Mag-log in"Jadi kalian benar-benar selesai?” tanya Dinda, menatap sahabatnya dengan sorot mata tak percaya.
“Minggu depan dia akan bertunangan. Lihat ini, aku mendapat black card sebagai kompensasinya.” Celina menunjukkan kartu hitam berkilau di jemarinya dengan senyum tipis yang getir. Ia menjatuhkan tubuhnya yang ramping dan padat berisi ke atas sofa beludru apartemennya yang temaram. Kepalanya bersandar lelah pada bantal sofa yang empuk, memejamkan mata sejenak untuk menahan denyut perih yang tiba-tiba menusuk dadanya. Dinda menyambar kartu hitam tanpa batas itu dengan bola mata berbinar takjub, namun segera menatap Celina dengan raut cemas. “Apa kamu tidak akan menyesal, Celina? Melepaskan tambang emas begitu saja?” Celina membuka matanya perlahan, menghela napas panjang yang terasa begitu berat membebani rongga dadanya. Ia menatap Dinda lekat-lekat. “Lalu kamu ingin aku bagaimana? Menangis meraung-raung, menjerit histeris, atau bersujud di bawah kakinya dan memohon agar dia tidak pergi? Itu tidak akan pernah terjadi, Dinda. Harga diriku sudah cukup terinjak selama tiga tahun ini.” “Tapi masalahnya ini Samudera Vance Alexander!” suara Dinda meninggi, sarat kekhawatiran. “Pria berkuasa yang punya gurita bisnis raksasa. Hidupmu benar-benar terjamin selama tiga tahun ini menjadi sugar baby-nya. Bagaimana mungkin kamu mau melepaskannya begitu saja tepat saat dia akan meminang wanita lain?” “Aku sudah punya rencana soal itu,” sahut Celina dingin, sorot matanya yang tadi redup kini membakar penuh determinasi. “Untuk saat ini, biarkan semua berjalan sesuai kontrak. Biarkan dia merasa menang. Tapi setelah saatnya tiba... aku pastikan dia yang akan berlutut memohon padaku untuk kembali!” “Bagaimana kalau rencana itu gagal?” “Aku cari pria lain yang jauh lebih kaya,” seringai tipis terbit di bibir Celina yang ranum. “Ingat, di atas langit masih ada langit. Aku bukan wanita bodoh yang hanya punya satu jalan keluar. Rencana cadanganku selalu lebih kejam dari rencana utama.” Dinda menatap sahabatnya lamat-lamat, lalu menghela napas pasrah seraya meletakkan kartu itu di atas meja. “Aku selalu percaya padamu. Lalu sekarang... apa yang akan kamu lakukan?” “Aku mau menjenguk Nenek,” jawab Celina lirih. Seketika itu juga, topeng ketegaran dan arogansi yang membungkus wajah cantiknya luruh total. Matanya berkaca-kaca, memancarkan kerapuhan dan luka masa lalu yang begitu mendalam. “Aku ikut!” seru Dinda tanpa ragu, menggenggam erat jemari Celina yang dingin. Dinda adalah satu-satunya saksi bisu dari seluruh air mata Celina. Tujuh tahun silam, ketika Dinda berdiri di bibir atap sekolah berniat mengakhiri hidupnya karena himpitan kemiskinan dan perundungan, tangan Celinanyalah yang menariknya kembali ke kehidupan. Celina mendekapnya erat di tengah guyuran hujan, berbisik bahwa mereka berdua harus bertahan untuk membalas dunia. Sejak detik itu, bagi Dinda, Celina bukan sekadar sahabat—melainkan kakak, malaikat pelindung, dan satu-satunya keluarga tempatnya pulang. Sementara itu, di penthouse megah lantai lima puluh di pusat kota. Samudera masih berdiri mematung di balkon terbuka, membiarkan terpaan angin malam menusuk kulitnya yang hanya terbalut kemeja putih tanpa kancing atas. Pandangannya kosong menatap kerlap-kerlip lampu kota metropolitan di bawahnya. Suara langkah kaki Celina yang menjauh, senyum santainya saat menerima perpisahan, dan tatapannya yang sama sekali tidak terluka terus berputar bagai kaset rusak