Teilen

05. Sepi

last update Veröffentlichungsdatum: 13.07.2026 20:12:57

"Secepatnya. Mungkin paling lama bulan depan."

Linggar mengangguk pelan.

"Baik."

Tanpa menambah sepatah kata, Ilalang berbalik menuju motornya.

Mesin kembali menyala. Debu tipis beterbangan saat kendaraan itu meninggalkan halaman mess.

Linggar masih berdiri mematung. Ia baru bergerak setelah suara mesin menghilang.

"Bunda...." Lintang memeluk pinggangnya. "Om Lalang pergi?"

Linggar membelai kepala putrinya.

"Iya."

...

Sebulan kemudian. Sore itu saat Linggar tiba di rumah utama.

"Mana teropnya, Lang?"

Suara Bu Ratih terdengar keras bahkan sebelum Linggar melangkah melewati ambang pintu.

Linggar yang baru saja tiba bersama Lintang spontan menghentikan langkah.

Bu Nini yang menjemputnya memberi isyarat agar menunggu sebentar. Namun, pertengkaran dari ruang tamu membuat kaki Linggar seolah terpaku.

"Aku memang tidak memesannya."

"Itu pernikahanmu!"

"Akad sederhana sudah cukup."

Linggar menunduk. Sebenarnya Ia tak berniat menguping, tetapi suara Ilalang dan Bu Ratih terdengar jelas.

"Pelaminan juga tidak ada?"

"Tidak perlu."

Bu Ratih mengembuskan napas panjang.

"Kamu mempermalukan calon istrimu."

"Tidak ada yang dipermalukan."

Linggar menggenggam tangan Lintang yang mulai gelisah.

"Bunda, Om Lalang lagi dimarahin?"

"Ssst...." Linggar mengusap kepala putrinya pelan.

Ilalang kembali bersuara.

"Aku tidak ingin pesta."

"Kamu tidak ingin, atau kamu malu?"

Keheningan sesaat memenuhi ruangan. Linggar dapat membayangkan wajah Ilalang yang mengeras setiap kali pertanyaan itu terlontar.

"Aku hanya tidak suka keramaian."

"Kamu bohong!" Nada Bu Ratih meninggi. "Kalau benar tidak suka keramaian, kenapa beberapa bulan lalu kamu masih datang ke pesta rekan bisnismu?"

Ilalang tak langsung menjawab.

"Lalu kapan Papi dan Mamimu pulang?"

"Mereka belum tahu."

Bu Ratih membelalak.

"Belum tahu?"

"Mereka masih di luar negeri."

"Kamu belum memberi kabar?"

"Aku belum sempat."

Tongkat kayu yang selalu menemani Bu Ratih menghantam lantai granit hingga menimbulkan bunyi keras.

"Belum sempat?"

Suara perempuan tua itu bergetar menahan kecewa.

"Katamu undangan sudah disebar."

Ilalang mengembuskan napas.

"Aku bohong."

Linggar refleks menutup mulut. Dadanya mendadak sesak.

"Kamu...." Bu Ratih memejamkan mata beberapa saat. "Jadi selama ini kamu membohongi Nenek?"

Ilalang tak membantah.

"Kamu bilang keluarga besar akan datang."

Diam.

"Kamu bilang relasi bisnis sudah menerima undangan."

Diam lagi.

"Ternyata tidak ada siapa-siapa."

Suara Bu Ratih mulai bergetar.

"Kamu sengaja membuat pernikahan ini seolah tidak pernah terjadi."

"Aku hanya ingin semuanya selesai tanpa menjadi pembicaraan."

"Pembicaraan siapa?"

"Semua orang."

Bu Ratih tertawa lirih. Tawa yang jauh lebih menyakitkan daripada amarah.

"Jadi benar...." Tatapannya menembus wajah cucunya. "Kamu malu menikahi Linggar."

Linggar dapat melihat Ilalang mengepalkan tangan.

"Aku sudah bilang...."

"Tidak usah membela diri."

"Nenek...."

"Diam!" Bu Ratih memalingkan wajah. "Kamu tidak menghargai perempuan yang besok akan menjadi istrimu."

Ilalang menatap lantai.

"Aku sudah memenuhi permintaan Nenek."

"Tapi tidak dengan hatimu."

Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi.

Linggar menggigit bibir. Tak sanggup rasanya mendengar lebih banyak. Ia hendak mengajak Lintang pergi. Namun tiba-tiba terdengar suara tongkat terjatuh.

