Share

JARUM PERAK DEWA MEDIS: Kebangkitan Lin Xuan!
JARUM PERAK DEWA MEDIS: Kebangkitan Lin Xuan!
Penulis: J.A

1. Pertunangan Batal!

Penulis: J.A
last update Tanggal publikasi: 2026-01-08 21:53:31

Hari ini seharusnya menjadi puncak kebahagiaan, pesta pertunangan antara Lin Xuan dan Zhang Li. Namun kini, segalanya berubah menjadi arena pertempuran yang sengit untuk ke dua keluarga itu.

Wanita paruh baya bermake-up tebal, Xu Mei, duduk tegak di kursi utama, lengan disilangkan di depan dada, bibirnya melengkung dalam senyum sinis yang penuh penghinaan. Matanya yang tajam menyapu keluarga Lin dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah mereka hanyalah debu yang tak layak berada di ruangan yang sama dengannya.

"Jangan salahkan aku karena bicara blak-blakan," ucapnya dengan suara lantang yang menggema, "Mas kawin harus naik jadi lima ratus ribu yuan, dibayar lunas sekarang juga! Dan nama di akta rumah itu hanya boleh atas nama Zhang Li seorang. Kalau kalian tidak setuju, lupakan saja soal menikahi putriku!"

Orang tua Lin Xuan saling bertukar pandang, wajah mereka pucat seperti kapas. Lin Quanyou, sang ayah, menelan ludah dengan getir, tangannya yang kasar karena bertahun-tahun mengangkat kotak obat di apotek kecil itu gemetar hebat di bawah meja kayu mahoni.

Ibu Lin menundukkan kepala menahan tangis yang sudah menggenang di pelupuk mata. Mereka sudah mengorbankan segalanya demi putra satu-satunya di keluarga itu, bahkan ibunya yang sudah lama menderita jantung koroner dan tekanan darah tinggi terpaksa bekerja sebagai petugas kebersihan di gedung perkantoran, membersihkan lantai dan kamar mandi orang lain hanya untuk menambah beberapa ribu yuan setiap bulan.

Lin Xuan menatap calon mertuanya dengan mata yang mulai memerah menahan emosi, "Ibu... bukankah ini sangat keterlaluan? Kami sudah lunasi dua ratus ribu yuan sesuai kesepakatan awal. Ibu sendiri yang mengangguk setuju waktu itu di depan semua keluarga. Mengapa sekarang tiba-tiba menuntut tambahan tiga ratus ribu lagi??"

"Jangan sok akrab memanggil aku 'Ibu'. Kalian bahkan belum resmi bertunangan. Lima ratus ribu itu terlalu banyak katamu, hah!? Kau tak tahu berapa banyak pria kaya raya di Kota Haiyang yang rela mengantre jadi menantu kami. Zhang Li ini bukan sembarang gadis, dia bunga kampus fakultas kedokteran, cantik, pintar, berparas bak dewi yang turun ke bumi. Menikahinya saja sudah anugerah terbesar yang pernah kau terima dalam hidupmu yang miskin ini!"

Wanita itu berkata dengan mengusap lengan putrinya penuh kasih sayang. "Sementara kau? Hampir menginjak usia tiga puluh, tapi apa yang kau punya? Lulus kuliah kedokteran setahun lalu, tapi masih bergantung pada apotek kecil keluargamu yang sepi pelanggan itu. Bahkan aku dengar sekarang hampir tutup setiap bulan."

"Jadi... Tanpa tambahan tiga ratus ribu ini, bagaimana aku bisa tenang mempercayakan Zhang Li pada keluarga miskin dan tak punya masa depan macam kalian, hah?"

"Kau ini seperti kodok yang sedang bermimpi tinggi ingin melahap daging angsa putih," kata Xu Mei panjang lebar.

Lin Xuan merasakan darahnya mendidih di seluruh tubuh. Tiga tahun terakhir ia bekerja mati-matian, mengambil shift malam di apotek, mengantar obat ke rumah pasien, bahkan menjadi supir ojek online di akhir pekan, hanya demi membiayai kehidupan LiLi yang mewah, biaya kuliah adiknya Zhang Fan, hingga tagihan rumah sakit kecil-kecilan.

Kini, saat Zhang Fan terkena penyakit langka yang membutuhkan biaya pengobatan fantastis, malah keluarga Zhang yang menjadikan penderitaan itu sebagai senjata untuk memeras keluarganya lebih kejam lagi.

