로그인Kalista menarik paksa lembar persetujuan dari tangan Rakael. Dia kesal pria itu tak meresponnya. “Kalandra menemukan sesuatu. Ravian juga menemukan hal yang sama. Mereka sedang menelusuri aliran dana yang sama dari dua sisi berbeda,” gerutunya. “Dan Kakak diam saja.”Kalista berjalan melewati Rakael dengan langkah yang dihentakkan.Dia meremas ujung lembar persetujuan tersebut. “Aku tidak diam saja, Kalista,” ucap Rakael. Kalista menghentikan langkahnya. Dia berbalik menatap pria itu. Wajahnya masih tampak kesal. Rakael mengusap wajahnya. “Aku menyelidiki bertahun-tahun tapi tidak menemukan apa-apa.”Rakael menurunkan tangannya. Pandangannya sempat beralih pada lembar persetujuan yang masih diremas Kalista. Ada sesuatu yang tertahan di wajahnya, seolah-olah selama ini dia menyimpan kegagalan yang tidak pernah diceritakannya kepada siapa pun.“Bagaimana mungkin?” tanya Kalista. “Kakak petinggi di sana tapi tidak menemukan apa-apa?” “Karenanya aku membutuhkanmu,” jawab Rakael deng
Kalista memeriksa kembali dokumen Kalandra. Dia masih berpikir bahwa kematian Ravian dan Kalandra ada hubungannya. Kalandra memiliki buku catatan terpisah yang mencatat setiap perkembangan kasus yang ditanganinya. Pada catatan yang diberi label Wiratama Group, Kalandra hanya mencatat dua progres. Yang pertama tentang penemuan baru bahwa pembayaran tidak berhenti pada vendor, dan langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah mencari pos terakhir. Kedua, tentang penemuan baru adanya rekening lain, dan langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah mencari pos terakhir. Kedua catatan itu hanya berjarak sepuluh hari dan keduanya adalah mencari pos terakhir. Kalista membaca kedua catatan itu sekali lagi, memastikan tidak ada satu pun detail yang terlewat. Sepuluh hari bukan waktu yang singkat untuk sebuah penyelidikan. Kalandra justru menuliskan langkah yang sama pada kedua kesempatan tersebut.Seolah-olah dia terus menemukan jalan buntu setiap kali berusaha mendekati sumber sebe
Kalista berjalan menuruni anak tangga dengan pakaian kerja yang sudah rapi. Dia telah bersiap untuk berangkat bekerja. “Selamat pagi, Bu!” sapa seorang asisten rumah tangga yang sedang membersihkan area dekat tangga. Kalista mengangguk sambil tersenyum. “Bapak sudah menunggu di meja makan,” lanjut asisten tersebut. Kalista berhenti. “Rakael?” tanyanya sambil mengerutkan dahi. “Betul, Bu. Pak Rakael,” jawab asisten tersebut mengangguk sopan. “Oh, dia belum berangkat,” gumam Kalista sambil menoleh ke arah ruang makan. “Belum, Bu,” ujar asisten itu sambil tersenyum. Kalista mengangguk. “Baiklah, terima kasih, Mbak… “ Kalista menggantung kalimatnya sambil menatap asisten tersebut. “Saya Nuri, Bu.” Asisten itu menyebut namanya sambil menundukkan kepalanya sedikit. “Ya, Mbak Nuri, terima kasih,” kata Kalista sambil tersenyum dan menepuk bahu Nuri pelan. Dia melangkah menuju ruang makan. Benar kata Nuri, Rakael telah duduk di salah satu kursi sambil membaca sesuatu di tabletnya.
Terhitung sudah enam hari Kalista tinggal di mansion Rakael, dan enam hari pula kegiatan Kalista hanya seputar meja makan dan kamarnya. Siang ini, salah seorang pelayan menghampirinya saat dia sedang duduk di taman samping mansion. "Bu Kalista, Nyonya Helena sudah tiba," katanya sedikit membungkukkan badan. "Helena?" Kalista meletakkan majalah yang dibacanya., “Siapa dia?”"Ibu dari Pak Rakael, Bu," jawab pelayan itu dengan sopan. "Ibu mertua saya?" Kalista memastikan. Pelayan itu mengangguk. "Betul, Bu. Beliau meminta bertemu dengan Ibu."Kalista menarik napas pelan. "Di mana?" Dia berdiri. Sejak menikah, dia memang belum pernah bertemu dengan kedua orang tua Rakael, dan dia juga tidak menanyakannya kepada Rakael. Mungkin ini waktunya. "Di ruang tamu, Bu," jawab pelayan itu. Kalista merapikan pakaiannya sebelum berjalan menuju ruang tamu.Begitu memasuki ruangan, Kalista langsung melihat seorang wanita berdiri di dekat jendela.Usianya sekitar akhir lima puluhan. Rambutnya di
Mansion Rakael jauh lebih besar dari yang Kalista bayangkan.Bahkan setelah mobil melewati gerbang utama, perjalanan menuju pintu depan masih terasa panjang. Taman luas terbentang di kedua sisi jalan, dengan pepohonan yang dipangkas rapi dan lampu-lampu kecil yang tetap menyala meski hari belum gelap.Kalista menatap keluar jendela. "Dia tinggal sendirian di rumah sebesar ini?" Kalista bergumam pelan. Rakael yang duduk di sebelahnya mendengar gumaman Kalista. "Ya," jawab Rakael santai. Kalista menoleh kaget, tetapi tetap berusaha memperbaiki ekspresi wajahnya. "Sendirian?""Bersama beberapa asisten rumah," jawab Rakael. Mobil berhenti di depan tangga utama.Seorang pria paruh baya sudah menunggu di sana bersama dua orang yang memakai seragam maid. Begitu Rakael dan Kalista turun, mereka memberi salam singkat.“Selamat datang di kediaman keluarga Bimantara, Nyonya,” sambutnya dengan tersenyum tipis. “Perkenalkan, saya Santoso. Saya kepala pelayan di kediaman ini. Ini Irma dan Nur
Pernikahan itu berlangsung enam hari setelah Kalista menandatangani kontrak. Proses yang cepat. Bahkan untuk ukuran keluarga seperti Wiratama.Kalista berdiri di depan cermin kamar hotel, menatap pantulan dirinya dalam gaun putih yang sederhana tetapi jelas bukan sesuatu yang bisa dibeli sembarangan.Tidak ada pesta pertunangan panjang atau masa pacaran yang bisa diceritakan kepada media. Tidak ada kisah cinta yang bisa mereka jual. Hanya sebuah pernikahan yang harus terlihat nyata.Dan hari ini, seluruh dunia akan melihatnya."Bu Kalista, sekarang waktunya," kata salah seorang crew dari Wedding Organizer mengingatkan. Kalista menarik napas panjang. Dia menyentuh cincin di jarinya. Satu tahun. Hanya satu tahun. Kemudian semuanya berakhir. Itu yang tertulis di atas kertas.Pintu terbuka dan Kalista pun keluar. Di ujung koridor, Rakael sudah menunggunya.Pria itu mengenakan setelan hitam dengan potongan sempurna. Wajahnya tetap tenang seperti biasa, seolah hari ini bukan hari pernika







