Mag-log inIlalang terkekeh.
"Aku tidak peduli siapa dia, Nek. Kalaupun ternyata dia putri presiden atau pewaris kerajaan, jawabanku tetap sama. Aku tidak tertarik."
Linggar menunduk. Jari-jarinya yang sejak tadi saling bertaut semakin erat mencengkeram ujung hijab. Entah kenapa, ia merasa seluruh udara dalam ruangan mendadak habis.
"Selama ini aku selalu menuruti apa pun permintaan Nenek, tapi kali ini aku tidak bisa menurut lagi."
Linggar menahan napas. Ia tidak berani mengangkat wajah. Tidak perlu melihat pun ia sudah tahu bagaimana lelaki itu memandang dirinya.
Ilalang melirik sekilas ke arahnya. Tanpa sengaja, mata mereka bertemu. Hanya sesaat. Tetapi cukup untuk membuat dada Linggar terasa seperti diremas.
Tidak ada senyum hangat yang biasa ia lihat ketika lelaki itu menyerahkan Lintang sepulang memetik teh. Tidak ada tatapan lembut seperti ketika menggendong anaknya. Pria dengan rahang tegas itu kini terasa asing.
Linggar buru-buru mengalihkan pandangan.
"Aku permisi," pamit Ilalang. Langkahnya terdengar mantap meninggalkan ruang tamu. Suara sepatu lelaki itu semakin menjauh sebelum pintu tertutup keras.
Linggar masih berdiri. Ia berusaha menelan sesuatu yang terasa mengganjal di tenggorokan.
Jangan menangis, batin Linggar.
Ia sudah terlalu sering menangis. Ia tidak ingin menangis hanya karena seorang lelaki menolaknya.
"Bu...." Suara Linggar terdengar jauh lebih kecil dari yang ia inginkan. "Saya izin pulang."
Bu Ratih menatapnya dengan wajah sedih.
"Maafkan Ibu."
Linggar buru-buru menggeleng.
"Jangan begitu. Ibu tidak salah."
"Ibu sudah membuatmu terluka."
Linggar tersenyum tipis.
"Yang dikatakan Mas Ilalang memang benar." Linggar menunduk. "Saya memang bukan perempuan yang sepadan dengannya."
"Jangan bicara begitu."
Linggar menarik napas.
"Sudah beruntung saya diterima kerja di sini sambil menjaga anak saya. Kalau di tempat lain, saya tidak yakin akan ada yang mau menerima."
Bu Ratih melangkah mendekat lalu menggenggam kedua tangan Linggar
" Ibu berjanji."
Linggar mengangkat wajah.
"Mulai hari ini, Ibu tidak akan membiarkan kamu menjalani hidup seperti ini lagi."
Linggar mengernyit.
"Maksud Ibu?"
"Nanti kamu akan mengerti."
Jawaban itu justru membuat Linggar semakin bingung. Namun ia tidak bertanya lagi. Apa pun yang hendak dilakukan Bu Ratih, Linggar merasa tidak ingin berharap.
Ia berpamitan lalu melangkah keluar dari rumah utama.
Udara sore menyambut wajahnya. Linggar menarik napas panjang.
Hamparan kebun teh terbentang sejauh mata memandang. Para pemetik mulai turun membawa keranjang yang sejak pagi memenuhi punggung mereka. Beberapa orang menyapa, bahkan bertanya mengapa hari ini ia tidak ikut bekerja.
Linggar menjawab seperlunya dengan senyum kecil yang selalu terukir di wajahnya.
Ia mempercepat langkah.
Mess pabrik tidak terlalu jauh dari rumah utama. Hanya tembok tinggi yang memisahkan bangunan besar itu dengan kamar-kamar sederhana tempat para pekerja tinggal.
Salah satu kamar kecil menjadi rumah Linggar bersama Lintang sejak ia diterima bekerja di perkebunan tersebut.
Hanya pekerjaan itu yang bisa dilakukan Linggar. Dia tak memiliki pengalaman kerja. Selama menikah dengan Rangga, ia tidak pernah bekerja. Rangga, suaminya yang menjadi buruh pabrik selalu berusaha mencukupi kebutuhan mereka. Namun semuanya berubah setelah lelaki itu pergi untuk selamanya dalam sebuah kecelakaan.
