LOGINKalista memeriksa kembali dokumen Kalandra. Dia masih berpikir bahwa kematian Ravian dan Kalandra ada hubungannya.
Kalandra memiliki buku catatan terpisah yang mencatat setiap perkembangan kasus yang ditanganinya. Pada catatan yang diberi label Wiratama Group, Kalandra hanya mencatat dua progres. Yang pertama tentang penemuan baru bahwa pembayaran tidak berhenti pada vendor, dan langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah mencari pos terakhir. Kedua, tentang penemuan baru adanya rekening lain, dan langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah mencari pos terakhir. Kedua catatan itu hanya berjarak sepuluh hari dan keduanya adalah mencari pos terakhir. Kalista membaca kedua catatan itu sekali lagi, memastikan tidak ada satu pun detail yang terlewat. Sepuluh hari bukan waktu yang singkat untuk sebuah penyelidikan. Kalandra justru menuliskan langkah yang sama pada kedua kesempatan tersebut. Seolah-olah dia terus menemukan jalan buntu setiap kali berusaha mendekati sumber sebenarnya. Di bawah catatan ada tulisan Kalandra yang ditulis menggunakan tinta merah. “Jangan percaya siapa pun dari Wiratama.” Kalista telah berjanji untuk meneruskan tugas Kalandra, yaitu mencari pos terakhir yang dimaksud. Tok. Tok. Tok. Kalista berjengit mendengar ketukan pintu kamarnya. Dia turun dan membuka pintu. Rakael berdiri di depan pintu. Kedua tangannya disimpan di dalam saku celananya. “Ada apa, Kak?” tanya Kalista sambil memegang daun pintu. Rakael tidak segera menjawab. Pria itu memindai penampilannya yang masih memakai baju kerja tadi pagi. Kalista membuka lebar pintunya. “Masuklah, Kak.” Dia berjalan menuju ranjang dan merapikan dokumen Kalandra yang masih berantakan di atas ranjang. “Kamu memeriksa dokumen Kalandra lagi?” tanya Rakael. Kalista menoleh, dia menatap Rakael. Pandangan pria itu ke arah lembar yang berserakan. Kalista melanjutkan merapikan, “tentu saja. Aku harus tahu apa yang sedang dikerjakan Kalandra sampai mengorbankan nyawanya,” jawabnya sambil memasukkan dokumen itu ke dalam mapnya. Rakael mendekat dan mengambil buku catatan milik Kalandra yang masih terbuka. Kalista membelalak, dia berdiri mendekat. Tangannya terulur mengambil buku catatan itu. Rakael membaca sambil mengangkat buku catatan tersebut. Kalista berjinjit sambil memegang tangan Rakael berusaha merebutnya. “Jangan percaya siapapun dari Wiratama,” gumam Rakael sambil satu tangannya melingkar di pinggang Kalista. Tatapan Rakael tertahan pada tulisan berwarna merah itu. Dahinya sedikit berkerut, sementara ibu jarinya mengusap bagian tepi buku catatan. Untuk beberapa saat, dia tidak mengatakan apa pun. Seolah-olah kalimat tersebut bukan sekadar peringatan bagi Kalista, tetapi sesuatu yang juga sedang berusaha dipahaminya. Kalista berhenti bergerak. Tangannya mendorong dada Rakael. Rakael menunduk menatap Kalista. “Jadi, kamu tidak mempercayaiku?” tanyanya sambil mengeratkan pelukan di pinggang Kalista. “Itu tulisan Kalandra. Dia sedang memperingatkan sesuatu. Mungkin bukan Kakak, mungkin orang lain dalam keluarga Wiratama," jawab Kalista, “Mungkin juga Kakak,” lanjutnya bergumam. Kalista tidak benar-benar yakin dengan ucapannya sendiri. Dia tidak bisa mengabaikan peringatan yang ditinggalkan kakaknya. Terlebih, Rakael adalah bagian dari keluarga yang disebutkan dalam catatan itu. Dia tidak ingin menuduh tanpa bukti, tetapi juga tidak ingin kembali melakukan kesalahan dengan mempercayai orang yang salah. *** Kalista berjalan dengan langkah cepat sambil membawa lembar persetujuan pembayaran tujuh transaksi milik Ravian yang terselip di antara dokumen Kalandra. Sejak menemukan lembar tersebut, Kalista tidak bisa duduk tenang. Dia telah mencocokkan nama, tanggal, dan keterangan pembayaran yang tercantum di dalamnya dengan catatan Kalandra. Ada kesesuaian yang terlalu sulit untuk diabaikan. Dia harus menunjukkan dokumen itu kepada Rakael sekarang juga.Dia mengetuk pintu kamar Rakael dengan keras. “Ada apa?” Kalista tersentak lalu berbalik. Rakael berdiri di belakangnya sambil membawa tabletnya. “Aku menemukan dokumen yang menghubungkan penyelidikan Ravian dengan catatan Kalandra,” kata Kalista sambil mengangkat lembar persetujuan pembayaran ke depan Rakael. Napasnya terengah dengan raut wajah yang menunjukkan bahwa dia sedang emosi. Rakael melirik lembar tersebut. “Catatan Kalandra yang Kakak bilang tidak valid itu dijawab oleh lembar persetujuan ini,” jelas Kalista dengan geram. Dia masih kesal karena Rakael melempar buku