Share

2. Suara Agung.

Penulis: J.A
last update Tanggal publikasi: 2026-01-08 22:23:05

"Lili aku tanya sekali lagi, kau yakin setuju dengan keputusa ibumu?" tanya Lin Xuan pelan.

"Sudah, batal! Semua batal!!" jawab Xu Mei lantang, suaranya menggema hingga gelas-gelas kristal di meja bergetar pelan. "Hanya tiga ratus ribu yuan saja, kau bahkan tak mampu mengeluarkannya. Aku akan mencari pria lain yang benar-benar pantas untuk LiLi, bukan sampah miskin... macam kalian!"

"Ibu besan..." Li Xiaoyan, ibu Lin Xuan, memaksakan senyum tipis di wajahnya yang sudah pucat. Suaranya lembut, hampir memohon, berusaha menyelamatkan sisa-sisa harapan yang sudah compang-camping. "Mari kita bicara baik-baik dulu..."

"Jangan panggil aku ibu besan dulu!" Xu Mei memutar bola mata dengan jijik, "Kalau kalian benar-benar tak sanggup mewujudkan pernikahan ini dengan syarat yang aku berikan, ya sudah, aku pun takkan memaksa! Ayo, LiLi, kita pulang sekarang juga!"

Wanita itu menarik lengan putrinya dengan kasar. Zhang Li mengikuti tanpa sepatah kata pun ia terus berjalan meninggalkan meja dengan patuh. Tak pernah sekali pun menoleh ke belakang.

Lin Xuan menatap punggung mereka yang semakin menjauh, amarah di dadanya langsung meledak... Tinjunya mengepal erat, urat-urat di lengan menonjol. Tanpa sadar, tangannya menghantam mangkuk porselen di depannya dengan keras, melampiaskan amarahnya.

Duar!!

Pecahan porselen beterbangan, darah segar langsung mengucur deras dari jarinya yang robek. Tetesan merah itu jatuh tepat ke atas liontin kecil yang tergeletak di meja, liontin yang dulu ia beli dengan susah payah dari seorang kakek tua di pinggir jalan pasar malam.

Konon batu itu memiliki khasiat melancarkan peredaran darah dan menghilangkan stres jika dipakai rutin. Lin Xuan rela mengorbankan gaji satu bulan penuh hanya untuk memberikannya pada Zhang Li, karena ia tahu gadis itu sering meringkuk kesakitan setiap bulan karena dysmenorrhea yang menyiksa.

Kini, batu itu dilempar kembali kepadanya seperti membuang sampah tak berguna.

Sekejap, cahaya aneh terpancar dari permukaan liontin itu, kilau biru samar yang menyilaukan sebelum lenyap secepat kilat.

[ Akhirnya kita bertemu...

Aku adalah penguasa Kitab Kuno, yang bersemayam di liontin kalung itu.

Mulai saat ini, engkau akan menjadi pewaris Seni Kitab Suci. Seni ini mampu menyelamatkan dunia sekaligus membalas semua sakit hati yang kau rasakan! ]

Suara agung itu bergema langsung di dalam kepalanya, dalam, dalam sekali, seolah berasal dari dasar jiwa. Pengetahuan luas tentang kitab suci kuno, ilmu bela diri tingkat dewa, keterampilan pengobatan yang tak tertandingi, serta kekuatan supernatural yang tak terbayangkan membanjiri otaknya bagai gelombang pasang raksasa.

Semakin lama... Kepalanya terasa pening, dunia terasa berputar liar, lututnya hampir ambruk.

"Lin Xuan! Lin Xuan!"

Suara ayahnya langsung mengembalikan ke kesadaran yang setengah hilang. Ia menoleh cepat, dan jantungnya seperti terhenti detik itu juga saat melihat ibunya sudah terkulai tak sadarkan diri dalam pelukan sang ayah.

"Hah, Ibu! Ibu!" teriak Lin Xuan, panik.

