Share

KABUR

Author: Khanna
last update Last Updated: 2025-10-08 11:03:10

Perlahan tapi pasti dengan sangat hati-hati, aku mengambil koper yang di dalamnya sudah ada pakaian yang dibutuhkan.

Senyum terlukis tipis. Aku melihat Agni sebelum benar-benar keluar dari kamar.

“Aku terpaksa menikahimu, makanya sekarang aku memilih kabur tanpa berpamitan denganmu. Masalah apa yang terjadi nanti, bisa dipikirkan belakangan.”

Aku bicara sendiri untuk menguatkan diri atas perbuatanku. Membenarkan semuanya agar diri ini lepas dari tekanan yang terasa membelenggu.

Di dalam kamar yang pencahayaannya temaran ini, sama sekali tidak ada adegan yang biasa dilakukan di malam pertama. Kami sama-sama enggan, walau entah di lubuk hati terdalam dari seorang Agni.

Aku membuka hendel pintu sangat hati-hati.

“Agni pasti juga lega karena aku tinggal pergi. Dia bisa leluasa bertemu dengan lelaki bernama Ghani yang mungkin ada perasaan,” gumamku.

Aku melangkah keluar. Sorot mata mengitari setiap sudut ruangan untuk memastikan tidak ada kehidupan. Semua orang seharusnya sudah tertidur dengan sangat lelap.

Dengan kunci mobil yang ada dalam genggamanku, kaki diayunkan selangkah demi selangkah. Sikap waspada tetap menemaniku. Aku kabur harus tidak diketahui oleh siapa pun.

Meski aku tahu, perbuatanku adalah sebuah kesalahan, tetapi aku melakukannya karena merasa kesal dan sebagai bentuk protes yang nyata. Karena protes saat di awal, tidak membuahkan hasil apa pun dan pernikahan tetap terjadi.

Aku berhasil pergi ke garasi. Sosokku tidak diketahui oleh siapa pun. Jam satu dini hari begini, memang waktu yang tepat untuk melarikan diri. Apalagi orang-orang pasti lelah setelah mengikuti acara pernikahanku.

Aku juga merasa lelah, tetapi keinginanku untuk kabur lebih besar hingga mengalahkan segalanya.

*

Aku tertawa kegirangan ketika berhasil kabur dari rumah. Satpam tidur pulas juga hingga tak mendengar gerbang yang dibuka dan ditutup kembali. Seolah semesta merestui kepergianku dari rumah.

“Siap-siap HP berisik. Biarlah, yang terpenting adalah aku bisa menjauhi Agni yang kayak kudanil itu.”

Mobil melaju cepat di jalan raya yang tidak banyak kendaraan lewat. Dini hari begini siapa pula yang mau bepergian kecuali ada hal mendesak sepertiku.

*

POV AGNI

Aku mengerjapkan mata ketika mendengar pintu diketuk dari luar berkali-kali. Lalu, segera bangkit dari kasur.

Aku melangkahkan kaki menuju pintu tanpa melihat ke sekeliling karena nyawaku seolah belum terkumpul semuanya.

“Iya!” ucapku agak lantang untuk menanggapi ketukan yang menggebu-gebu dari luar.

Rasa penasaran tentu bergejolak. Aku bahkan lupa tidak melihat jam di dinding. Tapi, aku rasa saat ini mungkin sudah masuk waktu subuh.

Pintu akhirnya dibuka. Mertuaku yang mengetuk pintu. Wajahnya tampak gelisah. Ia berusaha mencuri pandang ke dalam kamarku.

Aku semakin keheranan dengan sikapnya itu.

“Arfan di dalam, kan?” tanyanya masih berusaha melihat ke dalam kamarku.

Deg.

Aku teringat kalau Mas Arfan tidur di sofa. Kalau mertuaku tahu kami tidur terpisah, akan seperti apa tanggapannya?

“Arfan nggak pergi kan, Agni? Kata satpam, mobilnya sudah nggak ada di garasi,” ucap beliau lagi, makin gelisah.

Jujur saja, aku terkejut mendengar ucapan dari mertuaku. Aku tadi memang tidak melihat ke arah sofa, karena itu, aku tidak bisa memastikan apakah Mas Arfan masih tidur di sana atau malah sudah kosong.

Aku menoleh ke belakang karena penasaran apakah Mas Arfan masih ada di sofa.

“Agni, apa Arfan beneran pergi?” tanya mertuaku lagi.

