Accueil / Romansa / Istrimu Adalah Takdirku / Bab 2. Permintaan Morgan

Partager

Bab 2. Permintaan Morgan

Auteur: RR Maesa
last update Date de publication: 2026-06-17 11:24:46

Malam itu, setelah seluruh rangkaian acara pernikahan yang melelahkan dan penuh kepalsuan selesai, Jessica melewati koridor rumah mewah Morgan.

Dia berhenti di depan pintu kamar utama, kamar pengantin yang tiada lain di dalam Morgan. Jessica menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan degup jantungnya, lalu perlahan memutar kenop pintu.

Cklek.

Pintu terbuka, dan pemandangan di dalam kamar seketika membuat Jessica terbelalak kaget.

Di atas tempat tidur, Morgan sedang memeluk seorang wanita bergaun seksi. Itu Erika. Mereka tengah bermesraan mengabaikan fakta bahwa beberapa jam lalu Morgan baru saja mengucapkan janji suci pernikahan dengan wanita lain.

Melihat pintu terbuka, Morgan menghentikan aktivitasnya tanpa rasa bersalah. Dia menoleh ke arah Jessica dengan memunculkan mata yang dipenuhi rasa muak yang teramat sangat.

"Bisa sopan sedikit tidak? Masuk ke kamar orang tanpa mengetuk pintu!" bentak Morgan kasar, suaranya menggelegar memenuhi ruangan.

Rasa syok yang sempat melumpuhkan Jessica seketika berubah menjadi kobaran amarah. Udara mukanya menggumpal. "Morgan! Apa-apaan ini?! Ini malam pernikahan kita, dan kamu berani membawa wanita lain ke dalam kamar pengantin?!"

Morgan terkekeh sinis, seolah apa yang dikatakan Jessica adalah lelucon paling konyol yang pernah dia dengar.

“Malam pernikahan kita, katamu?” cibir Morgan, mengendus udara di sekitar Jessica dengan raut wajah kentara sekali ilfeel . "Lihat dirimu di cermin, Anak Pelayan. Kamu itu jelek, kuno, dan bau! Membayangkan menyentuh kulitmu saja sudah membuatku ingin muntah. Sampai kapan pun, aku tidak akan sudi tidur satu berbaring dengan wanita rendahan sepertimu!"

Kalimat penghinaan yang keluar dari mulut suami sendiri terasa begitu menohok. Jessica menggenggam kedua tangannya kuat-kuat, menahan gejolak emosi yang memenuhi dadanya. Sebenarnya, Jessica tidak mencintai Morgan. Dia sama sekali tidak peduli pada siapa pria itu memberikan hatinya. Namun, harga dirinya sebagai seorang wanita hancur berkeping-keping. Dia tidak menyangka Morgan bisa melakukan sekeji dan sebejat ini di kamar pengantin mereka.

Erika yang melihat Jessica terpojok, menyunggingkan senyuman kemenangan. Dengan gerakan yang sengaja dibuat manja, mengalungkan kedua tangan di leher pria itu.

"Sudahlah, Morgan Sayang... jangan habiskan energimu untuk meladeni pelayan ini," bisik Erika dengan suara mendayu yang sengaja dikeraskan.

Tepat di hadapan mata Jessica yang membelalak, Erika malah mendaratkan ciuman di bibir Morgan. Morgan membalas ciuman itu seolah sengaja ingin memamerkannya pada istri sahnya.

Setelah melepaskan ciuman mereka, Erika menoleh ke Jessica. Dia menatap Jessica dari atas ke bawah dengan pandangan mengejek, lalu berbisik dengan nada penuh racun.

"Buka matamu lebar-lebar, Jessica. Kamu mungkin bisa memiliki status sebagai istri Morgan di atas kertas karena paksaan Pak Brata. Tapi akulah ratu yang sesungguhnya di hati Morgan. Kamu tidak akan pernah bisa posisi menggeserku," ledek Erika dengan senyum kemenangan yang sangat kentara.