Sejak saat itu, Linggar belajar bahwa hidup tidak akan berhenti hanya karena seseorang kehilangan tempat bergantung. Ia harus tetap berjalan untuk Lintang.
"Bunda!"
Suara kecil itu langsung membuat langkah Linggar terhenti.
Lintang berlari kecil di depan mesnya lalu memeluk pinggangnya.
Linggar segera membalas pelukan tersebut. Hanya dalam pelukan anaknya, sesak yang sejak tadi menekan dadanya sedikit berkurang.
"Kok sudah di rumah?"
"Tante Rani ada janji sama temannya." Lintang mendongak. "Katanya aku boleh di rumah sendiri asal nggak nakal."
Linggar mengusap pipinya.
"Memangnya Lintang ngapain? Nggak nyalain kompor, kan?"
Lintang menggeleng cepat.
"Nggak. Aku cuma main boneka."
"Anak Bunda memang pintar."
Lintang tersenyum bangga. Kemudian tangannya merogoh saku rok Linggar.
"Kok kosong?"
Linggar tertawa kecil.
"Kenapa?"
"Biasanya kalau Nenek manggil Bunda, aku dibawain makanan."
Lintang kembali mengintip saku yang kosong.
"Mana kuenya?"
Senyum Linggar perlahan menghilang. Biasanya memang begitu. Setiap kali Bu Ratih memanggilnya ke rumah utama, selalu ada kue atau buah yang disiapkan untuk Lintang.
Linggar mengusap kepala putrinya.
"Hari ini Nenek lagi sibuk."
"Ooo...." Lintang mengangguk polos.
Beberapa detik kemudian matanya kembali berbinar. "Oh iya...."
Linggar tersenyum. "Kenapa?"
"Tadi ketemu Om Lalang nggak?"
Senyum Linggar langsung lenyap.
"Ketemu."
"Om Lalang kasih jajan?"
"Tidak."
"Kenapa?"
Linggar terdiam. Ia tidak tahu bagaimana menjelaskan kepada anak seusia Lintang bahwa seseorang yang selama ini begitu baik kepadanya ternyata tidak ingin memiliki hubungan apapun dengan mereka.
Linggar memejamkan mata sesaat.
"Bunda?" Lintang menggoyang lengannya.
Linggar membuka mata lalu tersenyum.
"Mungkin Om Ilalang sedang sibuk."
"Iya, ya." Lintang tertawa kecil. "Nanti kalau ketemu lagi pasti kasih cokelat."
Linggar berjongkok hingga sejajar dengan putrinya. Tangannya membelai rambut Lintang.
"Lintang."
"Iya?"
"Mulai sekarang jangan terlalu sering mengganggu Om Ilalang."
"Kenapa?"
"Beliau banyak pekerjaan."
"Tapi Om baik."
Linggar tersenyum pahit.
"Iya."
"Om juga suka gendong Lintang."
"Kalau bertemu, cukup salim."
Lintang mengerucutkan bibir.
"Nggak boleh minta digendong lagi?"
Linggar menggeleng pelan.
"Cukup salim."
Lintang terlihat kecewa. Hati Linggar ikut sakit. Namun ia tahu, semakin dekat Lintang dengan Ilalang, semakin besar kemungkinan anak itu terluka jika suatu hari lelaki tersebut benar-benar mengacuhkannya.
"Om marah sama Lintang?"
"Bukan."
"Terus?"
Linggar menarik putrinya ke dalam pelukan.
"Kadang seseorang berubah karena hidupnya berubah."
Lintang tidak benar-benar memahami. Ia hanya mengangguk lalu kembali memainkan bonekanya.
Linggar memandang putrinya lama. Ia berharap Lintang segera melupakan kebiasaannya menunggu Ilalang. Tidak ada gunanya menggantungkan harapan kepada lelaki yang bahkan merasa malu jika dikaitkan dengan mereka.
Sore berganti senja. Pagi pun tiba.
"Bunda kerja?" tanya Lintang.
"Iya, Sayang. Lintang kan sudah sehat, Bunda kerja lagi biar punya uang buat bawa Lintang ke dokter."
"Hore... nanti bisa ketemu Om Lalang."