Buk....

Linggar refleks berlari masuk.

"Bu!"

Bu Ratih tampak kehilangan keseimbangan. Tubuh renta itu hampir roboh kalau saja Linggar tidak lebih dulu menopangnya.

Ilalang yang terlambat menyadari, ikut menopang neneknya. Namun dengan keras, wanita tua itu mengibaskan tangan Ilalang.

"Pelan, Bu." Linggar memeluk bahu perempuan tua itu.

Bu Ratih menatap Linggar dengan mata berkaca-kaca. "Kamu dari tadi datang?"

Linggar mengangguk.

"Maaf....."

Linggar menggeleng cepat.

"Jangan minta maaf, Bu."

"Tapi.... "

"Saya sungguh tidak apa-apa." Linggar tersenyum lembut. "Pernikahan bukan tentang besar atau kecilnya pesta."

Tatapan Ilalang perlahan terangkat.

Linggar membantu Bu Ratih duduk.

"Tolong jangan bertengkar lagi."

"Tapi kamu...."

"Saya baik-baik saja."

Linggar menggenggam tangan keriput itu. Lintang yang didekatnya hanya menatapnya bingung.

"Selama Ibu sehat, itu sudah cukup."

Bu Ratih tak kuasa menahan air mata. Sementara Ilalang hanya berdiri mematung.

"Sekarang kamu istirahat di kamar depan. Biar Lintang tidur sama Ibu."

Wajah Lintang berbinar. "Asik, tidur sama Nenek. Ada buah kan, Nek?"

Bu Ratih tersenyum mengangguk, lalu mengajak Lintang masuk ke kamarnya.

...

Pagi datang lebih cepat dari biasanya. Linggar terbangun sebelum azan Subuh usai.

Hari itu adalah hari akadnya. Namun rumah besar itu sunyi.

Ia mengambil gamis putih yang dulu dipakainya menikah. Gamis sederhana. Namun cukup bersih untuk hari penting.

Ia duduk menghadap cermin. Kaleng bedak bayi menjadi satu-satunya alat rias yang ia miliki. Bedak tipis ia tepuk-tepuk di wajahnya. Lalu Linggar menatap bibirnya sendiri.

Ia tersenyum kecil. Tak ada lipstik walau bibirnya tetap merona tanpa benda yang menurutnya mahal itu.

Setelah suaminya meninggal, ia tak pernah terpikir membeli benda itu . Uang yang dimiliki selalu lebih dulu habis untuk susu, kebutuhan berobat Lintang, dan biaya hidup.

Bayangan empat tahun lalu perlahan muncul.

"Pegangan yang erat." Suara Rangga terdengar hangat.

Linggar tersenyum malu sebelum naik ke motor butut milik lelaki yang kala itu menjadi seluruh dunianya.

Mereka menuju rumah perias bersama sebelum ke KUA. Rangga berkali-kali menoleh memastikan calon istrinya tidak kedinginan.

Sesampainya di sana, ia bahkan membelikan roti dan teh hangat.

"Kamu belum sarapan."

Linggar kala itu hanya tertawa.

Air mata perlahan menggenang. Kenangan itu terasa begitu dekat. Walau hanya menikah berdua di KUA dengan wali hakim dan dua saksi yang merupakan pegawai KUA, ia cukup bahagia.

Namun kini... Tak ada motor ataupun tawa. Tak ada tatapan lelaki yang menatapnya dengan cinta. Yang tersisa hanya cermin dan bedak bayi.

Tok....tok.

Pintu diketuk pelan.

"Linggar." Suara Bu Ratih terdengar lembut.

Linggar segera membuka pintu.

Perempuan tua itu memandangnya cukup lama.

"Lho...." Beliau mengernyit.

"Kamu belum dirias?"

Linggar tersenyum kecil.

"Tidak apa-apa, Bu."

"Kok tidak apa-apa?"

"Saya memang tidak pesan perias."

Bu Ratih menoleh ke arah Bi Nini yang berdiri tak jauh darinya.

"Ilalang tidak mencarikan perias?"

Bu Nini menggeleng pelan, membuat wajah Bu Ratih langsung berubah.

"Ambilkan kotak make up Ibu."

Wanita setengah baya itu mengangguk. Tak lama sebuah kotak make up pun telah dibuka.

"Linggar. Duduk sini."

Linggar menurut. Ia membuka hijabnya lalu Bu Ratih meriasnya. Berkali-kali wanita itu mengagumi kecantikan Linggar.

