LOGINMansion Rakael jauh lebih besar dari yang Kalista bayangkan.
Bahkan setelah mobil melewati gerbang utama, perjalanan menuju pintu depan masih terasa panjang. Taman luas terbentang di kedua sisi jalan, dengan pepohonan yang dipangkas rapi dan lampu-lampu kecil yang tetap menyala meski hari belum gelap. Kalista menatap keluar jendela. "Dia tinggal sendirian di rumah sebesar ini?" Kalista bergumam pelan. Rakael yang duduk di sebelahnya mendengar gumaman Kalista. "Ya," jawab Rakael santai. Kalista menoleh kaget, tetapi tetap berusaha memperbaiki ekspresi wajahnya. "Sendirian?" "Bersama beberapa asisten rumah," jawab Rakael. Mobil berhenti di depan tangga utama. Seorang pria paruh baya sudah menunggu di sana bersama dua orang yang memakai seragam maid. Begitu Rakael dan Kalista turun, mereka memberi salam singkat. “Selamat datang di kediaman keluarga Bimantara, Nyonya,” sambutnya dengan tersenyum tipis. “Perkenalkan, saya Santoso. Saya kepala pelayan di kediaman ini. Ini Irma dan Nuri yang akan membantu Nyonya.” Santoso kembali menundukkan kepala., “Jjika Nyonya membutuhkan sesuatu selama berada di sini, jangan ragu untuk menyampaikannya kepada saya,” lanjutnya. “Terima kasih,” jawab Kalista sambil tersenyum canggung. Rakael berjalan masuk tanpa banyak bicara, sedangkan Kalista mengikutinya dari belakang. Begitu pintu utama terbuka, Kalista semakin tercengang. Ruang utama mansion itu luas. Lantai marmer, lampu kristal yang menggantung tinggi, serta beberapa lukisan yang tampaknya memiliki harga yang fantastis. Di tengah foyer berdiri sebuah tangga utama yang megah, menjulang menuju lantai dua. Dari anak tangga bagian bawah, jalurnya terbagi menjadi dua sisi yang simetris, satu mengarah ke kanan dan satu lagi ke kiri, keduanya bertemu kembali di balkon lantai dua. Kalista tidak menyebut ini rumah, karena ini lebih seperti tempat yang sengaja dibuat untuk menunjukkan bahwa pemiliknya mampu memiliki apa pun. Rakael berhenti di tengah ruangan. "Kamarmu di lantai dua.," Rakael menunjuk arah lantai dua. Kalista mengangkat alis. "Kamarku?" ulang Kalista sambil menoleh ke arah Rakael yang mengangguk, "Kamar Kak Rakael?" tanyanya bingung. Rakael mengernyit mendengar panggilan Kalista untuknya. Kak Rakael. Terdengar asing, tapi terasa hangat. "Di sebelah kiri," tunjuk Rakael dengan dagunya. Kalista menatapnya beberapa detik., "Kita tidur terpisah?" gumamnya. Rakael menatapnya seolah pertanyaan itu aneh. "Memangnya kamu menginginkan kamar yang sama?" "Bukan begitu!” Kalista mengalihkan pandangan gugup. Rakael kembali berjalan menaiki tangga sisi kanan. "Jadi tidak ada kewajiban—" Kalista mengikuti Rakael. "Tidak," potong Rakael. "...Sebagai suami istri?" lanjut Kalista kembali bertanya. Rakael berhenti di tengah tangga, dia berbalik menatap Kalista yang mendongak melihatnya. "Kita punya kontrak," jelas Rakael. “Dan kontrak itu tidak memberikan aku hak atas tubuh atau kehidupan pribadimu." Jawaban itu membuat Kalista terdiam. Rakael berbalik melanjutkan langkahnya. "Kita menikah untuk tujuan tertentu. Bukan berarti aku bisa memaksamu melakukan sesuatu yang tidak kamu inginkan." Kalista menatap punggung Rakael. Entah kenapa, jawaban itu justru membuatnya semakin bingung. Dia sempat mengira setelah pernikahan, Rakael akan menggunakan statusnya sebagai suami untuk menuntut sesuatu darinya. Ternyata tidak. Pria itu bahkan tidak berusaha. Rakael berhenti di depan sebuah pintu. "Ini kamarmu." Kalista berjalan melewati Rakael dan membuka pintunya. "Ini kamarku?” tanyanya terkesima melihat kamar yang luas. Tempat tidurnya besar, ada sofa kecil di dekat jendela, lemari pakaiannya belum terisi. Rakael ikut masuk sampai di ambang pintu. “Ya.” Dia melihat Kalista yang sedang mengagumi kamar tidurnya. Kalista membuka pintu kamar mandi. "Semua ini?" tanya Kalista memastikan