Home / Romansa / JEBAKAN RANJANG NONA PEWARIS / Bab 1. Kontrak berakhir

Share

JEBAKAN RANJANG NONA PEWARIS
JEBAKAN RANJANG NONA PEWARIS
Author: Nanitamam

Bab 1. Kontrak berakhir

Author: Nanitamam
last update Petsa ng paglalathala: 2026-08-28 15:38:55

“Setelah malam ini kontrak kita berakhir?”

Celina yang masih berada di atas ranjang sutra itu mengerutkan kening dengan senyum tipis yang sarat misteri. Rambut hitam bergelombangnya tergerai berantakan di atas bantal, membingkai wajah cantiknya yang masih memancarkan sisa-sisa peluh kenikmatan.

“Kenapa?” bisik Celina dengan nada malas, seolah tidak ada beban sedikitpun dalam nada suaranya.

Pria di hadapannya tidak langsung menjawab. Ia sibuk merapikan penampilannya, mengancingkan kemeja putihnya satu per satu dengan gerakan presisi dan tenang. Tubuh kekar dan atletis itu terbungkus sempurna di balik bahan katun mahal, menyembunyikan tato samar di balik punggung yang baru saja dicakar Celina beberapa puluh menit lalu.

“Minggu depan aku akan bertunangan,” jawab Samudera dengan nada datar, dingin seperti es di kutub utara.

Tidak ada jeritan histeris. Tidak ada air mata dramatis. Celina justru menyibak selimut satin yang membungkus tubuhnya, membiarkan udara dingin penthouse menyentuh kulitnya yang mulus. Ia melangkah anggun mendekati Samudera dengan tubuh polos tanpa sehelai benang. Tanpa ragu, jemari lentik Celina membantu mengancingkan satu kancing terakhir di kerah kemeja Samudera, lalu merapikan dasi sutra pria itu.

“Kalau begitu, selamat.”

“Selamat?” Kedua alis tebal Samudera terangkat, menatap wanita di depannya dengan kilatan bingung yang jarang terlihat dari seorang konglomerat dingin sepertinya.

“Selamat karena Anda akhirnya akan punya pasangan resmi,” jawab Celina seraya berjinjit, mengecup rahang tegas dan leher berotot Samudera yang harum aroma cedarwood. “Jadi mulai hari ini, Anda tidak butuh saya lagi sebagai pemuas di ranjang.”

Samudera menatapnya lekat-lekat, rahangnya sedikit mengeras saat tangan Celina turun dari lehernya. “Aku harap tidak ada jejak apa pun di antara kita setelah kamu melangkah keluar dari pintu itu.”

Celina membungkuk, memungut pakaian dalamnya yang berceceran di lantai marmer hitam tanpa rasa canggung sedikit pun. Ia menoleh ke arah Samudera yang masih berdiri kaku memperhatikannya.

“Tentu dengan senang hati, Tuan Samudera. Setelah malam ini, kita kembali menjadi dua orang asing yang tidak saling mengenal.”

“Apa kamu benar-benar tidak merasa keberatan?” tanya Samudera. Nada suaranya sedikit meninggi, terselip rasa tersinggung karena wanita yang menemaninya tiga tahun terakhir ini sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda kehilangan.

Celina menggeleng pelan sambil menyunggingkan senyum paling manis yang ia miliki. “Tidak sama sekali. Bukankah sejak awal hubungan kita murni simbiosis mutualisme? Anda membiayai kuliahku sampai lulus cumlaude, membelikan apartemen, dan menanggung gaya hidupku, sementara tugasku adalah memuaskan Anda di atas ranjang. Sekarang tugasku selesai, gelarku sudah di tangan, dan Anda mau menikah. Fair enough, bukan?”

Tanpa menunggu balasan pria itu, Celina melenggang santai menuju kamar mandi.

Begitu pintu kaca tebal itu tertutup rapat, Celina menyalakan keran wastafel dan menatap pantulan dirinya di depan cermin besar berlampu temaram. Wajahnya tetap tenang, tetapi sorot matanya berubah tajam dan penuh perhitungan. Di leher jenjang dan tulang selangkanya, jejak-jejak merah keunguan terpatri jelas—bukti dari pergulatan liar yang mereka lalui beberapa jam lalu.

Celina menyentuh bekas merah itu perlahan, lalu menarik sudut bibirnya hingga membentuk seringai tipis.

“Sudah berakhir, Celina. Panggung sandiwara pertama selesai, sekarang saatnya memulai permainan yang sesungguhnya,” gumamnya lirih pada pantulan dirinya sendiri.

Dua puluh menit kemudian, Celina keluar dari kamar mandi dengan penampilan yang segar. Ia telah mengenakan gaun terusan hitam sederhana yang membalut lekuk tubuhnya dengan sopan namun memikat, dipadukan dengan mantel panjang berwarna krem.