"Ibumu pingsan karena tekanan darahnya naik! Cepat bawa ke rumah sakit!" perintah ayahnya cepat dengan menggendong sang ibu di pelukannya.

~~~

Di depan pintu ruang ICU darurat Rumah Sakit Pusat Haiyang, koridor terasa dingin menusuk tulang. Lin Quanyou duduk lunglai di kursi plastik yang sudah mengelupas. Wajahnya pucat, matanya merah karena menahan tangis.

Satu per satu ia menelepon sanak saudara dan teman-teman lama, suaranya semakin parau, memohon bantuan dengan nada yang semakin rendah.

Sementara itu, Lin Xuan berdiri terpaku di sudut koridor yang remang, tangannya menggenggam erat liontin itu. Saat ia akhirnya membuka telapak tangan, kedua matanya melebar tak percaya!

Luka berdarah di tangannya sudah lenyap. Kulitnya mulus kembali seolah tak pernah terluka.

Yang lebih aneh, gelombang kekuatan ganas menggelora di dalam dada, terasa panas, seperti terbakar dari dalam. Membuat pemuda itu merasakan perasaan aneh... Rasa tak nyaman juga gelisah.

"Apakah gerangan batu ini? Apa yang sebenarnya sedang terjadi?" gumamnya pelan, suaranya hampir tak terdengar.

Ia memejamkan mata, dan tiba-tiba sebuah Kitab Tongsutra muncul di benaknya dengan jelas, halaman-halaman kuno bercahaya samar. Saat itu juga ia merasakan kitab suci itu sedang memahat ulang tulang dan ototnya, memperkuat setiap serat tubuh hingga terasa seperti baja yang ditempa ulang.

"Apakah ini nyata? Apakah aku benar-benar mewarisi ilmu dari seorang abadi?"

Lin Xuan masih sulit percaya dengan yang ia lihat, tapi ia memberanikan diri membuka Kitab Tongsutra di pikirannya dan mencoba mengalirkannya. Seketika tubuhnya terasa ringan bagai burung yang melayang bebas.

Telapak tangannya berdenyut penuh energi murni, darah mengalir deras bagai sungai bah yang tak terbendung, tulang dan ototnya ditembus aliran hangat yang menenangkan hingga ke relung jiwa terdalam.

Lebih ajaib lagi, segala macam ilmu gaib yang tadi disebutkan kini mengalir masuk ke ingatannya, seolah ia telah mempelajarinya selama puluhan tahun.

Saat ia masih tenggelam dalam sensasi itu, Lin Quanyou menghela napas panjang yang berat, suaranya serak penuh keputusasaan. "Xuan'er... kali ini ibumu sepertinya tak akan selamat."

"Hah... maksudnya? Ada apa, Ayah?!" Lin Xuan tersadar, langsung menjawab cepat, ekspresinya berubah tegang.

"Ayah sudah menelepon semua saudara dan teman kita, tapi tak seorang pun mau meminjamkan uang. Bahkan pamanmu langsung mematikan telepon begitu mendengar suaraku."

"Ah! Mereka semua benar-benar brengsek!" Lin Xuan menggeram pelan, tinjunya mengepal lagi.

Lin Quanyou mengeluarkan keluhan panjang yang menyayat hati. Li Xiaoyan kini terbaring di ICU, dan dokter telah meminta mereka menyiapkan seratus ribu yuan untuk biaya pengobatan darurat. Namun semua sanak saudara menolak membantu. Keluarga Lin sudah berkali-kali meminjam uang dari mereka untuk urusan pernikahan sebelumnya. Kini, saat benar-benar membutuhkan, tak ada lagi yang mau mengulurkan tangan.

"Tidak, Ayah. Aku yakin pasti ada cara lain. Ibu pasti selamat!"

Bang!