Bu Ratih mengambil sisir. Rambut hitam lurus terurai hingga melewati punggung.

"Rambutmu cantik sekali."

Linggar hanya tersenyum malu.

Belum sempat Bu Ratih mulai menyisir, suara kecil terdengar dari balik pintu.

"Bunda...." Lintang masuk. Begitu melihat rambut ibunya terurai, matanya membulat kagum.

"Waaah... Bunda selalu cantik kalau rambut Bunda dibuka."

Linggar tersenyum.

Lintang mengusap rambut panjang ibunya perlahan.

"Kapan rambut Lintang bisa lurus seperti rambut Bunda?"

Linggar tertawa kecil. Begitu juga Bu Ratih dan Bu Nini.

Lintang lalu memegang rambutnya sendiri.

"Kenapa rambut Lintang keriting?"

Anak kecil itu mengerutkan dahi.

"Padahal rambut Ayah juga lurus."

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA   31. Panas

    Hari bergerak cepat. Malam pun datang.Nia meletakkan piring terakhir ke meja makan, lalu melirik lauk yang memenuhi meja."Aku kira tadi mau masak ikan." Ilalang nampak kecewa dengan apa yang ada di meja."Mas Ilalang cari ikan lagi?" tanya Nia.Linggar yang sedang menuangkan kuah ke mangkuk mengerutkan kening. Ternyata Ilalang suka ikan, pikirnya."Memang susah cari ikan, Mas," lanjut Nia. "Kalau mau ikan, harus bersepeda agak jauh sampai pasar kaki bukit. Penjualnya datang dari luar kota. Habis subuh sudah sampai. Kalau kesiangan, jangan harap kebagian."Ilalang mengambil sepotong ayam krispi."Berarti ayam saja."Nia terkekeh."Enak lho, Mas. Coba kalau nggak percaya."Linggar menunduk. Sejak sore ia memang sengaja membuat ayam krispi karena Lintang menyukainya. Tak tahunnya Ilalang tidak menyukainya."Paling juga seperti biasanya." Ilalang mengambil lalu memakannya. Lalu ada semburat senang setelah ia makan. "Bener kata kamu. Kamu sekarang kok pintar masak, Nia."Nia tersenyum me

  • JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA   30. Tidur

    "Linggar, kenapa kamu nggak ikut rebahan di simi?"Mata Linggar melebar.“Aku?”Ilalang menatapnya.“Lintang minta kamu temani.”Anak kecil yang masih polos itu seketika protes. "Om Lalang... kok jadi Lintang? Lintang sudah cukup ditemani Om.""Lintang... " Linggar tak dapat menyembunyikan senyumnya saat melihat lelaki itu terlihat malu."Tapi... Seru juga sih kalau sama Bunda juga."Merasa menang, Ilalang segera berkata. "Tuh, dengar sendiri, kan, anak kamu bilang apa?”Linggar meliriknya.“Mas sih yang mulai kasi ide.”“Aku sudah diam juga. Masih disalahkan.”Lintang terkikik.“Ayo dong, Bunda, sini.”Linggar menatap putrinya lalu beralih menatap Ilalang. Ia merasa tidak nyaman rebahan di dekat Ilalang.Selama ini, kedekatan dengan lelaki selalu membuat pikirannya berlari menuju satu ketakutan yang berusaha ia sembunyikan. Sentuhan Ilalang kapan hari, mampu membuat napasnya tercekat. Apalagi harus berbaring seranjang dengan suaminya itu.Namun Lintang terus menunggu.“Bunda....ayo

  • JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA   29. Ketika mendekat

    Lintang mengangkat wajah. Matanya yang polos menunggu kelanjutan ucapan lelaki itu.Ilalang melirik Linggar sekilas. Entah kenapa, ia seperti sengaja memastikan perempuan itu mendengar."Om nyuruh aku panggil apa?" Lintang bertanya.Jidat Ilalang berkerut.Linggar yang tengah membawa buku terdiam. Ia sudah menduga yang bukan-bukan mengingat watak Ilalang.“Panggil aku...Om Lalang baik hati.”Linggar langsung menahan senyum.Lintang justru mengerutkan kening.“Om Lalang baik hati?”Ilalang mengangguk santai.“Iya.”“Kenapa harus baik hati?”“Karena aku sudah kasih kamu banyak buku.”Lintang melihat tumpukan buku yang masih berada dalam pelukan ibunya. Kemudian senyumnya melebar.“Baik....Om Lalang baik hati!”Ilalang mengangguk puas.“Nah. Begitu.”Linggar akhirnya tak mampu menahan senyumnya.“Mas yang menyuruh anak kecil memuji diri Mas sendiri?”Ilalang meliriknya tajam.“Memangnya salah?”“Tidak....tidak."“Kalau begitu jangan banyak komentar.”Lintang terkikik.“Om Lalang baik hati

  • JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA   28. Ketika sakit

    Ilalang berusaha turun, tapi badannya terhuyung dan jatuh.Linggar segera berbalik, memapahnya. "Mas, kamu kenapa?"Ilalang memegangi pantatnya yang terasa sakit."Ayo aku bantu naik ke tempat tidur."Linggar berusaha. Namun tubuhnya yang mungil, membuat Linggar kesulitan sampai kehabisan nafas walau akhirnya berhasil membuat Ilalang kembali ke tempat tidur.Linggar mengambil air minum dan meminumnya hinggah tandas."Linggar..." Ilalang memanggil."Mas mau apa lagi?"Ilalang tidak langsung menjawab. Tangannya masih memegang sisi perut sambil meringis kesakitan, tetapi tatapannya tetap tertuju kepada Linggar."Mendekatlah."Linggar mengerutkan kening. Kejengkelannya belumlah hilang mengingat kejadian tadi pagi. Ditambah barusan memapah Ilalang. Tapi menatap Ilalang yang memohon, dia tak tega."Kamu kenapa?""Aku mau minta sesuatu." Nada lelaki itu terdengar lebih rendah.Linggar sempat ragu. Namun melihat wajah Ilalang yang pucat, langkahnya akhirnya kembali mendekat."Apa?"Belum sem

  • JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA   27. Cemburu?

    Sean menyodorkan benda tersebut ke tangan Linggar.Linggar menerimanya dengan bingung.Ia belum sempat membuka atau bertanya lebih jauh ketika Sean tersenyum."Anggap saja ini bekal supaya kita bisa ngobrol."Linggar menatap benda itu. Jantungnya berdetak pelan. Namun sebelum sempat ia bicara lagi, suara Ilalang terdengar dari belakang."Sean!"Nada suara itu membuat Sean dan Linggar menoleh. Ilalang berdiri beberapa langkah dari mereka. Tatapannya jatuh kepada benda yang kini berada di dalam genggaman Linggar."Jangan bilang kamu memberinya HP agar bisa mendekatinya."Sean justru tertawa."Memang itu tujuanku. Ada masalah?"Linggar yang masih memegang kotak kecil pemberian Sean langsung menatap kedua lelaki itu bergantian. Suasana yang semula ringan mendadak berubah tegang.Ilalang mengusap sisi perutnya. Wajahnya masih terlihat pucat. Namun tatapannya kini tertuju tajam kepada Sean."Dia orangku."Sean mengangkat alis."Orangmu?"Ilalang menarik napas pendek. Memperhatikan kedua ora

  • JANDA ISTIMEWA TERJEBAK PERNIKAHAN KEDUA   26. Kebetulan

    Ilalang langsung menatapnya.Linggar menunduk, namun meneruskan bicaranya."Kenapa sandi HP Mas..." Kalimatnya terhenti. Ia tidak sanggup melanjutkan saat melihat tatapan lelaki itu menghujatnya.Sunyi sesaat."Apa yang mau kamu tanyakan?"Linggar akhirnya menggeleng."Kamu mau tanya kenapa sandi hpku nomer itu kan?"Dengan canggung Linggar mengangguk. Dia berharap lelaki itu akan mengatakan sesuatu yang membuat hatinya tak sedih. Namun kenyataannya...“Jangan mikir yang macam-macam. Kebetulan angka itu 8 bulan 8. Angka bagus. Jadi aku pakai saja jadi sandi handphone-ku.”Mulut pedas lelaki itu membuat hati Linggar dongkol seketika. Walau kemudian, Linggar menahan senyum yang hampir lolos.“Kok nggak sekalian 08 08 08, Mas? Kan lebih cantik nomornya. Biar kebetulannya nggak terlihat banget.”Seketika tatapan Ilalang menajam.“Linggar... kamu meledekku?”Linggar segera menggeleng.“Nggak.”Ia menunduk, pura-pura sibuk mencari nama Sean dalam daftar kontak. Sudut bibirnya masih terasa in

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status