Di ruang utama kamar hotel mewah itu, Samudera sedang duduk bersandar di kursi kulit sambil menyesap cerutu. Asap tipis mengepul di udara, berpadu dengan aroma wiski dari gelas kristal di sampingnya. Di atas meja kaca bundar di depan Samudera, tergeletak selembar dokumen resmi, pulpen bertatahkan emas, dan sebuah black card tanpa batas limit.

“Tandatangani surat pelepasan tuntutan itu dan ambil kartunya,” titah Samudera dengan suara berat yang bergetar rendah di udara.

Celina melangkah mendekat tanpa ragu. Suara hak sepatunya mengetuk lantai marmer dengan ketukan berirama. Ia mengambil pulpen emas itu, membubuhkan tanda tangannya di atas kertas tanpa membaca klausul-klausul panjang yang tertulis di sana. Ia sudah hafal isi perjanjian semacam itu di luar kepala.

“Kamu tidak mau bertanya?” tanya Samudera tiba-tiba, matanya mengunci pergerakan tangan Celina.

“Soal apa?” Celina meletakkan pulpen itu kembali dan mengangkat dagunya, pura-pura bingung.

“Pertunanganku. Siapa wanitanya, dari keluarga mana dia berasal, atau kenapa aku memilihnya.”

Celina tertawa kecil, suara tawanya terdengar renyah namun menusuk telinga Samudera. Jemari lentiknya yang dingin menyentuh pipi Samudera yang tertutup bayang janggut tipis. Celina mencondongkan tubuhnya ke depan hingga napas hangatnya menyapu bibir Samudera, mengikis jarak di antara mereka hingga hanya tersisa satu tarikan napas.

“Tidak ada hal yang perlu kutanyakan, Tuan Samudera. Kehidupan pribadimu di luar ranjang ini bukan urusanku lagi. Semua sudah jelas di surat perjanjian. Terima kasih atas tiga tahun yang sangat menguntungkan ini.”

Cup.

Celina mengecup lembut bibir Samudera untuk terakhir kalinya, sebuah ciuman perpisahan yang singkat namun membakar. Sebelum pria itu sempat membalas atau meraih tengkuknya, Celina sudah menarik diri dengan lihai. Tangannya bergerak cepat menyambar black card berkilau di atas meja.

Mata Samudera menggelap, pupilnya melebar menahan gejolak amarah dan kebingungan yang bercampur menjadi satu. Ada sesuatu yang salah dari ketenangan Celina, tetapi ego prianya menolak untuk mengakui bahwa ia baru saja dilepaskan begitu mudah.

“Selamat untuk pertunanganmu besok malam. Semoga kalian berdua bahagia sampai maut memisahkan. Aku pergi,” pamit Celina dengan nada riang.

“Celina!” panggil Samudera dengan nada dingin yang menuntut saat wanita itu berbalik menuju pintu.

Celina menghentikan langkahnya tepat di ambang pintu, menoleh sekali lagi ke belakang, lalu melemparkan kecupan jauh di udara disertai kedipan nakal yang mematikan.

“Selamat malam, mantan sugar daddy-ku yang tampan!”

Pintu kayu jati berat itu tertutup dengan bunyi klik yang halus, meninggalkan Samudera sendirian di tengah ruangan megah yang mendadak terasa begitu hampa dan sunyi.

Celina terus melangkah di koridor hotel bintang lima yang sepi tanpa menoleh ke belakang sedikit pun. Punggungnya tegak, langkahnya mantap, memancarkan aura percaya diri yang mutlak. Ketika ia memasuki lift berdinding cermin, senyum manis yang tadi ia pasang untuk Samudera seketika lenyap tak berbekas, digantikan oleh ekspresi dingin dan penuh perhitungan.

Celina mengangkat kartu hitam pemberian Samudera ke depan wajahnya, mencium permukaannya yang berkilau dingin, lalu menyelipkannya ke dalam tas jinjing mewahnya.

Ia merogoh saku mantelnya dan mengeluarkan ponsel lain—ponsel rahasia yang tidak pernah diketahui Samudera. Jarinya menari lincah di atas layar, membuka sebuah folder terkunci yang berisi puluhan dokumen digital, foto-foto rahasia pengalihan aset perusahaan, serta riwayat rekening penampung milik Samudera yang telah berhasil ia kumpulkan selama tiga tahun tidur di samping pria itu.

Lift berdenting pelan, membawanya meluncur turun menuju lantai lobi.

