Share

JATUH CINTA PADA ISTRIKU YANG DULU KUHINA GENDUT
JATUH CINTA PADA ISTRIKU YANG DULU KUHINA GENDUT
Author: Khanna

CEWEK GEMBROT

Author: Khanna
last update Last Updated: 2025-10-08 11:00:27

Aku mengangkat salah satu ujung bibirku sambil berdecap kesal. Kedua alisku mengerut melihat seseorang dengan bobot tubuh di atas rata-rata dari ujung kaki hingga kepala yang dibalut hijab.

Bisa-bisanya dia dijodohkan denganku. Apa nggak sadar diri!

Umpatan itu terucap penuh amarah di dalam hati.

Lihat saja ukuran bajunya, bisa dipakai lima orang sekaligus.

Aku meraup wajahku dengan gusar. Ruangan yang di dalamnya terpajang beberapa gaun pengantin terasa begitu engap olehku.

*

“Ibu kesurupan, ya! Cewek gembrot macam Agnia disuruh menikah denganku? Apa Ibu nggak malu punya menantu sepertinya! Aku aja nggak mau!” hardikku dengan tanduk yang meruncing di kepala.

Seminggu sebelum pergi fitting baju pengantin, aku memuntahkan segala kekesalanku pada ibuku yang kekeuh melakukan perjodohan dengan perempuan yang tak kucinta sama sekali. Melihat pun ogah.

Aku sangat berharap, semua yang sudah ditentukan akan gagal dan tidak pernah terjadi sampai kapan pun.

“Jangan ngomong begitu, Ar. Semua demi memenuhi wasiat dari Almarhum ayahmu. Beliau menginginkanmu menikah dengan anak sahabatnya. Kamu harus menerima, Ar. Demi warisan juga, Ar.”

“Persetan dengan warisan, Bu! Aku nggak kerja lagi di perusahaan milik Ayah nggak masalah, asal aku nggak menikah sama cewek yang nggak kusuka. Cewek gendut yang bikin sakit mata!”

“Arfan! Jaga ucapanmu! Ibu hanya ingin ayahmu tenang di alam sana. Agnia nggak seburuk itu, Ar! Dia cantik walau badannya berisi! Dia juga datang dari keluarga baik-baik, Ar. Ayahmu pasti nggak sembarangan menjodohkanmu melalui wasiatnya.”

“Aku nggak mau menikah sama dia, Bu! Aku mau menikah sama cewek yang kucinta. Satu untuk selamanya. Bukan malah dengan bungkusan karung macam Agnia itu. Hah! Wasiat Ayah bikin aku naik darah, Bu! Sembarangan memutuskan semuanya sendiri tanpa bertanya dulu padaku!”

“Rawat dia dengan baik setelah menikah, Ar. Nasihati dengan kata-kata yang halus agar dia mau memperhatikan penampilannya. Agnia pasti akan terlihat lebih cantik sesuai dengan keinginanmu, Ar. Ayahmu pasti akan bahagia saat kamu menuruti wasiatnya, Ar. Ibu nggak mau memaksamu, tapi begitulah garis takdirmu, Ar.”

*

“Mas, giliranmu,” ucap Agnia yang sudah berada di belakangku. Suaranya lembut. Kalau tidak melihatnya langsung, pasti mengira pemilik suara itu adalah seorang wanita yang cantik hampir sempurna. Tapi kenyataannya, badannya seperti gajah, sama sekali tidak ada cantik-cantiknya.

Aku berdecap untuk menanggapinya dan tak menatapnya sama sekali. Dari ujung mataku saja sudah bisa melihat gundukan lemak itu. Mana mungkin aku mau melihat wajahnya yang bikin aku makin kesal padanya dan pada nasib buruk yang sedang menemaniku. Aku berjalan menjauhinya.

“Jodoh memang sepadan ya, Mas. Yang cewek cantik, Mas-nya juga cakep.”

“Mana ada dia cantik. Kek gajah duduk gitu,” kataku menanggapi ucapan orang yang hendak membuatkan baju pengantin untukku.

“Nggak boleh begitu, Mas. Calon istri Mas-nya itu cantik walau badannya berisi. Nggak kayak gajah, Mas. Mas-nya pasti nggak pernah melihat wajahnya dengan benar, ya. Sampai ngomong begitu.”

“Males banget, lihatin wajahnya. Udah kelihatan lemak di mana-mana.”