Linggar hanya menatap putrinya, lalu menaikkannya ke sepeda.
"Lintang.... kemarin Bunda bilang apa soal Om?"
Gadis mungil itu cemberut menunduk.
Linggar segera mengayuh sepedanya sampai di sebuah area petik teh.
"Lintang... jangan ke mana-mana. Tungguin Bunda kerja," pesan Linggar begitu ia mengangkat putrinya ke gubuk sambil mengeluarkan bekal dan mainannya.
Lintang mengangguk.
Beberapa pekerja mencandai dia. Ada juga yang memberi makanan kecil yang mereka bawa. Termasuk menitipkan makanan mereka di samping Lintang.
Saat siang sudah waktunya pulang, Linggar pun mengajak anaknya pulang. Linggar memang mengambil kerja hanya setengah hari demi putrinya.
"Bund, tadi aku lihat Om Lalang . Dia...."
Linggar tidak menjawab.Ilalang menatapnya beberapa saat. Kemudian lelaki itu kembali mencium bibir Linggar. Kali ini lebih lama, lebih dalam.Linggar hanya memejamkan mata, merasa lelah.“Jangan membandingkan dirimu dengan siapa pun.”Linggar masih diam.“Apalagi dengan Cindy.”“Tapi Mas sendiri…”“Aku memang memiliki masa lalu dengan dia.” Ilalang menghela napas.“Tapi itu bukan berarti aku ingin kembali kepadanya.”Linggar menatapnya, bimbang.“Lalu kenapa Mas kelihatan begitu senang bersamanya?”“Karena aku sedang berkumpul dengan teman lama. Tidak lebih."Ilalang mengusap kepala Linggar.“Sesederhana itu, Linggar.”Linggar terdiam. Namun hatinya belum sepenuhnya percaya.Ilalang menangkup wajah Linggar dan menciumnya kembali.“Kamu istriku.” Ilalang tersenyum tipis. “Jadi jangan buat aku merasa kamu justru ingin menyerahkan aku kepada orang lain.”Linggar belum sempat berkata ketika suara Lintang terdengar dari luar.“Bunda!”Ilalang menoleh.Linggar pun keluar.Lintang berdiri s
"Sudahlah, jangan banyak alasan. Ayo."Sean menarik tangan Linggar.“Sekalian lihat tempat lama kami.”Kiki langsung muncul dari belakang Sean.“Aku ikut!”Rania tertawa.“Baru dengar air terjun langsung semangat.”Kiki menjulurkan lidah.“Daripada mereka jalan berdua tanpa aku.”Linggar melihat jalan setapak yang tadi dilewati Ilalang dan Cindy. Ia menarik napas.“Baiklah, aku ikut.”Sean tersenyum.“Nah, begitu.”Linggar menyerahkan urusan bekal kepada Rania.“Aku pergi sebentar.”Rania mengangguk walau seperti jengkel.“Bawa Kiki juga. Sean kalau jalan suka nyasar.”“Hei!” Sean protes.Linggar tersenyum kecil, lalu berjalan mengikuti Sean. Namun baru beberapa langkah, Linggar kembali menatap pemandangan di depannya.Dari kejauhan, ia masih bisa melihat Ilalang. Lelaki itu berdiri di dekat air terjun bersama Cindy.Lintang sudah turun dari gendongannya.Cindy sedang membisikkan sesuatu, lalu Ilalang tertawa.Linggar segera membuang wajah.Langkahnya kembali bergerak. Ia tidak ingin
Besuknya saat siang mereka sudah menuju bumi perkemahan. “Mas, kita sudah sampai?” Linggar menoleh keluar jendela ketika mobil mulai memperlambat laju. Lintang yang sejak tadi duduk sambil memeluk bantal kecilnya langsung bangkit. “Sudah sampai?” Ilalang yang mengemudi hanya melirik kaca spion. “Iya. Lawong tempatnya juga nggak jauh dari rumah.” Linggar terkekeh. "Kayak.nggak kemah saja." Mereka melihat sekeliling. Sabtu siang membuat kawasan perkemahan itu tampak ramai. Beberapa mobil sudah terparkir berjajar, sementara tenda-tenda berdiri mengelilingi area yang dipenuhi pepohonan. Lokasinya tidak terlalu jauh dari tempat tinggal mereka. Hanya perlu beberapa puluh menit untuk sampai, tetapi suasananya terasa jauh berbeda. Linggar menghembuskan napas pelan. Entah kenapa sejak berangkat tadi ada perasaan tidak nyaman yang terus mengikutinya. Bagaimanapun juga ia baru gabung di komunitas suaminya, terlebih di sana ada Rania. Pertanyaan semalam masih teringat