di kepalanya. Samudera mengangkat tangannya perlahan, menyentuh bibirnya sendiri yang tadi sempat dikecup lembut oleh Celina sebagai salam terakhir. Rasa hangat dan aroma mawar samar khas wanita itu masih melekat pekat, menyiksa akal sehatnya. “Bukankah ini yang selalu aku inginkan?” bisik Samudera parau pada dirinya sendiri. Tangannya mencengkeram pembatas balkon hingga buku-buku jarinya memutih. “Pernikahan bisnis yang sempurna... perpisahan tanpa drama... Tapi kenapa rasanya dadaku begitu sesak dan berat?” Tok, tok, tok. “Permisi, Pak.” Seorang pria berjas hitam rapi, Hadi, kepala tim investigasi pribadi Samudera mengetuk pintu balkon dan melangkah masuk dengan napas yang sedikit terengah. Samudera menoleh cepat, sorot matanya tajam dan gelap menuntut jawaban. “Bagaimana? Apa kamu sudah menemukan data lengkap yang selama ini aku minta?” “Sudah, Pak.” Hadi menyerahkan sebuah map kulit hitam dengan tangan gemetar. “Selama tiga tahun terakhir ini, berkas masa lalu Nona Celina sengaja disamarkan oleh tingkat pengamanan tingkat tinggi. Berdasarkan arsip autentik yang baru saja kami temukan dari pengadilan negeri lama... Nona Celina adalah putri kandung dan sah dari konglomerat Bisma Sanjaya. Ibunya bernama Karina Mahesa. Mereka dipaksa bercerai saat Celina baru berusia lima tahun karena fitnah perselingkuhan yang dirancang oleh istri kedua Bisma. Sejak hari itu, Nona Celina hidup dalam kemiskinan bersama neneknya yang sakit-sakitan. Tuan Bisma menghapus Celina dari kartu keluarga dan seluruh hak ahli waris demi putri tirinya.” Samudera membeku di tempatnya. Jantungnya berdegup kencang menghantam tulang rusuk, darahnya berdesir hebat. Selama tiga tahun hidup bersama, Celina selalu bersikap manis, manja, dan mengaku sebagai gadis yatim piatu yang membutuhkan uang kuliah. Data latar belakangnya terkunci rapat bagai brankas baja. Dan tepat beberapa jam setelah hubungan mereka resmi berakhir, kebenaran pahit itu meledak di depan matanya. “Jadi... dengan kata lain...” Samudera menatap dokumen itu dengan mata memerah menahan gejolak emosi yang membakar, “putri sah dari dinasti Sanjaya adalah Celina? Bukan Agatha, wanita yang akan bertunangan denganku?!” “Benar, Pak. Nona Agatha yang Anda kenal sebagai pewaris tunggal... hanyalah anak dari perempuan lain yang menikah dengan Tuan Bisma. Lebih tepatnya putri haram Tuan Bisma. ” Pikiran Samudera mendadak porak-poranda. Celina tidak pernah menginginkan uangnya. Celina tidak pernah benar-benar mencintainya sebagai pria biasa. Selama tiga tahun ini, ia telah memeluk wanita yang tengah menyiapkan belati paling mematikan untuk menghancurkan keluarga Sanjaya tepat di pesta pertunangannya sendiri. Tanpa membuang waktu sedetik pun, Samudera menyambar jas hitam dan kunci mobilnya di atas meja, lalu melesat keluar kamar meninggalkan Hadi yang terpaku. Setengah jam kemudian. Di depan pintu apartemen sederhana di pinggiran kota, bel berbunyi bertubi-tubi tanpa jeda, seolah orang di baliknya sedang dirasuki kepanikan luar biasa. Celina yang baru saja selesai mengikat rambutnya untuk pergi ke rumah sakit, mengerutkan kening heran. Ia melangkah menuju pintu dan memutar kuncinya perlahan. “Tuan Samudera?” pekik Celina tertahan saat daun pintu terbuka sempurna. Matanya membelalak kaget. Di hadapannya, Samudera berdiri dengan napas memburu, rambut berantakan tertiup angin, dan tatapan mata yang berkilat liar—begitu kontras dengan sosok konglomerat tenang dan dingin yang