"Aku sudah keluarkan banyak sekali uang untuk LiLi selama ini," desis Lin Xuan, suaranya bergetar karena menahan amarah yang ingin meledak. "Biaya hidupnya sehari-hari, biaya kuliahnya, bahkan sebagian besar pengobatan dan kebutuhan Zhang Fan... aku yang tanggung semuanya. Dan sekarang, karena adiknya sakit parah, aku harus menanggung lagi tiga ratus ribu yuan tambahan? Apa ini balasannya atas semua pengorbanan dan keringatku selama tiga tahun ini pada kalian?!"

Xu Mei langsung terkekeh pelan, "Pacaran itu memang harus keluar uang, bukan? Kau pikir Zhang Li mau bersamamu tanpa imbalan apa-apa? Lihat dirimu sendiri! Pria-pria di luar sana jauh lebih mapan, lebih kaya, lebih punya masa depan darimu. Zhang Li menerimamu saja karena keberuntungan dari leluhur keluargamu. Cih, tak tahu diri sekali!"

"Kau...!" Lin Xuan tercekat, kata-katanya berhenti di kerongkongan. Dadanya terasa seperti ditusuk pisau berulang kali, perihnya hingga ke tulang rusuk.

Ia menoleh ke Zhang Li dengan tatapan penuh harap, ia mendapatkan pembelaan dari wanita yang selama ini ia junjung setinggi langit.

Namun yang ada... Zhang Li hanya menunduk, rambut panjangnya menutupi sebagian wajah, lalu ia mengangkat kepala dengan ekspresi datar yang dingin. "Lin Xuan, jangan tatap aku seperti itu. Aku cuma punya satu adik laki-laki. Orang tuaku ingin dia sembuh dan bisa hidup layak seperti orang lain. Kalau tiga ratus ribu itu tidak ada... ya sudah, kita akhiri saja semuanya di sini."

Dengan gerakan cepat dan tak sabar, ia mencabut kalung tipis berliontin kecil dari leher jenjangnya, kalung pemberian Lin Xuan beberapa bulan lalu saat mereka merayakan ulang tahun pertunangan tidak resmi. Tanpa ragu sedikit pun, ia melemparkannya ke arah pemuda itu.

"Ini, ambillah kembali kalung murahanmu ini."

Lin Xuan menangkap liontin itu dengan tangan yang gemetar hebat.

"Kau... benar-benar serius?" suaranya parau, nyaris hilang ditelan kepedihan. "Hanya karena tiga ratus ribu yuan, kau rela membuang semua yang kita bangun bersama selama tiga tahun ini, begitu saja? Semua janjimu hanya omong kosong? Jadi, seluruh pengorbananku, waktuku yang setiap malam menunggumu pulang dari kampus, tak ada artinya??!"

"Kau itu pria, tak malu mengatakan hal itu? Memberi perhatian sekecil itu saja kau ungkit terus-menerus!" timpal LiLi sinis.

Zhang Li menatapnya dengan mata yang kini benar-benar dingin, bibirnya melengkung tipis dalam senyum yang tak lagi penuh cinta seperti dulu. Bibirnya terkatup rapat menelan getir kekecewaan.

"Apa lagi yang bisa aku harapkan darimu, Lin Xuan? Kau tahu sendiri posisimu sekarang. Perbedaan keluarga kita," kata wanita itu lagi degan melemparkan pandangan ke arah lain.

Ruangan itu saat ini sepi mencekam, hanya suara napas tertahan dan denting sendok kecil yang tak sengaja tersentuh. Lin Xuan menatap kalung di genggamannya, jari-jarinya mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih.

Matanya yang dulu penuh cinta kini berkilat amarah, dan.... keputusasaan.

