LOGINDari ruangan belakang, seluruh bagian ruang kerjanya terlihat jelas.Mejanya.Kursinya.Bahkan pintu masuk.Artinya, siapa pun yang duduk di ruang belakang bisa melihat dirinya selama bekerja.Linggar segera mengalihkan pandangan. Ia tidak tahu kenapa hal sederhana itu membuat hatinya merasa tak nyaman. Mungkin karena ia baru sadar betapa dekatnya posisi mereka.Ia kembali menuju meja. Pekerjaan membuat pikirannya sedikit teralihkan.Telepon kantor beberapa kali berbunyi.Ada dokumen yang perlu dicatat.Ada jadwal yang harus diperiksa.Linggar sibuk sampai tidak sadar waktu berjalan cukup cepat.Sampai suara langkah terdengar dari arah luar, ia masih membaca sebuah dokumen ketika suara itu semakin mendekat.Pintu ruang depan terbuka, membuat Linggar mengangkat wajah.Ilalang berdiri di sana, dengan wajah dinginnnya dan tatapan tajamnya.Tubuh Linggar langsung menegang. Untuk beberapa detik, keduanya hanya saling memandang.Linggar segera menundukkan wajah. Ia tak berani bertanya kapan
Pagi, seperti biasa, Linggar mengantar anaknya pergi ke sekolah. “Bunda, nanti jemput Lintang, kan?” “Iya. Bunda jemput.” Linggar tersenyum sambil merapikan kerah seragam Lintang. Anak kecil itu mengangguk puas, lalu berlari kecil menuju kelasnya. Beberapa orang tua berdiri di sekitar gerbang, sebagian menemani anak masing-masing sampai masuk halaman. Linggar baru hendak berbalik ketika sebuah suara memanggil. “Linggar?” Ia menoleh. Beberapa ibu yang selama ini cukup akrab dengannya tersenyum. Rania berdiri di antara mereka. Tatapannya segera bergerak dari wajah Linggar sampai pakaian yang dikenakannya. “Wah, kamu baru pulang dari Tokyo ya?” Linggar hanya menatap. “Dasar anak kamu katrok, baru juga bundanya pergi ke Tokyo, udah cerita di depan kelas." Linggar hanya tersenyum tipis. “Mengunjungi mertua, ya?” Linggar menahan napas. “Bukan.” “Bukan?” “Aku ke sana ada urusan kerja.” Jawaban itu membuat salah seorang ibu tersenyum kecil. “Kerja, atau
Bu Ratih hanya tersenyum samar.“Bagaimana tidak sepadan? Bukankah Cindy bukan orang biasa? Dia bahkan sekarang tinggal di Tokyo."Bu Ratih seketika menatap Linggar."Kamu tahu itu? Apa kamu bertemu dengannya di sana? Atau anak bodoh itu mengunjunginya?" Tanpa memberi kesempatan pada Linggar, Bu Ratih memberondong pertanyaan."Bukan begitu, Nek. Saya hanya tahu dari Rania. Dia yang mengatakan itu.""Oh... "Wajah Bu Ratih tampak berubah sesaat. Jemarinya yang semula sibuk merapikan ujung taplak meja berhenti bergerak.“Kamu tahu dari Rania?”Linggar mengangguk pelan.Bu Ratih menarik napas.“Begitu.” Ada nada aneh yang sulit disembunyikan dari nada suaranya.Linggar menatap wanita tua itu, mencoba melihat apa yang ia pikirkan.“Ayah Cindy seorang diplomat,” ujar Bu Ratih akhirnya. “Bukan pengusaha seperti keluarga kita. Bukan juga seperti suami Laras sekarang.”Linggar diam.“Sekarang ayahnya bertugas di Tokyo. Jadi Cindy ikut tinggal bersama keluarganya.”Linggar hanya bisa menatap
Lalu tanpa menoleh lagi segera pergi. Tangan Linggar gemetar ketika menekan tombol lift.Pintu terbuka. Linggar masuk seorang diri.Begitu pintu lift menutup, wajahnya yang sejak tadi berusaha tegar langsung berubah. Bibirnya bergetar dengan napas yang terasa sesak. Air mata pertama jatuh. Linggar buru-buru mengusapnya.“Jangan menangis,” bisiknya kepada diri sendiri. Namun semakin ia berusaha menahan, semakin deras air mata itu mengalir. Ia menunduk, menggigit bibir supaya tidak mengeluarkan suara."Kenapa aku menangis? Bukankah tadi aku sendiri yang mengatakan bahwa pernikahan kami hanya saling menguntungkan? Lantas kenapa sekarang hatiku justru berharap lelaki itu menyusul?"Pintu lift terbuka.Linggar segera mengangkat wajah. Ia sempat menoleh ke belakang.Kosong. Tidak ada langkah kaki. Apalagi suara Ilalang memanggil namanya dan menghentikan langkahnya.Linggar menelan ludah. Ia berjalan menuju kendaraan yang sudah menunggunya.Sepanjang perjalanan menuju bandara, Linggar lebih b
Jantung Linggar seperti tersentak saat lelaki itu melangkah dengan cepat ke arahnya dengan wajah seram siap meledak."Mas... "Linggar berhenti beberapa langkah dari pintu lift, menatap wajah lelaki itu yang terlihat tegang, jauh berbeda dengan sosok santai yang meninggalkannya beberapa jam lalu.Linggar sempat melirik pintu lift, lalu kembali menatapnya."Kamu sudah pulang?"Ilalang tidak menjawab. Tatapannya justru jatuh pada Linggar, kemudian bergeser menuju pintu utama apartemen.Linggar mengikuti arah pandangnya. Aaraf. Kendaraan lelaki itu masih terlihat dari balik kaca."Kamu pulang sama siapa?" suara Ilalang terdengar rendah.Linggar mengernyit."Aaraf.""Kenapa? Kamu janjian dengannya?"Linggar mulai merasa tidak nyaman."Aku tadi pergi mencari teman lama. Ternyata rumahnya sudah bukan milik mereka. Aaraf pemilik baru rumah itu.""Alasan. Cepetan naik. Kita bicara nanti."Lelaki itu berbalik lebih dulu.Linggar mengikutinya dengan langkah cepat.Begitu pintu apartemen tertutup
"Bukankah Cindy juga berada di Tokyo. Apakah Ilalang menemuinya lagi seperti kapan hari? Ia berdiri, berjalan menuju jendela, lalu kembali duduk. Rasa tak enak mulai muncul. Sudahlah, Linggar. Jangan berharap lebih hanya karena kamu sudah diajak jalan-jalan. Semua itu hanya karena klien yang tak jadi. Jangan mikir macam-macam. Apalagi mencampuri uruasannya." Linggar berusaha meredam hatinya. Akhirnya Linggar mengambil keputusan. Ia membuka aplikasi transportasi dan memesan kendaraan. Tak lama kemudian, sebuah taksi datang menjemput. Linggar menyebutkan alamat sebuah rumah yang ada dalam ingatannya. Sebuah keluarga yang sudah lama dikenalnya tinggal tidak terlalu jauh dari kawasan tempat mereka tinggal. Setelah perjalanan cukup lama, taksi berhenti di depan sebuah rumah. Linggar turun. Ia berdiri sebentar sambil memastikan alamat. Pintu pagar terbuka. Linggar melangkah masuk. Belum sempat mengetuk, pintu rumah terbuka. Seorang lelaki keluar. Linggar kaget. A







