ANMELDENPernikahan itu berlangsung enam hari setelah Kalista menandatangani kontrak.
Proses yang cepat. Bahkan untuk ukuran keluarga seperti Wiratama. Kalista berdiri di depan cermin kamar hotel, menatap pantulan dirinya dalam gaun putih yang sederhana tetapi jelas bukan sesuatu yang bisa dibeli sembarangan. Tidak ada pesta pertunangan panjang atau masa pacaran yang bisa diceritakan kepada media. Tidak ada kisah cinta yang bisa mereka jual. Hanya sebuah pernikahan yang harus terlihat nyata. Dan hari ini, seluruh dunia akan melihatnya. "Bu Kalista, sekarang waktunya," kata salah seorang crew dari Wedding Organizer mengingatkan. Kalista menarik napas panjang. Dia menyentuh cincin di jarinya. Satu tahun. Hanya satu tahun. Kemudian semuanya berakhir. Itu yang tertulis di atas kertas. Pintu terbuka dan Kalista pun keluar. Di ujung koridor, Rakael sudah menunggunya. Pria itu mengenakan setelan hitam dengan potongan sempurna. Wajahnya tetap tenang seperti biasa, seolah hari ini bukan hari pernikahannya. Tatapannya berpindah kepada Kalista saat dia melihat pintu terbuka. "Ada apa?" tanya Kalista ketika melihat sedikit perubahan pada wajah Rakael. "Tidak ada," jawab Rakael kembali tenang. "Anda menatap saya," kata Kalista. "Aku hanya sedang memastikan," balas Rakael. "Memastikan apa?" tanya Kalista. Rakael mengulurkan tangannya. "Bahwa kamu tidak akan berubah pikiran," katanya pelan. Kalista menatap tangan itu. Kemudian menatap wajah Rakael. "Bagaimana kalau saya berubah pikiran sekarang?" tanya Kalista dengan tersenyum. "Aku akan tetap menikahimu," jawab Rakael tanpa memutuskan pandangannya ke arah Kalista. “Percaya diri sekali Anda,” kata Kalista tertawa geli. "Aku sudah menyiapkan semuanya." "Saya juga," balas Kalista dengan meletakkan tangannya di atas tangan Rakael. Rakael menggenggam tangan Kalista. Mereka berjalan bersama menuju ruangan tempat akad dan pencatatan pernikahan dilangsungkan. *** Beberapa jam kemudian, nama mereka resmi tercatat sebagai suami istri. Kalista Renaya menjadi Kalista Wiratama. Setidaknya di mata dunia. Setelah prosesi selesai, mereka langsung menuju ballroom tempat resepsi digelar. Begitu pintu terbuka, suara kamera langsung menyambut mereka. Kilatan lampu memenuhi ruangan. "Pak Rakael!" "Pak Rakael, apakah benar Anda menikah hari ini?" "Siapa perempuan itu?" "Bu Kalista, bagaimana Anda bisa mengenal Pak Rakael?" "Apakah ini pernikahan karena cinta?" Kalista refleks berhenti. Dia tidak terbiasa menghadapi banyak suara dan kamera yang mengarah kepadanya. Tapi Rakael tidak berhenti. "Jangan lihat kamera terlalu lama," bisiknya. Tangannya tetap berada di punggung Kalista, menuntunnya melewati kerumunan. Kalista meliriknya. "Kenapa?" tanya Kalista. "Ekspresi," bisik Rafael lagi. Kalista Pun memasang senyumnya. *** Mereka memasuki ballroom, tempat diadakannya resepsi. Dan saat itu, Kalista baru menyadari seberapa besar dunia Rakael. Ada beberapa pengusaha, pejabat, bahkan tokoh publik yang menghadiri pesta pernikahannya. Wanita yang tampil dengan gaun mahal dan perhiasan yang gemerlap, yang bahkan Kalista tidak tahu apa namanya. Para pria yang tampil dengan setelan sempurna yang berbicara tentang investasi seolah-olah sedang membicarakan cuaca. Semua orang penting itu mengenal Rakael. Dan sekarang, semua orang ingin tahu siapa perempuan yang berdiri di samping Rakael. "Siapa Kalista Renaya?" "Katanya bukan dari keluarga bisnis." "Bagaimana mereka bisa bertemu?" "Rakael tidak pernah terlihat bersamanya sebelumnya." "Kenapa dia?" Kalista mendengar beberapa bisikan ketika melewati kelompok tamu. Dia pura-pura tidak mendengar. Tetapi semakin jauh mereka berjalan, semakin banyak pertanyaan yang terdengar. Rakael