Saat itu, aku menyadari kalau sofa itu telah kosong. Agak lega karena mertuaku jadi tidak mengetahui kalau kami tidur terpisah. Namun, pertanyaan lain kali ini menyelinap masuk.

Ke mana Mas Arfan?

“Dia nggak ada, Bu. Aku nggak tau dia ke mana,” ucapku sambil fokus lagi ke mertuaku.

Beliau berdecap menunjukkan kekesalannya.

“Arfan bener-bener keterlaluan!”

*

Hari beranjak siang. Mertuaku sejak tadi mengulang perkataan yang sama, yaitu permintaan maaf. Ya, kata itu dipergunakan sebagai bentuk rasa bersalah atas nama anaknya.

Dari CCTV yang sudah diperiksa, menunjukkan sosok Mas Arfan yang mengendap-endap keluar dari rumah. Semua telah menyimpulkan bahwa suamiku itu sengaja kabur tanpa berpamitan pada siapa pun.

Beberapa orang juga tadi sibuk dengan ponselnya untuk menghubungi suamiku. Namun, semua nihil. Sedangkan aku, hanya diam sambil agak tersenyum tipis.

Aku malah bersyukur lelaki itu pergi dariku. Bukankah perceraian itu jadi gampang direngkuh?

Namun sayangnya, mertuaku yang tinggal seorang diri itu pasti akan melarang dengan berbagai cara. Tadi saja beliau sudah terlihat sangat mengiba padaku agar aku tidak marah besar pada tindakannya Mas Arfan.

Belum lagi dari pihak keluargaku, mungkin akan terbujuk rayu oleh permintaan dari mertuaku. Padahal jelas, menantunya itu telah kabur dari anak gadisnya yang telah dinikahi.

“Arfan akan segera kembali, Agni. Kamu sabar dulu ya, Nak. Jangan berpikir yang macam-macam. Ibu pastikan Arfan ada di luar kota. Di sana ada kantor milik keluarga. Arfan pasti sudah merencanakan jauh-jauh hari. Makanya dengan mudah dia pergi. Anak nakal!” ucap mertuaku dengan wajah yang tampaknya tidak enak hati padaku.

“Untuk sementara, kamu tetap tinggal di sini, ya, Nak. Kami akan bertanggung jawab atas dirimu, Agni,” ucapnya lagi.

Kalau soal itu, aku kurang setuju. Aku ingin merasa bebas dalam artian bisa melakukan apa pun tanpa sungkan. Kalau serumah sama keluarganya Mas Arfan, aku sulit mendapatkan itu semua. Pasti kurang nyaman walau mereka memperlakukanku dengan sangat baik.

“Mas Arfan mengangkat teleponnya, Bu,” ucap salah satu orang yang ditugaskan untuk menelepon Mas Arfan. Ia menyodorkan ponsel itu pada mertuaku.

“Arfan! Cepat pulang! Apa-apaan kamu!” bentak mertuaku seketika. Wajahnya terlihat memerah.

Sayangnya, telepon itu tidak di-loudspeaker. Aku tak bisa mendengarkan percakapan mereka. Hanya dari ucapan mertuaku saja.

“Bisa! Semua bisa diatur asal kamu ada niatan pulang, Arfan! Kamu harus pulang! Nggak ada alasan lagi!”

Mertuaku meninggikan setiap kata yang keluar dari lisannya.

Sekian lama, percakapan mereka akhirnya selesai. Entah titik temunya bagaimana. Tapi, dari kesimpulan yang aku dengar dari lisan mertuaku, Mas Arfan tetap tidak mau pulang.

“Agni, maafkan Arfan ya, Nak. Dia keras kepala banget. Ibu sudah memintanya pulang, tapi nggak tau dia maunya apa.”

Mertuaku masih berusaha menjaga perasaanku. Padahal aku sudah menangkap kalau Mas Arfan tidak mau pulang.

“Kamu di sini saja ya, Nak. Nanti Ibu ketemu sama keluargamu buat menjelaskan semuanya. Ibu hanya nggak mau pernikahanmu hancur gara-gara keegoisannya Arfan. Dia sama sekali tidak memikirkan wasiat ayahnya yang sudah meninggal. Arfan seharusnya membahagiakanmu setelah menikah. Tapi, untuk gantinya, Ibu yang akan melakukannya untukmu sampai Arfan pulang. Mau ya, Nak,” pinta mertuaku dengan kedua matanya yang sudah berkaca-kaca.

