"Jam berapa ini?" Rendra bertanya pada Ken yang langsung memeriksa ponselnya.
“00:15.” Jawab Ken, singkat. "Pergilah beristirahat.” Ken hanya mengangguk, lalu melangkah. Dia sempat menoleh kembali seperti masih ragu untuk meninggalkan Rendra. Dia sebenarnya masih ingin menemani Rendra, mengingat kejadian tadi yang cukup menguras emosi. Dia tahu jika ini adalah pengalaman pertama bos-nya. Tapi ini sudah tengah malam, Mereka juga mungkin butuh istirahat. Ken menutup pintu kamar setelah berada diluar. Setelah hening beberapa detik, Rendra mendekati Mutia yang masih bersandar di tempat tidur. Rendra merapikan tempat tidur itu dengan ala kadarnya saja. Memungut bantal dan guling yang masih berceceran di lantai, kemudian meraih pakaian mereka yang bertaburan. Dia menatap pakaian Mutia yang ada di tangannya. Pakaian itu sudah rusak terkoyak karena ulahnya. Dia kembali merasa bersalah. 'Kenapa aku bisa menjadi seperti binatang?' Dia benar-benar tidak menyangka jika akan melakukan hal serendah ini. Memperkosa seorang pelayan wanita di rumahnya sendiri. Padahal selama ini dia selalu menjaga diri dan pandangannya ke lawan jenis. Bukan karena dia munafik, melainkan dia belum menemukan wanita yang cocok dihatinya. Sayangnya, pengalaman pertamanya justru harus dengan Mutia. Bukan soal status pelayannya. Tapi… istri orang! Istri orang? Saat memikirkan hal itu, Rendra teringat dengan bercak darah di sprei. Sudut bibirnya sedikit berkedut. Dia melirik Mutia. Wanita itu, pernikahannya pastí bermasalah. Setelah beberapa saat menenangkan diri, dia membawa pakaian rusak milik Mutia itu. Rendra tidak ingin membuangnya, dia justru menyimpannya. Dion! Jika dia adalah orangnya, dia benar-benar sudah melampaui batas! Rendra meremas pakaian itu sesaat sebelum akhirnya menyimpannya dengan baik di lemari. Kemudian meraih sebuah selimut tipis dan membawanya mendekati Mutia. Dia menggunakan selimut itu untuk menutup bagian sprei yang terkena darah. Dia tidak ingin mengganggu Mutia jika harus mengganti sprei itu sekarang. "Tidurlah, kamu harus istirahat." Rendra berkata pada Mutia sembari menepuk bantal. Mutia menatap ragu. "Tuan, saya ingin tidur di kamarku saja." Rendra tertegun. Dia paham jika Mutia mungkin sangat trauma. Tapi setelah kejadian ini, dia benar-benar merasa bersalah dan tidak nyaman. "Mutia, apa yang terjadi tadi karena aku terpengaruh obat. Apa kamu masih curiga padaku?” Tentu saja Mutia tahu. Dia mengenal Rendra sebagai pria yang baik. Rendra buka tipe pria brengsek seperti suaminya. Dia bahkan mengagumi majikannya ini. Tapi… kejadian tadi tentu saja meninggalkan trauma yang dalam untuknya. Diperkosa! Dia benar-benar sedih sekaligus hancur. “Tuan, aku ingin tidur dikamarku saja.” Dia mengulang perkataannya. Rendra mendengus. Entah kenapa dia hanya ingin melihat wanita itu sepanjang malam ini. "Kamarmu ada di bawah. Aku hanya khawatir kalau kamu akan…” Kesusahan. Tapi Rendra tidak melanjutkan. Dia menggaruk ujung hidungnya. Ini pengalaman pertama Mutia. Dia memperlakukannya dengan sangat kasar dan tidak terkontrol. Meskipun Rendra belum memiliki pengalaman, tapi dia paham jika seorang wanita pasti akan merasa sakit dan tidak nyaman pada saat pertama melakukannya. “Begini saja. Kamu bisa boleh mengikat tangan dan kakiku, atau seluruh tubuhku bila perlu. Agar aku tidak bisa bergerak.” Mutia menunduk. Ucapannya pasti sudah menyinggung pria itu. Seolah tidak mempercayai Rendra. Padahal sudah jelas, jika kejadian tadi murni bukan Rendra yang sebenarnya. Semua hanya pengaruh, pengaruh obat sialan dari seseorang yang sudah menyusahkan mereka berdua. "Apa kamu mau kupijat? Aku bisa mengurutmu menggunakan minyak." Padahal, Rendra hanya ingin berbasa-basi, tapi saat mengatakannya matanya tiba-tiba berkaca-kaca. Jika ini terjadi pada adik perempuannya, pacarnya, atau… Mungkin dia akan menjadi orang yang paling tidak terima. Dia pasti akan mengamuk, membunuh pria sialan yang sudah memperkosa