dengan menatap Rakael. Rakael mengangguk mantap. "Kalau ada yang kurang, beri tahu pak Santoso, kepala pelayan." Kalista bersedekap. "Kak Rakael memang selalu seserius ini?" dia menatap Rakael. "Serius bagaimana?" Rakael mengernyit. Kalista duduk di tepi tempat tidurnya., "Memberi orang lain kamar seperti hotel bintang lima." "Kamu bukan orang lain, kamu istriku," ujar Rakael lalu dia berbalik dan keluar dari kamar Kalista. Kalista bangun dan menutup pintu setelah pria itu menghilang di balik pintu yang lain. Kalista berdiri di tengah kamar. Ia sadar, kini dirinya benar-benar tinggal bersama Rakael. Bukan lagi di atas kertas kontrak atau sekadar pernyataan kepada media. Mereka benar-benar berada di bawah satu atap. Dan itu lebih menakutkan daripada menghadapi lensa kamera wartawan. *** Keesokan paginya, ketika Kalista turun ke ruang makan, hidangan di atas meja sudah tersedia. Kalista melihat meja makan hanya ada sepiring roti panggang, sepiring buah yang sudah dipotong kecil, dan secangkir kopi. "Siapa yang menyediakan sarapan ini?" pandangannya beralih ke Rakael yang sedang membaca sesuatu di tabletnya. "Aku yang meminta," jawab Rakael tanpa mengangkat wajah. Kalista menarik kursi, "kok tahu menu sarapanku?" Dia duduk dan mengambil sehelai roti panggang. Rakael akhirnya melihat kepadanya, "kamu tidak menghabiskan makanan kemarin, jadi aku mengganti menu." Kalista mengunyah rotinya. "Kak Rakael memperhatikan?” Kalista melirik Rakael yang menatapnya. "Kita sarapan bersama kemarin," jawab Rakael tak mengalihkan pandangan. "Itu bukan jawaban," Kalista mendengus. Rakael masih melihat Kalista menikmati rotinya. "Memangnya harus ada jawaban lain?" Rakael menggeleng kemudian menunduk membaca tabletnya kembali. Kalista tidak menjawab. Dia mengambil secangkir kopi lalu menyesapnya sedikit. Ada sesuatu yang terasa berbeda. Bukan karena rasa kopinya, tetapi karena perhatian kecil Rakael untuknya. Memang bukan hal yang besar, hanya menu sarapan yang berbeda. *** Hari-hari berikutnya Kalista tidak menemukan Rakael saat sarapan. Rakael berangkat lebih pagi. Ketika bertemu di rumah, sebagian besar percakapan hanya berkisar pada jadwal, acara publik, atau sesuatu yang berhubungan dengan kontrak. Tidak ada pertanyaan pribadi. Tidak ada tuntutan. Tidak ada usaha untuk masuk terlalu jauh ke kehidupan masing-masing. Rakael benar-benar memberikan ruang kepadanya. Bagi Kalista, mansion ini terlalu besar, banyak ruangan dan pintu yang Kalista belum mengetahuinya. Sore ini, Kalista memutuskan untuk berjalan menyusuri lantai dua setelah berusaha menelepon Dimas yang ternyata masih belum bisa dihubungi. Dia berhenti di ujung koridor. Ada satu pintu yang berbeda dari pintu-pintu lainnya. Kayunya lebih tua dan tidak ada hiasan. Tidak ada gagang pintu yang terlihat jelas selain sebuah kunci elektronik kecil di sampingnya. Kalista mendekat. Dia melihat beberapa foto keluarga yang diletakkan rapi di atas meja sebelah pintu yang terkunci. Kalista mengambil salah satunya. Foto dua anak laki-laki, mungkin usianya sekitar sepuluh atau sebelas tahun, dan yang lebih kecil sekitar tujuh atau delapan tahun. Rakael kecil. Kalista menatap foto itu. Di dalam foto itu Rakael kecil tertawa bebas, berbeda dengan sosoknya sekarang. Kalista membalik foto tersebut. Tidak ada tulisan apapun di belakangnya. Kalista melihat kembali foto anak di samping Rakael. Siapa anak itu? Lalu dia kembali melihat pintu yang terkunci di depannya. Kenapa ruangan ini dikunci? Kalista hendak meletakkan foto ketika suara langkah terdengar dari belakang. "Kalista." Suara Rakael. Kalista perlahan berbalik. Pria itu berdiri beberapa meter darinya. Tatapannya jatuh pada foto di tangan Kalista. Ekspresi Rakael berubah. Bukan marah atau terkejut. Lebih sulit dibaca. "Kamu tidak seharusnya berada di sini," suara Rakael