Rendra turun dari tempat tidur. Nafasnya masih terasa berat. Dia mengambil handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya. Lalu segera mencari ponselnya untuk menghubungi Ken.
Baru saja panggilannya selesai, dia mendengar suara tangisan samar dari ruang tengah. Dia menoleh, kemudian meletakkan ponselnya di meja. Perlahan dia melangkah mendekati Mutia yang duduk lemah di lantai, menyandarkan dirinya pada sofa. Jubah mandi yang dipakai Mutia adalah miliknya. Tersingkap di beberapa bagian menandakan bahwa dia baru saja berusaha menjauh dari kamarnya. Dengan ragu, Rendra duduk di sampingnya. “Maafkan aku,” ucapnya dengan suara berat. Mutia menoleh, matanya basah oleh air mata. “Pergi, Tuan!” “Tolong dengarkan aku dulu,” kata Rendra, berusaha menenangkan. “Kenapa melakukan ini padaku? Kenapa Tuan…?” Suara Mutia bergetar. Dia benar-benar merasa hancur. Tuan yang ia hormati, telah menghancurkan kehormatannya. Rendra menunduk. Dia bingung bagaimana caranya untuk menjelaskan. “Aku tidak sengaja. Aku… benar-benar tidak sengaja.” Mutia menutup wajahnya dengan tangan, dia menahan isak tangis. “Aku sudah percaya padamu, Tuan. Tapi ini… kenapa kamu merusak hidupku.” Rendra merasa dadanya sangat sesak. Efek obat itu sudah mereda, tapi sekarang justru rasa bersalah yang membakarnya. Perlahan, dia mengulurkan tangan, ingin menyentuh lengan Mutia. Namun wanita itu menepisnya. “Jangan… Tuan!” Mutia kembali menunduk, air matanya terus mengalir. “Apa aku ini benar-benar tidak pantas untuk hidup lebih baik? Aku tidak ingin hidup lagi…” Mutia telah berada di ibukota ini selama hampir setahun. Sejak dia menikah dan suaminya membawanya ke kota ini, dia tidak pernah merasa hidup dengan baik. Dia harus bertahan hidup sendirian di kota asing ini. Menutupi semuanya dari sang ayah yang sedang sakit di kampung. Lalu dia bertemu dengan Bu Darsih yang menawarkan pekerjaan untuk menjadi penggantinya di rumah ini. Dia merasa lega karena ternyata dia sebelumnya telah mengenal Tuan rumah. Rendra, pria yang pernah dibantunya secara tak sengaja saat pingsan di taman beberapa waktu yang lalu. Menurut mereka, di dalam rumah ini tidak pernah ada pelayan wanita kecuali Bu Darsih yang memang telah bekerja pada orang tua Rendra ketika mereka masih hidup dulu. Mungkin karena Rendra ingin membalas kebaikannya, itu sebabnya dia bersedia menerimanya disini. Meskipun Rendra terlihat dingin, tapi dia memperlakukannya dengan baik. Rendra terdiam. Melihat kesedihan wanita itu, rasa bersalahnya semakin menekan. "Aku sudah menyuruhmu pergi. Kenapa kamu malah mendekatiku?” Mutia kembali menatap Rendra. Kali ini tatapannya penuh kebencian dan rasa tidak percaya. "Aku hanya ingin membantumu, tapi anda justru melakukan ini padaku!” “Aku dijebak, Mutia. Kamu tidak mengerti.” Mutia mengusap air matanya. Suaminya dan Rendra, sekarang dia merasa jika dua pria itu sama jahatnya. Hanya berbeda saja cara memperlakukannya. “Aku memang tidak mengerti, tapi seharusnya Tuan mengerti, aku ini bersuami! Jika suamiku tahu, aku benar-benar tidak sanggup untuk menanggungnya! Ini akan jadi masalah, Tuan. Anda memperkosa