orang terkasihnya. Untungnya dia tidak punya orang terkasih. Dia sebatang kara. Orang tuanya telah meninggal sejak dia masih kecil. Paman yang telah mengasuhnya juga sudah berpulang. Dia tidak memiliki saudara, tidak memiliki pacar. Tapi melihat Mutia, wanita polos yang bernasib malang ini, dia benar-benar iba dan lagi-lagi merasa sangat bersalah. Bagaimana caranya untuk menebusnya? Bagaimana caranya untuk bertanggung jawab? Memberinya uang untuk kompensasi? Itu sama saja dia merendahkan harga diri wanita itu. Menikahinya? Yang benar saja! Bahkan dia tidak menyukai wanita ini. Lagipula, wanita ini sudah menikah. Menikah? Apanya yang menikah! Rendra kembali tidak nyaman. Lalu dia duduk di samping Mutia. “Apa ada yang sakit?” Seketika wajah Mutia memerah. Tentu saja! Badannya sakit semua! Rasanya seperti habis dipukuli! Tapi dia tidak mengatakan apapun. "Tubuhmu pasti sakit semua ya?" Rendra mengulurkan tangannya. Tapi Mutia mendorongnya. "Tidak apa-apa. Besok pasti sudah mendingan. Tuan, anda juga harus istirahat." Jantung Rendra berdesir. Wanita ini benar-benar sangat lembut. Tapi karena penasaran, Rendra menyibakkan rambut Mutia. Dia tercengang saat melihat warna merah kebiruan tersebar di sana dan beberapa bekas gigitan. "Berapa banyak luka gigitannya?" "Hampir di sekujur tubuh." Rendra membeku. Apa dia sebuas itu? "Apa aku tadi juga memukulmu?” Siapa tahu, dia tidak ingat melakukannya. "Tidak. Tapi pinggangku sakit. Tuan terus menarikku. Dengan mencengkramnya dengan kuat." Ah… Sialan! Rendra sangat kesal dengan dirinya sendiri. “Aku benar-benar minta maaf. Aku akan memikirkan cara untuk menebus kesalahanku.” Mutia tidak menjawab. Lagipula, dia harus menjawab apa? Dia memilih meringkukkan diri. Akhirnya Rendra melangkah ke sofa yang masih ada di dalam kamar itu. Beberapa saat kemudian, dia mengintip Mutia. Setelah melihat wanita itu diam tak bergerak, barulah dia merasa sedikit lega dan memejamkan matanya.Setelah selesai mandi, Rendra langsung keluar. Kembali melihat Mutia yang sudah berganti baju dan celana training miliknya.Mutia yang melihat Rendra memperhatikannya langsung menyilangkan kembali tangannya di depan dadanya.Rendra hampir tertawa karena melihat penampilan Mutia yang aneh dengan bajunya yang kebesaran dan tanpa bra.Wajah Mutia memerah karena malu, dia langsung membalikan tubuhnya.Rendra tidak berkomentar apa-apa. Dia melangkah mendekati lemarinya dan segera memakai baju tanpa peduli ada Mutia di situ.Setelahnya dia menoleh pada Mutia yang masih menunduk di pinggir ranjang. “Ayo pergi.”Mutia langsung menoleh. "Saya tidak bisa keluar dari kamar sekalipun dengan keadaan begini, Tuan. Orang-orang akan menertawakan saya. Saya malu! Anda tidak bisa melihat bagaimana penampilan saya sekarang?"Rendra berpikir sejenak, lalu kembali menatap Mutia. Melirik dua gumpalan yang masih saja terlihat meskipun Mutia sudah memakai baju miliknya.'Benar juga.’Jika dia keluar dalam ke
Pagi berikutnya.Plak... Plak... Plak....!!!Entah sudah berapa kali pukulan Ken mendarat di tubuh para penjaga."Bodoh! Bodoh! Tidak berguna!" Umpat Ken."Maafkan kami, Tuan." Para penjaga menunduk sembari meremas jari jemari masing-masing.Salah seorang penjaga berkata dengan ragu-ragu, "Kami memang sempat mendengar teriakan Tuan Rendra dan Nona Mutia. Tapi mana mungkin kami berani mendobrak pintu itu. Kami berpikir, mereka sedang…”"Sebenarnya apa yang terjadi? Kami sungguh tidak mengerti." Kata yang lain.Ken hanya menggertakkan giginya dengan geram, kemudian menoleh pada kepala pelayan yang bernama Fic, yang berdiri di belakangnya."Pecat mereka semua Fic, penjaga tidak berguna!""Tapi, Tuan,”Salah satu penjaga berlutut di kaki Ken."Tuan, kami sudah mengabdi lebih dari sepuluh tahun di rumah ini. Adakah kesalahan kami selain kali ini? Tolong beri kami toleransi."Ken tidak menghiraukannya kemudian melangkah masuk. Fic segera menyusulnya dengan tergesa."Tuan, anda tidak boleh b
