MasukMalam itu, setelah seluruh rangkaian acara pernikahan yang melelahkan dan penuh kepalsuan selesai, Jessica melewati koridor rumah mewah Morgan.
Dia berhenti di depan pintu kamar utama, kamar pengantin yang tiada lain di dalam Morgan. Jessica menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan degup jantungnya, lalu perlahan memutar kenop pintu.
Cklek.
Pintu terbuka, dan pemandangan di dalam kamar seketika membuat Jessica terbelalak kaget.
Di atas tempat tidur, Morgan sedang memeluk seorang wanita bergaun seksi. Itu Erika. Mereka tengah bermesraan mengabaikan fakta bahwa beberapa jam lalu Morgan baru saja mengucapkan janji suci pernikahan dengan wanita lain.
Melihat pintu terbuka, Morgan menghentikan aktivitasnya tanpa rasa bersalah. Dia menoleh ke arah Jessica dengan memunculkan mata yang dipenuhi rasa muak yang teramat sangat.
"Bisa sopan sedikit tidak? Masuk ke kamar orang tanpa mengetuk pintu!" bentak Morgan kasar, suaranya menggelegar memenuhi ruangan.
Rasa syok yang sempat melumpuhkan Jessica seketika berubah menjadi kobaran amarah. Udara mukanya menggumpal. "Morgan! Apa-apaan ini?! Ini malam pernikahan kita, dan kamu berani membawa wanita lain ke dalam kamar pengantin?!"
Morgan terkekeh sinis, seolah apa yang dikatakan Jessica adalah lelucon paling konyol yang pernah dia dengar.
“Malam pernikahan kita, katamu?” cibir Morgan, mengendus udara di sekitar Jessica dengan raut wajah kentara sekali ilfeel . "Lihat dirimu di cermin, Anak Pelayan. Kamu itu jelek, kuno, dan bau! Membayangkan menyentuh kulitmu saja sudah membuatku ingin muntah. Sampai kapan pun, aku tidak akan sudi tidur satu berbaring dengan wanita rendahan sepertimu!"
Kalimat penghinaan yang keluar dari mulut suami sendiri terasa begitu menohok. Jessica menggenggam kedua tangannya kuat-kuat, menahan gejolak emosi yang memenuhi dadanya. Sebenarnya, Jessica tidak mencintai Morgan. Dia sama sekali tidak peduli pada siapa pria itu memberikan hatinya. Namun, harga dirinya sebagai seorang wanita hancur berkeping-keping. Dia tidak menyangka Morgan bisa melakukan sekeji dan sebejat ini di kamar pengantin mereka.
Erika yang melihat Jessica terpojok, menyunggingkan senyuman kemenangan. Dengan gerakan yang sengaja dibuat manja, mengalungkan kedua tangan di leher pria itu.
"Sudahlah, Morgan Sayang... jangan habiskan energimu untuk meladeni pelayan ini," bisik Erika dengan suara mendayu yang sengaja dikeraskan.
Tepat di hadapan mata Jessica yang membelalak, Erika malah mendaratkan ciuman di bibir Morgan. Morgan membalas ciuman itu seolah sengaja ingin memamerkannya pada istri sahnya.
Setelah melepaskan ciuman mereka, Erika menoleh ke Jessica. Dia menatap Jessica dari atas ke bawah dengan pandangan mengejek, lalu berbisik dengan nada penuh racun.
"Buka matamu lebar-lebar, Jessica. Kamu mungkin bisa memiliki status sebagai istri Morgan di atas kertas karena paksaan Pak Brata. Tapi akulah ratu yang sesungguhnya di hati Morgan. Kamu tidak akan pernah bisa posisi menggeserku," ledek Erika dengan senyum kemenangan yang sangat kentara.
Jessica berdiri mematung, menatap kedua orang di hadapannya dengan rasa jelek yang mulai membubung tinggi. Kamar pengantin yang suci ini telah bernoda oleh kebusukan moral mereka. Di dalam hati, Jessica bersumpah tidak akan pernah membiarkan dirinya hancur oleh permainan kotor suaminya.