terdengar lebih rendah. Kalista tak merespon., "Siapa dia?” dia mengangkat foto yang dipegangnya. Rakael tidak menjawab. "Adik Kak Rakael?" tebak Kalista. Rakael berjalan mendekat dan mengambil foto itu dari tangan Kalista., "Sebaiknya kamu tidak berada di sini." Nada suaranya tetap tenang. Tetapi kali ini terdengar seperti peringatan. “Kenapa?" Kalista menatap Rakael yang sedang meletakkan kembali foto itu kembali di meja. "Karena ada beberapa hal yang lebih baik tidak kamu ketahui." Kalista tersenyum tipis. Kalimat itu terdengar sangat familiar. Rakael pernah mengatakan hal yang sama tentang kematian Kalandra. Dan kali ini, Kalista berpendapat rahasia di rumah ini mungkin memiliki hubungan dengan rahasia yang sedang mereka cari. Pintu yang terkunci itu mungkin menyimpan sesuatu yang Rakael tidak ingin siapapun temukan.Kalista menarik paksa lembar persetujuan dari tangan Rakael. Dia kesal pria itu tak meresponnya. “Kalandra menemukan sesuatu. Ravian juga menemukan hal yang sama. Mereka sedang menelusuri aliran dana yang sama dari dua sisi berbeda,” gerutunya. “Dan Kakak diam saja.”Kalista berjalan melewati Rakael dengan langkah yang dihentakkan.Dia meremas ujung lembar persetujuan tersebut. “Aku tidak diam saja, Kalista,” ucap Rakael. Kalista menghentikan langkahnya. Dia berbalik menatap pria itu. Wajahnya masih tampak kesal. Rakael mengusap wajahnya. “Aku menyelidiki bertahun-tahun tapi tidak menemukan apa-apa.”Rakael menurunkan tangannya. Pandangannya sempat beralih pada lembar persetujuan yang masih diremas Kalista. Ada sesuatu yang tertahan di wajahnya, seolah-olah selama ini dia menyimpan kegagalan yang tidak pernah diceritakannya kepada siapa pun.“Bagaimana mungkin?” tanya Kalista. “Kakak petinggi di sana tapi tidak menemukan apa-apa?” “Karenanya aku membutuhkanmu,” jawab Rakael deng
Kalista memeriksa kembali dokumen Kalandra. Dia masih berpikir bahwa kematian Ravian dan Kalandra ada hubungannya. Kalandra memiliki buku catatan terpisah yang mencatat setiap perkembangan kasus yang ditanganinya. Pada catatan yang diberi label Wiratama Group, Kalandra hanya mencatat dua progres. Yang pertama tentang penemuan baru bahwa pembayaran tidak berhenti pada vendor, dan langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah mencari pos terakhir. Kedua, tentang penemuan baru adanya rekening lain, dan langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah mencari pos terakhir. Kedua catatan itu hanya berjarak sepuluh hari dan keduanya adalah mencari pos terakhir. Kalista membaca kedua catatan itu sekali lagi, memastikan tidak ada satu pun detail yang terlewat. Sepuluh hari bukan waktu yang singkat untuk sebuah penyelidikan. Kalandra justru menuliskan langkah yang sama pada kedua kesempatan tersebut.Seolah-olah dia terus menemukan jalan buntu setiap kali berusaha mendekati sumber sebe
Kalista berjalan menuruni anak tangga dengan pakaian kerja yang sudah rapi. Dia telah bersiap untuk berangkat bekerja. “Selamat pagi, Bu!” sapa seorang asisten rumah tangga yang sedang membersihkan area dekat tangga. Kalista mengangguk sambil tersenyum. “Bapak sudah menunggu di meja makan,” lanjut asisten tersebut. Kalista berhenti. “Rakael?” tanyanya sambil mengerutkan dahi. “Betul, Bu. Pak Rakael,” jawab asisten tersebut mengangguk sopan. “Oh, dia belum berangkat,” gumam Kalista sambil menoleh ke arah ruang makan. “Belum, Bu,” ujar asisten itu sambil tersenyum. Kalista mengangguk. “Baiklah, terima kasih, Mbak… “ Kalista menggantung kalimatnya sambil menatap asisten tersebut. “Saya Nuri, Bu.” Asisten itu menyebut namanya sambil menundukkan kepalanya sedikit. “Ya, Mbak Nuri, terima kasih,” kata Kalista sambil tersenyum dan menepuk bahu Nuri pelan. Dia melangkah menuju ruang makan. Benar kata Nuri, Rakael telah duduk di salah satu kursi sambil membaca sesuatu di tabletnya.