Rendra melepas jaket kulitnya dan tanpa banyak bicara, menutupi tubuh Mutia dengan jaket itu. Satu lengannya melingkar di punggung wanita itu, lalu mengangkat tubuh Mutia ke pelukannya.Mutia tidak melawan. Rendra membuka pintu mobil dan meletakkannya perlahan di jok penumpang. Setelah memastikan tubuh Mutia bersandar dengan nyaman, Rendra menghidupkan mesin mobil dan melaju.Perjalanan berlangsung dalam diam. Hujan mengetuk atap mobil, tapi di dalam hanya ada keheningan. Sesekali Rendra melirik, dan wajah Mutia semakin pucat. Napasnya tidak teratur.“Mutia?” Rendra menyentuh lengannya.Mutia tidak merespon.“Mutia!” Dia menepuk pipinya pelan.“Ya Tuhan… dia pingsan!”Rendra menekan pedal gas lebih dalam, membelokkan mobilnya menuju rumah. Begitu sampai di halaman rumah, dia langsung meloncat turun dari mobil dan membopong Mutia masuk ke dalam, membawanya ke kamarnya sendiri.Dia meletakkan Mutia di atas tempat tidur.“Apa yang harus aku lakukan?” Rendra kebingungan.Dia hampir mengh
“Ah,.. em… Sayang, aku mencintaimu.” “Aku juga sayang… tolong jangan tinggalkan aku.”Suara desahan dan ucapan cinta dari sepasang kekasih yang sedang bercinta saling bersahutan di dalam sana.Mutia yang baru saja melewati kamar itu menegang dan berdiri di tempat.Suara itu…Sebenarnya dia sudah sering mendengar suara mereka saat bercinta. Tapi biar bagaimanapun juga, pria yang sedang bercinta di dalam kamar itu adalah suaminya sendiri. Tiap kali mendengar suara mereka, dia tetap merasa tidak nyaman.Tadi, saat melihat Rendra terlelap tidur, dia dengan hati-hati keluar. Mutia menguatkan diri untuk pulang ke rumah karena takut suaminya marah kalau dia sampai tidak pulang.Sesampainya dirumah, dia justru mendengar hal yang menyakitkan.Dia memutar tubuhnya dan pergi ke kamarnya sendiri yang ada di dekat dapur. Kamar itu seharusnya milik pembantu. Namun semenjak dia dibawa masuk ke dalam rumah ini, kamar itu menjadi kamarnya. Dion memecat pembantu rumah dan menyuruh Mutia untuk mengga
"Jam berapa ini?" Rendra bertanya pada Ken yang langsung memeriksa ponselnya. “00:15.” Jawab Ken, singkat. "Pergilah beristirahat.” Ken hanya mengangguk, lalu melangkah. Dia sempat menoleh kembali seperti masih ragu untuk meninggalkan Rendra. Dia sebenarnya masih ingin menemani Rendra, mengingat kejadian tadi yang cukup menguras emosi. Dia tahu jika ini adalah pengalaman pertama bos-nya. Tapi ini sudah tengah malam, Mereka juga mungkin butuh istirahat. Ken menutup pintu kamar setelah berada diluar. Setelah hening beberapa detik, Rendra mendekati Mutia yang masih bersandar di tempat tidur. Rendra merapikan tempat tidur itu dengan ala kadarnya saja. Memungut bantal dan guling yang masih berceceran di lantai, kemudian meraih pakaian mereka yang bertaburan. Dia menatap pakaian Mutia yang ada di tangannya. Pakaian itu sudah rusak terkoyak karena ulahnya. Dia kembali merasa bersalah. 'Kenapa aku bisa menjadi seperti binatang?' Dia benar-benar tidak menyangka jika akan m
Rendra turun dari tempat tidur. Nafasnya masih terasa berat. Dia mengambil handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya. Lalu segera mencari ponselnya untuk menghubungi Ken. Baru saja panggilannya selesai, dia mendengar suara tangisan samar dari ruang tengah. Dia menoleh, kemudian meletakkan ponselnya di meja. Perlahan dia melangkah mendekati Mutia yang duduk lemah di lantai, menyandarkan dirinya pada sofa. Jubah mandi yang dipakai Mutia adalah miliknya. Tersingkap di beberapa bagian menandakan bahwa dia baru saja berusaha menjauh dari kamarnya. Dengan ragu, Rendra duduk di sampingnya. “Maafkan aku,” ucapnya dengan suara berat. Mutia menoleh, matanya basah oleh air mata. “Pergi, Tuan!” “Tolong dengarkan aku dulu,” kata Rendra, berusaha menenangkan. “Kenapa melakukan ini padaku? Kenapa Tuan…?” Suara Mutia bergetar. Dia benar-benar merasa hancur. Tuan yang ia hormati, telah menghancurkan kehormatannya. Rendra menunduk. Dia bingung bagaimana caranya untuk menjelaskan. “