Jessica berdiri mematung, menatap kedua orang di hadapannya dengan rasa jelek yang mulai membubung tinggi. Kamar pengantin yang suci ini telah bernoda oleh kebusukan moral mereka. Di dalam hati, Jessica bersumpah tidak akan pernah membiarkan dirinya hancur oleh permainan kotor suaminya.

“Silahkan enyah dari pandanganku!” usir Morgan, sambil melempar bantal pada Jessica, lalu kembali memeluk Erika melanjutkan bermesraan tanpa memperdulikan kalau Jessica masih ada disana.

Jessica melihat bantal yang jatuh kelantai yang tadi sempet mengenai badannya, kembali melihat kearah Morgan dan Erika yang tidak tahu malu, membuatnya muak dan ingin muntah, diapun segera keluar.

**

**

**

hari

Bugh!

Bugh!

Jessica merasakan ada yang menimpuk badannya sampai dia terbangun membukakan matanya. Didepannya sudah berdiri Morgan sambil mertolak pinggang.

"Heh, pelayan! Pemalas! Keenakan jadi Nyonya ya? Jangan bermimpi! Cepat buatkan aku sarapan!"

Jessica yang masih belum sadar betul, menggosok matanya tapi sedetik kemudian menjerit kaget karena Morgan menarik tangannya supaya turun dari tempat tidur.

"Cepat bangun! Kerja! Kerja!" perintah Morgan.

Jessica terduduk sambil mengusap mukanya, melihat lagi sekelilingnya, ternyata dia tertidur di kamar tamu, karena semalaman Morgan mengusirnya dari kamar pengantin.

"Kita baru menikah, bukannya bulan madu malah disuruh kerja! Aku ini sekarang istrimu!" bentak Jessica kesal.

"Bulan madu? Mimpi! Kau hanya istri diatas kertas, kau tetap saja pelayan!" Mak Morgan.

Tiba-tiba Jessece teringat Pak Brata yang biasa di urusnya. “Aduh, aku lupa menyiapkan obat untuk Kakek!” serunya sambil turun tapi tangan dicekal oleh Morgan.

“Enak saja menyebut kakekku kakek!”

“Aku ini istri cucunya, tentu saja aku menemukan Kakek.” Jessica menepiskan tangan Morgan dan segera melangkah tapi langkahnya terhenti saat terdengar lagi suara Morgan.

“Kakekku sedang pergi keluar negeri untuk berobat!”

Jessica janji badannya. “Keluar negeri?”

“Alasannya sih begitu, tapi aku tahu maksudnya apa.” Morgan berjalan mendekat dengan wajah sinisnya.

“Memangnya apa yang diinginkan?”

“Supaya aku bisa berduaan denganmu dan cepat mendapatkan cucu!”

“Apa?” Jessica terkejut.

"Alah jangan sok pura-pura terkejut! Kau tahu apa yang diinginkan kakek dan aku juga menginginkan bayi darimu."

Jessice mendecih kesal, terbayang lagi malam tadi bagaimana teganya Morga berduaan dengan Erika di kamar pengantin mereka.

"Heh, jangan mengira aku mau menyentuhmu! Yang ada aku jelek dan tidak sudi kau mengandung anakmu!" Mak Morgan.

“Baguslah kalau begitu, aku juga kalau bukan karena Pak Brata, aku tidak mau menikah denganmu!”

Morgan kembali tersenyum sinis. “Berani ya sekarang mentang-mentang dibela kakekku.”

“Aku tidak ingin berdebat denganmu.” Jessica akan pergi tapi kembali ditahan Morgan.

“Aku mau bicara denganmu!”

“Dari tadi kita sudah bicara dan tidak ada yang penting.”

“Ini penting, tentang warisanku.”

Jessica mentipitkan matanya. “Warisan?”

Morgan berjalan mendekat. "Kakek mengatakan warisan akan diberikan kalau kau hamil. Tapi aku tidak mau menyentuhmu."

Jessica mengangkat bahu, dia tidak peduli soal itu.

