Share

BIKIN ILFIL

Auteur: Khanna
last update Dernière mise à jour: 2025-10-08 11:02:17

“Mas Ghani? Kok, bisa ada di sini?” kata Agnia wajahnya begitu semringah.

Benar, kan! Dia punya pacar. Kelihatan dari wajahnya yang bahagia. Harusnya, Ayah nggak perlu bikin wasiat yang aneh-aneh.

Aku melengos hendak jalan lagi. Buat apa ikutan basa-basi sama orang yang tidak dikenal? Apalagi urusan sama Agnia yang saat ini bikin nasibku tak bagus.

“Aku baru makan di restoran di sebelah bridal shop tempatmu keluar tadi. Jadi benar, kamu mau menikah, ya?”

“Iya, Mas. Kebetulan banget kita bertemu, ya,” jawab Agnia.

“Mas, calonnya Agni, ya?”

Pertanyaan itu membuatku terpaksa menoleh pada mereka.

“Iya, benar,” jawabku menarik kedua ujung bibir walau berat sekali melakukannya.

Orang itu mengulurkan tangan kanannya.

Buat apa minta kenalan?

Pada akhirnya, aku menyambut tangan kanannya itu. Kalimat yang terangkai di dalam hati, percuma diucapkan.

“Namaku Ghani, dulu kakak kelasnya Agni waktu SMA. Tapi, kami satu kampus juga. Kami sering bertemu. Jadi lumayan akrab. Senang berkenalan dengan calon suaminya Agni,” ujarnya sambil mengulas senyum dan sesekali melirik pada Agnia.

Buat apa dijelasin sepanjang itu? Aku nggak peduli.

Batinku menolak ketika telingaku mendengar kata demi kata yang bagitu tak berguna sama sekali.

Mau akrab kek. Bahkan pacaran kek. Terserah mereka. Yang menjadi permasalahan adalah kenapa aku harus menikah sama Agnia yang punya teman lelaki yang mungkin ada perasaan di antara mereka.

“Oh, iya. Senang berkenalan denganmu. Aku Arfan,” ujarku, lagi-lagi berbeda dengan apa yang ada di dalam hati.

Kami melepas tangan yang tadi saling bertaut.

“Agni beruntung dapat suami setampan kamu, Mas. Tapi, Agni juga cantik, kok. Sama-sama beruntung jadinya,” ucapnya lagi.

Senyumku tetap mengembang. Namun, rasanya hambar sekali.

Apa dia dibutakan oleh cinta? Agni dibilang cantik? Yang benar saja.

Dalam hati merongrong sebab tidak setuju dengan ucapan dari lelaki bernama Ghani itu. Aku menahan bibirku untuk tidak tersenyum mengejek. Geli sekali mendengar kata-kata yang dipilih olehnya. Apalagi di hadapanku yang jelas akan menjadi suaminya Agni. Apa dia tidak merasa sungkan padaku?

“Mas Ghani kalau bercanda lihat tempat, dong!”

Agni menanggapi ucapan dari Ghani. Aku melihat sekilas, wajah Agni tampak tersipu.

Apa-apaan mereka?

Coba bayangkan kalian dalam posisiku. Bukankah bikin kesal?

Agni seolah tak bisa sadar diri akan dirinya yang gendut. Bisa saja ucapan dari Ghani hanya ejekan buatnya, kan?

Intinya aku kesal, kenapa bukan Ghani saja yang menikahi Agni. Malahan aku.

“Ini kebetulan aku beli take away. Buat kamu aja, mau kan?”

“Ya ampun, Mas. Kenapa malah dikasih aku? Itu sengaja beli buat nanti kan?” Agni menanggapi.

Entah mengapa, kakiku seperti terpaku. Padahal tadi sudah ingin pergi. Aku malah terus mendengar percakapan mereka. Aku seperti terperangkap di tempat ini.

“Nggak apa-apa. Aku lebih senang kalau kamu yang makan. Aku bisa beli lagi. Terima, ya? Aku juga harus segera pergi.”

Agni akhirnya menerimanya. “Terima kasih, Mas. Nanti pasti aku makan.”

Gimana nggak gendut gitu? Kerjanya makan terus.

Lagi-lagi, aku menggerutu di dalam hati. Wajarlah kalau aku kesal melihat interaksi mereka.