“Duh, Mas. Kasihan loh, anak orang yang dibesarkan sepenuh hati sama orang tuanya, malah diperlakukan kurang baik sama suaminya. Aku tau, kalian menikah karena dijodohkan. Tapi coba deh, buka hati masing-masing.”

Aku hanya menghela napas sambil mengitarkan bola mata. Sok tahu sekali orang ini. Memangnya dia tahu, bagaimana gejolak di dalam hatiku? Beruntung aku bisa menahan diri.

Untuk membayangkan wajah Agnia saja sudah membuatku bergidik ngeri. Apalagi kalau harus melihatnya secara langsung dan berlama-lama. Bisa-bisa aku pingsan di tempat.

“Mbak Agnia itu cantik sebenarnya, Mas,” ucapnya lagi. Mungkin dia hanya empati karena sama-sama perempuan. Yang diucapkan, pada kenyataannya jauh berbeda di mataku.

“Bagiku, nggak sama sekali! Udahlah, Bu. Nggak usah menasihatiku lagi. Nggak bakal aku dengerin. Ini masalah hati, nggak mudah untuk dipahami,” ucapku dengan tegas agak ketus juga.

“Kasihan Mbak Agnia. Mudah-mudahan, ada keajaiban dalam pernikahan kalian, ya.”

Iya, keajaiban agar pernikahan akhirnya gagal.

*

Agnia berjalan lebih dulu menuju mobil. Kami hendak pulang setelah selesai fitting baju walau aku benar-benar enggan.

Aku mengerutkan alis sambil melihat ke arah lain agar tak langsung melihat tubuh gembul calon istri yang tak kucintai itu.

Bener-bener mirip gajah, kudanil. Bagaimana aku bisa membuka hatiku untuknya? Ngenes gini.

Aku berdecap lagi walau pelan.

Nggak bisa dibayangin waktu malam pertama. Aku nggak akan melihatnya. Ogah banget! Lemak semua pasti.

Dadaku lama-lama terasa sesak ketika kepalaku memikirkan macam-macam tentang takdirku yang memilukan ini.

Dalam bayanganku dulu, ketika menikah, aku akan sangat mendambakan malam pertama yang penuh dengan gairah yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Warna baru yang mungkin membuat rasa penasaran yang tak ada ujungnya. Ingin lagi dan lagi.

Pada kenyataannya sekarang, perempuan yang akan menjadi istriku adalah seseorang yang membuatku tidak punya gairah hidup sama sekali. Melihat pun enggan, apalagi menyentuhnya.

Apa salah dan dosaku, Tuhan! Kenapa aku harus menikah sama buntelan karung satu ton ini!

Aku tahu, Agnia tidak seberat itu. Mungkin berat badannya sekitar 80 atau 90 kg. Tapi, tetap saja, berat badannya itu melebihi kapasitas semestinya. Aku tidak suka.

“Kenapa kamu nggak menolak perjodohan kita?” tanyaku sontak membuat Agnia menoleh.

“Kata siapa aku nggak menolak?” ujarnya dengan pertanyaan baru. Wajahnya datar.

“Kamu diam saja. Menolak di sebelah mananya?”

“Karena kamu nggak melihatnya. Aku sungkan juga kalau ngomong macam-macam di depan ibumu. Walau aku nggak suka, aku berusaha menghormati orang tua.”

“Omong kosong! Kamu menikmati semuanya. Aku melihatnya begitu. Asal kamu tau, kamu bukanlah tipeku. Badanmu terlalu ....”

Aku menggantung ucapanku. Hanya bisa berdecap kesal dan membuang napas lewat hidung dengan kasar.

“Terlalu gemuk? Aku menyadarinya, Mas. Bukankah yang diuntungkan dalam pernikahan ini adalah kamu, ya. Kamu yang bakal mendapat warisan dari mendiang ayahmu. Sedangkan aku ... nggak dapat apa-apa!” ucapnya penuh penekanan.

“Ya udah, kita batalkan pernikahan ini.”

“Ya udah, kamu yang harus berjuang sekuat tenaga. Aku sudah menolaknya berkali-kali, tapi orang tuaku kekeuh gara-gara wasiat ayahmu yang merupakan sahabat orang tuaku.”

Aku mengusap wajahku dengan kasar. Memang semua berawal dari wasiat ayahku yang sudah meninggal. Coba kalau beliau masih sehat sampai sekarang. Mungkin perjodohan ini tidak terjadi karena aku akan menolaknya mentah-mentah di hadapannya.

“Agni!”

Aku ikut menoleh ketika suara lelaki memanggil namanya.