“Silahkan enyah dari pandanganku!” usir Morgan, sambil melempar bantal pada Jessica, lalu kembali memeluk Erika melanjutkan bermesraan tanpa memperdulikan kalau Jessica masih ada disana.
Jessica melihat bantal yang jatuh kelantai yang tadi sempet mengenai badannya, kembali melihat kearah Morgan dan Erika yang tidak tahu malu, membuatnya muak dan ingin muntah, diapun segera keluar.
**
**
**
hari
Bugh!
Bugh!
Jessica merasakan ada yang menimpuk badannya sampai dia terbangun membukakan matanya. Didepannya sudah berdiri Morgan sambil mertolak pinggang.
"Heh, pelayan! Pemalas! Keenakan jadi Nyonya ya? Jangan bermimpi! Cepat buatkan aku sarapan!"
Jessica yang masih belum sadar betul, menggosok matanya tapi sedetik kemudian menjerit kaget karena Morgan menarik tangannya supaya turun dari tempat tidur.
"Cepat bangun! Kerja! Kerja!" perintah Morgan.
Jessica terduduk sambil mengusap mukanya, melihat lagi sekelilingnya, ternyata dia tertidur di kamar tamu, karena semalaman Morgan mengusirnya dari kamar pengantin.
"Kita baru menikah, bukannya bulan madu malah disuruh kerja! Aku ini sekarang istrimu!" bentak Jessica kesal.
"Bulan madu? Mimpi! Kau hanya istri diatas kertas, kau tetap saja pelayan!" Mak Morgan.
Tiba-tiba Jessece teringat Pak Brata yang biasa di urusnya. “Aduh, aku lupa menyiapkan obat untuk Kakek!” serunya sambil turun tapi tangan dicekal oleh Morgan.
“Enak saja menyebut kakekku kakek!”
“Aku ini istri cucunya, tentu saja aku menemukan Kakek.” Jessica menepiskan tangan Morgan dan segera melangkah tapi langkahnya terhenti saat terdengar lagi suara Morgan.
“Kakekku sedang pergi keluar negeri untuk berobat!”
Jessica janji badannya. “Keluar negeri?”
“Alasannya sih begitu, tapi aku tahu maksudnya apa.” Morgan berjalan mendekat dengan wajah sinisnya.
“Memangnya apa yang diinginkan?”
“Supaya aku bisa berduaan denganmu dan cepat mendapatkan cucu!”
“Apa?” Jessica terkejut.
"Alah jangan sok pura-pura terkejut! Kau tahu apa yang diinginkan kakek dan aku juga menginginkan bayi darimu."
Jessice mendecih kesal, terbayang lagi malam tadi bagaimana teganya Morga berduaan dengan Erika di kamar pengantin mereka.
"Heh, jangan mengira aku mau menyentuhmu! Yang ada aku jelek dan tidak sudi kau mengandung anakmu!" Mak Morgan.
“Baguslah kalau begitu, aku juga kalau bukan karena Pak Brata, aku tidak mau menikah denganmu!”
Morgan kembali tersenyum sinis. “Berani ya sekarang mentang-mentang dibela kakekku.”
“Aku tidak ingin berdebat denganmu.” Jessica akan pergi tapi kembali ditahan Morgan.
“Aku mau bicara denganmu!”
“Dari tadi kita sudah bicara dan tidak ada yang penting.”
“Ini penting, tentang warisanku.”
Jessica mentipitkan matanya. “Warisan?”
Morgan berjalan mendekat. "Kakek mengatakan warisan akan diberikan kalau kau hamil. Tapi aku tidak mau menyentuhmu."
Jessica mengangkat bahu, dia tidak peduli soal itu.
“Tapi…bukan berarti kau tidak bisa hamil.”
“Aku hanya minta padamu, buat dirimu hamil.”
“Bagaimana aku hamil kalau kau tidak menyentuhku?”
"Pikirkan sendiri! Aku tidak peduli kau hamil oleh siapa."
