LOGIN"Kita bisa cara lain." Suara Ilalang rendah.Linggar menelan ludah."Mas mau apa?"Ilalang tidak langsung menjawab. Dia mengerling lalu bergeser. Jarak mereka semakin dekat saat badan Ilalang melewatinya. Jari Linggar mencengkeram ujung selimut. Ingatan lama yang selalu ia paksa diam kembali mengetuk dadanya. Bukan karena Ilalang pernah menyakitinya.Bukan.Namun tubuhnya mengenali kedekatan itu sebagai sesuatu yang harus ditakuti.Ilalang menatap Linggar tanpa berkedip."Kalau begitu..."Tangannya kembali terangkat.Linggar menahan napas. Bibirnya bergetar."Mas..."Tangan itu berhenti hanya beberapa sentimeter dari wajah Linggar.Lelaki itu menatapnya cukup lama.Lalu jemarinya bergerak perlahan menuju sesuatu yang membuat Linggar semakin tidak mampu bernapas.Setelah Ilalang berhasil meraih sesuatu.Klik.Linggar berkedip.Sebuah remot berada dalam genggaman Ilalang. Ia lalu menekan tombol kecil."Gerah, kan?"Linggar terdiam."Makanya kalau tidur jangan kayak buntelan begitu. Bu
Hari bergerak cepat. Malam pun datang.Nia meletakkan piring terakhir ke meja makan, lalu melirik lauk yang memenuhi meja."Aku kira tadi mau masak ikan." Ilalang nampak kecewa dengan apa yang ada di meja."Mas Ilalang cari ikan lagi?" tanya Nia.Linggar yang sedang menuangkan kuah ke mangkuk mengerutkan kening. Ternyata Ilalang suka ikan, pikirnya."Memang susah cari ikan, Mas," lanjut Nia. "Kalau mau ikan, harus bersepeda agak jauh sampai pasar kaki bukit. Penjualnya datang dari luar kota. Habis subuh sudah sampai. Kalau kesiangan, jangan harap kebagian."Ilalang mengambil sepotong ayam krispi."Berarti ayam saja."Nia terkekeh."Enak lho, Mas. Coba kalau nggak percaya."Linggar menunduk. Sejak sore ia memang sengaja membuat ayam krispi karena Lintang menyukainya. Tak tahunnya Ilalang tidak menyukainya."Paling juga seperti biasanya." Ilalang mengambil lalu memakannya. Lalu ada semburat senang setelah ia makan. "Bener kata kamu. Kamu sekarang kok pintar masak, Nia."Nia tersenyum me
"Linggar, kenapa kamu nggak ikut rebahan di simi?"Mata Linggar melebar.“Aku?”Ilalang menatapnya.“Lintang minta kamu temani.”Anak kecil yang masih polos itu seketika protes. "Om Lalang... kok jadi Lintang? Lintang sudah cukup ditemani Om.""Lintang... " Linggar tak dapat menyembunyikan senyumnya saat melihat lelaki itu terlihat malu."Tapi... Seru juga sih kalau sama Bunda juga."Merasa menang, Ilalang segera berkata. "Tuh, dengar sendiri, kan, anak kamu bilang apa?”Linggar meliriknya.“Mas sih yang mulai kasi ide.”“Aku sudah diam juga. Masih disalahkan.”Lintang terkikik.“Ayo dong, Bunda, sini.”Linggar menatap putrinya lalu beralih menatap Ilalang. Ia merasa tidak nyaman rebahan di dekat Ilalang.Selama ini, kedekatan dengan lelaki selalu membuat pikirannya berlari menuju satu ketakutan yang berusaha ia sembunyikan. Sentuhan Ilalang kapan hari, mampu membuat napasnya tercekat. Apalagi harus berbaring seranjang dengan suaminya itu.Namun Lintang terus menunggu.“Bunda....ayo
Lintang mengangkat wajah. Matanya yang polos menunggu kelanjutan ucapan lelaki itu.Ilalang melirik Linggar sekilas. Entah kenapa, ia seperti sengaja memastikan perempuan itu mendengar."Om nyuruh aku panggil apa?" Lintang bertanya.Jidat Ilalang berkerut.Linggar yang tengah membawa buku terdiam. Ia sudah menduga yang bukan-bukan mengingat watak Ilalang.“Panggil aku...Om Lalang baik hati.”Linggar langsung menahan senyum.Lintang justru mengerutkan kening.“Om Lalang baik hati?”Ilalang mengangguk santai.“Iya.”“Kenapa harus baik hati?”“Karena aku sudah kasih kamu banyak buku.”Lintang melihat tumpukan buku yang masih berada dalam pelukan ibunya. Kemudian senyumnya melebar.“Baik....Om Lalang baik hati!”Ilalang mengangguk puas.“Nah. Begitu.”Linggar akhirnya tak mampu menahan senyumnya.“Mas yang menyuruh anak kecil memuji diri Mas sendiri?”Ilalang meliriknya tajam.“Memangnya salah?”“Tidak....tidak."“Kalau begitu jangan banyak komentar.”Lintang terkikik.“Om Lalang baik hati
Ilalang berusaha turun, tapi badannya terhuyung dan jatuh.Linggar segera berbalik, memapahnya. "Mas, kamu kenapa?"Ilalang memegangi pantatnya yang terasa sakit."Ayo aku bantu naik ke tempat tidur."Linggar berusaha. Namun tubuhnya yang mungil, membuat Linggar kesulitan sampai kehabisan nafas walau akhirnya berhasil membuat Ilalang kembali ke tempat tidur.Linggar mengambil air minum dan meminumnya hinggah tandas."Linggar..." Ilalang memanggil."Mas mau apa lagi?"Ilalang tidak langsung menjawab. Tangannya masih memegang sisi perut sambil meringis kesakitan, tetapi tatapannya tetap tertuju kepada Linggar."Mendekatlah."Linggar mengerutkan kening. Kejengkelannya belumlah hilang mengingat kejadian tadi pagi. Ditambah barusan memapah Ilalang. Tapi menatap Ilalang yang memohon, dia tak tega."Kamu kenapa?""Aku mau minta sesuatu." Nada lelaki itu terdengar lebih rendah.Linggar sempat ragu. Namun melihat wajah Ilalang yang pucat, langkahnya akhirnya kembali mendekat."Apa?"Belum sem
Sean menyodorkan benda tersebut ke tangan Linggar.Linggar menerimanya dengan bingung.Ia belum sempat membuka atau bertanya lebih jauh ketika Sean tersenyum."Anggap saja ini bekal supaya kita bisa ngobrol."Linggar menatap benda itu. Jantungnya berdetak pelan. Namun sebelum sempat ia bicara lagi, suara Ilalang terdengar dari belakang."Sean!"Nada suara itu membuat Sean dan Linggar menoleh. Ilalang berdiri beberapa langkah dari mereka. Tatapannya jatuh kepada benda yang kini berada di dalam genggaman Linggar."Jangan bilang kamu memberinya HP agar bisa mendekatinya."Sean justru tertawa."Memang itu tujuanku. Ada masalah?"Linggar yang masih memegang kotak kecil pemberian Sean langsung menatap kedua lelaki itu bergantian. Suasana yang semula ringan mendadak berubah tegang.Ilalang mengusap sisi perutnya. Wajahnya masih terlihat pucat. Namun tatapannya kini tertuju tajam kepada Sean."Dia orangku."Sean mengangkat alis."Orangmu?"Ilalang menarik napas pendek. Memperhatikan kedua ora