"Sepertinya cinta kalian begitu dalam." Ilalang mengerutkan kening. "Apa?" "Mas seolah tersiksa karena tidak bisa melanjutkan cinta setelah putus dengan Cindy." Ilalang menatapnya beberapa saat. "Siapa bilang?" "Tadi kedengarannya begitu." "Aku cuma ingin jadi jomblo." Linggar mendengus. "Alasan." "Memang benar. Walau nyesel juga." Ilalang tersenyum. "Karena ternyata lebih enak punya istri daripada jomblo." Linggar memalingkan wajah. "Terutama saat hujan begini." Tangan Ilalang sydah merayap. "Mas!" Ilalang tertawa. "Kenapa?" "Jangan bicara sembarangan. Apalagi tangan kamu." "Aku serius." Linggar mengibaskan tangan Ilalang yang makin berani. Saat tangannya bergerak itu, petir tiba-tiba menyambar. Suara menggelegar memenuhi malam. Linggar menjerit. Tubuhnya langsung tersentak. Ilalang yang semula tersenyum mendadak terdiam. "Linggar?" Perempuan itu memejamkan mata rapat-rapat. Tangannya mencengkeram selimut. Ilalang segera mendekap L
Pertanyaan Laras membuat suasana ruang keluarga seketika sunyi.Linggar yang sejak tadi duduk, perlahan mengangkat wajah. Tatapannya langsung tertuju kepada Ilalang.Lelaki itu masih memegang ponsel Bu Ratih. Wajahnya terlihat tegang, sementara jemarinya sesekali bergerak seperti sedang mencari sesuatu untuk dikatakan.Linggar menahan napas.Ia tidak tahu mengapa pertanyaan itu terasa begitu berat.Bukankah jawabannya sederhana?Mereka suami istri.Namun, mendengar nada Laras yang terdengar penuh curiga membuat Linggar merasa seolah hubungan mereka sedang dipertanyakan.Ilalang akhirnya menjawab.“Linggar sebenarnya sekretaris aku, Mi.”Linggar menoleh cepat.Sekretaris? Hati Linggar teriris perih. Bu Ratih mm enatap wajahnya prihatin.Ternyata Ilalang masih belum mengataka kalau aku istrinya pada ibunya itu, batin Linggar sedih. Ia tidak menyangka Ilalang akan menjelaskan seperti itu.Ilalang melanjutkan sebelum Laras kembali bertanya.“Dia banyak membantu pekerjaan perkebunan. B
Bu Ratih menekan Loos speaker. “Ya, Bu.” “Ilalang makannya masih baik?” Pertanyaan itu membuat Linggar mengerjapkan mata. Ia menoleh kepada Ilalang yang sejak tadi tidak mengalihkan pandangan darinya. “Masih, Bu.” “Syukurlah. Saya sempat khawatir. Ilalang itu kalau sudah suka sambal, susah mengerem. Perutnya sering bermasalah kalau terlalu banyak makan pedas.” Linggar tersenyum kecil. “Sekarang saya sudah tahu, Bu. Jadi sambalnya saya atur biar nggak terlalu pedas.” “Pantas saja kapan hari saat ke Tokyo dia terlihat makin berisi badannya. Kayaknya ada yang memperhatikan pola makannya.” Nada Laras terdengar ringan. “Kalau begitu, selama saya belum pulang, tolong terus perhatikan makanannya.” Linggar terdiam sesaat. Cara bicara Laras membuatnya merasa seperti seseorang yang sudah lama membantu mengurus kebutuhan Ilalang. Linggar mengusap ujung hijabnya. “Iya, Bu.” “Sebentar lagi tahun baru, kan?” “Iya.” "Mungkin kamu belum tahu kalau tahun baru kami sekeluarga kumpul s