“Ya udah, aku pergi dulu. Semoga kita lain waktu bertemu lagi,” ucap lelaki itu. Lalu, sorot matanya berpindah padaku.

“Tolong jaga Agni ya, Mas. Dia cewek yang sangat baik yang pernah aku kenal.”

“Iya,” jawabku singkat sambil mengangguk dan mengukir senyum yang sangat terpaksa.

*

Jadi benar, orang itu suka sama Agni? Bisa-bisanya ngomong kayak tadi.

Aku sudah duduk di balik kemudi. Mobil melaju di jalan raya menuju ke rumah Agni.

Telingaku mendengar gesekan benda dari arah samping. Aku mengernyit dan melirik sekilas untuk mencari tahu.

“Jangan bikin kotor mobilku,” ucapku ketika melihat Agni sedang membuka makanan yang diberikan oleh Ghani.

Aku merasa, Agni melihatku dengan tatapan sengit walau aku fokus lagi ke depan.

Ucapanku tadi hanya basa-basi. Yang sesungguhnya, aku tak suka melihat gadis gendut itu makan lagi hingga membuat bobot tubuhnya semakin berat.

Apa hidupnya hanya untuk makan? Dia cewek loh. Kenapa nggak pengen punya penampilan yang menarik. Cewek aneh.

Saat di dekat Agni, batinku susah untuk diam saja. Ada saja yang diucapkan di dalam sana.

“Aku pastikan, nggak ada remahan yang jatuh di mobilmu!” kata Agni dengan tegas. Ia tetap membuka bungkus makanan itu. Sungguh memuakkan.

*

“Kalian pasti capek. Ayo, makan dulu. Mama udah bikinin rendang sapi.”

“Beneran, Ma? Aku mau, dong!”

Aku benar-benar syok dengan kata-kata yang keluar dari lisan si Agni.

Di mobil dia baru makan burger. Sekarang dia mau makan lagi? Perut macam apa itu?

Sungguh, aku makin ilfil pada gadis itu. Aku ingin lenyap saja dari muka bumi agar tak jadi dinikahkan dengan Agni. Namun, semesta tidak merestui. Nasibku semenyedihkan ini.

“Mas Arfan juga makan, ya. Nggak usah malu-malu. Anggap rumah sendiri.”

Pada akhirnya, aku duduk di meja makan. Kedua mataku melihat pemandangan yang bikin emosi makin memuncak. Agni makan begitu lahap dengan porsi yang sama denganku. Tentu saja, lumayan banyak nasi yang terhidang di atas piring.

*

Ijab kabul sudah aku lafazkan beberapa menit yang lalu. Meski sempat salah-salah beberapa kali dan diperingati oleh Ibu. Pada akhirnya, aku dan Agni sah menjadi suami-istri.

Padahal aku sempat senang, karena kalimat yang keluar dari lisanku sering salah. Aku mengira, pernikahan ini akan gagal. Nyatanya, ibuku menjadi garda terdepan agar aku bisa melafazkan ijab kabul itu dengan benar.

Meski Agni dirias dan kata orang-orang begitu cantik, di mataku, dia tetaplah buntalan karung satu ton yang tak menarik sama sekali.

Aku melihatnya begitu begah dan sesak ketika Agni memakai kebaya yang kemarin sudah diukur dengan pas.

Begitu dibilang cantik? Jelas-jelas kayak lontong.

Hari bahagia ini, sungguh membuatku tak bahagia. Justru gelisah dan tertekan mengingat Agni sudah sah menjadi istriku. Aku sungguh tak mencintainya. Bahkan, secuil pun tidak.

*

Aku sudah membersihkan diri sebelum pergi tidur. Begitu pula dengan Agni. Ia sudah memakai baju tidur.

Kasurnya pasti jadi sempit. Jadi kurang bebas. Lebih baik aku tidur di bawah. Aku lagi yang menderita di sini.

Aku mengambil bantal di kasur.

“Walau kita tidur sekasur, aku nggak bakal melewati batas. Kasurnya lebar. Masih cukup untuk kita berdua,” ujar Agni.

“Nggak perlu. Lebih baik aku tidur di bawah. Ada sofa yang bisa dijadikan kasur.” Aku menolaknya mentah-mentah.