Jessica sampai terbelalak, tidak bisa berkata-kata mendengar apa yang dikatakan Morgan. Suaminya itu menyuruhnya hamil tapi tidak mau menyentuhnya, terus dia harus hamil dengan siapa? Pria lain yang bukan suaminya?”
"Kau gila! Kau menyuruhku hamil oleh pria lain? Apa kau lupa kalau kau itu suamiku?"
“Aku tidak peduli, pokoknya kau harus hamil cepat lahirkan satu bayi untukku supaya kakek bisa cepat memberikan warisan kepadaku!”
Jessica langsung berbalik. “Tidak, aku tidak mau!”
Tiba-tiba Morgan menarik tangannya dan mendorong bahunya Jessica sampai tubuhnya menabrak tembok
Brugh!
“Ah!” jerit Jessica, menahan punggung yang sakit.
Tidak cukup disitu saja, tangan Morgan langsung mencengkram mengingat Jessica.
"Kau pikir aku tidak berani berbuat kejam? Kau pikir aku tidak berani menyakitimu bahkan menghilangkan nyawamu?" bentak Morgan lagi.
************
Setelah perjalanan hampir empat puluh menit, mobil mewah itu berbelok memasuki kawasan perbukitan eksklusif dan berhenti di depan sebuah villa megah bergaya modern kontemporer yang menghadap langsung ke Danau Zurich."Kita sudah sampai," ujar Louis seraya keluar dan kembali membukakan pintu untuk Jessica.Jessica melangkah keluar, terpana menatap bangunan megah berlantai tiga dengan dinding kaca besar yang memantulkan kilauan air danau. Seorang pria paruh baya berpenampilan sangat rapi menyambut mereka di pintu utama dengan bungkukan dalam."Selamat datang kembali di villa, Tuan Louis. Seluruh fasilitas dan kamar utama sudah siap sesuai instruksi Anda," ucap pria itu dalam bahasa yang fasih, membuat Jessica terbelalak kaget.Jessica menoleh cepat ke arah Louis yang berdiri santai di sampingnya, tatapannya menuntut penjelasan penuh. "Tuan Louis? Villa milikmu?"Louis tertawa kecil, melangkah mendekat dan merangkul pinggang Jessica secara alami untuk membawanya masuk ke dalam hall utama
Suara gemuruh halus dari mesin turbin yang mulai menyala memutus tatapan tajam di antara mereka. Pesawat bergerak perlahan menuju landasan pacu, bersiap untuk lepas landas. Jessica menghela napas panjang, membiarkan jemari hangat Louis menggenggam tangannya lebih erat saat gaya gravitasi mulai menarik tubuh mereka ke sandaran kursi.Di luar jendela, gemerlap lampu kota yang selama ini menjaragkan kebebasannya perlahan menyusut menjadi titik-titik cahaya kecil, sebelum akhirnya sepenuhnya lenyap tertutup lautan awan gelap. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Jessica merasa terlepas dari cengkeraman ketakutan yang biasa membayanginya di rumah Bratapura.Louis memperhatikan setiap perubahan ekspresi di wajah Jessica. Garis-garis kecemasan yang tadinya terpatri keras di dahi wanita itu perlahan melunak, digantikan oleh kelelahan yang sangat dalam."Istirahatlah," ujar Louis lembut, suaranya mengalun hangat menembus keheningan kabin. Ia berdiri, mengambil sebuah selimut rajut berbah
Jessica terperanjat saat jemari hangat Louis tiba-tiba meraih dan menggenggam erat pergelangan tangannya. Sebelum otak Jessica sempat mencerna situasi, Louis sudah menariknya berdiri dan membawanya melangkah lebar keluar dari kafe menuju mobil mewah yang terparkir di pelataran."Louis! Apa-apaan ini?!" seru Jessica setengah berbisik, berusaha menyeimbangi langkah kaki Louis yang panjang seraya menahan keterkejutannya. "Kita mau ke mana?!"Louis membukakan pintu penumpang depan untuk Jessica dengan gerakan tangkas dan elegan, lalu menunduk menatap wajah wanita itu yang dipenuhi kepanikan. Senyum tipis nan penuh pesona terpatri jelas di wajahnya."Mau ke mana lagi?" bisik Louis rendah, kilatan matanya begitu tegas dan tak tertahankan. "Ke Swiss. Sekarang juga.""Sekarang?!" Jessica membelalakkan mata, menahan napasnya. "Tapi aku bahkan belum berkemas! Aku tidak membawa paspor, tidak membawa baju ganti, dan ….""Semua urusan dokumen dan kebutuhanmu sudah ada yang mengurus," potong Louis
