LOGIN
Hari ini seharusnya menjadi puncak kebahagiaan, pesta pertunangan antara Lin Xuan dan Zhang Li. Namun kini, segalanya berubah menjadi arena pertempuran yang sengit untuk ke dua keluarga itu.
Wanita paruh baya bermake-up tebal, Xu Mei, duduk tegak di kursi utama, lengan disilangkan di depan dada, bibirnya melengkung dalam senyum sinis yang penuh penghinaan. Matanya yang tajam menyapu keluarga Lin dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah mereka hanyalah debu yang tak layak berada di ruangan yang sama dengannya. "Jangan salahkan aku karena bicara blak-blakan," ucapnya dengan suara lantang yang menggema, "Mas kawin harus naik jadi lima ratus ribu yuan, dibayar lunas sekarang juga! Dan nama di akta rumah itu hanya boleh atas nama Zhang Li seorang. Kalau kalian tidak setuju, lupakan saja soal menikahi putriku!" Orang tua Lin Xuan saling bertukar pandang, wajah mereka pucat seperti kapas. Lin Quanyou, sang ayah, menelan ludah dengan getir, tangannya yang kasar karena bertahun-tahun mengangkat kotak obat di apotek kecil itu gemetar hebat di bawah meja kayu mahoni. Ibu Lin menundukkan kepala menahan tangis yang sudah menggenang di pelupuk mata. Mereka sudah mengorbankan segalanya demi putra satu-satunya di keluarga itu, bahkan ibunya yang sudah lama menderita jantung koroner dan tekanan darah tinggi terpaksa bekerja sebagai petugas kebersihan di gedung perkantoran, membersihkan lantai dan kamar mandi orang lain hanya untuk menambah beberapa ribu yuan setiap bulan. Lin Xuan menatap calon mertuanya dengan mata yang mulai memerah menahan emosi, "Ibu... bukankah ini sangat keterlaluan? Kami sudah lunasi dua ratus ribu yuan sesuai kesepakatan awal. Ibu sendiri yang mengangguk setuju waktu itu di depan semua keluarga. Mengapa sekarang tiba-tiba menuntut tambahan tiga ratus ribu lagi??" "Jangan sok akrab memanggil aku 'Ibu'. Kalian bahkan belum resmi bertunangan. Lima ratus ribu itu terlalu banyak katamu, hah!? Kau tak tahu berapa banyak pria kaya raya di Kota Haiyang yang rela mengantre jadi menantu kami. Zhang Li ini bukan sembarang gadis, dia bunga kampus fakultas kedokteran, cantik, pintar, berparas bak dewi yang turun ke bumi. Menikahinya saja sudah anugerah terbesar yang pernah kau terima dalam hidupmu yang miskin ini!" Wanita itu berkata dengan mengusap lengan putrinya penuh kasih sayang. "Sementara kau? Hampir menginjak usia tiga puluh, tapi apa yang kau punya? Lulus kuliah kedokteran setahun lalu, tapi masih bergantung pada apotek kecil keluargamu yang sepi pelanggan itu. Bahkan aku dengar sekarang hampir tutup setiap bulan." "Jadi... Tanpa tambahan tiga ratus ribu ini, bagaimana aku bisa tenang mempercayakan Zhang Li pada keluarga miskin dan tak punya masa depan macam kalian, hah?" "Kau ini seperti kodok yang sedang bermimpi tinggi ingin melahap daging angsa putih," kata Xu Mei panjang lebar. Lin Xuan merasakan darahnya mendidih di seluruh tubuh. Tiga tahun terakhir ia bekerja mati-matian, mengambil shift malam di apotek, mengantar obat ke rumah pasien, bahkan menjadi supir ojek online di akhir pekan, hanya demi membiayai kehidupan LiLi yang mewah, biaya kuliah adiknya Zhang Fan, hingga tagihan rumah sakit kecil-kecilan. Kini, saat