Lagipula, aku sudah mengemasi barang-barangku. Aku akan pergi setelah orang-orang tidur semua. Lebih tenang kerja di kantor Ayah yang ada di luar kota. Biar aku nggak serumah sama ini orang. Bukankah aku sudah menikahinya? Warisan yang Ayah janjikan sudah jadi milikku kan? Perusahaan yang ada di luar kota salah satunya. Aku bebas mau bekerja di mana saja.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application

Latest chapter

  • JATUH CINTA PADA ISTRIKU YANG DULU KUHINA GENDUT   Keputusan

    36POV AgniTatapanku bertemu dengan seseorang yang mengalami kecelakaan, bukan sekadar membuat terkejut, tetapi seolah disengat oleh petir. Aku seketika gelisah dan cemas hendak keluar. Di luar mobil sudah riuh pula dengan suara orang yang terkejut atas kecelakaan yang terjadi.“Ni … mau turun?” tanya Mas Ghani.“Iya … dia Mas Arfan,” jawabku tanpa menoleh.“Apa? Arfan?”Pintu mobil terbuka. Aku cepat-cepat menurunkan kaki di jalan.Setiap tarikan napasku, seolah menggaungkan pikiran buruk, merayap di sisi hatiku. Kakiku melangkah, tetapi terasa berat. Waktu terasa melambat dengan udara yang menyesakkan dada.“Agni … Agni … Agni ….”Nama itu—namaku sendiri—yang baru diucapkan oleh Mas Arfan. Bagaimana mungkin di antara rasa sakit, antara hidup dan mati, namaku yang terucap dari lisannya? Ada rasa haru, tetapi juga menyakitkan serta ketakutan yang mencekam.Suara bising di sekitar—teriakan orang-orang, hingga deru mesin yang menyala—mendadak senyap, tertutup oleh detak jantungku sendi

  • JATUH CINTA PADA ISTRIKU YANG DULU KUHINA GENDUT   Mengejar

    35POV AgniSudah empat hari, Mas Arfan memberikan kiriman makanan, juga bunga. Dia mengirimkan kata-kata perhatian lewat WA. Aku sudah tak memblokirnya lagi gara-gara waktu itu. Pesan yang dikirimkan akhir-akhir ini tidak membuatku terganggu. Mungkin dia sudah belajar dari masa lalu.Aku melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan. Waktu istirahat sudah hampir habis, tetapi perutku belum diisi apa pun. Hanya air putih kemasan gelas.“Harusnya, aku nggak menunggu kiriman makanan itu.”Untuk hari kelima ini, sepertinya tidak ada kiriman hadiah dari Mas Arfan. Konyolnya, karena mungkin sudah menjadi kebiasaan, aku jadi mengharapkannya.“Dahlah … mending cari makan,” ketusku.Perasaan kecewa seakan menyusup masuk sampai ke hati terdalam. Betapa tidak, aku mengharapkan, tetapi malah tak ada tanda-tanda kehadirannya seperti biasanya.“Nggak usah kecewa, nggak usah kesal. Kenapa aku harus mengharapkannya, sih!” gerutuku sambil melangkah keluar.Mas Ghani tidak datang ke sini. Sepertiny

  • JATUH CINTA PADA ISTRIKU YANG DULU KUHINA GENDUT   Jika Jodohku, Mudahkanlah

    34Layar ponsel, aku pandangi. Di sana tertulis berbagai macam sesuatu yang disuka dan tak sukai Agni. Aku mendapatkannya dari Mbak Olif.“Kalau sudah sampai begini, aku tambah percaya sama kamu, Ar. Perjuangkan pernikahan kalian. Kejar Agni sampai dapat.”Begitulah yang dikatakan oleh Mbak Olif. Kalimat yang semakin membuat jiwaku semakin membara. Jiwa untuk merengkuh seutuhnya seorang Agni.“Nggak nyangka, seminggu lagi, Agni akan ulang tahun. Pas di saat keputusan itu akan diberikan.”Seketika itu, otakku berpikir keras. Aku akan melakukan yang terbaik agar selama seminggu waktu yang diberikan, akan mendapatkan hasil yang memuaskan. Pernikahan kami akan baik-baik saja, itulah yang aku harapkan.Aku beralih pada aplikasi warna hijau. Mumpung blokiranku sudah dibuka, aku akan mengirimkan pesan untuknya. Tentu sekarang lebih berhati-hati.Tentang motor, Rehan mengatar saat aku hendak pulang. Ia kelihatan bingung. Karena motor itu milik manager yang kerja di restoran.“Manager itu istr