istrinya!” "Diam!” Rendra tiba-tiba bersuara keras. Dia bangun dan menarik tangan Mutia. "Kamu jangan berpura-pura lagi. Ikut aku!" "Lepas! Sakit, Tuan, lepas..." Mutia merasa pergelangan tangannya perih karena cengkraman tangan Rendra yang menariknya dengan kasar. Rendra menyeretnya kembali ke dalam kamar dan mendorongnya hingga terduduk di atas tempat tidur yang kusut itu kembali. "Lihat itu!” Rendra menunjuk bercak darah di atas sprei. Mutia menoleh, melihat apa yang ditunjuk oleh Rendra. Dia membeku. Itu adalah darahnya. Tanda jika dia memang masih perawan. “Kamu selalu bilang kalau kamu sudah menikah! Lalu itu apa? Kamu pikir aku bodoh?” Mutia tidak bisa menjawab. Dia hanya menunduk dan kembali menangis. Rendra mendengus sembari mengacak rambutnya lalu meninggalkan Mutia. Dia duduk di sofa sambil memijat pelipisnya. Dia melirik Mutia yang masih menangis. Rendra juga tidak banyak berpikir saat Mutia mengatakan sudah menikah. Meskipun dia belum pernah melihat siapa suaminya. Kecuali hanya nama Dion yang pernah disebut Mutia. Dia juga tidak tahu Dion yang mana dan siapa itu. Tidak mungkin itu Dion Winata kan? Dion Winata adalah teman sekelasnya dulu. Dan sekarang orang itulah yang selalu menganggapnya sebagai musuh dan saingan. Dan lagi, Dion Winata adalah pacar Natali. Mereka sudah lama berpacaran. Lagipula, tidak penting untuk dia mengenal suami Mutia. Tapi yang membuat Rendra benar-benar terkejut adalah, ternyata Mutia masih perawan! Itu artinya, dia adalah orang pertama yang menyentuhnya? Awalnya, dia menerima Mutia bekerja di rumahnya hanya karena ingin membalas kebaikan wanita itu tempo lalu. Tapi malam ini dia malah memperkosanya. Sial! Dia benar-benar kesal. Brak! Tiba-tiba pintu kamar terbuka dengan kasar. "Tuan!" Ken sudah berdiri di depan pintu dengan wajah panik. Rendra menoleh, “Apa yang kamu dapatkan?” Ken melihat kekacauan kamar itu. Menoleh pada Mutia yang meringkuk diatas tempat tidur. Ken menarik nafas berat. Dia membayangkan kejadian beberapa jam yang lalu dikamar ini pasti sangat luar biasa. Dia menelan ludah. "Semua sudah terjadi." Kata Rendra. Ken mengangguk pelan. “Aku sudah mendapatkannya.” Dia melangkah dengan membawa laptop. Dia duduk di sofa dan mulai memeriksa memori card. Rendra melangkah dahulu untuk mengenakan pakaian, kemudian kembali duduk bersama Ken yang sedang menelusuri rekaman CCTV. Dan mereka menemukan jebakan seseorang. Mulai dari hotel, persiapan kamar, hingga wine yang sudah dicampur obat. Sayangnya, video asli sudah disabotase. Jadi mereka tidak bisa langsung mengetahui siapa dalang dibalik kelicikan ini. Meskipun sebenarnya, mereka yakin jika orang itu adalah Dion. Mereka masih memerlukan bukti yang kuat. "Maaf. Aku benar-benar teledor, “ ucap Ken, menoleh pada Rendra. "Aku akan segera menemukan orangnya." Rendra menepuk bahu Ken. “Aku yang salah. Seharusnya aku mendengarkan perkataanmu,” Ketiga orang yang berada di dalam kamar itu tenggelam dengan pikiran masing-masing. Rendra sedikit lega, jika kejadian memalukan itu terjadi disana, reputasinya benar-benar akan hancur. Tapi dia merasa terpukul karena Mutia harus menjadi korbannya. Sementara Ken, perkiraannya meleset. Dion tidak mengincar nyawa Rendra, melainkan menginginkan kehancuran Rendra dengan hal yang sangat menjijikkan itu. Lalu Mutia, dia berpikir kalau kehadirannya di kota ini benar-benar membuatnya malang. 