selama ini dikenalnya. Sebelum Celina sempat melangkah mundur, tangan kokoh Samudera bergerak kilat mencengkeram pergelangan tangannya kuat-kuat, menarik tubuh ramping itu hingga menabrak dada bidangnya. “Ikut denganku!” desis Samudera dengan suara parau yang bergetar menahan amarah dan ketakutan kehilangan yang tak terbendung. Celina tersentak, berusaha keras melepaskan cengkeraman tangan pria itu. “Lepaskan! Mau ke mana? Bukankah perjanjian kita sudah ditandatangani dan hubungan kita sudah resmi selesai beberapa jam yang lalu?!” Samudera menatap tepat ke dalam manik mata Celina, mengikis jarak di antara mereka hingga deru napas hangatnya yang memburu menyapu bibir wanita itu. Sorot matanya mengunci Celina dengan dominasi mutlak yang berbahaya. “Tidak, Celina Sanjaya,” bisik Samudera dengan nada rendah yang dingin sekaligus mengintimidasi. “Hubungan kita belum selesai... dan aku tidak akan pernah membiarkanmu begitu saja.”“Pulanglah, Tuan Samudera. Aku sedang ingin sendirian.”Cengkeraman tangan Samudera di rahang Celina mengendur perlahan. Ruang di antara mereka terasa menyempit oleh napas yang memburu dan sisa ketegangan yang belum sepenuhnya mereda. Dengan tatapan dingin tanpa getaran sedikit pun di manik matanya, Celina memangkas keheningan lift yang telah berdenting di lantai dasar.Samudera berdiri kaku. Terasa luka di dadanya yang telak menerima penolakan mentah-mentah kini berpadu dengan gejolak amarah posesif yang mendidih di balik kulit. Pria bertubuh tegap itu menatap wanita di hadapannya seolah ingin menelannya bulat-bulat.Sebelum benar-benar memutar tubuh dan melangkah keluar dari kotak baja tersebut, Samudera menunduk. Dia merapatkan bibirnya ke tepi telinga Celina, membisikkan sebuah kalimat berat yang tidak menerima penolakan dalam bentuk apa pun.“Baik, aku akan pulang … tapi kamu harus ingat satu hal, Celina, kamu hanya milikku. Jangan pernah berpikir untuk berpaling.”Tanpa menunggu
“Apa aku tidak salah dengar? Seorang Tuan Samudera Alexander bisa merasa cemburu? Apalagi ... cemburu dengan seorang dokter yang tidak seterkenal kamu.”Tawa dingin Celina pecah, bergema di antara dinding sempit lift yang terus meluncur turun ke lantai dasar. Tawa itu penuh luka dan ketidakpercayaan. Dengan gerakan tegas, Celina mendorong pelan dada bidang Samudera, melepaskan diri dari pelukan erat yang sempat membuat pertahanannya goyah.Dia mendongak, menatap lurus mata pria di hadapannya dengan sorot yang menusuk. “Jangan lupa, Tuan Samudera … Anda sendiri yang membuat aturan sejak awal untuk tidak pernah melibatkan perasaan dalam transaksi ini. Kita berdua terikat oleh kesepakatan dan dendam, bukan cinta. Tidak ada cinta berarti tidak ada rasa cemburu.”Samudera terpaku. Alih-alih melepaskan Celina, tangan pria bertubuh tegap itu justru bergerak kembali dengan cepat. Dia meraih tubuh Celina tanpa ampun dan memenjarakannya jauh lebih erat ke dalam dekapannya, seakan-akan takut ke
“Tutup mulutmu! Jangan bicara seolah kamu tahu segalanya!” geram Samudera dengan suara berat yang menggetarkan fondasi ruangan.Gigi sang CEO berkerut keras hingga rahangnya menegang kaku. Tatapan matanya yang merah padam memancarkan kilatan pembunuh yang sangat pekat. Namun, Alih-alih gemetar atau mundur selangkah, Yudha justru menyunggingkan senyuman tipis yang sangat memprovokasi. Tatapan sang dokter tetap tenang, lurus membalas sorot mata murka pria di hadapannya tanpa ada setitik pun rasa gentar.“Saya tahu semuanya, Tuan Samudera,” balas Yudha dengan intonasi datar yang teratur, menelanjangi kenyataan yang selama ini disembunyikan. “Hubungan Anda dengan Celina hanya sebatas perjanjian di atas kertas. Anda memaksanya berada di sisi Anda menggunakan kekuasaan, bukan karena dia menginginkannya.”Bugh!Pukulan mentah menghantam telak rahang kiri Yudha. Benturan keras itu menggema nyaring di dalam apartemen yang semula tenang. Kepala Yudha terlempar ke samping, beberapa tetes darah s