“Tapi…bukan berarti kau tidak bisa hamil.”

“Aku hanya minta padamu, buat dirimu hamil.”

“Bagaimana aku hamil kalau kau tidak menyentuhku?”

"Pikirkan sendiri! Aku tidak peduli kau hamil oleh siapa."

Jessica sampai terbelalak, tidak bisa berkata-kata mendengar apa yang dikatakan Morgan. Suaminya itu menyuruhnya hamil tapi tidak mau menyentuhnya, terus dia harus hamil dengan siapa? Pria lain yang bukan suaminya?”

"Kau gila! Kau menyuruhku hamil oleh pria lain? Apa kau lupa kalau kau itu suamiku?"

“Aku tidak peduli, pokoknya kau harus hamil cepat lahirkan satu bayi untukku supaya kakek bisa cepat memberikan warisan kepadaku!”

Jessica langsung berbalik. “Tidak, aku tidak mau!”

Tiba-tiba Morgan menarik tangannya dan mendorong bahunya Jessica sampai tubuhnya menabrak tembok

Brugh!

“Ah!” jerit Jessica, menahan punggung yang sakit.

Tidak cukup disitu saja, tangan Morgan langsung mencengkram mengingat Jessica.

"Kau pikir aku tidak berani berbuat kejam? Kau pikir aku tidak berani menyakitimu bahkan menghilangkan nyawamu?" bentak Morgan lagi.

************

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Dernier chapitre

  • Istrimu Adalah Takdirku   Bab 5. Pesta Teman Morgan

    Malam harinya, rumah megah keluarga Morgan berubah riuh. Morgan sengaja mengundang teman-teman dekatnya untuk berpesta di taman depan rumah. tersebut. Erika duduk manja di pangkuan Morgan, berlagak seolah dialah sang ratu semalam.Namun, di tengah keriuhan itu, beberapa teman Morgan mulai bertanya-tanya."Eh, Morgan! Mana istrimu? Bukannya katamu akan bergabung?" tanya salah satu temannya, memancing perhatian yang lain.“Iya, kami ingin segera melihatnya. Seperti apa dia sampai kau menolaknya?”Erika langsung tersenyum sini. “Lihat saja nanti.”Morgan merogoh ponsel di saku jasnya. Dia melangkah sedikit menjauh dari kerumunan, lalu menghubungi nomor Jessica.Di ruang membaca, Jessica sedang duduk tenang membaca buku. Dia sengaja menyalakan musik klasik kecil untuk meredam kebisingan pesta di depan. Begitu layar ponselnya menyala menampilkan nama Morgan, Jessica menggeser tombol hijau dengan malas."Halo?" ucap Jessica dingin."Heh, pelayan! Ke mana saja kamu?! Cepat keluar ke taman de

  • Istrimu Adalah Takdirku   Bab 4. Kedatangan Erika

    Baru saja Jessica hendak membalikkan badan untuk kembali ke kamarnya, suara deru mobil mewah terdengar berhenti tepat di halaman. Tak lama kemudian, pintu besar utama terbuka tanpa diketuk.Seorang wanita dengan kacamata hitam besar, gaun ketat yang mencolok, dan sepatu hak tinggi melangkah masuk dengan anggun. Di belakangnya, seorang sopir tampak kepayahan mengangkut tiga koper besar bermerek luar negeri.Itu Erika.Jessica menghentikan langkahnya, berdiri mematung di ujung koridor sambil melipat kedua tangan di dada.Erika menurunkan sedikit kacamatanya, menatap Jessica dengan pandangan merendahkan yang sangat kentara."Kenapa menatapku seperti itu, Jessica? Terkejut?" cibir Erika sambil melepaskan kacamata hitamnya. "Mulai hari ini, aku akan tinggal di sini. Menemani Morgan-ku tercinta agar dia tidak bosan setengah mati melihat wajah kunomu setiap hari."Jessica menarik napas dalam-dalam, menahan rasa jijik yang menggelitik dadanya. "Tinggal di sini? Kau benar-benar tidak tahu malu