Dan di saat semua orang mengira ia akan menunduk pasrah seperti biasa, Lin Xuan tiba-tiba mengangkat wajah, sudut bibirnya terangkat dalam senyum tipis yang aneh...

~~~

Apa yang akan dilakukan pria yang selama ini dianggap pecundang ini, ketika akhirnya ia memutuskan untuk tidak lagi diam... dan mulai membalas dengan cara yang tak pernah mereka bayangkan?

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Kholi Nudin
kayaknya seru nih... gassss
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • JARUM PERAK DEWA MEDIS: Kebangkitan Lin Xuan!   Bab 190.

    Lin Xuan sampai di toko buku ketika langit sudah berwarna jingga gelap. Lampu-lampu di Alun-Alun Ping'an mulai menyala satu per satu, menciptakan bayangan panjang yang bergerak-gerak di trotoar basah karena hujan gerimis sore tadi.Ding Yajun berdiri di depan pintu toko. Tangannya memegang payung yang tidak dibuka, rambutnya sedikit basah di bagian pucuk. Matanya langsung menangkap sosok Lin Xuan yang berjalan dari arah timur, dan sebelum sadar, kakinya sudah bergerak menyambut.“Kamu basah,” kata Lin Xuan begitu mereka bertemu.“Kamu janji akan kembali,” jawab Ding Yajun. Suaranya datar, tapi tangannya gemetar saat meraih lengan Lin Xuan.“Aku kembali.”Ding Yajun tidak menjawab. Dia hanya memegang erat lengan itu, merasakan kehangatan yang perlahan kembali merambat dari tubuh Lin Xuan. Mereka berdiri di tengah plaza beberapa saat, sampai Ding Yajun akhirnya menghela napas panjang.“Ayo masuk,” katanya. “Nanti sakit.”D

  • JARUM PERAK DEWA MEDIS: Kebangkitan Lin Xuan!   Bab 189.

    Pertarungan dengan He Yanfeng meninggalkan bekas yang tidak langsung terlihat. Bukan di tubuh Lin Xuan, tapi di sekitar toko buku. Sejak hari itu, beberapa toko di kawasan Alun-Alun Ping'an mulai memperlakukan Lin Xuan dengan cara yang berbeda. Ada yang tiba-tiba menjadi lebih ramah, ada yang justru menjaga jarak, takut terlibat dalam masalah yang lebih besar.Xu Kun datang setiap hari, membawa informasi dari berbagai sumber. Dia sudah membangun jaringan kecil di antara anak-anak muda yang pernah bergaul dengannya, dan sekarang jaringan itu berguna untuk memantau pergerakan Perguruan Haotian.“Bang Lin, He Pengfei sudah kembali ke Haiyang,” lapor Xu Kun sore itu, duduk di kursi depan meja dengan segelas es teh di tangan. “Katanya dia langsung mengumpulkan murid-murid seniornya. He Yanfeng dan He Lei juga ikut. Pertemuan tertutup, gue nggak bisa dapat informasi detail.”Lin Xuan sedang menyusun beberapa buku baru yang datang pagi tadi. Tangannya tidak berhe

  • JARUM PERAK DEWA MEDIS: Kebangkitan Lin Xuan!   Bab 188.

    Keesokan paginya, suasana di sekitar Alun-Alun Ping'an terasa berbeda sejak matahari belum sepenuhnya terbit. Biasanya, kawasan ini mulai ramai sekitar pukul sembilan, ketika para pedagang kaki lima membuka gerobak dan toko-toko perlahan menaikkan tirai besi. Tapi pagi itu, sejak pukul setengah delapan, beberapa pria berbadan besar sudah terlihat berkumpul di area parkir sebelah timur. Mereka tidak berbicara keras, tidak merokok sembarangan, hanya berdiri berkelompok dengan tatapan yang sesekali diarahkan ke satu titik: toko buku Lin Xuan.Xu Kun tiba lebih awal. Dia memarkir mobilnya agak jauh, lalu berjalan kaki mendekati toko buku sambil menyusuri trotoar. Matanya mengamati setiap sudut. Anak buahnya yang tiga orang sudah berjaga sejak satu jam lalu, menyamar di antara pedagang dan pengunjung pagi.“Bang,” satu anak buahnya berbisik saat Xu Kun lewat. “Mereka mulai datang sejak jam tujuh. Sekarang udah sekitar empat puluh orang. Tapi katanya masih banyak yang be

  • JARUM PERAK DEWA MEDIS: Kebangkitan Lin Xuan!   Chapter 187.

    Malam itu, setelah mengantar Ding Yajun pulang, Lin Xuan tidak langsung kembali ke toko buku. Dia memarkir mobil di pinggir jalan dekat Alun-Alun Ping'an, membuka ponsel, dan membaca ulang pesan dari Xu Kun.“Bang Lin, ada kabar dari Haotian. He Yanfeng cari-cari orang tanya alamat toko lo. Hati-hati.”Dia membalas pesan itu. “Dari mana sumbernya?”Beberapa menit kemudian, ponselnya berdering. Xu Kun menelepon langsung.“Bang Lin, ada anak buah gue yang dengar dari temannya yang les di Haotian. He Yanfeng udah kumpulin anak buah. Katanya mau datang besok atau lusa. Mereka nggak terima adiknya dihajar.”“He Lei yang mulai,” kata Lin Xuan datar.“Gue tahu, Bang. Tapi buat mereka, siapa yang mulai nggak penting. Yang penting keluarga Haotian dipermalukan di depan umum. Apalagi He Yanfeng itu tipe orang yang nggak bisa lihat adiknya babak belur. Dulu gue pernah dengar, ada orang yang cuma dorong He Lei pas lagi rame, besoknya langsung dihadang sama He Yanfeng dan anak buahnya. Tulang rusu