“Wah, kelihatannya sedap sekali aroma sup ini. Kalau bukan karena Dokter Yudha tadi, gaunmu pasti sudah hancur total, Cel.”Suara tawa renyah Dinda memecah ketegangan di dalam dapur apartemen Celina, saat uap masakan beraroma harum membubung ke udara. Dinda menyenggol lengan Celina pelan seraya berbisik dengan nada khawatir yang tertahan di balik senyumnya.“Ngomong-ngomong, apa tidak masalah mengundang Dokter Yudha langsung ke apartemenmu, Celina? Maksudku … bagaimana kalau Tuan Samudera tahu? Kamu tahu sendiri pria itu pencemburu kalau sudah menyangkut dirimu.”Celina yang baru saja menyeka sisa noda kotor di ujung gaunnya, kini sudah berganti dengan sweater rajut longgar yang nyaman. Dia menjawab dengan tenang sambil menuangkan air ke dalam gelas kaca tanpa menunjukkan ekspresi cemas.“Dokter Yudha sudah menolongku di jalan tadi, Dinda. Mana mungkin aku membiarkannya pergi begitu saja setelah kemejanya ikut terkena cipratan kopi gara-gara membelaku? Lagi pula, gara-gara amukan gadi
Tepat setelah suara tut-tut panjang mengakhiri panggilan secara sepihak dari Tuan Galen, Samudera menghempaskan ponselnya ke atas meja porselen. Bunyi benturan keras itu memecah keheningan ruang kerja eksekutif, memantulkan ketegangan pekat yang kini menyelimuti dirinya.“Hadi!” panggil Samudera dengan nada bariton rendah yang bergetar menahan gejolak amarah.Asisten kepercayaannya itu melangkah masuk dengan cepat dari balik pintu kayu mahoni, membungkuk hormat. “Saya di sini, Tuan Samudera.”“Minta tim cyber security SINS Group meretas dan membatasi penyebaran video viral itu dalam waktu sepuluh menit. Pastikan nama perusahaan kita bersih total dari kekacauan murahan yang dibuat Agatha,” titah Samudera dingin, matanya menyipit tajam. “Lalu … lacak keberadaan Dokter Yudha dan Celina sekarang juga. Aku ingin laporan akurat dalam genggamanku sebelum aku tiba di mansion utama.”“Baik, Tuan. Segera dilaksanakan.” Hadi mengangguk patuh, memutar tubuh dan bergegas keluar untuk menjalankan p
"Kenapa Celina selalu saja menang? Kenapa selalu banyak orang yang membelanya."Agatha mengepalkan tangan hingga kukunya memutih. Rahangnya mengeras, bola matanya merah penuh amarah dan emosi. Lagi dan lagi Celina berhasil mengalahkannya. Padahal bukan itu yang Agatha harapkan saat ia dengan sengaja membuat baju Celina kotor oleh air kotor. “Agatha! Apa lagi yang kamu lakukan hari ini, hah?!”Suara histeris Anjelina dari speaker ponsel memotong alunan musik mobil sport merah yang melaju kencang di jalan raya. Ponsel di dasbor itu mendadak berdering nyaring dengan nama “Mama” yang berkedip ganas, memecah keheningan tegang di dalam kabin kendaraan mewah tersebut.Agatha yang masih sibuk menyeka sisa noda kopi pekat di wajah dan rambutnya mendengus kesal. Tanpa rasa bersalah sedikit pun, gadis itu menjawab panggilan ibunya dengan nada ketus. “Memangnya ada apa, Ma? Agatha lagi di jalan mau pulang! Baju Agatha kotor semua gara-gara orang sialan tadi!”Anjelina yang nyaris gila karena ba