  • Istrimu Adalah Takdirku   Bab 3. Sikap Pelayan Rumah yang Berubah

    Jessica benar-benar shock, baru sehari menjadi istrinya Morgan, begitu banyak hal yang sangat menakutkan yang dialaminya.Morgan semakin kencang mencengkram lehernya Jessica. “Aku tidak main-main dengan ucapanku! Lakukan apa yang aku minta atau kau tidak akan bisa melihat matahari lagi!”Napas Jessica tersengal. Cengkeraman Morgan di lehernya kian mencekik. Namun, alih-alih menangis ketakutan, mata Jessica justru menyalang tajam, menatap langsung mata suaminya."Lepas ...," bisik Jessica parau."Ingat posisimu! Kau bukan siapa-siapa tanpa kakekku. Kalau kau tidak bisa berguna untuk mendapatkan warisan itu, kau tidak ada harganya di sini!"Dengan sisa tenaga, Jessica menampar menepiskan tangannya Morgan yang melemah.Jessica tersenyum sinis. "Menyuruhku hamil dengan pria lain demi ambisimu? Kau menjijikkan. Sampai kapan pun, aku tidak akan sudi menjadi alatmu!""Lakukan sesukamu. Tapi ingat, Kakek tidak akan selamanya ada untuk melindungimu. Aku akan membuat hidupmu di rumah ini seper

  • Istrimu Adalah Takdirku   Bab 2. Permintaan Morgan

    Malam itu, setelah seluruh rangkaian acara pernikahan yang melelahkan dan penuh kepalsuan selesai, Jessica melewati koridor rumah mewah Morgan.Dia berhenti di depan pintu kamar utama, kamar pengantin yang tiada lain di dalam Morgan. Jessica menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan degup jantungnya, lalu perlahan memutar kenop pintu.Cklek.Pintu terbuka, dan pemandangan di dalam kamar seketika membuat Jessica terbelalak kaget.Di atas tempat tidur, Morgan sedang memeluk seorang wanita bergaun seksi. Itu Erika. Mereka tengah bermesraan mengabaikan fakta bahwa beberapa jam lalu Morgan baru saja mengucapkan janji suci pernikahan dengan wanita lain.Melihat pintu terbuka, Morgan menghentikan aktivitasnya tanpa rasa bersalah. Dia menoleh ke arah Jessica dengan memunculkan mata yang dipenuhi rasa muak yang teramat sangat."Bisa sopan sedikit tidak? Masuk ke kamar orang tanpa mengetuk pintu!" bentak Morgan kasar, suaranya menggelegar memenuhi ruangan.Rasa syok yang sempat melumpuhkan Je

  • Istrimu Adalah Takdirku   Bab 1. Istri Diatas Kertas

    Jessica melangkah masuk ke kamar utama keluarga Brata dengan sangat berhati-hati, membawa nampan berisi semangkuk bubur hangat dan beberapa butir obat di atasnya.Di atas ranjang ukuran besar yang mewah, Pak Brata, yang menjadi pilar utama bisnis Brata Group, terbaring lemah. Tubuh yang dulunya gagah dan ditakuti di dunia bisnis itu kini digerogoti oleh penyakit menahun."Pak Brata... waktunya makan siang dan minum obat," ucap Jessica dengan suara yang sangat lembut. Dia meletakkan nampan di meja nakas, lalu dengan telaten membantu memposisikan bantal agar Pak Brata bisa duduk lebih nyaman.Pak Brata membuka matanya yang sayu, beliau menatap Jessica, putri dari pelayan setianya yang sudah tiada. Beberapa tahun ini Jessica dengan tulus, sabar, merawatnya siang dan malam."Jessica..." suara Pak Brata parau, namun sarat akan ketetapan hati. "Panggil Morgan kemari, sekarang."Jessica tertegun sejenak, namun segera mengangguk patuh. "Baik, Pak."Lima belas menit kemudian, Morgan melangkah

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status