“Benar kan? Itu kamu. Untung aku memanggilmu,” ujar lelaki itu lagi sambil mengulas senyuman di bibir dan melangkahkan kaki mendekati kami.

Aku mengernyitkan kening, karena baru kali ini melihat wajah lelaki itu.

Makin heran lagi, ketika melihat Agnia menyambutnya dengan senyuman yang melengkung di bibir. Padahal saat berbicara denganku, wajahnya begitu kaku. Senyuman itu enggan hadir.

Apa mereka punya hubungan spesial?

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Khanna
terima kasih...
goodnovel comment avatar
wanita biasa
semangat kk nulis nya yaaa cerita ny baguss
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • JATUH CINTA PADA ISTRIKU YANG DULU KUHINA GENDUT   Keputusan

    36POV AgniTatapanku bertemu dengan seseorang yang mengalami kecelakaan, bukan sekadar membuat terkejut, tetapi seolah disengat oleh petir. Aku seketika gelisah dan cemas hendak keluar. Di luar mobil sudah riuh pula dengan suara orang yang terkejut atas kecelakaan yang terjadi.“Ni … mau turun?” tanya Mas Ghani.“Iya … dia Mas Arfan,” jawabku tanpa menoleh.“Apa? Arfan?”Pintu mobil terbuka. Aku cepat-cepat menurunkan kaki di jalan.Setiap tarikan napasku, seolah menggaungkan pikiran buruk, merayap di sisi hatiku. Kakiku melangkah, tetapi terasa berat. Waktu terasa melambat dengan udara yang menyesakkan dada.“Agni … Agni … Agni ….”Nama itu—namaku sendiri—yang baru diucapkan oleh Mas Arfan. Bagaimana mungkin di antara rasa sakit, antara hidup dan mati, namaku yang terucap dari lisannya? Ada rasa haru, tetapi juga menyakitkan serta ketakutan yang mencekam.Suara bising di sekitar—teriakan orang-orang, hingga deru mesin yang menyala—mendadak senyap, tertutup oleh detak jantungku sendi

  • JATUH CINTA PADA ISTRIKU YANG DULU KUHINA GENDUT   Mengejar

    35POV AgniSudah empat hari, Mas Arfan memberikan kiriman makanan, juga bunga. Dia mengirimkan kata-kata perhatian lewat WA. Aku sudah tak memblokirnya lagi gara-gara waktu itu. Pesan yang dikirimkan akhir-akhir ini tidak membuatku terganggu. Mungkin dia sudah belajar dari masa lalu.Aku melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan. Waktu istirahat sudah hampir habis, tetapi perutku belum diisi apa pun. Hanya air putih kemasan gelas.“Harusnya, aku nggak menunggu kiriman makanan itu.”Untuk hari kelima ini, sepertinya tidak ada kiriman hadiah dari Mas Arfan. Konyolnya, karena mungkin sudah menjadi kebiasaan, aku jadi mengharapkannya.“Dahlah … mending cari makan,” ketusku.Perasaan kecewa seakan menyusup masuk sampai ke hati terdalam. Betapa tidak, aku mengharapkan, tetapi malah tak ada tanda-tanda kehadirannya seperti biasanya.“Nggak usah kecewa, nggak usah kesal. Kenapa aku harus mengharapkannya, sih!” gerutuku sambil melangkah keluar.Mas Ghani tidak datang ke sini. Sepertiny

  • JATUH CINTA PADA ISTRIKU YANG DULU KUHINA GENDUT   Jika Jodohku, Mudahkanlah

    34Layar ponsel, aku pandangi. Di sana tertulis berbagai macam sesuatu yang disuka dan tak sukai Agni. Aku mendapatkannya dari Mbak Olif.“Kalau sudah sampai begini, aku tambah percaya sama kamu, Ar. Perjuangkan pernikahan kalian. Kejar Agni sampai dapat.”Begitulah yang dikatakan oleh Mbak Olif. Kalimat yang semakin membuat jiwaku semakin membara. Jiwa untuk merengkuh seutuhnya seorang Agni.“Nggak nyangka, seminggu lagi, Agni akan ulang tahun. Pas di saat keputusan itu akan diberikan.”Seketika itu, otakku berpikir keras. Aku akan melakukan yang terbaik agar selama seminggu waktu yang diberikan, akan mendapatkan hasil yang memuaskan. Pernikahan kami akan baik-baik saja, itulah yang aku harapkan.Aku beralih pada aplikasi warna hijau. Mumpung blokiranku sudah dibuka, aku akan mengirimkan pesan untuknya. Tentu sekarang lebih berhati-hati.Tentang motor, Rehan mengatar saat aku hendak pulang. Ia kelihatan bingung. Karena motor itu milik manager yang kerja di restoran.“Manager itu istr