Di layar ponselnya, Celina membuka sebuah foto undangan pertunangan mewah yang akan digelar besok malam di Grand Ballroom hotel terbesar di kota ini. Nama Samudera tertera jelas di sana, bersanding dengan nama seorang wanita bangsawan dari keluarga konglomerat farmasi: Agatha Sanjaya.

Bibir Celina melengkung membentuk senyuman penuh racun.

Agatha Sanjaya bukan orang asing baginya. Agatha dalah saudara tiri yang telah merebut warisan mendiang ibunya dua puluh tahun lalu, mendepak Celina dan ibunya ke jalanan, dan membiarkannya bertahan hidup dalam kemiskinan hingga ia harus menjual harga dirinya demi sebuah gelar dan koneksi.

Tiga tahun lalu, Celina tidak sengaja masuk ke kehidupan Samudera. Pria itu mengira Celina hanyalah mahasiswi cantik yang polos dan butuh uang, mangsa empuk untuk dijadikan simpanan rahasia. Samudera tidak pernah tahu bahwa sejak malam pertama mereka bertemu di bar eksklusif itu, Celina sudah merancang seluruh skenario ini dengan sangat rapi.

Celina sengaja mendekati pria yang paling diincar oleh keluarga Wijaya, menghabiskan tiga tahun mempelajari setiap kelemahan bisnis Samudera, dan mengumpulkan semua bukti korupsi internal yang bisa menghancurkan kerajaan bisnis pria itu dalam semalam.

“Kerja sama yang sangat menyenangkan selama tiga tahun ini, Tuan Samudera. Tapi aku punya kejutan spesial untukmu."

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App

Pinakabagong kabanata

  • JEBAKAN RANJANG NONA PEWARIS   Bab 54. Bayang masa lalu

    “Pulanglah, Tuan Samudera. Aku sedang ingin sendirian.”Cengkeraman tangan Samudera di rahang Celina mengendur perlahan. Ruang di antara mereka terasa menyempit oleh napas yang memburu dan sisa ketegangan yang belum sepenuhnya mereda. Dengan tatapan dingin tanpa getaran sedikit pun di manik matanya, Celina memangkas keheningan lift yang telah berdenting di lantai dasar.Samudera berdiri kaku. Terasa luka di dadanya yang telak menerima penolakan mentah-mentah kini berpadu dengan gejolak amarah posesif yang mendidih di balik kulit. Pria bertubuh tegap itu menatap wanita di hadapannya seolah ingin menelannya bulat-bulat.Sebelum benar-benar memutar tubuh dan melangkah keluar dari kotak baja tersebut, Samudera menunduk. Dia merapatkan bibirnya ke tepi telinga Celina, membisikkan sebuah kalimat berat yang tidak menerima penolakan dalam bentuk apa pun.“Baik, aku akan pulang … tapi kamu harus ingat satu hal, Celina, kamu hanya milikku. Jangan pernah berpikir untuk berpaling.”Tanpa menunggu

  • JEBAKAN RANJANG NONA PEWARIS   Bab 53. Pengakuan

    “Apa aku tidak salah dengar? Seorang Tuan Samudera Alexander bisa merasa cemburu? Apalagi ... cemburu dengan seorang dokter yang tidak seterkenal kamu.”Tawa dingin Celina pecah, bergema di antara dinding sempit lift yang terus meluncur turun ke lantai dasar. Tawa itu penuh luka dan ketidakpercayaan. Dengan gerakan tegas, Celina mendorong pelan dada bidang Samudera, melepaskan diri dari pelukan erat yang sempat membuat pertahanannya goyah.Dia mendongak, menatap lurus mata pria di hadapannya dengan sorot yang menusuk. “Jangan lupa, Tuan Samudera … Anda sendiri yang membuat aturan sejak awal untuk tidak pernah melibatkan perasaan dalam transaksi ini. Kita berdua terikat oleh kesepakatan dan dendam, bukan cinta. Tidak ada cinta berarti tidak ada rasa cemburu.”Samudera terpaku. Alih-alih melepaskan Celina, tangan pria bertubuh tegap itu justru bergerak kembali dengan cepat. Dia meraih tubuh Celina tanpa ampun dan memenjarakannya jauh lebih erat ke dalam dekapannya, seakan-akan takut ke