  • JATUH CINTA PADA ISTRIKU YANG DULU KUHINA GENDUT   Izinkan Aku Mengantarkanmu

    33“Aku mohon … beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya,” pintaku lagi masih dengan posisi yang sama.“Berdiri!” bisik Agni, bicaranya sangat ditekan.“Aku akan berdiri, tapi tolong … ikut aku ke mobil. Kita bicara di sana.”Aku mendengar decak kesal dari mulutnya lagi.“Iya! Iya! Cepat berdiri!”Kali ini, aku mematuhinya.“Di mana mobilmu?” tanyanya, mungkin sudah terlalu tak nyaman menjadi perhatian orang.“Di sana.” Aku menujuk ke arah mobilku.“Cepat!”Agni berjalan lebih dulu. Wajahnya ditekuk.“Terima kasih dan maaf sekali lagi,” ucapku sambil mengekor mengimbangi langkahnya.Agni tak menjawabku. Dia tetap berjalan pada tujuannya.Aku bergegas mempercepat langkah untuk membukakan pintu untuk Agni.Agni berdecak lagi sambil melihatku sinis, tetapi ia masuk ke dalam mobil.Senyumanku tersimpul tipis sambil melangkah ke sisi yang lain. Buket bunga tetap dibawa. Sebelum masuk mobil, aku mengatur napas. Tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya.“Dalam seminggu ini, berkas unt

  • JATUH CINTA PADA ISTRIKU YANG DULU KUHINA GENDUT   Beri Aku Kesempatan

    32“Aku udah gila! Kerjaanku nggak fokus. Aku malah nyari hadiah buat Agni dan sekarang, aku menunggunya pulang kerja begini. Hebat … cinta bikin buta segalanya. Bikin kacau jadwalku. Tapi, aku nggak bisa mencegahnya. Kacau bener. Kalau udah begini, aku harus dapetin Agni biar kegilaanku diobati.”Saat ini, aku di dalam mobil. Sorot mataku fokus pada pintu restoran, berharap seseorang yang menganggu pikiran dan hatiku muncul dari sana. Aku ingin sekali melihatnya, bahkan ingin berkomunikasi secara langsung. Kalau lewat ponsel, aku diblokir olehnya. Sungguh terlalu.Agni memblokir nomorku sebab aku sering mengirim pesan, bahkan meneleponnya akhir-akhir ini. Setelah itu, aku tak bisa menghubunginya lagi. Aku kecewa dan lumayan menyesal karena begitu sering menghubunginya. Mungkin ia merasa diteror, tetapi aku sedang berusaha merebut hatinya kembali. Aku sedang berusaha mengejar maafnya.Ponselku berbunyi. Ada pesan masuk. Aku langsung membukanya.“Ar, kamu sama Agni pergi ke pesta ulang

  • JATUH CINTA PADA ISTRIKU YANG DULU KUHINA GENDUT   Paketan

    31“Jangan mengharapkan apa pun lagi darinya? Itu juga mauku kalau bisa, tapi sejauh ini, hatiku nggak bisa melupakannya begitu saja. Aku begini juga gara-gara melihatnya sebagai manager waktu itu. Apa perasaanku ini salah? Kenyataannya dia, kan, memang masih istriku. Manager yang bikin aku terpana adalah istriku sendiri. Boleh kan, aku mempertahankannya?”Di dalam mobil, aku berbicara sendiri. Agak kesal pada ucapan Agni tadi, ditambah dia langsung pergi tanpa mau mendengarkan perkataanku lebih dulu. Kesal, tetapi aku terlanjur ingin memilikinya.*POV Agni“Ni, bagaimana caraku untuk menebus kesalahanku padamu?”Jam istirahat, Mas Ghani meneleponku. Ia tak bisa datang ke restoran hari ini.“Apa, sih, Mas. Nggak perlu menebus apa pun. Aku memaklumi semua yang terjadi, kok. Mama udah baikan, kan?”“Alhamdulillah, Ni. Tapi, aku masih disuruh tunggu di sini. Belum boleh urus kerjaan.”“Iyalah, Mas. Rawat Mama dulu. Maaf, kalau aku nggak bisa jenguk. Rumah sakitnya jauh, Mas.”“Udah dido

Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status