“Aku senang dengan niat baik yang akan Ibu lakukan untukku. Aku juga tau Ibu nggak akan membiarkan rumah tangga kami hancur begitu saja. Tapi, Bu ... aku sepertinya nggak bisa tinggal bersama Ibu di sini. Aku juga ingin melakukan sesuatu yang aku inginkan, Bu. Aku minta maaf untuk itu.”

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • JATUH CINTA PADA ISTRIKU YANG DULU KUHINA GENDUT   Keputusan

    36POV AgniTatapanku bertemu dengan seseorang yang mengalami kecelakaan, bukan sekadar membuat terkejut, tetapi seolah disengat oleh petir. Aku seketika gelisah dan cemas hendak keluar. Di luar mobil sudah riuh pula dengan suara orang yang terkejut atas kecelakaan yang terjadi.“Ni … mau turun?” tanya Mas Ghani.“Iya … dia Mas Arfan,” jawabku tanpa menoleh.“Apa? Arfan?”Pintu mobil terbuka. Aku cepat-cepat menurunkan kaki di jalan.Setiap tarikan napasku, seolah menggaungkan pikiran buruk, merayap di sisi hatiku. Kakiku melangkah, tetapi terasa berat. Waktu terasa melambat dengan udara yang menyesakkan dada.“Agni … Agni … Agni ….”Nama itu—namaku sendiri—yang baru diucapkan oleh Mas Arfan. Bagaimana mungkin di antara rasa sakit, antara hidup dan mati, namaku yang terucap dari lisannya? Ada rasa haru, tetapi juga menyakitkan serta ketakutan yang mencekam.Suara bising di sekitar—teriakan orang-orang, hingga deru mesin yang menyala—mendadak senyap, tertutup oleh detak jantungku sendi

  • JATUH CINTA PADA ISTRIKU YANG DULU KUHINA GENDUT   Mengejar

    35POV AgniSudah empat hari, Mas Arfan memberikan kiriman makanan, juga bunga. Dia mengirimkan kata-kata perhatian lewat WA. Aku sudah tak memblokirnya lagi gara-gara waktu itu. Pesan yang dikirimkan akhir-akhir ini tidak membuatku terganggu. Mungkin dia sudah belajar dari masa lalu.Aku melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan. Waktu istirahat sudah hampir habis, tetapi perutku belum diisi apa pun. Hanya air putih kemasan gelas.“Harusnya, aku nggak menunggu kiriman makanan itu.”Untuk hari kelima ini, sepertinya tidak ada kiriman hadiah dari Mas Arfan. Konyolnya, karena mungkin sudah menjadi kebiasaan, aku jadi mengharapkannya.“Dahlah … mending cari makan,” ketusku.Perasaan kecewa seakan menyusup masuk sampai ke hati terdalam. Betapa tidak, aku mengharapkan, tetapi malah tak ada tanda-tanda kehadirannya seperti biasanya.“Nggak usah kecewa, nggak usah kesal. Kenapa aku harus mengharapkannya, sih!” gerutuku sambil melangkah keluar.Mas Ghani tidak datang ke sini. Sepertiny

  • JATUH CINTA PADA ISTRIKU YANG DULU KUHINA GENDUT   Jika Jodohku, Mudahkanlah

    34Layar ponsel, aku pandangi. Di sana tertulis berbagai macam sesuatu yang disuka dan tak sukai Agni. Aku mendapatkannya dari Mbak Olif.“Kalau sudah sampai begini, aku tambah percaya sama kamu, Ar. Perjuangkan pernikahan kalian. Kejar Agni sampai dapat.”Begitulah yang dikatakan oleh Mbak Olif. Kalimat yang semakin membuat jiwaku semakin membara. Jiwa untuk merengkuh seutuhnya seorang Agni.“Nggak nyangka, seminggu lagi, Agni akan ulang tahun. Pas di saat keputusan itu akan diberikan.”Seketika itu, otakku berpikir keras. Aku akan melakukan yang terbaik agar selama seminggu waktu yang diberikan, akan mendapatkan hasil yang memuaskan. Pernikahan kami akan baik-baik saja, itulah yang aku harapkan.Aku beralih pada aplikasi warna hijau. Mumpung blokiranku sudah dibuka, aku akan mengirimkan pesan untuknya. Tentu sekarang lebih berhati-hati.Tentang motor, Rehan mengatar saat aku hendak pulang. Ia kelihatan bingung. Karena motor itu milik manager yang kerja di restoran.“Manager itu istr