Tiba-tiba pintu ruang ICU terbuka dengan keras. Tiga petugas medis berjas putih keluar dengan langkah cepat, dipimpin oleh Dr. Zhou Bin, ahli saraf terbaik di Kota Haiyang. Lin Quanyou dan Lin Xuan segera berlari mendekat, "Dokter Zhou, bagaimana keadaannya?" tanya Lin Quanyou dengan suara yang gemetar.

"Pasien mengalami pendarahan otak mendadak, meskipun kalian membawanya tepat waktu, tapi... seperti yang sudah saya katakan sebelumnya..." Dokter itu menghirup napas panjang, "Seandainya biaya pengobatan dibayar tepat waktu, tindakan darurat bisa dilakukan semalam, dan mungkin kita masih ada harapan. Tapi sekarang... Maaf. Semuanya sudah terlambat. Tanda-tanda vital pasien telah hilang. Silakan persiapkan pemakaman."

Dokter itu menyerahkan surat keterangan kematian dengan dingin.

Mendengar itu, dunia Lin Xuan seperti runtuh. "Tidak! Ini tidak mungkin! Dokter, aku mohon! Selamatkan ibuku!"

Ia berteriak dan langsung berbalik, berlari masuk ke dalam ruang ICU, menghalangi perawat yang hendak menutupi tubuh ibunya dengan kain putih bersih.

"Awas! Apa yang kalian lakukan, hah!!? Ibuku belum mati!"

Di saat tangannya menyentuh kain putih itu, liontin di genggamannya kembali bergetar hebat. Cahaya samar biru muncul lagi, kali ini lebih terang, lebih hangat, merambat ke seluruh tubuhnya... dan ke arah tubuh ibunya yang terbaring tak bernyawa.

Detik itu juga Lin Xuan melihat sesuatu yang begitu jelas ...

***

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Sabam Silalahi
mulai menarik
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • JARUM PERAK DEWA MEDIS: Kebangkitan Lin Xuan!   Bab 190.

    Lin Xuan sampai di toko buku ketika langit sudah berwarna jingga gelap. Lampu-lampu di Alun-Alun Ping'an mulai menyala satu per satu, menciptakan bayangan panjang yang bergerak-gerak di trotoar basah karena hujan gerimis sore tadi.Ding Yajun berdiri di depan pintu toko. Tangannya memegang payung yang tidak dibuka, rambutnya sedikit basah di bagian pucuk. Matanya langsung menangkap sosok Lin Xuan yang berjalan dari arah timur, dan sebelum sadar, kakinya sudah bergerak menyambut.“Kamu basah,” kata Lin Xuan begitu mereka bertemu.“Kamu janji akan kembali,” jawab Ding Yajun. Suaranya datar, tapi tangannya gemetar saat meraih lengan Lin Xuan.“Aku kembali.”Ding Yajun tidak menjawab. Dia hanya memegang erat lengan itu, merasakan kehangatan yang perlahan kembali merambat dari tubuh Lin Xuan. Mereka berdiri di tengah plaza beberapa saat, sampai Ding Yajun akhirnya menghela napas panjang.“Ayo masuk,” katanya. “Nanti sakit.”D

  • JARUM PERAK DEWA MEDIS: Kebangkitan Lin Xuan!   Bab 189.

    Pertarungan dengan He Yanfeng meninggalkan bekas yang tidak langsung terlihat. Bukan di tubuh Lin Xuan, tapi di sekitar toko buku. Sejak hari itu, beberapa toko di kawasan Alun-Alun Ping'an mulai memperlakukan Lin Xuan dengan cara yang berbeda. Ada yang tiba-tiba menjadi lebih ramah, ada yang justru menjaga jarak, takut terlibat dalam masalah yang lebih besar.Xu Kun datang setiap hari, membawa informasi dari berbagai sumber. Dia sudah membangun jaringan kecil di antara anak-anak muda yang pernah bergaul dengannya, dan sekarang jaringan itu berguna untuk memantau pergerakan Perguruan Haotian.“Bang Lin, He Pengfei sudah kembali ke Haiyang,” lapor Xu Kun sore itu, duduk di kursi depan meja dengan segelas es teh di tangan. “Katanya dia langsung mengumpulkan murid-murid seniornya. He Yanfeng dan He Lei juga ikut. Pertemuan tertutup, gue nggak bisa dapat informasi detail.”Lin Xuan sedang menyusun beberapa buku baru yang datang pagi tadi. Tangannya tidak berhe