  • JARUM PERAK DEWA MEDIS: Kebangkitan Lin Xuan!   Bab 186.

    Manajer toko itu berdiri di samping meja kasir, jemarinya masih sibuk menghitung ulang total belanjaan. Tiga ratus dua puluh ribu. Angka yang tidak kecil untuk toko pakaian sekelas ini, tapi bukan yang terbesar yang pernah mereka tangani. Namun yang membuat manajer itu agak gugup adalah cara pembeli ini membelanjakan uangnya. Tanpa tawar, tanpa banyak bicara, tanpa ekspresi bangga atau pamer. Hanya perintah singkat, lalu kartu diserahkan.“Pak, semua sudah kami bungkus. Delapan item sesuai daftar,” kata manajer itu sambil membungkuk hormat. Dua pramuniaga di belakangnya membawa beberapa kantong belanjaan dengan rapi.Lin Xuan mengangguk. “Antarkan ke mobil.”“Baik, Pak.”Xiao Lu masih berdiri di tempat yang sama sejak tadi. Mulutnya terbuka sedikit, matanya tidak berkedip. Dia melihat manajer itu berjalan melewatinya dengan tangan penuh kantong belanjaan, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa menit terakhir, dia sadar bahwa dia tidak bisa lagi menganggap remeh pemuda di depannya.S

  • JARUM PERAK DEWA MEDIS: Kebangkitan Lin Xuan!   Ba 185.

    Ding Yajun sedang berbelanja di Alun-Alun Ping'an. Lin Xuan baru saja menutup telepon dan langsung mengemudi ke sana. Alun-Alun Ping'an adalah kompleks komersial raksasa yang terbagi menjadi beberapa area, seperti area kuliner, area pakaian, dan area kebutuhan hidup. Ding Yajun sedang berbelanja di area pakaian saat Lin Xuan tiba, dan dia menyambutnya di pintu masuk."Lin Xuan..." Ding Yajun mengaitkan lengannya dengan Lin Xuan."Ada apa?" Lin Xuan agak terkejut melihat dia datang mendekat dan langsung bergandengan seperti ini. Meskipun hubungan mereka sudah diakui di depan umum, perasaan mereka tetap harus dikembangkan perlahan."Tidak ada, kan kamu pacarku?" Ding Yajun tersipu dan menunduk."Itu hanya omongan kita ke Wei Ming," jawab Lin Xuan. Sebelumnya, Ding Yajun memang pernah mengakui Lin Xuan sebagai pacarnya di rumah sakit, tapi itu hanya siasat sementara agar Wei Ming percaya."Itu tidak hanya untuk Wei Ming," kata Ding Yajun, masih menunduk. Dia juga sebenarnya ingin memberi

  • JARUM PERAK DEWA MEDIS: Kebangkitan Lin Xuan!   2. Suara Agung.

    "Lili aku tanya sekali lagi, kau yakin setuju dengan keputusa ibumu?" tanya Lin Xuan pelan."Sudah, batal! Semua batal!!" jawab Xu Mei lantang, suaranya menggema hingga gelas-gelas kristal di meja bergetar pelan. "Hanya tiga ratus ribu yuan saja, kau bahkan tak mampu mengeluarkannya. Aku akan menca

  • JARUM PERAK DEWA MEDIS: Kebangkitan Lin Xuan!   8. Tersudut.

    Lin Xuan membawa orang tuanya kembali ke Klinik Ping dengan taksi. Bahkan sebelum mereka turun, sudah terlihat kerumunan orang berjejal di depan klinik. Sebuah sedan Volkswagen hitam terparkir di pintu masuk dengan tulisan "inspeksi kesehatan" di sampingnya. Penonton berdesakan, ingin tahu apa yang

  • JARUM PERAK DEWA MEDIS: Kebangkitan Lin Xuan!   7. Temukan Dia!

    Meng Kaiming dan istrinya membawa putri mereka di atas mobil mewah dengan pengasuh. Xu Yan tak henti-hentinya mengutuk lulusan muda itu sepanjang jalan, mulutnya terus bergumam. "Aku tak tahu dari mana anak itu berasal. Tak tahu apa-apa tapi berani memperlakukan putriku begitu! Untungnya Direktur Z

  • JARUM PERAK DEWA MEDIS: Kebangkitan Lin Xuan!   6. Pulang Membawa Kecewa.

    Lin Xuan berhenti sejenak di ambang pintu, tatapannya menyapu kerumunan yang menunggu dengan cemas. Matanya langsung tertuju pada wanita paruh baya berpakaian mewah yang berdiri paling depan, tangannya gemetar menahan isak. Itu pasti Xu Yan, ibu Meng Ting. "Pasien sudah lepas dari bahaya maut untu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status