เข้าสู่ระบบLinggar mengangkat wajah. Sorot matanya masih lembut, tetapi kali ini jauh lebih mantap. Ia tahu persis apa yang ingin ia lindungi. Dirinya sendiri.
"Saya akan melakukan apapun kwajiban saya sebagai seorang istri sebagai gantinya. Tetapi, jangan pernah memaksa saya menjalankan kewajiban sebagai istri di ranjang."
Kalimat itu meluncur pelan. Ia hanya ingin memastikan batas yang harus mereka sepakati sejak awal. Pernikahan tanpa cinta sudah cukup berat. Ia tidak ingin tubuhnya ikut menjadi sesuatu yang bisa dipaksakan.
Linggar berhenti sejenak saat ia menatap perubahan di wajah Ilalang. Rasa tak enak menyergapnya.
"Kecuali...."
Belum sempat kalimat itu selesai, tawa pendek Ilalang lebih dulu terdengar.
Linggar menatap Ilalang yang kini menatapnya tajam. Lelaki itu sengaja mendekatkan tubuhnya seolah mengukur tinggi badannya yang memang menjulang di atas Linggar.
"Kamu pikir aku berminat?"
Ucapan Ilalang seharusnya menyakitkan bagi Linggar. Anehnya, jawaban itu membuat hatinya terasa sedikit lebih ringan.
Linggar memilih diam. Menatap sikap angkuh Ilalang yang menyilangkan tangan.
"Tubuh mungilmu selalu terbungkus seperti karung goni."
Linggar mundur selangkah. Tatapan lelaki itu menyapu pakaian sederhana yang dikenakannya.
"Memang harus kuakui, wajahmu lumayan cantik."
Linggar sedikit terkejut mendengar pengakuan itu. Namun ia segera menguasai ekspresinya. Terlebih saat Ilalang melanjutkan.
"Tapi itu tidak cukup membuatku tertarik."
Linggar menunduk sebentar. Ia tidak tahu harus merasa tersinggung atau lega.
"Aku memang lama hidup di luar negeri." Nada suara Ilalang terdengar lebih tenang. "Tapi ada satu prinsip yang tidak akan pernah berubah."
Linggar menunggu. Seketika wajahnya mendongak saat nafas lelaki yang mendekat itu terasa hangat menyapu wajahnya. Lalu beralih ke telinganya.
"Aku tidak akan menyentuh perempuan yang tidak aku cintai."
Seketika Linggar menghindar, berusaha menjaga jarak saat tubuhnya gemetar.
Hening. Linggar bisa melihat lelaki itu terkejut melihat reaksinya.
Dengan cepat, Linggar berusaha mengendalikan diri. Entah mengapa, kalimat itu justru membuat beban di dada Linggar berkurang. Setidaknya lelaki itu masih memiliki batas yang sama dengannya.
Ia tidak membutuhkan cinta dari Ilalang jika yang dimaksud cinta itu adalah menyentuh dirinya seperti layaknya suami istri seharusnya. Ia hanya membutuhkan rasa hormat. Karena pernikahan ini sudah cukup rumit tanpa harus menambah luka baru.
"Kalau begitu...." Linggar tersenyum kecil. "Kita sepakat."
Ilalang menatapnya beberapa detik.
Linggar dapat merasakan tatapan lelaki itu, tetapi kali ini ia tidak menunduk untuk menghindarinya. Ia sudah menyampaikan apa yang ingin disampaikannya. Tak ada lagi yang perlu ia sembunyikan.
Entah kenapa, perempuan itu tidak tampak lega karena akan menikah dengan pewaris perkebunan terbesar. Tidak ada sorot mata berbinar. Apalagi senyum kemenangan.
Justru sebaliknya.
Linggar terlihat seperti seseorang yang sedang menerima kenyataan pahit. Dan memang itulah yang sedang ia lakukan. Ia bukan perempuan yang mendapatkan laki-laki kaya sebagai hadiah. Ia hanya sedang menerima sebuah pernikahan yang tidak pernah ia impikan. Namun mengingat kata-kata Ilalang tentang Lintang, ia akan menjalaninya.
"Ada syarat lain?"
Linggar menggeleng. "Cukup itu."
"Kamu tidak meminta yang lain?"
Linggar menggeleng. "Tidak."
"Rumah?"
"Tidak."
"Perhiasan?"
Linggar kembali menggeleng.
"Uang?"
"Saya masih mampu bekerja."
Jawaban itu membuat Ilalang terkekeh pelan.
"Kerja? Kerja apa yang bisa kamu lakukan selain menjadi buruh petik teh?"
Seketika tatapan Linggar menatap tajam, membuat lelaki di depannya menelan ludah.
"Kamu meremehkan aku?" Linggar menatap lelaki yang kini menatapnya berbeda. "Lihat saja nanti jika aku kamu beri kesempatan, aku akan buktikan kalau aku tidak hanya bisa memetik teh."