Zhang Fan terkena penyakit langka yang membutuhkan biaya pengobatan fantastis, malah keluarga Zhang yang menjadikan penderitaan itu sebagai senjata untuk memeras keluarganya lebih kejam lagi. "Aku sudah keluarkan banyak sekali uang untuk LiLi selama ini," desis Lin Xuan, suaranya bergetar karena menahan amarah yang ingin meledak. "Biaya hidupnya sehari-hari, biaya kuliahnya, bahkan sebagian besar pengobatan dan kebutuhan Zhang Fan... aku yang tanggung semuanya. Dan sekarang, karena adiknya sakit parah, aku harus menanggung lagi tiga ratus ribu yuan tambahan? Apa ini balasannya atas semua pengorbanan dan keringatku selama tiga tahun ini pada kalian?!" Xu Mei langsung terkekeh pelan, "Pacaran itu memang harus keluar uang, bukan? Kau pikir Zhang Li mau bersamamu tanpa imbalan apa-apa? Lihat dirimu sendiri! Pria-pria di luar sana jauh lebih mapan, lebih kaya, lebih punya masa depan darimu. Zhang Li menerimamu saja karena keberuntungan dari leluhur keluargamu. Cih, tak tahu diri sekali!" "Kau...!" Lin Xuan tercekat, kata-katanya berhenti di kerongkongan. Dadanya terasa seperti ditusuk pisau berulang kali, perihnya hingga ke tulang rusuk. Ia menoleh ke Zhang Li dengan tatapan penuh harap, ia mendapatkan pembelaan dari wanita yang selama ini ia junjung setinggi langit. Namun yang ada... Zhang Li hanya menunduk, rambut panjangnya menutupi sebagian wajah, lalu ia mengangkat kepala dengan ekspresi datar yang dingin. "Lin Xuan, jangan tatap aku seperti itu. Aku cuma punya satu adik laki-laki. Orang tuaku ingin dia sembuh dan bisa hidup layak seperti orang lain. Kalau tiga ratus ribu itu tidak ada... ya sudah, kita akhiri saja semuanya di sini." Dengan gerakan cepat dan tak sabar, ia mencabut kalung tipis berliontin kecil dari leher jenjangnya, kalung pemberian Lin Xuan beberapa bulan lalu saat mereka merayakan ulang tahun pertunangan tidak resmi. Tanpa ragu sedikit pun, ia melemparkannya ke arah pemuda itu. "Ini, ambillah kembali kalung murahanmu ini." Lin Xuan menangkap liontin itu dengan tangan yang gemetar hebat. "Kau... benar-benar serius?" suaranya parau, nyaris hilang ditelan kepedihan. "Hanya karena tiga ratus ribu yuan, kau rela membuang semua yang kita bangun bersama selama tiga tahun ini, begitu saja? Semua janjimu hanya omong kosong? Jadi, seluruh pengorbananku, waktuku yang setiap malam menunggumu pulang dari kampus, tak ada artinya??!" "Kau itu pria, tak malu mengatakan hal itu? Memberi perhatian sekecil itu saja kau ungkit terus-menerus!" timpal LiLi sinis. Zhang Li menatapnya dengan mata yang kini benar-benar dingin, bibirnya melengkung tipis dalam senyum yang tak lagi penuh cinta seperti dulu. Bibirnya terkatup rapat menelan getir kekecewaan. "Apa lagi yang bisa aku harapkan darimu, Lin Xuan? Kau tahu sendiri posisimu sekarang. Perbedaan keluarga kita," kata wanita itu lagi degan melemparkan pandangan ke arah lain. Ruangan itu saat ini sepi mencekam, hanya suara napas tertahan dan denting sendok kecil yang tak sengaja tersentuh. Lin Xuan menatap kalung di genggamannya, jari-jarinya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya yang dulu penuh cinta kini berkilat amarah, dan.... keputusasaan. Dan di saat semua orang mengira ia