  • JARUM PERAK DEWA MEDIS: Kebangkitan Lin Xuan!   Bab 188.

    Keesokan paginya, suasana di sekitar Alun-Alun Ping'an terasa berbeda sejak matahari belum sepenuhnya terbit. Biasanya, kawasan ini mulai ramai sekitar pukul sembilan, ketika para pedagang kaki lima membuka gerobak dan toko-toko perlahan menaikkan tirai besi. Tapi pagi itu, sejak pukul setengah delapan, beberapa pria berbadan besar sudah terlihat berkumpul di area parkir sebelah timur. Mereka tidak berbicara keras, tidak merokok sembarangan, hanya berdiri berkelompok dengan tatapan yang sesekali diarahkan ke satu titik: toko buku Lin Xuan.Xu Kun tiba lebih awal. Dia memarkir mobilnya agak jauh, lalu berjalan kaki mendekati toko buku sambil menyusuri trotoar. Matanya mengamati setiap sudut. Anak buahnya yang tiga orang sudah berjaga sejak satu jam lalu, menyamar di antara pedagang dan pengunjung pagi.“Bang,” satu anak buahnya berbisik saat Xu Kun lewat. “Mereka mulai datang sejak jam tujuh. Sekarang udah sekitar empat puluh orang. Tapi katanya masih banyak yang be

  • JARUM PERAK DEWA MEDIS: Kebangkitan Lin Xuan!   Chapter 187.

    Malam itu, setelah mengantar Ding Yajun pulang, Lin Xuan tidak langsung kembali ke toko buku. Dia memarkir mobil di pinggir jalan dekat Alun-Alun Ping'an, membuka ponsel, dan membaca ulang pesan dari Xu Kun.“Bang Lin, ada kabar dari Haotian. He Yanfeng cari-cari orang tanya alamat toko lo. Hati-hati.”Dia membalas pesan itu. “Dari mana sumbernya?”Beberapa menit kemudian, ponselnya berdering. Xu Kun menelepon langsung.“Bang Lin, ada anak buah gue yang dengar dari temannya yang les di Haotian. He Yanfeng udah kumpulin anak buah. Katanya mau datang besok atau lusa. Mereka nggak terima adiknya dihajar.”“He Lei yang mulai,” kata Lin Xuan datar.“Gue tahu, Bang. Tapi buat mereka, siapa yang mulai nggak penting. Yang penting keluarga Haotian dipermalukan di depan umum. Apalagi He Yanfeng itu tipe orang yang nggak bisa lihat adiknya babak belur. Dulu gue pernah dengar, ada orang yang cuma dorong He Lei pas lagi rame, besoknya langsung dihadang sama He Yanfeng dan anak buahnya. Tulang rusu

  • JARUM PERAK DEWA MEDIS: Kebangkitan Lin Xuan!   Bab 186.

    Manajer toko itu berdiri di samping meja kasir, jemarinya masih sibuk menghitung ulang total belanjaan. Tiga ratus dua puluh ribu. Angka yang tidak kecil untuk toko pakaian sekelas ini, tapi bukan yang terbesar yang pernah mereka tangani. Namun yang membuat manajer itu agak gugup adalah cara pembeli ini membelanjakan uangnya. Tanpa tawar, tanpa banyak bicara, tanpa ekspresi bangga atau pamer. Hanya perintah singkat, lalu kartu diserahkan.