  • JATUH CINTA PADA ISTRIKU YANG DULU KUHINA GENDUT   Izinkan Aku Mengantarkanmu

    33“Aku mohon … beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya,” pintaku lagi masih dengan posisi yang sama.“Berdiri!” bisik Agni, bicaranya sangat ditekan.“Aku akan berdiri, tapi tolong … ikut aku ke mobil. Kita bicara di sana.”Aku mendengar decak kesal dari mulutnya lagi.“Iya! Iya! Cepat berdiri!”Kali ini, aku mematuhinya.“Di mana mobilmu?” tanyanya, mungkin sudah terlalu tak nyaman menjadi perhatian orang.“Di sana.” Aku menujuk ke arah mobilku.“Cepat!”Agni berjalan lebih dulu. Wajahnya ditekuk.“Terima kasih dan maaf sekali lagi,” ucapku sambil mengekor mengimbangi langkahnya.Agni tak menjawabku. Dia tetap berjalan pada tujuannya.Aku bergegas mempercepat langkah untuk membukakan pintu untuk Agni.Agni berdecak lagi sambil melihatku sinis, tetapi ia masuk ke dalam mobil.Senyumanku tersimpul tipis sambil melangkah ke sisi yang lain. Buket bunga tetap dibawa. Sebelum masuk mobil, aku mengatur napas. Tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya.“Dalam seminggu ini, berkas unt

  • JATUH CINTA PADA ISTRIKU YANG DULU KUHINA GENDUT   Beri Aku Kesempatan

    32“Aku udah gila! Kerjaanku nggak fokus. Aku malah nyari hadiah buat Agni dan sekarang, aku menunggunya pulang kerja begini. Hebat … cinta bikin buta segalanya. Bikin kacau jadwalku. Tapi, aku nggak bisa mencegahnya. Kacau bener. Kalau udah begini, aku harus dapetin Agni biar kegilaanku diobati.”Saat ini, aku di dalam mobil. Sorot mataku fokus pada pintu restoran, berharap seseorang yang menganggu pikiran dan hatiku muncul dari sana. Aku ingin sekali melihatnya, bahkan ingin berkomunikasi secara langsung. Kalau lewat ponsel, aku diblokir olehnya. Sungguh terlalu.Agni memblokir nomorku sebab aku sering mengirim pesan, bahkan meneleponnya akhir-akhir ini. Setelah itu, aku tak bisa menghubunginya lagi. Aku kecewa dan lumayan menyesal karena begitu sering menghubunginya. Mungkin ia merasa diteror, tetapi aku sedang berusaha merebut hatinya kembali. Aku sedang berusaha mengejar maafnya.Ponselku berbunyi. Ada pesan masuk. Aku langsung membukanya.“Ar, kamu sama Agni pergi ke pesta ulang

  • JATUH CINTA PADA ISTRIKU YANG DULU KUHINA GENDUT   Paketan

    31“Jangan mengharapkan apa pun lagi darinya? Itu juga mauku kalau bisa, tapi sejauh ini, hatiku nggak bisa melupakannya begitu saja. Aku begini juga gara-gara melihatnya sebagai manager waktu itu. Apa perasaanku ini salah? Kenyataannya dia, kan, memang masih istriku. Manager yang bikin aku terpana adalah istriku sendiri. Boleh kan, aku mempertahankannya?”Di dalam mobil, aku berbicara sendiri. Agak kesal pada ucapan Agni tadi, ditambah dia langsung pergi tanpa mau mendengarkan perkataanku lebih dulu. Kesal, tetapi aku terlanjur ingin memilikinya.*POV Agni“Ni, bagaimana caraku untuk menebus kesalahanku padamu?”Jam istirahat, Mas Ghani meneleponku. Ia tak bisa datang ke restoran hari ini.“Apa, sih, Mas. Nggak perlu menebus apa pun. Aku memaklumi semua yang terjadi, kok. Mama udah baikan, kan?”“Alhamdulillah, Ni. Tapi, aku masih disuruh tunggu di sini. Belum boleh urus kerjaan.”“Iyalah, Mas. Rawat Mama dulu. Maaf, kalau aku nggak bisa jenguk. Rumah sakitnya jauh, Mas.”“Udah dido

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status