tetap tenang. Seolah semua itu tidak penting dan bukan sesuatu yang mempengaruhinya. Sampai seorang perempuan berdiri di depan mereka. Usianya sekitar akhir dua puluhan. Gaun merah gelap membungkus tubuhnya dengan sempurna. Senyumnya terlihat ramah, tetapi sorot matanya tidak. "Rakael," sapanya dengan senyuman yang lebar. Rakael berhenti. "Selena," balas Rakael. "Oh," Selena melirik Kalista dari ujung kepala sampai kaki. Kalista tahu bahwa perempuan itu tidak terkesan dan sedang berusaha mengkonfrontasikan. "Jadi ini istri seorang Rakael," ucapnya terlihat menelisik. “Kalista,” ucap Kalista tersenyum tipis. Selena tidak menjabat tangannya. "Maaf. Aku hanya tidak menyangka saja," kata Selena, "Rakael akhirnya menikah." Selena tertawa kecil. "Tapi aku lebih tidak menyangka lagi kalau pilihannya..." kata Selena menggantung. Kemudian matanya melihat pada gaun yang Kalista pakai. Kalista hanya diam saat Selena mengamatinya. "...berbeda dari biasanya," lanjut Selena. Beberapa orang di sekitar mereka mulai memperhatikan. Kalista tahu apa yang sedang terjadi. Dia bisa saja membalas dan membuat perempuan itu malu. Tetapi dia tidak ingin membuat keributan di hari pernikahannya. Kalista baru hendak menjawab ketika Rakael berbicara. "Dia istriku," kata Rakael dengan nada suara yang tegas. Dia menatap tajam Selena. Suasana langsung berubah. Padahal nada suara Rakael tidak tinggi, tidak seperti marah ataupun mengancam. Tetapi mereka tahu di balik nada suara itu. "Perlakukan dia sebagaimana kau memperlakukanku," lanjut Rakael. Senyum Selena perlahan menghilang. Tidak ada yang tertawa dan berkomentar. Kalista sendiri tetap diam. Rakael kemudian mengulurkan tangannya kepada Kalista. "Ayo," katanya dengan pandangan yang lembut. Kalista menyambutnya. Mereka berjalan meninggalkan kelompok itu. "Anda tidak perlu melakukan itu," bisik Kalista sesaat mereka meninggalkan Selena. "Aku tahu," jawab Rakael. "Kalau begitu kenapa?" tanya Kalista. Rakael menatap lurus ke depan. "Karena kamu istriku," jawab Rakael tanpa ragu. Kalista terdiam. Kalimat itu tidak salah. Seharusnya tidak berarti apa-apa. Pernikahan mereka hanyalah kontrak. Tetapi entah mengapa, untuk beberapa detik, Kalista lupa bahwa cincin di jarinya memiliki tanggal kadaluarsa. *** Malam semakin larut ketika mereka meninggalkan ballroom. Di luar hotel, media masih menunggu. Begitu Rakael dan Kalista muncul, kamera kembali menyala. Rakael meraih tangan Kalista. Mereka berjalan berdampingan menuju mobil. "Pak Rakael!" Seseorang berteriak dari belakang. "Apakah Bu Kalista akan tinggal di kediaman keluarga Wiratama?" Rakael tidak menjawab. Kalista masuk mobil begitu Rakael membukakan pintu untuknya. Sebelum Rakael ikut masuk, dia menoleh kepada wartawan. "Dia akan tinggal bersamaku," katanya. Kamera kembali berbunyi. Pintu mobil tertutup. Kalista menatap Rakael begitu pria itu duduk di sampingnya. "Anda suka membuat pernyataan mendadak," komentar Kalista atas kalimat yang dilontarkan Rakael kepada media, sesaat sebelum Rakael masuk mobil. "Itu bukan pernyataan mendadak. Kontraknya memang mengharuskan kita tinggal bersama," jelas Rakael. "Ya, tentu saja," jawab Kalista mengangguk. "Kita harus terlihat seperti pasangan sungguhan," kata Rakael menatap Kalista. Kalista mengangguk lagi. “Berhenti bersikap formal. ‘Anda-Saya’ terlalu formal untuk pasangan suami istri,” putus Rakael. Kalista menoleh ke arah Rakael yang sedang menatapnya. “Benar. Aku akan berusaha,” jawabnya kemudian. Kini permainan mereka sepenuhnya dimulai. *** Keesokan paginya, nama mereka memenuhi hampir semua media. Saat ini Kalista sedang duduk di sofa apartemen baru, dimana dia sementara tinggali bersama Rakael. Ponselnya