergi…" kata Gavin lagi, kali ini menunduk dan menempelkan kecupan hangat di punggung Aira, naik perlahan hingga mendekati lehernya. Ada senyum tipis di wajah Gavin saat melihat kulit Aira yang memerah tersentuh belaian itu tanda yang hanya dimiliki istri
"Sayang …," racau Gavin yang masih sulit mengendalikan diri karena pengaruh alkohol.Gavin bangkit, melepas jas dan kemeja hitamnya lalu melemparkannya ke sembarang tempat seakan tubuhnya merasa terbakar. Kini ia bertelanjang dada.Ia kembali merebah, meringis kecil. Pusing yang menghantam kepalanya masih sangat kuat.Mendengar ringisan itu, Aira mendekat. Namun begitu ia berada di sisi tempat tidur, Gavin justru meraih tangannya, menariknya untuk ikut rebahan dan masuk ke pelukannya. Lelaki itu memeluk Aira seperti memeluk guling, menenggelamkan wajahnya di dada sang istri tepat di sela dua gundukan yang selalu membuatnya kehilangan kendali bahkan sesekali menciuminya secara acak."Aira Winara, aku mencintaimu," gumam Gavin, suaranya terdengar melantur. Lalu ia kembali terlelap tanpa peduli jantung Aira yang nyaris melompat keluar."Aku juga mencintaimu," bisik Aira lirih membalas pengakuan itu."Tapi apakah kamu masih akan mencintaiku kalau tahu perselingkuhan Lyraku?" tanyanya dala
"Aku akan jujur padamu, Gavin… aku pikir tadi kita sedang membicarakan ayah dari janin di kandunganku…”Suara Aira melemah di akhir kalimat. Keberaniannya yang sempat menggebu mendadak pudar ketika tatapan tajam Gavin menusuknya. Ia ingin mengaku bahwa dirinya adalah wanita dari malam yang pernah
"Aku akan membantu kamu melupakannya," ucap Mitha lembut, masih mencoba menyentuh hati Gavin. Mereka terdiam cukup lama. Suara musik DJ menggema, sementara Gavin menatap kosong ke arah gelas di tangannya. Emosi yang sedari tadi ia pendam terlihat jelas di matanya. “Mitha…” panggil Gavin perlahan
Kelopak mata Aira perlahan bergerak. Ia membuka matanya dengan susah payah, mengernyit saat rasa nyeri berdenyut di kepalanya. Tangannya terangkat, memijit pelipisnya pelan, mencoba mengurangi rasa sakit itu. Tubuhnya sedikit berguncang. Saat kesadarannya mulai pulih, barulah ia menyadari, ia berad
Ronny menatap tuannya lewat kaca spion. Hatinya terasa miris setiap kali mengingat wajah Aira yang tadi menangis sendirian di taman. Air mata wanita itu seolah masih terbayang jelas di pelupuk matanya.Namun, apa yang bisa ia lakukan? Tugasnya hanyalah mengawasi, tidak lebih. Bahkan jika Aira terl