“Pak, semua sudah kami bungkus. Delapan item sesuai daftar,” kata manajer itu sambil membungkuk hormat. Dua pramuniaga di belakangnya membawa beberapa kantong belanjaan dengan rapi.Lin Xuan mengangguk. “Antarkan ke mobil.”“Baik, Pak.”Xiao Lu masih berdiri di tempat yang sama sejak tadi. Mulutnya terbuka sedikit, matanya tidak berkedip. Dia melihat manajer itu berjalan melewatinya dengan tangan penuh kantong belanjaan, dan untuk pertama kalinya dalam beberapa menit terakhir, dia sadar bahwa dia tidak bisa lagi menganggap remeh pemuda di depannya.S

  • JARUM PERAK DEWA MEDIS: Kebangkitan Lin Xuan!   Ba 185.

    Ding Yajun sedang berbelanja di Alun-Alun Ping'an. Lin Xuan baru saja menutup telepon dan langsung mengemudi ke sana. Alun-Alun Ping'an adalah kompleks komersial raksasa yang terbagi menjadi beberapa area, seperti area kuliner, area pakaian, dan area kebutuhan hidup. Ding Yajun sedang berbelanja di area pakaian saat Lin Xuan tiba, dan dia menyambutnya di pintu masuk."Lin Xuan..." Ding Yajun mengaitkan lengannya dengan Lin Xuan."Ada apa?" Lin Xuan agak terkejut melihat dia datang mendekat dan langsung bergandengan seperti ini. Meskipun hubungan mereka sudah diakui di depan umum, perasaan mereka tetap harus dikembangkan perlahan."Tidak ada, kan kamu pacarku?" Ding Yajun tersipu dan menunduk."Itu hanya omongan kita ke Wei Ming," jawab Lin Xuan. Sebelumnya, Ding Yajun memang pernah mengakui Lin Xuan sebagai pacarnya di rumah sakit, tapi itu hanya siasat sementara agar Wei Ming percaya."Itu tidak hanya untuk Wei Ming," kata Ding Yajun, masih menunduk. Dia juga sebenarnya ingin memberi

  • JARUM PERAK DEWA MEDIS: Kebangkitan Lin Xuan!   Chapter 76.

    “XIA QUAN!”Alis Meng Ting berkerut tajam saat dia melotot ke arah Xia Quan. Meski tadi yang bicara adalah He Xiong, dia tahu pasti tanpa perintah Xia Quan, He Xiong tidak akan berani berkata seperti itu. Tindakan Xia Quan jelas-jelas mendorong Lin Xuan ke dalam lubang. Orang-orang dari Xun Wu Zong

  • JARUM PERAK DEWA MEDIS: Kebangkitan Lin Xuan!   Chapter 73.

    Suara Xia Quan ternyata sangat berkarakter—dalam, stabil, dan penuh kendali. Teknik vokalnya rapi, setiap peralihan nada dilakukan dengan mulus. Yang paling membuat mereka terpukau adalah keakuratannya. Dia melafalkan setiap kata asing dan istilah rumit dalam lirik dengan sempurna, tanpa salah sa

  • JARUM PERAK DEWA MEDIS: Kebangkitan Lin Xuan!   Chapter 72.

    Beberapa orang itu akhirnya melangkah masuk ke dalam Supreme Suite. Begitu melewati pintu kayu besar berlapis emas, mereka disambut oleh pemandangan yang benar-benar berbeda dari area klub manapun. Udara di dalamnya terasa sejuk dengan aroma parfum elegan yang samar, seolah memasuki dunia lain ya

  • JARUM PERAK DEWA MEDIS: Kebangkitan Lin Xuan!   Chapter 71.

    “Wah! Bagus sekali!” Deng Ling berseru girang, kedua tangannya spontan bertepuk. Matanya berbinar seperti anak kecil yang baru saja diberi kado melebihi ekspektasi. Rencana awalnya cuma ruang privat mewah biasa, kini tiba-tiba di-upgrade ke suite tertinggi? Bagaimana mungkin dia tidak senang?Namun

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status