akan menunduk pasrah seperti biasa, Lin Xuan tiba-tiba mengangkat wajah, sudut bibirnya terangkat dalam senyum tipis yang aneh... ~~~ Apa yang akan dilakukan pria yang selama ini dianggap pecundang ini, ketika akhirnya ia memutuskan untuk tidak lagi diam... dan mulai membalas dengan cara yang tak pernah mereka bayangkan?Li Xiaomei keluar dengan wajah merah padam, meninggalkan Lin Xuan yang hanya bisa bengong. "Kak Lin, apa betul yang tadi ibu itu kerabatmu?" tanya Lu Qian heran. Belum pernah dia melihat tingkah laku seperti ini. Orang biasanya berterima kasih setelah diobati, tapi keluarga ini dari awal sudah kasar, malah tambah menjadi setelah sembuh."Ini keluarga dari pihak ibu saya. Memang hubungannya kurang baik," jawab Lin Xuan seadanya. Ia malas memperpanjang masalah. Keluarga Li Xiaomei memang dari dulu iri sama kesuksesan keluarga Lin di Jiangzhou. Waktu festival kemarin mereka datang buat merendahkan, tapi sekarang keluarga Lin makin maju, mereka pasti tambah iri.Li Xiaomei bukan tipe orang yang tahu balas budi. Lin Xuan mau mengobatinya cuma karena ibunya. Begitu Li Xiaomei keluar dari Baoren Hall dengan muka kesal, Jiang Shouchang dan anaknya yang menunggu di luar langsung menghampiri. "Bu, gimana? Sembuh nggak?" tanya Jiang Tao cemas."Sembuh apanya!" b
Jiang Tao benar-benar terpana. Sosok macam apa Lin Xuan sekarang di Haiyang? "Aduh. Tao'er, kepalaku sakit lagi." Saat Jiang Tao masih tenggelam dalam pikirannya, Li Xiaomei tak kuasa menahan rasa sakit di kepalanya. Dia memegang pelipisnya, merasakan otaknya seperti membengkak. Semakin dia memikirkan Lin Xuan, semakin sakit kepalanya. "Tapi bukannya sakit kepala Ibu hanya kambuh di malam hari? Kok sekarang bisa kambuh?" Jiang Tao tampak bingung dan cemas. "Mungkin kondisinya semakin parah. Tao'er, kamu harus cepat cari jalan," Jiang Shouchang juga sangat khawatir. Sakit kepala Li Xiaomei biasanya tidak kambuh di siang hari. Ada apa ini? "Jangan khawatir, Bu. Bukankah Lin Xuan kenal dengan Dr. Lu? Bagaimana kalau kita coba dia? Kita kan kerabatnya, masa dia bisa menolak kita?" Saat berkata begitu, Jiang Tao menunduk. Dia sadar bahwa koneksi Lin Xuan berguna, dan itu adalah secercah harapan terakhir. Mau tak m
Sekretaris Li membawa keluarga Jiang Shouchang ke pintu masuk Baoren Hall. Saat itu, keributan medis di Baoren Hall sudah selesai dan semua orang sedang mengantre di pintu masuk untuk konsultasi. Dengan Sekretaris Li yang memimpin, keluarga Jiang berhasil melewati antrean dan langsung masuk ke dalam."Permisi, apa Tuan Lu ada?" Sekretaris Li yang memakai kacamata hitam mendekat dan bertanya. Sebagai sekretaris ketua Grup Mengsheng, dia khawatir dikenali saat keluar, makanya dia pakai kacamata hitam."Tuan Lu sedang tidak ada di Haiyang. Beliau baru akan kembali beberapa hari lagi," jawab dokter jaga di dalam dengan nada sedikit tidak sabar."Kalau begitu tolong antar saya bertemu Dr. Lu Xiaoshen," kata Sekretaris Li sambil melepas kacamatanya."Eh, Sekretaris Li." Dokter jaga itu terkejut, lalu meletakkan pekerjaannya dan menjawab dengan sopan, "Tuan Lu seharusnya hari ini menerima pasien, tapi ada insiden di Baoren Hall hari ini. Tuan Lu bilang tidak akan menerima pasien hari ini.""