"Baik, itu terserah kamu." Senyum Ilalang terlihat mengejek. "Sekarang aku tanya, kamu minta mahar apa?"
Linggar menggeleng. Ia tidak meminta apa pun.
"Uang mungkin. Berapa?"
Lagi-lagi Linggar menggeleng. Lalu dengan acuh, ia beranjak. Baginya, cukup Ilalang memegang satu janji itu. Ia hanya hanya ingin memastikan hak untuk menentukan apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan terhadap dirinya sendiri.
"Linggar.... " Ilalang hampir menarik lengan Linggar yang hendak menaruh sapunya di pojokan.
Linggar yang kaget segera menghindar. Lalu sejenak menatap pria itu dengan wajah pucat. Tangannya sampai gemetar.
Ilalang kembali kaget dengan reaksi Linggar.
"Aku cuma tanya, mahar apa yang kamu minta?"
Linggar yang masih gemetar berkata lirih. "Terserah."
Ilalang menarik nafas pelan. "Kalau begitu kita tidak punya masalah lagi."
Linggar mengangguk.
"Sekarang kamu bisa pergi."
"Kamu mengusirku?"
"Aku hanya risih dengan tatapan orang yang lewat."
"Baiklah. Besok aku akan bicara dengan Nenek soal maharmu."
Linggar mengembuskan napas panjang. Berarti pernikahan itu benar-benar akan terjadi. Ia akan menikah dengan lelaki yang bahkan belum mampu membuat hatinya berdebar seperti saat ia menerima Rangga dulu.
Sebuah pernikahan kesepakatan yang mungkin akan membuat hidup mereka jauh lebih rumit. Walau Linggar tak memiliki ketakutan yang berlebihan.
Satu perkataan akhirnya keluar dari bibir Linggar.
"Kalau begitu...."
Ilalang berbalik.
Linggar menatap wajah lelaki yang sebentar lagi akan menjadi suaminya. Kali ini sorot matanya tenang. Tak ada lagi keraguan. Apalagi alasan untuk mundur.
Inggar menarik napas pendek. "Kapan kita menikah?"
"Ini...." Linggar menutup mulutnya. "Jadi ini maharku...emas 50 gr itu?" Suaranya nyaris tidak terdengar.Linggar mundur selangkah. Matanya masih terpaku pada benda yang selama ini tidak pernah ia sangka akan kembali ia lihat."Perhiasan ini ... kenapa bisa ada di sini? Bagaimana bisa Mas Ilalang mendapatkannya?"Linggar nyaris tidak mengenali suaranya sendiri.Tangannya gemetar ketika membuka tutup kotak sedikit lebih lebar. Kilauan emas menyambut mata.Ada kalung emas dengan liontin giok hijau tua sebesar kuku ibu jari, dikelilingi ukiran emas kecil. Ada sepasang anting, cincin dan gelang dengan batu giok yang sama. Di bagian belakang liontin terdapat ukiran lambang keluarga yang hanya Linggar yang kenal. Benda itu bukan sekadar perhiasan biasa. Linggar pernah melihatnya bertahun-tahun lalu. Bahkan pernah menangis karena ingin mengenakannya.Ingatan itu datang begitu saja."Mami, Dio boleh pakai sebentar?"Gadis belasan tahun itu berdiri sambil menunjuk sebuah kotak beludru. Diala
Ilalang menatap Linggar tanpa berkedip. Tangannya terangkat."Mau menamparmu!" Suara Ilalang menggelegar.Sesaat, Linggar hanya mampu menatap tangan itu dengan tubuh menegang. Jari-jarinya spontan mencengkeram ujung pakaian dengan napas tertahan.Ia memejamkan mata rapat-rapat. Ia ingin berlari, tapi kakinya seolah diam di tempat.Beberapa detik....Brak! Suara pintu terbanting keras.Linggar membuka mata. Ruangan itu sudah kosong.Ia masih berdiri menempel di dinding dengan dada naik turun. Kedua tangannya perlahan terangkat, memeluk tubuh sendiri.Beberapa saat kemudian, Linggar mengembuskan napas panjang.Ternyata lelaki itu pergi. Tak ada pukulan atau tamparan yang ia takutkan.Linggar menatap pintu yang baru saja tertutup."Kenapa aku harus takut hanya karena dia mengangkat tangan?" Suara itu keluar lirih. Walau tubuhnya masih gemetar.Ia mengusap kedua lengannya, lalu berjalan menuju wastafel yang terletak di dekat dapur. Wajahnya terlihat pucat ketika menatap cermin.Linggar me