  • JEBAKAN RANJANG NONA PEWARIS   Bab 52. Perkelahian dua predator

    “Tutup mulutmu! Jangan bicara seolah kamu tahu segalanya!” geram Samudera dengan suara berat yang menggetarkan fondasi ruangan.Gigi sang CEO berkerut keras hingga rahangnya menegang kaku. Tatapan matanya yang merah padam memancarkan kilatan pembunuh yang sangat pekat. Namun, Alih-alih gemetar atau mundur selangkah, Yudha justru menyunggingkan senyuman tipis yang sangat memprovokasi. Tatapan sang dokter tetap tenang, lurus membalas sorot mata murka pria di hadapannya tanpa ada setitik pun rasa gentar.“Saya tahu semuanya, Tuan Samudera,” balas Yudha dengan intonasi datar yang teratur, menelanjangi kenyataan yang selama ini disembunyikan. “Hubungan Anda dengan Celina hanya sebatas perjanjian di atas kertas. Anda memaksanya berada di sisi Anda menggunakan kekuasaan, bukan karena dia menginginkannya.”Bugh!Pukulan mentah menghantam telak rahang kiri Yudha. Benturan keras itu menggema nyaring di dalam apartemen yang semula tenang. Kepala Yudha terlempar ke samping, beberapa tetes darah s

  • JEBAKAN RANJANG NONA PEWARIS   Bab 51. Kedamaian yang terganggu

    “Wah, kelihatannya sedap sekali aroma sup ini. Kalau bukan karena Dokter Yudha tadi, gaunmu pasti sudah hancur total, Cel.”Suara tawa renyah Dinda memecah ketegangan di dalam dapur apartemen Celina, saat uap masakan beraroma harum membubung ke udara. Dinda menyenggol lengan Celina pelan seraya berbisik dengan nada khawatir yang tertahan di balik senyumnya.“Ngomong-ngomong, apa tidak masalah mengundang Dokter Yudha langsung ke apartemenmu, Celina? Maksudku … bagaimana kalau Tuan Samudera tahu? Kamu tahu sendiri pria itu pencemburu kalau sudah menyangkut dirimu.”Celina yang baru saja menyeka sisa noda kotor di ujung gaunnya, kini sudah berganti dengan sweater rajut longgar yang nyaman. Dia menjawab dengan tenang sambil menuangkan air ke dalam gelas kaca tanpa menunjukkan ekspresi cemas.“Dokter Yudha sudah menolongku di jalan tadi, Dinda. Mana mungkin aku membiarkannya pergi begitu saja setelah kemejanya ikut terkena cipratan kopi gara-gara membelaku? Lagi pula, gara-gara amukan gadi

  • JEBAKAN RANJANG NONA PEWARIS   Bab 50. Cemburu

    Tepat setelah suara tut-tut panjang mengakhiri panggilan secara sepihak dari Tuan Galen, Samudera menghempaskan ponselnya ke atas meja porselen. Bunyi benturan keras itu memecah keheningan ruang kerja eksekutif, memantulkan ketegangan pekat yang kini menyelimuti dirinya.“Hadi!” panggil Samudera dengan nada bariton rendah yang bergetar menahan gejolak amarah.Asisten kepercayaannya itu melangkah masuk dengan cepat dari balik pintu kayu mahoni, membungkuk hormat. “Saya di sini, Tuan Samudera.”“Minta tim cyber security SINS Group meretas dan membatasi penyebaran video viral itu dalam waktu sepuluh menit. Pastikan nama perusahaan kita bersih total dari kekacauan murahan yang dibuat Agatha,” titah Samudera dingin, matanya menyipit tajam. “Lalu … lacak keberadaan Dokter Yudha dan Celina sekarang juga. Aku ingin laporan akurat dalam genggamanku sebelum aku tiba di mansion utama.”“Baik, Tuan. Segera dilaksanakan.” Hadi mengangguk patuh, memutar tubuh dan bergegas keluar untuk menjalankan p

  • JEBAKAN RANJANG NONA PEWARIS   Bab 49. Video viral

    "Kenapa Celina selalu saja menang? Kenapa selalu banyak orang yang membelanya."Agatha mengepalkan tangan hingga kukunya memutih. Rahangnya mengeras, bola matanya merah penuh amarah dan emosi. Lagi dan lagi Celina berhasil mengalahkannya. Padahal bukan itu yang Agatha harapkan saat ia dengan sengaja membuat baju Celina kotor oleh air kotor. “Agatha! Apa lagi yang kamu lakukan hari ini, hah?!”Suara histeris Anjelina dari speaker ponsel memotong alunan musik mobil sport merah yang melaju kencang di jalan raya. Ponsel di dasbor itu mendadak berdering nyaring dengan nama “Mama” yang berkedip ganas, memecah keheningan tegang di dalam kabin kendaraan mewah tersebut.Agatha yang masih sibuk menyeka sisa noda kopi pekat di wajah dan rambutnya mendengus kesal. Tanpa rasa bersalah sedikit pun, gadis itu menjawab panggilan ibunya dengan nada ketus. “Memangnya ada apa, Ma? Agatha lagi di jalan mau pulang! Baju Agatha kotor semua gara-gara orang sialan tadi!”Anjelina yang nyaris gila karena ba

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status