'Ayah, aku ingin pulang.’ Dia benar-benar ingin kembali pada ayahnya. __Setelah selesai mandi, Rendra langsung keluar. Kembali melihat Mutia yang sudah berganti baju dan celana training miliknya.Mutia yang melihat Rendra memperhatikannya langsung menyilangkan kembali tangannya di depan dadanya.Rendra hampir tertawa karena melihat penampilan Mutia yang aneh dengan bajunya yang kebesaran dan tanpa bra.Wajah Mutia memerah karena malu, dia langsung membalikan tubuhnya.Rendra tidak berkomentar apa-apa. Dia melangkah mendekati lemarinya dan segera memakai baju tanpa peduli ada Mutia di situ.Setelahnya dia menoleh pada Mutia yang masih menunduk di pinggir ranjang. “Ayo pergi.”Mutia langsung menoleh. "Saya tidak bisa keluar dari kamar sekalipun dengan keadaan begini, Tuan. Orang-orang akan menertawakan saya. Saya malu! Anda tidak bisa melihat bagaimana penampilan saya sekarang?"Rendra berpikir sejenak, lalu kembali menatap Mutia. Melirik dua gumpalan yang masih saja terlihat meskipun Mutia sudah memakai baju miliknya.'Benar juga.’Jika dia keluar dalam ke
Pagi berikutnya.Plak... Plak... Plak....!!!Entah sudah berapa kali pukulan Ken mendarat di tubuh para penjaga."Bodoh! Bodoh! Tidak berguna!" Umpat Ken."Maafkan kami, Tuan." Para penjaga menunduk sembari meremas jari jemari masing-masing.Salah seorang penjaga berkata dengan ragu-ragu, "Kami memang sempat mendengar teriakan Tuan Rendra dan Nona Mutia. Tapi mana mungkin kami berani mendobrak pintu itu. Kami berpikir, mereka sedang…”"Sebenarnya apa yang terjadi? Kami sungguh tidak mengerti." Kata yang lain.Ken hanya menggertakkan giginya dengan geram, kemudian menoleh pada kepala pelayan yang bernama Fic, yang berdiri di belakangnya."Pecat mereka semua Fic, penjaga tidak berguna!""Tapi, Tuan,”Salah satu penjaga berlutut di kaki Ken."Tuan, kami sudah mengabdi lebih dari sepuluh tahun di rumah ini. Adakah kesalahan kami selain kali ini? Tolong beri kami toleransi."Ken tidak menghiraukannya kemudian melangkah masuk. Fic segera menyusulnya dengan tergesa."Tuan, anda tidak boleh b
Rendra melepas jaket kulitnya dan tanpa banyak bicara, menutupi tubuh Mutia dengan jaket itu. Satu lengannya melingkar di punggung wanita itu, lalu mengangkat tubuh Mutia ke pelukannya.Mutia tidak melawan. Rendra membuka pintu mobil dan meletakkannya perlahan di jok penumpang. Setelah memastikan tubuh Mutia bersandar dengan nyaman, Rendra menghidupkan mesin mobil dan melaju.Perjalanan berlangsung dalam diam. Hujan mengetuk atap mobil, tapi di dalam hanya ada keheningan. Sesekali Rendra melirik, dan wajah Mutia semakin pucat. Napasnya tidak teratur.“Mutia?” Rendra menyentuh lengannya.Mutia tidak merespon.“Mutia!” Dia menepuk pipinya pelan.“Ya Tuhan… dia pingsan!”Rendra menekan pedal gas lebih dalam, membelokkan mobilnya menuju rumah. Begitu sampai di halaman rumah, dia langsung meloncat turun dari mobil dan membopong Mutia masuk ke dalam, membawanya ke kamarnya sendiri.Dia meletakkan Mutia di atas tempat tidur.“Apa yang harus aku lakukan?” Rendra kebingungan.Dia hampir mengh
