Share

Bab 68

Author: Mumu Mooi
last update Petsa ng paglalathala: 2026-10-24 23:55:01

“Gimana, Ra? Kamu mau berhenti?”

Tangan Amara terus saja membelai pelan rahang kokoh yang kembali berpindah tepat di atasnya. “Bodoh aku berhenti sekarang. Ini pengalaman pertama yang pastinya akan sangat berkesan untukku, Ka.”

Seringai tipis kembali terukir di wajah tampan itu. “Maka nikmatilah malam panjang ini.”

Wajah pria itu kembali turun, melahap salah satu bukit Amara yang kembali membuat wanita itu melenguh disela-sela hisapan Raka yang semakin liar. “Nggh… Ka.”

Raka terus mendorong tub
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Istriku Pergi, Bos dan Adik Ipar Berebut Memberi Kehangatan   Bab 73

    Pagi harinya setelah selesai mandi, ponsel Raka bergetar hebat di atas meja nakas kamarnya. Begitu melihat nama Bianca berkedip di layar, Raka langsung menggeser tombol hijau dengan firasat yang mulai tidak enak. "Halo, Bi? Ada apa?""Kak Raka… hiks… Kakak di mana?" Suara Bianca terdengar bergetar hebat, disusul suara tangisan yang tertahan. "Mama sama Kak Vanessa udah pulang semalam. Mereka… mereka berdua kayak orang gila, Kak!"Raka langsung bangkit dari posisi duduknya dengan rahangnya yang mengeras. "Mereka ngapain kamu, Bi? Jawab yang jelas.""Mereka marah-marah ke aku, Kak! Kak Vanessa teriak-teriak nanyain aku ngomong apa ke kak Raka, terus Mama ikut-ikutan bentak aku. Mereka bilang kalau Kak Raka itu sopir kurang ajar yang nggak tahu diri. Terus… terus Mama ancam mau ngusir aku dari rumah ini kalau sampai Kak Raka buat Kak Vanes hancur! Kak, ini kan rumah Ayah… hiks… kenapa mereka jahat banget?"Amarah di dada Raka kembali tersulut, namun kali ini ia menanggapi situasi dengan

  • Istriku Pergi, Bos dan Adik Ipar Berebut Memberi Kehangatan   Bab 72

    Malam itu, gerbang besi megah di kediaman Valerine baru saja ditutup rapat setelah mobil sedan yang membawa Amara dan Raka masuk ke area carport. Setelah seharian penuh menjalani pekerjaan yang melelahkan, Amara langsung melangkah menuju bangunan utama untuk mandi dan beristirahat.Sementara Raka memilih berjalan menuju paviliun belakang untuk mandi dan mengistirahatkan tubuhnya.Baru saja Raka selesai mandi dan memakai kaos santai rumahan, ponselnya di atas meja nakas mendadak bergetar hebat. Nama Bu Sri berkedip-kedip di layar.Raka mengernyitkan dahi lalu mengangkatnya. "Halo, Bu Sri? Ada apa?""Pak Raka! Duh, tolong ke depan gerbang utama sekarang, Pak!" suara Bu Sri terdengar panik dan berbisik dari ujung telepon. "Ada perempuan ngamuk di luar pagar. Dia teriak-teriak manggil nama Pak Raka sampai satpam kewalahan menahannya. Katanya dia istri Pak Raka!"Rahang Raka seketika mengeras. Matanya berkilat dingin. "Vanessa…" desisnya parau. "Iya, Bu Sri. Saya langsung ke depan sekarang

  • Istriku Pergi, Bos dan Adik Ipar Berebut Memberi Kehangatan   Bab 71

    Tepat pukul dua belas siang, Raka melangkah keluar dari ruangan driver di lantai bawah. Ia menaiki lift eksekutif menuju lantai teratas, menepati janjinya pada Amara.Ketika pintu lift terbuka di lantai paling atas, Raka berjalan tenang melewati meja sekretaris. Emma yang sedang merapikan beberapa dokumen langsung mendongak dan tersenyum penuh arti. "Siang, Pak Raka. Wah, tepat waktu banget ya. Bu Amara udah menunggu di dalam dari sepuluh menit yang lalu. Masuk aja, Pak, makan siangnya sudah diantarkan ke dalam.""Siang, Bu Emma. Terima kasih ya," jawab Raka ramah dan dengan dahi yang sedikit berkerut melihat senyuman aneh di wajah wanita muda itu. Tak mau berpikir lama, Raka mengetuk pintu kayu besar itu dua kali sebelum memutar kenopnya.Begitu pintu terbuka dan Raka melangkah masuk, suara pintu yang terkunci otomatis langsung berbunyi di belakangnya. Di dalam ruangan yang sejuk dan wangi itu, Amara rupanya sudah melepaskan blazer kerjanya, dan menyisakan kemeja putih sutra yang mel

