LOGINBAB 11 — LARANGAN MANDOR
Malam itu Fauzan sulit memejamkan mata.Ucapan Mandor Suryono terus terngiang di kepalanya."Jangan ke Blok C setelah magrib."Bukan isi larangannya yang mengganggu.Melainkan...Cara Mandor mengatakannya.Terlalu panik.Terlalu emosional.Seolah ada sesuatu yang benar-benar ingin ia sembunyikan.Di kasur sebelah, Bagas membalikkan badan."Zan...""Hm?"BAB 115 — NAMA SANG DALANGPagi itu, Pak Joko membawa kunci tua pemberian Suryono ke Blok C.Fauzan dan Bagas ikut bersamanya. Mereka juga mengajak Suryono untuk menunjukkan lokasi tempat penyimpanan yang selama ini belum pernah diperiksa.Bangunan kecil itu berada di belakang gudang utama.Dari luar, bentuknya tidak terlalu mencolok. Dindingnya kusam dan sebagian tertutup tanaman liar. Pintu besinya terlihat sudah lama tidak dibuka.Suryono berhenti beberapa langkah dari pintu.“Itu tempatnya.”Pak Joko memperhatikan bangunan tersebut.“Apakah Bapak yakin kuncinya masih bisa digunakan?”“Saya tidak tahu. Sudah lama sekali saya tidak masuk.”Pak Joko meminta petugas mendokumentasikan kondisi pintu sebelum pemeriksaan dilakukan.Setelah itu, ia mencoba memasukkan kunci tua ke lubangnya.Awalnya sulit.Namun, setelah diputar perlahan, terdengar bunyi klik.Pintu terbuka.Udara pengap langsung menyambut mereka.Fauzan menutup hidung sebentar.“Sudah lama tidak dibuka.”Bagas menyalakan l
BAB 114 — YANG DISEMBUNYIKAN SURYONONama Pak Yanto kembali menjadi perhatian Pak Joko.Kesaksiannya tentang sesuatu yang ditanam di dekat pondasi Blok C harus diperiksa. Namun, sebelum pemeriksaan dilakukan, Pak Joko ingin memastikan siapa saja yang mengetahui pekerjaan tersebut.Salah satu nama yang terus muncul adalah Suryono.Mandor itu pernah melarang pekerja mendekati Blok C setelah Magrib. Ia juga mengakui pernah menyuruh para pekerja diam setelah Minah menghilang.Pak Joko memutuskan memanggilnya kembali.Siang itu, Suryono datang ke kantor dengan wajah tegang.Ia duduk di hadapan Pak Joko. Fauzan dan Bagas berada di sisi lain meja.“Ada apa lagi, Pak?” tanyanya.“Kami ingin membicarakan kejadian setelah Minah menghilang.”Suryono menunduk.“Saya sudah menjelaskan semuanya.”“Belum semuanya,” jawab Pak Joko tegas.Suryono mengangkat wajah.Pak Joko mengeluarkan salinan denah Blok C.“Kami menerima keterangan dari Pak Yanto. Dia melihat beberapa orang melakukan pekerjaan di dek
BAB 113 — KESALAHAN DI PONDASIPagi itu, Pak Joko membawa salinan catatan Minah ke bagian pemeriksaan dokumen.Ia ingin mencocokkan angka-angka yang ditulis Minah dengan laporan resmi perusahaan.Nama Rudi Hartawan sudah muncul dalam catatan tersebut. Namun, satu kalimat masih mengganggu pikirannya.Dia tidak bertindak sendiri.Jika Minah benar, berarti ada orang lain yang ikut mengatur perubahan laporan.Dan orang itu mungkin memiliki kewenangan lebih besar daripada Rudi.Fauzan dan Bagas datang ketika Pak Joko sedang membandingkan dua dokumen.“Bagaimana, Pak?” tanya Fauzan.Pak Joko menunjuk beberapa angka.“Lihat bagian ini. Laporan awal mencatat jumlah material yang masuk ke Blok C. Namun, laporan akhir menunjukkan jumlah yang lebih sedikit.”Bagas mendekat.“Selisihnya cukup banyak.”“Bukan hanya itu. Tanggal pengirimannya juga berubah.”Fauzan mengambil salinan lain.“Di catatan Minah, ada pengiriman malam yang tidak masuk laporan resmi.”Pak Joko mengangguk.“Kita perlu menget