tidak berhenti menerima notifikasi. Foto saat mereka di altar, saat Rakael menggenggam tangannya, saat Rakael membukakan pintu mobil, juga saat mereka berjalan berdampingan di depan wartawan. Satu foto bahkan menjadi berita utama. Rakael menatap Kalista ketika mereka berjalan keluar dari ballroom. Ekspresinya begitu tenang dan natural. Seolah-olah mereka benar-benar pasangan yang telah saling mencintai selama bertahun-tahun. Kalista memperbesar foto itu dan menatap layar lebih lama. Pernikahan ini seharusnya hanya sebuah kontrak. Satu tahun, tidak lebih dan tidak kurang. Kalista menghembuskan napasnya, dia bertanya pada dirinya sendiri, ‘Bagaimana jika satu tahun ternyata terlalu lama untuk berpura-pura?’Kalista menarik paksa lembar persetujuan dari tangan Rakael. Dia kesal pria itu tak meresponnya. “Kalandra menemukan sesuatu. Ravian juga menemukan hal yang sama. Mereka sedang menelusuri aliran dana yang sama dari dua sisi berbeda,” gerutunya. “Dan Kakak diam saja.”Kalista berjalan melewati Rakael dengan langkah yang dihentakkan.Dia meremas ujung lembar persetujuan tersebut. “Aku tidak diam saja, Kalista,” ucap Rakael. Kalista menghentikan langkahnya. Dia berbalik menatap pria itu. Wajahnya masih tampak kesal. Rakael mengusap wajahnya. “Aku menyelidiki bertahun-tahun tapi tidak menemukan apa-apa.”Rakael menurunkan tangannya. Pandangannya sempat beralih pada lembar persetujuan yang masih diremas Kalista. Ada sesuatu yang tertahan di wajahnya, seolah-olah selama ini dia menyimpan kegagalan yang tidak pernah diceritakannya kepada siapa pun.“Bagaimana mungkin?” tanya Kalista. “Kakak petinggi di sana tapi tidak menemukan apa-apa?” “Karenanya aku membutuhkanmu,” jawab Rakael deng
Kalista memeriksa kembali dokumen Kalandra. Dia masih berpikir bahwa kematian Ravian dan Kalandra ada hubungannya. Kalandra memiliki buku catatan terpisah yang mencatat setiap perkembangan kasus yang ditanganinya. Pada catatan yang diberi label Wiratama Group, Kalandra hanya mencatat dua progres. Yang pertama tentang penemuan baru bahwa pembayaran tidak berhenti pada vendor, dan langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah mencari pos terakhir. Kedua, tentang penemuan baru adanya rekening lain, dan langkah selanjutnya yang harus dilakukan adalah mencari pos terakhir. Kedua catatan itu hanya berjarak sepuluh hari dan keduanya adalah mencari pos terakhir. Kalista membaca kedua catatan itu sekali lagi, memastikan tidak ada satu pun detail yang terlewat. Sepuluh hari bukan waktu yang singkat untuk sebuah penyelidikan. Kalandra justru menuliskan langkah yang sama pada kedua kesempatan tersebut.Seolah-olah dia terus menemukan jalan buntu setiap kali berusaha mendekati sumber sebe
Kalista berjalan menuruni anak tangga dengan pakaian kerja yang sudah rapi. Dia telah bersiap untuk berangkat bekerja. “Selamat pagi, Bu!” sapa seorang asisten rumah tangga yang sedang membersihkan area dekat tangga. Kalista mengangguk sambil tersenyum. “Bapak sudah menunggu di meja makan,” lanjut asisten tersebut. Kalista berhenti. “Rakael?” tanyanya sambil mengerutkan dahi. “Betul, Bu. Pak Rakael,” jawab asisten tersebut mengangguk sopan. “Oh, dia belum berangkat,” gumam Kalista sambil menoleh ke arah ruang makan. “Belum, Bu,” ujar asisten itu sambil tersenyum. Kalista mengangguk. “Baiklah, terima kasih, Mbak… “ Kalista menggantung kalimatnya sambil menatap asisten tersebut. “Saya Nuri, Bu.” Asisten itu menyebut namanya sambil menundukkan kepalanya sedikit. “Ya, Mbak Nuri, terima kasih,” kata Kalista sambil tersenyum dan menepuk bahu Nuri pelan. Dia melangkah menuju ruang makan. Benar kata Nuri, Rakael telah duduk di salah satu kursi sambil membaca sesuatu di tabletnya.