  • Istriku Pergi, Bos dan Adik Ipar Berebut Memberi Kehangatan   Bab 70

    Mobil putih mewah milik Amara akhirnya berbelok memasuki area pelataran lobi kantor. Sebelum Amara sempat meraih gagang pintu belakang untuk turun, Raka memutar tubuhnya sedikit dari balik kemudi, menatap wanitanya lewat celah kursi dengan tatapan serius."Ra, sebelum kamu turun, aku mau minta izin sesuatu," ujar Raka pelan.Amara menghentikan gerakannya, menatap Raka bingung. "Izin apa, Ka? Kamu mau ke mana?""Aku mau izin untuk menunggu di ruangan khusus para driver aja hari ini. Tempat biasa aku nongkrong sebelum hubungan kita sedekat sekarang," jelas Raka. "Pekerjaan kamu hari ini padat, dan kalau aku terus-terusan di ruangan kamu seharian kayak kemarin, aku takut staf kantor atau bahkan sekretaris kamu, mulai curiga yang nggak-nggak. Kita harus tetap jaga profesionalitas di depan mereka."Mendengar penuturan Raka, Amara langsung mendesah berat. Wajah cantiknya cemberut, enggan dipisahkan dari pria tegap itu walau hanya beberapa jam.Namun, setelah menimbang sejenak dan logikanya

  • Istriku Pergi, Bos dan Adik Ipar Berebut Memberi Kehangatan   Bab 69

    Raka terbangun saat matahari bahkan belum memunculkan sinarnya ke permukaan. Suasana kamar masih begitu sunyi.Saat dirinya menoleh ke samping, tampak Amara yang masih tertidur dengan sangat pulas, menjadikan lengan tegap Raka sebagai bantalnya.Raka bergerak dengan sangat pelan, menyingkirkan lengannya dengan sangat hati-hati karena takut Amara akan terbangun. Pria itu langsung turun dari ranjang, memungut dan memakai kembali pakaian santainya yang tadi malam sempat terlepas di lantai.“Aku balik ke paviliun dulu ya, Ra,” bisiknya dengan begitu lirih pada wanita yang masih terlelap dalam balutan selimut itu. Raka mencondongkan tubuhnya, mengecup pelan dahi Amara yang masih terbuai mimpi.Setelah itu, ia berjalan tanpa suara menuju panel dinding kayu yang menjadi pintu rahasia yang dilewatinya tadi malam. Pria itu harus secepat mungkin kembali ke kamarnya di paviliun belakang agar tidak memicu kecurigaan dari para pekerja rumah megah tersebut.Saat mendorong pelan pintu luar yang ters

  • Istriku Pergi, Bos dan Adik Ipar Berebut Memberi Kehangatan   Bab 68

    “Gimana, Ra? Kamu mau berhenti?”Tangan Amara terus saja membelai pelan rahang kokoh yang kembali berpindah tepat di atasnya. “Bodoh aku berhenti sekarang. Ini pengalaman pertama yang pastinya akan sangat berkesan untukku, Ka.”Seringai tipis kembali terukir di wajah tampan itu. “Maka nikmatilah malam panjang ini.”Wajah pria itu kembali turun, melahap salah satu bukit Amara yang kembali membuat wanita itu melenguh disela-sela hisapan Raka yang semakin liar. “Nggh… Ka.”Raka terus mendorong tubuhnya maju, mendaki dan meniti bukit kembar Amara dengan napasnya yang kian memburu. Satu tangannya meremas lalu kembali memilin puncak kemerahan itu.Puas bagian bukit, tangan kasar Raka semakin liar menjelajahi perut rata Amara, lalu ia selipkan ke belakang, meremas bokong Amara kuat. Raka terus menjelajahi tubuh polos Amara, mereguk keindahan yang terpampang di depannya.Pria itu kemudian membentangkan kedua paha Amara, melumatnya dengan lembut belahan indah itu yang membuat Amara meliukkan t

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status