BAB 116 — SUARA DARI MALAM ITUDua hari setelah pemeriksaan gudang kecil di belakang bangunan utama, Pak Joko akhirnya mendapat kabar dari petugas pemeriksa barang bukti.Alat perekam suara yang ditemukan di dalam kotak kayu masih bisa dibaca datanya.Namun, kondisinya sudah tua. Beberapa bagian rekaman mengalami gangguan dan perlu dipulihkan terlebih dahulu.Pagi itu, Fauzan dan Bagas datang ke kantor polisi.Suryono juga hadir setelah diminta memberikan keterangan tambahan.Di sebuah ruangan pemeriksaan, Pak Joko sudah menunggu bersama seorang petugas yang menangani pemeriksaan rekaman.Di atas meja terdapat laptop dan salinan digital rekaman dari alat tersebut.“Ini salinan hasil pemeriksaan awal,” jelas petugas. “Perangkat aslinya tetap kami amankan. Rekaman tidak akan diputar langsung dari alat sebelum semua data selesai didokumentasikan.”Pak Joko mengangguk.“Silakan mulai.”Petugas menekan tombol pemutar.Awalnya hanya terdengar suara berdesis.Kemudian muncul bunyi kendaraan
BAB 112 — RAHASIA MINAHPagi itu, Pak Joko kembali membuka arsip lama perusahaan.Map merah yang dibawa seseorang pada malam Minah menghilang masih menjadi tanda tanya. Mereka belum tahu siapa pemiliknya, apalagi apa isi dokumen di dalamnya.Namun, Pak Joko memiliki dugaan bahwa map tersebut berkaitan dengan perubahan laporan material Blok C.“Kalau benar ada dokumen yang dibawa malam itu, kemungkinan salinannya pernah dibuat,” katanya.Fauzan duduk di hadapannya.“Berarti kita harus mencari salinan yang disimpan Minah?”“Bisa jadi. Minah mungkin tidak sepenuhnya percaya kepada orang-orang di perusahaan. Kalau dia berniat melapor, tentu dia membutuhkan bukti.”Bagas membuka kembali catatan penyelidikan.“Pak, sebelumnya kita menemukan laporan material yang jumlahnya berbeda. Ada pekerjaan malam yang tidak tercatat, lalu beberapa tanda terima juga hilang.”Pak Joko mengangguk.“Itulah
BAB 111 — MALAM YANG SEBENARNYANama Raka membuat penyelidikan kembali berubah arah.Menurut catatan perusahaan, orang tersebut sudah meninggal beberapa tahun sebelum Minah menghilang. Namun, Boneng mengingat bahwa Minah menyebut nama itu pada malam terakhirnya.Pak Joko belum ingin mengambil kesimpulan.Ia meminta anggotanya memeriksa identitas Raka, termasuk riwayat pekerjaannya di perusahaan dan hubungannya dengan proyek C-12.Sementara itu, Fauzan dan Bagas kembali mengumpulkan keterangan dari beberapa mantan pekerja.Mereka ingin menyusun ulang kejadian malam itu.Bukan hanya berdasarkan dugaan, tetapi dari kesaksian orang-orang yang pernah berada di sekitar lokasi.Pertemuan pertama dilakukan dengan Pak Samin dan Pak Harun.Keduanya datang ke kantor setelah menerima panggilan dari Pak Joko.Pak Joko meletakkan beberapa salinan dokumen di atas meja.“Kami sedang menyusun kembali