Terhitung sudah enam hari Kalista tinggal di mansion Rakael, dan enam hari pula kegiatan Kalista hanya seputar meja makan dan kamarnya. Siang ini, salah seorang pelayan menghampirinya saat dia sedang duduk di taman samping mansion. "Bu Kalista, Nyonya Helena sudah tiba," katanya sedikit membungkukkan badan. "Helena?" Kalista meletakkan majalah yang dibacanya., “Siapa dia?”"Ibu dari Pak Rakael, Bu," jawab pelayan itu dengan sopan. "Ibu mertua saya?" Kalista memastikan. Pelayan itu mengangguk. "Betul, Bu. Beliau meminta bertemu dengan Ibu."Kalista menarik napas pelan. "Di mana?" Dia berdiri. Sejak menikah, dia memang belum pernah bertemu dengan kedua orang tua Rakael, dan dia juga tidak menanyakannya kepada Rakael. Mungkin ini waktunya. "Di ruang tamu, Bu," jawab pelayan itu. Kalista merapikan pakaiannya sebelum berjalan menuju ruang tamu.Begitu memasuki ruangan, Kalista langsung melihat seorang wanita berdiri di dekat jendela.Usianya sekitar akhir lima puluhan. Rambutnya di
Mansion Rakael jauh lebih besar dari yang Kalista bayangkan.Bahkan setelah mobil melewati gerbang utama, perjalanan menuju pintu depan masih terasa panjang. Taman luas terbentang di kedua sisi jalan, dengan pepohonan yang dipangkas rapi dan lampu-lampu kecil yang tetap menyala meski hari belum gelap.Kalista menatap keluar jendela. "Dia tinggal sendirian di rumah sebesar ini?" Kalista bergumam pelan. Rakael yang duduk di sebelahnya mendengar gumaman Kalista. "Ya," jawab Rakael santai. Kalista menoleh kaget, tetapi tetap berusaha memperbaiki ekspresi wajahnya. "Sendirian?""Bersama beberapa asisten rumah," jawab Rakael. Mobil berhenti di depan tangga utama.Seorang pria paruh baya sudah menunggu di sana bersama dua orang yang memakai seragam maid. Begitu Rakael dan Kalista turun, mereka memberi salam singkat.“Selamat datang di kediaman keluarga Bimantara, Nyonya,” sambutnya dengan tersenyum tipis. “Perkenalkan, saya Santoso. Saya kepala pelayan di kediaman ini. Ini Irma dan Nur
Pernikahan itu berlangsung enam hari setelah Kalista menandatangani kontrak. Proses yang cepat. Bahkan untuk ukuran keluarga seperti Wiratama.Kalista berdiri di depan cermin kamar hotel, menatap pantulan dirinya dalam gaun putih yang sederhana tetapi jelas bukan sesuatu yang bisa dibeli sembarangan.Tidak ada pesta pertunangan panjang atau masa pacaran yang bisa diceritakan kepada media. Tidak ada kisah cinta yang bisa mereka jual. Hanya sebuah pernikahan yang harus terlihat nyata.Dan hari ini, seluruh dunia akan melihatnya."Bu Kalista, sekarang waktunya," kata salah seorang crew dari Wedding Organizer mengingatkan. Kalista menarik napas panjang. Dia menyentuh cincin di jarinya. Satu tahun. Hanya satu tahun. Kemudian semuanya berakhir. Itu yang tertulis di atas kertas.Pintu terbuka dan Kalista pun keluar. Di ujung koridor, Rakael sudah menunggunya.Pria itu mengenakan setelan hitam dengan potongan sempurna. Wajahnya tetap tenang seperti biasa, seolah hari ini bukan hari pernika