Terhitung sudah enam hari Kalista tinggal di mansion Rakael, dan enam hari pula kegiatan Kalista hanya seputar meja makan dan kamarnya. Siang ini, salah seorang pelayan menghampirinya saat dia sedang duduk di taman samping mansion. "Bu Kalista, Nyonya Helena sudah tiba," katanya sedikit membungkukkan badan. "Helena?" Kalista meletakkan majalah yang dibacanya., “Siapa dia?”"Ibu dari Pak Rakael, Bu," jawab pelayan itu dengan sopan. "Ibu mertua saya?" Kalista memastikan. Pelayan itu mengangguk. "Betul, Bu. Beliau meminta bertemu dengan Ibu."Kalista menarik napas pelan. "Di mana?" Dia berdiri. Sejak menikah, dia memang belum pernah bertemu dengan kedua orang tua Rakael, dan dia juga tidak menanyakannya kepada Rakael. Mungkin ini waktunya. "Di ruang tamu, Bu," jawab pelayan itu. Kalista merapikan pakaiannya sebelum berjalan menuju ruang tamu.Begitu memasuki ruangan, Kalista langsung melihat seorang wanita berdiri di dekat jendela.Usianya sekitar akhir lima puluhan. Rambutnya di
Mansion Rakael jauh lebih besar dari yang Kalista bayangkan.Bahkan setelah mobil melewati gerbang utama, perjalanan menuju pintu depan masih terasa panjang. Taman luas terbentang di kedua sisi jalan, dengan pepohonan yang dipangkas rapi dan lampu-lampu kecil yang tetap menyala meski hari belum gelap.Kalista menatap keluar jendela. "Dia tinggal sendirian di rumah sebesar ini?" Kalista bergumam pelan. Rakael yang duduk di sebelahnya mendengar gumaman Kalista. "Ya," jawab Rakael santai. Kalista menoleh kaget, tetapi tetap berusaha memperbaiki ekspresi wajahnya. "Sendirian?""Bersama beberapa asisten rumah," jawab Rakael. Mobil berhenti di depan tangga utama.Seorang pria paruh baya sudah menunggu di sana bersama dua orang yang memakai seragam maid. Begitu Rakael dan Kalista turun, mereka memberi salam singkat.“Selamat datang di kediaman keluarga Bimantara, Nyonya,” sambutnya dengan tersenyum tipis. “Perkenalkan, saya Santoso. Saya kepala pelayan di kediaman ini. Ini Irma dan Nur
Pernikahan itu berlangsung enam hari setelah Kalista menandatangani kontrak. Proses yang cepat. Bahkan untuk ukuran keluarga seperti Wiratama.Kalista berdiri di depan cermin kamar hotel, menatap pantulan dirinya dalam gaun putih yang sederhana tetapi jelas bukan sesuatu yang bisa dibeli sembarangan.Tidak ada pesta pertunangan panjang atau masa pacaran yang bisa diceritakan kepada media. Tidak ada kisah cinta yang bisa mereka jual. Hanya sebuah pernikahan yang harus terlihat nyata.Dan hari ini, seluruh dunia akan melihatnya."Bu Kalista, sekarang waktunya," kata salah seorang crew dari Wedding Organizer mengingatkan. Kalista menarik napas panjang. Dia menyentuh cincin di jarinya. Satu tahun. Hanya satu tahun. Kemudian semuanya berakhir. Itu yang tertulis di atas kertas.Pintu terbuka dan Kalista pun keluar. Di ujung koridor, Rakael sudah menunggunya.Pria itu mengenakan setelan hitam dengan potongan sempurna. Wajahnya tetap tenang seperti biasa, seolah hari ini bukan hari pernika