Bu Ratih mengangguk."Bu, saya bisa tidur di kamar tamu tadi.""Tidak." Bu Ratih menggeleng. "Kalian sudah menikah."Linggar melirik Ilalang. Wajah lelaki itu terlihat sulit dibaca."Nenek.... kami masih perlu....""Jangan membantah. Ingat, perjanjian kamu sama Nenek."Linggar sontak menatap wanita Sepuh yang kini menutup mulutnya itu. Lalu pandangannya beralih ke Ilalang.Ternyata dia mau menerima pernikahan ini karena itu, bathin Linggar. Ia penasaran, perjanjian apa yang mereka lakukan sampai bisa membuat Ilalang menyetujuinya."Bukankah kata Nenek, sudah ada Lintang yang bisa... ""Jangan bicara lagi." Bu Ratih menatap Linggar tak enak hati.Ilalang akhirnya berdiri. Dengan kasar ia menarik tangan Linggar."Ayo."Linggar yang kaget ikut berdiri, reflek mengibaskan tangan Ilalang. Ia lalu mendekati Lintang dan menggenggam tangannya. Entah apa isi perjanjian itu yang membuat Ilalang menyebut nama Lintang."Lintang akan tidur bersama aku selamanya." Bu Ratih segera mendekat. Lalu men
Ucapan polos itu membuat tangan Bu Ratih yang sedang menyisir rambut Linggar mendadak berhenti. Beliau perlahan mengangkat wajah. Tatapannya bertemu dengan mata Linggar yang ikut membeku."Linggar... "Suara Bu Ratih menggantung bersama gerakan tangannya yang terhenti.Linggar masih duduk menghadap cermin. Wajah yang telah tersapu riasan tipis terlihat berbeda, tetapi tatapan matanya justru semakin gugup."Ada apa, Bu?"Bu Ratih tidak langsung menjawab. Tatapan perempuan tua itu turun ke wajah Linggar, lalu beralih kepada Lintang yang masih berdiri sambil memainkan ujung rambut ibunya.Bu Ratih hendak mengatakan sesuatu. Namun sebelum satu kata pun keluar, terdengar ketukan dari luar.Tok... tok... tok..."Nek...." Suara Ilalang terdengar dari balik pintu.Bu Ratih segera mengalihkan perhatian."Masuk saja."Pintu terbuka.Ilalang melangkah masuk dengan stelan jas ivory. Tubuh tegapnya terlihat semakin berwibawa.Langkah lelaki itu mendadak terhenti. Tatapannya sempat berhenti seperse
"Secepatnya. Mungkin paling lama bulan depan."Linggar mengangguk pelan."Baik."Tanpa menambah sepatah kata, Ilalang berbalik menuju motornya.Mesin kembali menyala. Debu tipis beterbangan saat kendaraan itu meninggalkan halaman mess.Linggar masih berdiri mematung. Ia baru bergerak setelah suara mesin menghilang."Bunda...." Lintang memeluk pinggangnya. "Om Lalang pergi?"Linggar membelai kepala putrinya."Iya."...Sebulan kemudian. Sore itu saat Linggar tiba di rumah utama."Mana teropnya, Lang?"Suara Bu Ratih terdengar keras bahkan sebelum Linggar melangkah melewati ambang pintu.Linggar yang baru saja tiba bersama Lintang spontan menghentikan langkah.Bu Nini yang menjemputnya memberi isyarat agar menunggu sebentar. Namun, pertengkaran dari ruang tamu membuat kaki Linggar seolah terpaku."Aku memang tidak memesannya.""Itu pernikahanmu!""Akad sederhana sudah cukup."Linggar menunduk. Sebenarnya Ia tak berniat menguping, tetapi suara Ilalang dan Bu Ratih terdengar jelas."Pelam
Linggar mengangkat wajah. Sorot matanya masih lembut, tetapi kali ini jauh lebih mantap. Ia tahu persis apa yang ingin ia lindungi. Dirinya sendiri."Saya akan melakukan apapun kwajiban saya sebagai seorang istri sebagai gantinya. Tetapi, jangan pernah memaksa saya menjalankan kewajiban sebagai istri di ranjang."Kalimat itu meluncur pelan. Ia hanya ingin memastikan batas yang harus mereka sepakati sejak awal. Pernikahan tanpa cinta sudah cukup berat. Ia tidak ingin tubuhnya ikut menjadi sesuatu yang bisa dipaksakan.Linggar berhenti sejenak saat ia menatap perubahan di wajah Ilalang. Rasa tak enak menyergapnya."Kecuali...."Belum sempat kalimat itu selesai, tawa pendek Ilalang lebih dulu terdengar.Linggar menatap Ilalang yang kini menatapnya tajam. Lelaki itu sengaja mendekatkan tubuhnya seolah mengukur tinggi badannya yang memang menjulang di atas Linggar."Kamu pikir aku berminat?"Ucapan Ilalang seharusnya menyakitkan bagi Linggar. Anehnya, jawaban itu membuat hatinya terasa sed