Balasan pesan dari Louis masuk hanya dalam hitungan detik.‘Aku selalu punya waktu untuk klien istimewaku. Di tempat biasa jam delapan malam?’Melihat balasan singkat namun menenangkan itu, dada Jessica yang sebelumnya terasa sesak mendadak sedikit melonggar. Ia membalasnya dengan satu ketukan tanda setuju, lalu menyandarkan tubuhnya ke pintu kamar yang terkunci.Di luar kamar, terdengar suara langkah kaki Morgan yang menjauh diikuti dentuman pintu utama yang ditutup keras. Pria itu pasti pergi melampiaskan kekesalannya bersama Erika. Jessica memejamkan mata sejenak, mengumpulkan sisa kekuatan yang ia miliki sebelum beranjak untuk bersiap-siap.Malam harinya, tepat pukul delapan, Jessica sudah berada di sudut paling privat sebuah kafe bernuansa remang dan tenang di pinggir kota. Denting piano berirama lembut mengalun pelan, kontras dengan gemuruh yang menggelegak di dalam dadanya.Tak berapa lama, aroma cologne maskulin berkayu yang sangat khas tercium. Louis berjalan mendekati meja,
Jessica memijat pelipisnya yang mulai terasa pening. "Aku benar-benar pusing. Aku tidak tahu apa mau Tuan Matthew Parker sebenarnya. Dan yang lebih mengesalkan lagi..."Jessica menoleh menatap Louis dengan tatapan polos sekaligus prihatin. "...semua masalah ini makin menumpuk, padahal aku masih harus memikirkan tarif bayaranmu yang sangat mahal setiap kali aku membutuhkan bantuanmu."Hearing ucapan jujur dari bibir Jessica, Louis yang sedang mengemudi hampir saja tersedak salivanya sendiri. Senyum tipis yang berusaha dia tahan akhirnya mengembang lebar di sudut bibirnya."Jadi... kamu memikirkanku juga di tengah kekacauan itu?" bisik Louis dengan nada godaan yang halus, membuat pipi Jessica mendadak merona merah.Wajah Jessica seketika memanas. Dia dengan cepat memalingkan wajah ke arah jendela luar, menutupi rona merah yang menjalar hingga ke lehernya."Aku memikirkan isi dompetku, Louis, bukan memikirkanmu!" sanggah Jessica dengan nada ketus yang dibuat-buat, berusaha mempertahankan
Pagi harinya, suasana rumah keluarga Bratapura mendadak gempar. Sebuah truk boks mewah berlogo resmi Parker Group terparkir anggun di halaman depan. Beberapa petugas berjas rapi hilir-mudik membawa puluhan kotak hadiah eksklusif, tas bermerek, hingga perhiasan bernilai fantastis langsung ke dalam rumah.Sebuah surat berstempel emas diserahkan langsung ke tangan Jessica. Surat itu berisi permohonan maaf pribadi dari Tuan Matthew Parker atas insiden tidak menyenangkan yang dialami Jessica di pesta semalam.Jessica berdiri terpaku di ruang tamu. Matanya membelalak menatap tumpukan barang-barang bermerek dan perhiasan berlian yang berkilauan di hadapannya. Jantungnya berdegup kencang oleh rasa terkejut yang luar biasa.Bagaimana mungkin seorang tokoh besar seperti Tuan Matthew Parker mengirimkan semua ini untukku? Aku bahkan sama sekali tidak mengenalnya! batin Jessica kebingungan, mencoba mencerna teka-teki besar yang kini berada di depan matanya.Erika, yang baru saja turun dari lantai