catatan Kalandra di atas ranjang sambil mengatakan bahwa catatan tersebut tidak valid. “Baca, Kak!” seru Kalista sambil menempelkan kertas tersebut di dada Rakael. Rakael memegang kertas tersebut lalu membacanya. Matanya bergerak dari satu baris ke baris lainnya. Dia tampak membaca setiap detail dengan saksama, bahkan sempat kembali ke bagian atas dokumen untuk memastikan sesuatu. Kalista memperhatikan tanpa berkedip. Dia menunggu Rakael menyadari apa yang sejak tadi berusaha ditunjukkannya. Semakin lama pria itu membaca, semakin jelas ketegangan pada wajahnya. Kalista mengamati perubahan pada raut wajah Rakael. Pria itu membaca sambil mengerutkan kening. Rahangnya mengerat. “Lihat siapa yang menandatangani persetujuan itu,” ujar Kalista sambil bersedekap. “Ravian menemukan kejanggalan, dia meminta bantuan Kalandra untuk memeriksanya. Kalandra menemukan kejanggalan yang sama. Pada catatan Kalandra, dia masih mencari pos terakhir,” lanjut Kalista dengan menggebu, “Apakah Kakak masih akan bilang catatan Kalandra tidak valid?” Rakael menurunkan lembar yang dibacanya lalu menatap Kalista. Kalista mengusap rambutnya ke belakang. Satu tangannya berada di pinggang, lalu dia berkata, “Ada seorang Wiratama yang disangsikan, sehingga Kalandra menulis ‘Jangan percaya seorang pun dari Wiratama’.” Dia mengunci pandangannya kepada Rakael. “Dan sebelum mereka berhasil menemukan jawabannya, keduanya meninggal.” Kalista menatap Rakael lekat-lekat. “Menurut Kakak, itu masih bisa disebut kebetulan?”Kalista menarik paksa lembar persetujuan dari tangan Rakael. Dia kesal pria itu tak meresponnya. “Kalandra menemukan sesuatu. Ravian juga menemukan hal yang sama. Mereka sedang menelusuri aliran dana yang sama dari dua sisi berbeda,” gerutunya. “Dan Kakak diam saja.”Kalista berjalan melewati Rakael dengan langkah yang dihentakkan.Dia meremas ujung lembar persetujuan tersebut. “Aku tidak diam saja, Kalista,” ucap Rakael. Kalista menghentikan langkahnya. Dia berbalik menatap pria itu. Wajahnya masih tampak kesal. Rakael mengusap wajahnya. “Aku menyelidiki bertahun-tahun tapi tidak menemukan apa-apa.”Rakael menurunkan tangannya. Pandangannya sempat beralih pada lembar persetujuan yang masih diremas Kalista. Ada sesuatu yang tertahan di wajahnya, seolah-olah selama ini dia menyimpan kegagalan yang tidak pernah diceritakannya kepada siapa pun.“Bagaimana mungkin?” tanya Kalista. “Kakak petinggi di sana tapi tidak menemukan apa-apa?” “Karenanya aku membutuhkanmu,” jawab Rakael deng
Kalista memeriksa kembali dokumen Kalandra. Dia masih berpikir bahwa kematian Ravian dan Kalandra ada hubungannya. Kalandra memiliki buku catatan terpisah yang mencatat setiap perkembangan kasus yang ditanganinya. Pada catatan yang diberi label Wiratama Group, Kalandra hanya mencatat dua progres. Yang pertama tentang penemuan baru bahwa pembayaran tidak berhenti pada vendor, dan langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah mencari pos terakhir. Kedua, tentang penemuan baru adanya rekening lain, dan langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah mencari pos terakhir. Kedua catatan itu hanya berjarak sepuluh hari dan keduanya adalah mencari pos terakhir. Kalista membaca kedua catatan itu sekali lagi, memastikan tidak ada satu pun detail yang terlewat. Sepuluh hari bukan waktu yang singkat untuk sebuah penyelidikan. Kalandra justru menuliskan langkah yang sama pada kedua kesempatan tersebut.Seolah-olah dia terus menemukan jalan buntu setiap kali berusaha mendekati sumber sebe
Kalista berjalan menuruni anak tangga dengan pakaian kerja yang sudah rapi. Dia telah bersiap untuk berangkat bekerja. “Selamat pagi, Bu!” sapa seorang asisten rumah tangga yang sedang membersihkan area dekat tangga. Kalista mengangguk sambil tersenyum. “Bapak sudah menunggu di meja makan,” lanjut asisten tersebut. Kalista berhenti. “Rakael?” tanyanya sambil mengerutkan dahi. “Betul, Bu. Pak Rakael,” jawab asisten tersebut mengangguk sopan. “Oh, dia belum berangkat,” gumam Kalista sambil menoleh ke arah ruang makan. “Belum, Bu,” ujar asisten itu sambil tersenyum. Kalista mengangguk. “Baiklah, terima kasih, Mbak… “ Kalista menggantung kalimatnya sambil menatap asisten tersebut. “Saya Nuri, Bu.” Asisten itu menyebut namanya sambil menundukkan kepalanya sedikit. “Ya, Mbak Nuri, terima kasih,” kata Kalista sambil tersenyum dan menepuk bahu Nuri pelan. Dia melangkah menuju ruang makan. Benar kata Nuri, Rakael telah duduk di salah satu kursi sambil membaca sesuatu di tabletnya.