  • JATUH CINTA PADA ISTRIKU YANG DULU KUHINA GENDUT   Izinkan Aku Mengantarkanmu

    33“Aku mohon … beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya,” pintaku lagi masih dengan posisi yang sama.“Berdiri!” bisik Agni, bicaranya sangat ditekan.“Aku akan berdiri, tapi tolong … ikut aku ke mobil. Kita bicara di sana.”Aku mendengar decak kesal dari mulutnya lagi.“Iya! Iya! Cepat berdiri!”Kali ini, aku mematuhinya.“Di mana mobilmu?” tanyanya, mungkin sudah terlalu tak nyaman menjadi perhatian orang.“Di sana.” Aku menujuk ke arah mobilku.“Cepat!”Agni berjalan lebih dulu. Wajahnya ditekuk.“Terima kasih dan maaf sekali lagi,” ucapku sambil mengekor mengimbangi langkahnya.Agni tak menjawabku. Dia tetap berjalan pada tujuannya.Aku bergegas mempercepat langkah untuk membukakan pintu untuk Agni.Agni berdecak lagi sambil melihatku sinis, tetapi ia masuk ke dalam mobil.Senyumanku tersimpul tipis sambil melangkah ke sisi yang lain. Buket bunga tetap dibawa. Sebelum masuk mobil, aku mengatur napas. Tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya.“Dalam seminggu ini, berkas unt

  • JATUH CINTA PADA ISTRIKU YANG DULU KUHINA GENDUT   Beri Aku Kesempatan

    32“Aku udah gila! Kerjaanku nggak fokus. Aku malah nyari hadiah buat Agni dan sekarang, aku menunggunya pulang kerja begini. Hebat … cinta bikin buta segalanya. Bikin kacau jadwalku. Tapi, aku nggak bisa mencegahnya. Kacau bener. Kalau udah begini, aku harus dapetin Agni biar kegilaanku diobati.”Saat ini, aku di dalam mobil. Sorot mataku fokus pada pintu restoran, berharap seseorang yang menganggu pikiran dan hatiku muncul dari sana. Aku ingin sekali melihatnya, bahkan ingin berkomunikasi secara langsung. Kalau lewat ponsel, aku diblokir olehnya. Sungguh terlalu.Agni memblokir nomorku sebab aku sering mengirim pesan, bahkan meneleponnya akhir-akhir ini. Setelah itu, aku tak bisa menghubunginya lagi. Aku kecewa dan lumayan menyesal karena begitu sering menghubunginya. Mungkin ia merasa diteror, tetapi aku sedang berusaha merebut hatinya kembali. Aku sedang berusaha mengejar maafnya.Ponselku berbunyi. Ada pesan masuk. Aku langsung membukanya.“Ar, kamu sama Agni pergi ke pesta ulang

  • JATUH CINTA PADA ISTRIKU YANG DULU KUHINA GENDUT   Paketan

    31“Jangan mengharapkan apa pun lagi darinya? Itu juga mauku kalau bisa, tapi sejauh ini, hatiku nggak bisa melupakannya begitu saja. Aku begini juga gara-gara melihatnya sebagai manager waktu itu. Apa perasaanku ini salah? Kenyataannya dia, kan, memang masih istriku. Manager yang bikin aku terpana adalah istriku sendiri. Boleh kan, aku mempertahankannya?”Di dalam mobil, aku berbicara sendiri. Agak kesal pada ucapan Agni tadi, ditambah dia langsung pergi tanpa mau mendengarkan perkataanku lebih dulu. Kesal, tetapi aku terlanjur ingin memilikinya.*POV Agni“Ni, bagaimana caraku untuk menebus kesalahanku padamu?”Jam istirahat, Mas Ghani meneleponku. Ia tak bisa datang ke restoran hari ini.“Apa, sih, Mas. Nggak perlu menebus apa pun. Aku memaklumi semua yang terjadi, kok. Mama udah baikan, kan?”“Alhamdulillah, Ni. Tapi, aku masih disuruh tunggu di sini. Belum boleh urus kerjaan.”“Iyalah, Mas. Rawat Mama dulu. Maaf, kalau aku nggak bisa jenguk. Rumah sakitnya jauh, Mas.”“Udah dido

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status