"Tidak ada masalah dengan herbalnya," kata Lin Xuan setelah memeriksa ampas obat di atas lemari dengan teliti. Ada lebih dari tiga puluh jenis herbal, tidak ada yang kurang atau bertambah. Dari kondisi ampasnya, tampaknya sudah direbus lebih dari tiga jam, sesuai dengan waktu yang diperlukan untuk merebus obat Tiongkok. Selain itu, takarannya juga tepat, semua mengikuti resep."Jadi masalahnya ada di resep dong?" Nenek itu tampak puas, menunjuk Lin Xuan. "Kamu mati-matian membela Baoren Tang, pasti sudah dikasih uang sogok, ya?""Benar!""Siapa sih orang ini? Dari tadi terus membela Baoren Tang. Pasti sudah terima uang dari mereka!""Aku hampir tertipu orang ini. Kalau tadi nggak diingatkan Nenek, aku lupa kalau Baoren Tang dan orang ini satu suara.""Orang ini asal-usulnya nggak jelas. Dari awal Lu Qian sudah menjamin dia. Apa dia memang praktisi pengobatan Tiongkok yang punya kualifikasi? Paling cuma anteknya Lu Qian yang diba
Menerima panggilan darurat dari Lu Qian, Lin Xuan segera bergegas menuju lokasi. Namun, sesampainya di pintu masuk Baoren Tang Haiyang, pemandangan yang dilihatnya sungguh tak terduga. Area itu dipenuhi lautan manusia, hampir sampai meluber ke luar."Baoren Tang, apotek nakal!""Baoren Tang! Apotek nakal!"Banyak orang meneriakkan slogan-slogan menuduh Baoren Tang sebagai apotek tidak bertanggung jawab. Lin Xuan terjepit di pinggiran kerumunan dan terhalang rapat, tidak bisa masuk ke dalam."Ada apa di dalam sana?" Lin Xauan menahan seorang pemuda dan bertanya."Ah, susah dibilang." Pemuda itu menggelengkan kepala dan menjelaskan dengan suara rendah, "Katanya, obat yang dibuat di Baoren Tang ini hampir membunuh orang. Keluarga pasien membawa orang untuk protes.""Baoren Tang kali ini benar-benar kena masalah." Pemuda itu juga datang untuk berobat. Melihat situasi begini, dia tidak berani masuk dan ikut menonton di pintu masuk ber
Lin Xuan tidak membalas dendam pada keluarga Zhang, bukan karena dia menganggap masalah itu sudah selesai. Keluarga Zhang telah menipu uang mahar keluarga Lin, uang muka mobil dan rumah, totalnya hampir satu juta yuan. Masalah ini harus diselesaikan bagaimanapun juga.Alasan Lin Xuan tidak mau mengobati Zhang Fan adalah karena dia terlalu paham dengan situasi Zhang Fan. Zhang Fan masih muda dan gegabah, tidak bisa mengendalikan diri, yang menyebabkan impotensinya saat ini. Secara lahiriah dia tampak normal, dan pemeriksaan medis di rumah sakit menunjukkan dia seperti orang sehat lainnya. Namun, masalah tersembunyinya hanya diketahui oleh dia dan keluarganya. Wei Lao tidak bisa menyembuhkan penyakit seperti ini, dan Lu Lao juga tidak ada di Haiyang, jadi dia juga tidak berdaya.Pada akhirnya, mereka pasti akan datang meminta bantuannya. Mereka saja tidak terburu-buru, masa dia yang harus buru-buru?Lin Xuan naik taksi pulang ke rumah dan mendapati kelu