Terhitung sudah enam hari Kalista tinggal di mansion Rakael, dan enam hari pula kegiatan Kalista hanya seputar meja makan dan kamarnya. Siang ini, salah seorang pelayan menghampirinya saat dia sedang duduk di taman samping mansion. "Bu Kalista, Nyonya Helena sudah tiba," katanya sedikit membungkukkan badan. "Helena?" Kalista meletakkan majalah yang dibacanya., “Siapa dia?”"Ibu dari Pak Rakael, Bu," jawab pelayan itu dengan sopan. "Ibu mertua saya?" Kalista memastikan. Pelayan itu mengangguk. "Betul, Bu. Beliau meminta bertemu dengan Ibu."Kalista menarik napas pelan. "Di mana?" Dia berdiri. Sejak menikah, dia memang belum pernah bertemu dengan kedua orang tua Rakael, dan dia juga tidak menanyakannya kepada Rakael. Mungkin ini waktunya. "Di ruang tamu, Bu," jawab pelayan itu. Kalista merapikan pakaiannya sebelum berjalan menuju ruang tamu.Begitu memasuki ruangan, Kalista langsung melihat seorang wanita berdiri di dekat jendela.Usianya sekitar akhir lima puluhan. Rambutnya di
Mansion Rakael jauh lebih besar dari yang Kalista bayangkan.Bahkan setelah mobil melewati gerbang utama, perjalanan menuju pintu depan masih terasa panjang. Taman luas terbentang di kedua sisi jalan, dengan pepohonan yang dipangkas rapi dan lampu-lampu kecil yang tetap menyala meski hari belum gelap.Kalista menatap keluar jendela. "Dia tinggal sendirian di rumah sebesar ini?" Kalista bergumam pelan. Rakael yang duduk di sebelahnya mendengar gumaman Kalista. "Ya," jawab Rakael santai. Kalista menoleh kaget, tetapi tetap berusaha memperbaiki ekspresi wajahnya. "Sendirian?""Bersama beberapa asisten rumah," jawab Rakael. Mobil berhenti di depan tangga utama.Seorang pria paruh baya sudah menunggu di sana bersama dua orang yang memakai seragam maid. Begitu Rakael dan Kalista turun, mereka memberi salam singkat.“Selamat datang di kediaman keluarga Bimantara, Nyonya,” sambutnya dengan tersenyum tipis. “Perkenalkan, saya Santoso. Saya kepala pelayan di kediaman ini. Ini Irma dan Nur
Pernikahan itu berlangsung enam hari setelah Kalista menandatangani kontrak. Proses yang cepat. Bahkan untuk ukuran keluarga seperti Wiratama.Kalista berdiri di depan cermin kamar hotel, menatap pantulan dirinya dalam gaun putih yang sederhana tetapi jelas bukan sesuatu yang bisa dibeli sembarangan.Tidak ada pesta pertunangan panjang atau masa pacaran yang bisa diceritakan kepada media. Tidak ada kisah cinta yang bisa mereka jual. Hanya sebuah pernikahan yang harus terlihat nyata.Dan hari ini, seluruh dunia akan melihatnya."Bu Kalista, sekarang waktunya," kata salah seorang crew dari Wedding Organizer mengingatkan. Kalista menarik napas panjang. Dia menyentuh cincin di jarinya. Satu tahun. Hanya satu tahun. Kemudian semuanya berakhir. Itu yang tertulis di atas kertas.Pintu terbuka dan Kalista pun keluar. Di ujung koridor, Rakael sudah menunggunya.Pria itu mengenakan setelan hitam dengan potongan sempurna. Wajahnya tetap tenang seperti biasa, seolah hari ini bukan hari pernika