“Ah,.. em… Sayang, aku mencintaimu.” “Aku juga sayang… tolong jangan tinggalkan aku.”Suara desahan dan ucapan cinta dari sepasang kekasih yang sedang bercinta saling bersahutan di dalam sana.Mutia yang baru saja melewati kamar itu menegang dan berdiri di tempat.Suara itu…Sebenarnya dia sudah sering mendengar suara mereka saat bercinta. Tapi biar bagaimanapun juga, pria yang sedang bercinta di dalam kamar itu adalah suaminya sendiri. Tiap kali mendengar suara mereka, dia tetap merasa tidak nyaman.Tadi, saat melihat Rendra terlelap tidur, dia dengan hati-hati keluar. Mutia menguatkan diri untuk pulang ke rumah karena takut suaminya marah kalau dia sampai tidak pulang.Sesampainya dirumah, dia justru mendengar hal yang menyakitkan.Dia memutar tubuhnya dan pergi ke kamarnya sendiri yang ada di dekat dapur. Kamar itu seharusnya milik pembantu. Namun semenjak dia dibawa masuk ke dalam rumah ini, kamar itu menjadi kamarnya. Dion memecat pembantu rumah dan menyuruh Mutia untuk mengga
"Jam berapa ini?" Rendra bertanya pada Ken yang langsung memeriksa ponselnya. “00:15.” Jawab Ken, singkat. "Pergilah beristirahat.” Ken hanya mengangguk, lalu melangkah. Dia sempat menoleh kembali seperti masih ragu untuk meninggalkan Rendra. Dia sebenarnya masih ingin menemani Rendra, mengingat kejadian tadi yang cukup menguras emosi. Dia tahu jika ini adalah pengalaman pertama bos-nya. Tapi ini sudah tengah malam, Mereka juga mungkin butuh istirahat. Ken menutup pintu kamar setelah berada diluar. Setelah hening beberapa detik, Rendra mendekati Mutia yang masih bersandar di tempat tidur. Rendra merapikan tempat tidur itu dengan ala kadarnya saja. Memungut bantal dan guling yang masih berceceran di lantai, kemudian meraih pakaian mereka yang bertaburan. Dia menatap pakaian Mutia yang ada di tangannya. Pakaian itu sudah rusak terkoyak karena ulahnya. Dia kembali merasa bersalah. 'Kenapa aku bisa menjadi seperti binatang?' Dia benar-benar tidak menyangka jika akan m
Rendra turun dari tempat tidur. Nafasnya masih terasa berat. Dia mengambil handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya. Lalu segera mencari ponselnya untuk menghubungi Ken. Baru saja panggilannya selesai, dia mendengar suara tangisan samar dari ruang tengah. Dia menoleh, kemudian meletakkan ponselnya di meja. Perlahan dia melangkah mendekati Mutia yang duduk lemah di lantai, menyandarkan dirinya pada sofa. Jubah mandi yang dipakai Mutia adalah miliknya. Tersingkap di beberapa bagian menandakan bahwa dia baru saja berusaha menjauh dari kamarnya. Dengan ragu, Rendra duduk di sampingnya. “Maafkan aku,” ucapnya dengan suara berat. Mutia menoleh, matanya basah oleh air mata. “Pergi, Tuan!” “Tolong dengarkan aku dulu,” kata Rendra, berusaha menenangkan. “Kenapa melakukan ini padaku? Kenapa Tuan…?” Suara Mutia bergetar. Dia benar-benar merasa hancur. Tuan yang ia hormati, telah menghancurkan kehormatannya. Rendra menunduk. Dia bingung bagaimana caranya untuk menjelaskan. “